Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anjing-anjing Liar di Makkah oleh Ahmad Setiawan

Posted on Sab, 19 Agu 2023

Angin mati pada dini hari. Di bawah tatapan bulan berwajah bulat, seorang lelaki berjalan cepat menelusuri jalan sempit di antara gedung-gedung dan tebing batu cadas yang curam di pinggiran kota Makkah. Namun, langkah lelaki itu terhenti saat mengetahui sekawanan anjing liar berkerumun menutupi jalan di depannya. Jumlahnya mungkin tujuh ekor. Bisa jadi lebih. Ia hanya bisa menerka-nerka karena penerangan di jalan tikus itu seperti lendir kelemayar bagi penglihatannya yang sudah berkaca mata. Di bawah cahaya yang berpendaran dari lampu-lampu gedung yang membelakangi jalan sempit itu, ia menyaksikan anjing-anjing liar berebut makanan dari dalam sebuah kantong plastik hitam besar yang sudah terkoyak-moyak. Ia menduga kantong plastik itu berisi sisa-sisa makanan yang biasanya dibuang di bak penampungan sampah di pinggir jalan.

Tetapi, anjing-anjing itu, dari manakah asalnya? Baru kali ini ia melihat anjing liar di kawasan Syisyah. Ia memang pernah melihat dan mendengar lolongan anjing-anjing liar di perbukitan Syib Amir dan kawasan Misfalah, yang letaknya masih berdekatan dengan Masjidil Haram. Mungkinkah anjing-anjing berasal dari sana dan berjalan belasan kilometer untuk pindah ke Syisyah? Ataukah anjing-anjing liar itu datang dari Padang Arafah, seperti yang pernah diceritakan seorang ulama besar asal Surabaya saat bertemu dengannya di Jeddah, beberapa waktu lalu?

Tentu tak ada jawaban. Pria itu pun termangu di antara kekagetan dan kebingungan. Ingin ia menghalau anjing-anjing liar itu agar memberi jalan baginya untuk cepat pulang ke rumah, tetapi nalarnya lebih berat menimbang ketidaksetujuan. Jumlah anjing itu terlalu banyak. Tidak sebanding dengan sisa tenaga yang ia miliki. Apalagi, ia masih mengenakan kain ihram. Ia juga tidak pernah mengetahui seberapa buas anjing-anjing itu. Atau jangan-jangan mereka semua mengidap rabies. Sehingga bila salah satu dari anjing itu menggigitnya bisa saja ia tertular penyakit anjing gila. Atau bisa jadi lebih parah. Hingga membuatnya berurusan dengan rumah sakit atau pihak berwajib. Padahal, ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh polisi atau pihak imigrasi Makkah.

Pria itu memang tidak punya banyak pilihan. Tanpa tasreh. Ditambah iqamah miliknya yang sudah kadaluarsa, ia bukan saja seorang calon haji ilegal. Tetapi, sekaligus adalah tenaga kerja asing bermasalah. Dalam banyak hal, keberadaannya di tanah suci ini memang tidak jauh berbeda dengan gerombolan anjing-anjing di depannya itu: liar dan tentu saja tidak diinginkan.

Membayangkan kenyataan itu, membuat lelaki berwajah kusut itu semakin lelah dan terduduk lesu. Seandainya ia bisa berbicara dengan anjing-anjing itu ia akan meminta mereka menunjukkan sikap solidaritas sebagai sesama penduduk liar kota Makkah dengan memberi jalan baginya. Tetapi itu tidak mungkin karena ia bukan Nabi Sulaiman.

Tetapi, lebih tidak mungkin lagi baginya memutar arah dan memilih jalan raya sebagai jalan lain untuk menuju rumah. Di pinggir jalan raya itu berjejer hotel-hotel yang menjadi pemondokan jamaah calon haji Indonesia. Di depannya, ada sebuah pos jaga yang dihuni lebih dari lima petugas. Mereka adalah orang-orang yang sangat sangat curiga akan kehadiran siapapun yang diketahui bukan petugas dan anggota jamaah. Walaupun orang luar itu sebangsa dengan mereka sendiri. Termasuk lelaki itu. Kalaupun saat ini pos jaga itu sudah sepi. Ia masih harus memperhitungkan patroli keamanan yang biasanya dilakukan oleh polisi Saudi pada dinihari.

**

Lelaki itu pernah mendengar cerita temannya yang diinterogasi selama berjam-jam oleh petugas-petugas haji itu saat hendak memasuki lobi hotel untuk menemui salah satu tetangga di kampungnya yang menjadi calon haji. Seorang temannya yang lain, juga bercerita, pernah ditahan oleh petugas-petugas itu saat berjalan di depan hotel yang menjadi pemondokan jamaah. Ia dicurigai sebagai joki hajar aswad. Padahal, temannya itu merupakan pembimbing ibadah umrah yang dipanggil oleh seseorang dari jamaah calon haji di hotel tersebut. Untungnya, mereka semua tidak sampai diserahkan ke polisi Saudi. Namun, nomor iqamah mereka dicatat oleh seseorang yang mengaku petugas linjam. Cerita-cerita itu membekas betul di benaknya. Itu sebabnya, ia dan istrinya tidak mau mengambil risiko. Mereka selalu memilih lewat jalan tikus ini setiap hendak pergi atau pulang agar lebih aman dan menghindari kecurigaan.

Di Syisyah, lelaki itu memang tidak tinggal sendiri. Sejak sebulan lalu, ia bersama istrinya pindah dari Jeddah ke Makkah dan tinggal di sebuah rumah kosong milik orang Saudi yang disewakan secara diam-diam oleh penjaganya. Seorang mukimin yang ia kenal dari mukimin lainnya. Setelah lima tahun tinggal di Saudi, lelaki itu memang berniat menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Tidak hanya itu, mereka juga berencana berdagang bakso dan gorengan di tempat mereka bermukim di Syisyah, salah satu kawasan pemondokan jamaah haji Indonesia pada musim haji ini. Ia banyak mendapatkan cerita dari teman-temannya, bila musim haji merupakan musim menuai riyal bagi para mukimin yang mau memanfaatkan peluang untuk melayani kebutuhan jamaah calon haji Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Seperti yang tadi dilakukannya di Masjidil Haram. Ia baru saja membantu temannya menjual jasa mendorong kursi roda bagi jamaah berusia lanjut yang ingin menunaikan umroh sebelum wukuf. Upahnya sebesar tiga ratus riyal untuk jasa mendorong seorang jamaah saat melakukan tawaf dan sai. Namun karena kursi roda yang digunakannya merupakan hasil sewa, maka uang yang diterimanya hanya sebesar dua ratus riyal.

Ia sebetulnya khawatir ditangkap oleh askar Masjidil Haram. Karena bila itu terjadi, ia bisa ditahan dan dideportasi. Namun, temannya yang memberinya pekerjaan itu dan sudah belasan tahun tinggal di Makkah memberikan nasehat yang tak akan pernah dilupakannya. ”Kalau kau mukimin ilegal ingin hidup di Makkah tanpa masalah, ingat-ingat ini: perbesarlah akal jangan perbesar perut! Kau tahu maksudnya? Banyak-banyak berpikir dan jangan serakah! Terutama saat beroperasi. Kebanyakan dari mereka yang ditangkap oleh askar Masjidil Haram saat menjadi joki hajar aswad atau pendorong kursi roda, itu karena serakah. Sekali mereka berhasil menjadi joki hajar aswad. Mereka ingin lagi, lagi, lagi, pada waktu yang berdekatan. Padahal, tindakan seperti itu membuat askar menjadi mudah mengenali dan langsung melakukan penangkapan. Jadi, bagaimana caranya supaya aman? Ya, cukup lakukan sehari sekali. Setelah itu pulang. Besok juga demikian. Waktunya juga jangan di jam yang sama setiap harinya. Bila hari ini kita lakukan pada malam hari. Besoknya di pagi hari. Lusa di sore hari. Demikian seterusnya agar kehadiran kita tidak terlalu mencolok dan mudah dikenali oleh askar-askar itu. Paham kau?” kata temannya itu.

Lelaki itu sulit untuk tidak setuju. Ia tidak punya pengetahuan dan pengalaman lain yang bisa menjadi perbandingan dari nasehat yang diberikan temannya itu. Terlebih, temannya itu sudah membuktikan berhasil selamat menjadi mukimin ilegal di Makkah. Tetapi menjadi mukimin ilegal bukan merupakan cita-citanya. Lelaki itu hanya ingin, ia dan istrinya, bisa ibadah Wukuf di Arafah sebagai inti ibadah haji. Syukur-syukur, mereka bisa mendapat keuntungan dari hasil berjualan bakso dan gorengan. Apalagi, temannya itu sudah memberitahu, tiga hari sebelum dan setelah pelaksanaan wukuf, kota Makkah akan berubah menjadi semrawut. Arus lalu lintas akan tersendat terutama di sekitar Syisyah, yang menjadi batas antara Makkah dan Jamarat. Pada saat itu, para pedagang bisa dengan bebas menjajakan barang dagangannya, tanpa harus khawatir dirazia polisi. Itu sebabnya, ia dan istrinya telah menyiapkan sebanyak mungkin bahan baku untuk membuat gorengan dan bakso di rumahnya.

Selama tinggal di Makkah, ia memang telah mengeluarkan modal yang menggerus uang tabungannya. Selain mempersiapkan barang dagangan, ia juga harus mengeluarkan uang sebesar lima ribu riyal untuk menyewa rumah selama dua bulan. Sementara untuk pelaksanaan ibadah di Arafah, Mina dan Muzdalifah yang akan berlangsung seminggu lagi, ia dan istrinya akan bergabung bersama rombongan calon haji ilegal yang sudah berjanji akan bertemu di suatu tempat nanti. Untuk itu, ia harus menyiapkan dana sebesar dua ribu riyal. Jumlah total yang harus dikeluarkannya bisa dibilang lebih murah dari pada harus membeli tasreh yang harga termurahnya mencapai lebih dari empat ribu empat ratus riyal per orang. Harga tasreh bisa jauh lebih mahal dari harga normal karena adanya pembatasan kuota tasreh oleh Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para makelar yang berkedok perkumpulan atau agen perjalanan haji. Mereka menawarkan jasa pembelian tasreh di luar cara dan harga yang sudah ditentukan. Ia tahu bila saat ini pengajuan pembelian tasreh yang dilakukan sudah bisa dilakukan secara online. Namun, tetap saja ia lebih memilih menjadi calon haji tanpa tasreh alias ilegal. Persoalannya bukan lagi karena uang tetapi karena iqamah miliknya yang sudah kadaluarsa sejak awal tahun.

Seharusnya ia memperpanjang masa berlaku iqamahnya pada akhir tahun kemarin. Namun, hal itu tak pernah ia lakukan, walaupun pihak imigrasi Saudi telah berulang kali mengirimkan notifikasi melalui sms agar ia segera mengurus perpanjangan izin tinggal sementara. Padahal, selama empat tahun sebelumnya, ia dan istrinya selalu rajin mengurus perpanjangan iqamah. Tetapi, itu dulu. Saat mereka masih mengabdikan diri, bekerja sebagai supir dan pembantu di rumah seorang ekspatriat, ahli pertambangan dari Australia, yang tinggal di Jeddah. Selama itu, mereka merasakan gaji dan fasilitas yang lumayan. Namun, setahun yang lalu, ekspatriat itu memutuskan untuk pulang ke negara asalnya.

Saat mengumumkan keputusan tersebut, majikannya menyatakan bahwa Saudi sedang memasuki resesi ekonomi. Harga minyak bumi yang menjadi andalan Saudi anjlok sehingga mengurangi secara drastis uang yang masuk kas Kerajaan. Keadaan semakin diperparah oleh keterlibatan Saudi yang ikut memerangi gerilyawan Houtis di Yaman dan bertahun-tahun tidak selesai. Menghadapi situasi tersebut, Kerajaan Saudi melakukan penghematan besar-besaran. Salah satunya adalah dengan menekan gaji dan fasilitas para ekspatriat. Termasuk majikannya. Itulah yang menjadi penyebab majikannya memilih kembali ke negeri asal. Sejak saat itu, mereka menjadi tenaga kerja informal alias pekerja serabutan.

**

Sejam berlalu. Anjing-anjing liar itu sepertinya sudah memindahkan isi kantong plastik ke dalam perut mereka. Satu per satu dari mereka pergi dan menghilang di antara celah-celah bukit batu. Lelaki itu berdiri dan melihat sekeliling. Setelah merasa semua anjing-anjing liar itu pergi, ia pun kembali bergegas menuju rumah.

Saat tiba di teras rumah, lelaki itu mendengar suara istrinya menangis sesengukan. Penasaran, ia dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Didapatinya, perempuan teman seperjuangannya itu duduk di lantai ruang dapur yang juga merangkap kamar tidur.

”Dek, kamu kenapa?”

Istrinya tetap menangis. Saat lelaki itu menaruh tangannya di atas pundak perempuan yang teramat dicintainya itu, tangis istrinya semakin menjadi-jadi. ”Daging kita Mas! Daging untuk membuat bakso hilang digondol maling. Padahal, aku cuma tinggal sebentar di halaman…”

Aku tercekat. Tiba-tiba ingatanku kembali terkenang pada anjing-anjing liar dan makanan yang mereka perebutkan.

***

Ahmad Setiawan, jurnalis Radio/Petugas Media Center Haji PPIH 2016

sumber : kompas.id, 19 Agt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme