Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Keris Gajahendra oleh Dimas Indiana Senja

Posted on Ming, 08 Jan 2023

Bagaimana mungkin kota sebesar ini menjamas keris replika setiap perayaan hari ulang tahun? Bagaimana mungkin kota yang sarat dengan sejarah ini kehilangan pusaka kebesaran? Bagaimana mungkin semua orang di kota ini hanya bisa diam melihat ritual penjamasan pusaka sebatas formalitas?

—

SUKARTA terdiam. Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan berkelindan. Datang silih berganti dan saling bertindih tanpa henti. Sukarta kaget dengan penjelasan Ki Sirun, sesepuh yang menurutnya mengerti banyak soal sejarah dan cerita turun-temurun, tepat setelah Sukarta melemparkan tanya tentang pusaka yang semestinya dijamas di setiap peringatan hari lahir kota.

***

”Keris ini saya beri nama Gajahendra,” ucap sang raja setelah Gajah Mada menyerahkan penjahat yang ditangkapnya dan menyerahkan keris bawaannya. ”Sebab, penjahat itu datang dengan naik burung garuda atau burung endra, dan yang menangkap adalah Gajah Mada. Adapun si Tolih tidak akan saya bunuh. Saya berikan ampunan untuknya. Lepaskanlah tali ikatannya. Saya pasrahkan padamu, Ki Patih.”

Ki Tolih adalah seorang sakti yang merupakan pemimpin prajurit Siung Wanara. Ia pergi ke Majapahit untuk membalaskan dendam lama. Berdasar titah dari Raja Keling, cucu Siung Wanara yang memimpin Kerajaan Bonokeling. Ki Tolih terkenal sebagai maling sakti. Mata-mata yang sangat cerdik dan teliti. Menyamar menjadi apa saja tidak pernah ketahuan. Seorang yang terkenal sakti mandraguna tanpa tandingan.

Dengan kesaktiannya, Ki Tolih terbang menuju istana Majapahit dengan menaiki seekor burung garuda yang besar sekali. Melayang-layang di angkasa, menembus langit dan gumpalan awan. Matanya serupa panah yang siap membidik setiap arah. Dicermatinya seluruh kawasan Majapahit sebelum ia benar-benar turun dari langit.

”Begini sekarang istana Majapahit. Megah dan indah, sekaligus angker. Kadang terlihat kadang hilang. Ini pasti karena kesaktian sang raja. Namun saya tidak takut. Wahai Raja Majapahit, seberapa pun kehebatanmu, tak urung kau akan celaka di tanganku!” Dengan jemawa, Ki Tolih merasa bahwa rencananya akan berjalan sempurna.

Sementara itu, Raja Majapahit dengan mata batin yang waskita mengerti bahwa seseorang dengan niat jahat sedang meluncur ke arahnya. Ia mencium ada ancaman nyata. Lalu diperintahkannya seorang patih bernama Gajah Mada untuk berjaga sebelum si penjahat sampai di kerajaannya.

”Wahai Patih, saat ini juga, perintahkan rakyat untuk menutup setiap sumur yang mereka punya. Hati-hati dan jangan ada yang terlupa. Siapa yang tidak taat akan mendapatkan hukuman yang berat.” Sang prabu memerintahkan Gajah Mada tanpa memberikan alasan tepat.

Dengan mengernyitkan dahi, sang patih undur diri. Diumumkannya kepada seluruh sumur untuk ditutup sementara waktu. Sebagai kerajaan yang besar, dengan seorang raja yang dihormati, setiap ucapannya selalu diikuti. Sumur-sumur di seluruh penjuru kerajaan telah ditutup sebelum matahari redup.

Meski begitu, masih ada pertanyaan yang mengganjal di hati Gajah Mada. ”Gerangan apakah yang akan terjadi? Mengapa sang raja begitu keras perintahnya. Ah, akan saya coba sumur saya. Saya akan benar-benar jaga jangan sampai terlihat siapa juga.”

Setelah datang senja, bersiaplah Patih Gajah Mada. Ia bersembunyi di bawah pohon nagasari yang rindang, tak jauh dari sumur di halamannya. Dengan penuh hati-hati, matanya tajam mengawasi. Dengan sebuah tombak di tangannya, ia menunggu sesuatu yang membuatnya penasaran.

***

Langit mulai gelap, pandangan Ki Tolih dari atas sudah tidak begitu jernih. Maka segeralah Ki Tolih memerintahkan garuda turun, meluncur menuju istana Majapahit. Sang garuda terbang seperti angin bertiup untuk segera masuk ke dalam istana.

Belum genap mendekat ke istana, Ki Tolih merasa tiba-tiba kehilangan kesaktiannya. Tak ada kekuatannya sama sekali. Guna-guna miliknya menjadi sirna. Sang garuda pun dibuat bingung tak tahu arah. Beterbangan ke sana kemari tidak keruan sebelum akhirnya pasrah.

Keraton Majapahit yang wingit menjadi begitu menakutkan. Kerajaan seorang raja besar, raja yang mempunyai tuah, keturunan dari leluhur yang dikasihi Tuhan, Raja Brawijaya, pengaruhnya membuat celaka. Maka seluruh serangan tentu akan lumpuh. Begitu pun dengan Ki Tholih dan garudanya. Hatinya resah gelisah tidak keruan. Seluruh ilmunya hilang, lemas badannya. Sudah tak punya lagi keberanian. Ki Tolih pusing sekaligus sedih.

Sang garuda mulai lemas dan kehausan. Dicarinya pusat mata air di seluruh sisi kerajaan. Namun, tidak ada satu pun sumur yang kelihatan. Dalam keadaan seperti itu, Ki Tolih kehilangan tekadnya, konsentrasinya hanya diarahkan pada nasib garuda. Setelah lama mencari, ia melihat ada sebuah sumur di tengah halaman yang tidak ditutup. Terlihat begitu jernih berkilauan airnya. Turunlah segera sang burung ke sana untuk menyudahi dahaga.

Patih Gajah Mada bertanya dalam hati, sambil tetap sembunyi di bawah pohon nagasari. Ia melihat seekor burung yang sangat besar menuju ke arahnya. Sementara di atasnya ada seorang lelaki dengan keris di tangannya.

Gajah Mada bersiap, tombak di tangannya langsung diarahkan ke garuda, Ki Tolih seketika terjatuh dan tidak berdaya. Dalam keadaan lemah, Ki Tolih tidak mampu melawan Gajah Mada yang telah siaga. Ki Tolih menyerahkan diri, dan mengakui bahwa dirinya adalah seorang patih dari Kerajaan Bonokeling yang disuruh untuk membunuh raja. Gajah Mada merampas keris di tangannya dan membawanya menghadap sang raja.

***

Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak ingin dijodohkan dengan putri kerajaan? Bagaimana mungkin ada seseorang yang menolak diberi tanah kerajaan? Bagaimana mungkin ada seseorang yang secara sadar menolak hadiah sayembara yang ia perjuangkan?

Prabu Ardiwijaya tidak habis pikir dengan keputusan Ki Tolih yang menolak imbalan dari sayembara yang ia menangkan. Ki Tolih hanya meminta kerisnya dikembalikan, dan diberi kebebasan untuk melakukan kembara ke luar Majapahit.

Gajah Mada yang membersamai Ki Tolih menghadap raja pun dibuat heran. Lantaran tawanan kerajaan yang berubah menjadi pahlawan itu justru menolak hadiah sayembara yang direbutkan banyak orang.

Ki Tolih adalah satu-satunya orang yang dengan berani menaklukkan kuda kesayangan raja yang kemasukan dan kesetanan. Seekor kuda yang memorak-porandakan kerajaan. Menyerang setiap prajurit yang mencoba menghentikan.

Semua orang gagal menghentikan sang kuda yang semakin beringas dan buas. Hingga Ki Tolih merasa terpanggil untuk mengikuti sayembara. Sebab, sebagai sebuah tawanan, yang telah diberi ampunan, ia perlu membalas budi kepada kerajaan.

Atas ketajaman mata batinnya, Ki Tolih tahu bahwa kuda itu kemasukan sukma sang burung garuda. Maka ia izin untuk meminta tali kekang yang pernah ia gunakan untuk berpegangan pada garuda. Dengan penuh kehati-hatian ia berjalan seorang diri, menuju ke tengah alun-alun, tempat kuda sedang mengamuk.

Ki Tolih menjadi pusat perhatian. Seluruh warga yang hadir meremehkan Ki Tolih dan menebak bahwa langkahnya hanya akan mengantarkan nyawanya pada kematian. Tidak sedikit pula prajurit yang yakin bahwa Ki Tolih, si tawanan kerajaan itu, akan habis oleh sang kuda yang gila.

Dengan tenang, Ki Tolih tetap berjalan. Kuda menghampirinya untuk menyerang. Galak dan bengisnya terbaca. Ki Tolih waspada akan bahaya. Ia siagakan tali kekang di tangannya. Ketika kuda menggapai-gapai hendak menggigit, Ki Tolih dengan cepat memasukkan tali kekang ke mulut kuda. Cepat sekali sarung dibentangkan ke atas. Kemudian menutupi kepala kuda. Lalu diikat kencang dengan tali. Kuda pun mendadak jadi jinak dan tak buas lagi.

Seketika terdengar sorak-sorai dari seluruh penjuru. Ki Tolih bersyukur pada Tuhan yang membantunya menjinakkan kuda sang raja. Ia menuntun kuda menuju ke Gajah Mada. Sembari menyalami, Gajah Mada mengucapkan kekaguman atas keberanian dan kehebatan Ki Tolih. Lalu mengajaknya menghadap raja.

Meski tanpa warangka, keris itu kembali ke tangannya. Keris yang kelak menjadi pusaka kebesaran sebuah kota. Ki Tolih berpamitan kepada sang raja dan sang patih. Langit Majapahit begitu teduh, seperti suasana hati orang-orang yang menghadapi perpisahan yang haru. Ki Tolih berjalan keluar dari kerajaan, menuju suatu tempat yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu. Melewati sungai, lembah, gunung, dan hutan. Ki Tolih terus berjalan dengan terus melakukan laku kebatinan.

***

Sukarta semakin penasaran. Sebelum pertanyaannya tentang keberadaan keris Gajahendra disampaikan, Ki Sirun lebih dahulu menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu. Ia mengambil napas panjang, ia empaskan, lalu meninggalkan Sukarta yang masih duduk terdiam dengan kepala yang berkecamuk ribuan pertanyaan. Ki Sirun tidak ingin menceritakan tentang keris pusaka yang kini telah hilang.

Bagaimana mungkin kota sebesar ini menjamas keris replika setiap perayaan hari ulang tahun? Bagaimana mungkin kota yang sarat dengan sejarah ini kehilangan pusaka kebesaran? Bagaimana mungkin semua orang di kota ini hanya bisa diam melihat ritual penjamasan pusaka sebatas formalitas? (*)

 

Pakoenegaran, 2022

—

DIMAS INDIANA SENJA : Nama pena dari K.R.H.T. Dimas Indianto Sastrowinoto. Penulis, dosen, dan peneliti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Reh Pakoenegaran.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 8 Januari 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme