Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Drs. Mandaram oleh Harris Effendi Thahar

Posted on Kam, 24 Agu 2023

Fitri, putri bungsu Pak Man, menyambutnya di pintu pagar sepulang dari salat Magrib dari Masjid Al-Amin tak jauh dari rumahnya.

”Ada tamu laki-laki.”

”Siapa?”

”Ntauk.Mama juga nggak tau.”

Hati-hati, Pak Man berdiri, menangkupkan kedua tangannya mengarah ke ustad dan keluar masjid mengikuti langkah Fitri yang berjalan seperti menari balet.Gadis kecil yang baru duduk di kelas empat SD itu gembira kalau ayahnya cepat pulang dari masjid, karena itu berarti makan malam segera dimulai.Biasanya, tiap Selasa, makan malam malah diundur sehabis salat Isya, setelah ayah pulang dari masjid.

Tidak ada tamu ketika Pak Man sampai di rumah yang cuma berjarak dua ratus meter dari masjid.

”Sudah pergi,” kata Marlini istrinya.

”Siapa?Urusan apa?”

”Tuh, di atas meja tamu,” jelas Marlini sambil menghidupkan lampu ruang tamu yang tadinya sengaja dimatikan setelah tamu itu pergi.

Di atas meja bundar itu teronggok sebuah kardus bekas mi instan yang sebagian kecil di atasnya sudah terbuka sedikit seperti habis dirobek paksa. Ada tulisan spidol hitam di pojok kardus itu: Pro Bapak Drs. Mandaram, MM. Dari sudut yang robek itu Pak Man melihat susunan rapi uang kertas pecahan seratus ribu. Darahnya tersirap. Dadanya bergemuruh.Pak Man berkeringat dan terduduk tanpa berkata apa-apa.Marlini berbuat hal yang sama.Duduk terhenyak di samping suaminya.Sementara Fitri sudah siap menunggu aba-aba makan malam. Mengambil piring dan mengisi gelasnya sendiri.

”Jangan-jangan ini jebakan,” gumam Pak Man. ”Siapa yang robek tadi?”

”Saya ingat peristiwa OTT Pak Markum. Makanya saya larang Fitri membukanya. Tuh, sudah terlanjur dirobeknya.Biasa, anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar.”

”Fitri, sini! Jangan ganggu-ganggu kardus ini, ya.Mari kita makan. Oke?”

”Sip, Papa,” Fitri mengacungkan ibu jarinya.

**

Sejak dua tahun belakangan, Pak Man—begitu koleganya memanggil—menjadi jamaah tetap Masjid Al-Amin di tengah kompleks perumahan itu. Di masjid itulah Pak Man tiap Magrib dan Subuh salat berjamaah sambil mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, yang telah memanggil anak laki-laki satu-satunya, Firman, akibat kecelakaan motor.Andai saja Firman masih hidup, tentulah sekarang sudah duduk di kelas tiga SMA.

Waktu itu, istrinya mendesak agar Firman dibelikan motor untuk ke sekolah.Selain SMA tempat Firman sekolah itu jauh, teman-temannya pada sudah dibelikan motor oleh orangtua masing-masing.Angkutan umum menuju sekolah itu tidak memadai dan kalau pun ada angkot, sopirnya ugal-ugalan.Begitu bunyi rayuan istrinya kepada Pak Man.

Meski Pak Man menjadi wakil kepala sekolah sebuah SMA Negeri, ia sengaja memasukkan Firman di SMA Negeri favorit atas bantuan teman sejawat sesama guru. Pak Man juga sudah banyak membantu teman sejawat atau bukan teman sejawat dalam hal utak-atik nilai rapor.Seperti halnya motor yang telah mencelakakan Firman itu hingga tewas didapatkan Pak Man dari jasa merekayasa rapor seorang lulusan anak orang kaya agar yang bersangkutan dapat diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur mandiri.

Berbulan-bulan Pak Man dan Marlini istrinya terpukul akibat kematian Firman.Sebagai seorang ibu yang telah melahirkan Firman, tumpahan rasa sesal Marlini selalu saja mengiris hati Pak Man.

”Akibat menerima suap, anak kita yang jadi korban.Sudahlah, Pa. Jangan lagi ya Pa.”

”Aku tidak minta, tapi dikasi.Masa, keikhlasan orang memberi, ditolak?”

”Kita juga berharap diberi bukan?”

”Saling memberi itu ’kan…”

”Dengan menyalahgunakan jabatan?”

Putri sulung Pak Man yang kini sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal juga masuk melalui jalur mandiri dan dengan sejumlah uang sumbangan yang besar. Silvia, putri Pak Man yang ingin jadi dokter itu tidak lulus ujian tulis SBMPTN.Gaji dan tunjangan Pak Man sebagai Wakil Kepala Sekolah tidak cukup untuk membiayai kuliah Silvia kalau bukan karena jasa rekayasa buku rapor juga. Tentu saja buku rapor Silvia juga telah direkayasa dengan mantap oleh ayahnya untuk salah satu syarat masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur mandiri.

**

Fitri melaksanakan ritual makan malamnya dengan lahap. Pak Man mengunyah makanannya hati-hati seperti tidak ingin terdengar oleh siapa pun. Ia pasang telinga kalau-kalau ada suara yang mengindikasikan ada tamu di teras rumahnya. Sementara, istrinya makan dengan gelisah membayangkan beberapa orang laki-laki masuk rumahnya membawa borgol, lalu menangkap suaminya dan membawanya pergi. Itulah peristiwa OTT, operasi tangkap tangan oleh petugas KPK atas tuduhan menerima sekardus mi instan uang haram yang jumlahnya entah berapa yang kini tergeletak di atas meja tamu yang lampunya dimatikan.

**

”Tentu papa tahu siapa orangnya,” Marlini memecah keheningan malam.

Pak Man diam saja. Ia sedang membayangkan sosok seorang teman yang sekitar tiga puluh tahun silam merupakan teman sebangkunya di SMA. Malah sama-sama bercita-cita menjadi anggota angkatan bersenjata alias ABRI waktu itu.Tahap pertama, tes awal, Mandaram dan John Ghattabana lulus.Untuk tahap selanjutnya, konon John lulus, tapi Mandaram tidak. Dengar-dengar, waktu itu John harus bayar sepuluh juta rupiah.Bagi orang tua John Ghattabana uang sejumlah itu secuil karena orangtuanya kaya. Mandaram tidak mungkin dapat mencarikan uang sebanyak itu. Ayahnya sudah lama meninggal.Ayahnya tewas dalam suatu pertempuran melawan APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).Waktu itu, ayah Mandaram adalah tentara PRRI yang memberontak terhadap pemerintah yang konon saat itu tidak mau memberikan otonomi daerah.Sejak kematian ayahnya, Mandaram ingin sekali menjadi salah satu anggota angkatan bersenjata untuk membela harga diri ayahnya.

Awal tahun ini, sekitar tujuh bulan lalu, Pak Man mendapat kabar dari teman-teman bahwaJohn Ghattabana yang kini telah berpangkat perwira menengah pindah ke kota ini. Dengar-dengar, sebentar lagi bakal naik pangkat menjadi Brigjen. Pak Man belum pernah bertemu dia.Cuma saja, minggu lalu, seorang lelaki gagah yang mengaku teman dekat John datang menemui Pak Man. Pertemuan yang sangat ramah, sopan dan penuh basa basi.

”Saya pasti menemukan orang yang paling tepat sesuai saran Pak John,” kata orang itu. ”Saya tahu betul Pak John teman dekan Pak Man.”

”Lantas, apa yang dapat saya bantu?”

”Saya perlu bantuan Pak Man, sedikit saja. Ini,” katanya sambil mengeluarkan rapor lusuh dari tas kulit kecilnya yang kelihatan mahal. ”Mohon dibantu meluruskan isinya karena akan digunakan untuk keperluan anak bangsa, ha ha..” ujarnya ringan dan bersahabat sekali.

Pak Man terpana, hampir lupa membalas senyuman simpatik lelaki itu.

Ia bersalaman komando, sambil mengangguk dan hormat militer, lalu pergi meninggalkan kantor sekolah Pak Man.Mobilnya begitu cepat pergi sehingga Pak Man lupa melihat nomor polisi mobil sedan hitam itu. Pak Man kembali ke meja kerjanya dan membuka rapor itu. Di dalamnya ada secarik kertas dan selembar kartu nama lengkap dengan nomor telepon dan e-mail.

Rapor itu berasal dari sebuah SMA di sebuah kota di Pulau Jawa atas nama Yung Tiluang. Pak Man belum tahu persis mau diapakan rapor itu. Pak Man yakin betul, yang mengantarkan uang sekardus mi instan itu adalah lelaki atau utusannya yang tak sempat mengenalkan namanya kecuali mengaku sahabat dekat John Ghattabana.

Hingga larut malam Pak Man duduk di teras rumahnya yang gelap karena lampunya dimatikan sambil merenungkan apa saja yang terpikirkan olehnya.Terbayang olehnya jika saja uang itu cukup untuk membeli mobil dan dia segera berhenti mengendarai sepeda motor ke sekolah.Atau cukup didepositokan saja dan bunganya bisa untuk menutupi biaya kuliah Silvia di Fakultas Kedokteran. Atau uang itu diserahkan saja kepada polisi?

”Ah, tidak. Orang yang memberi uang itu pasti bukan orang miskin,” bisik hatinya.

Begitu pun Marlini resah membolak-balikkan badannya di atas ranjang tanpa sepicing pun mata terlelapkan.Terbayang olehnya sebentar lagi Silvia akan minta uang bulanan dan bayaran ini dan itu. Suami istri itu akhirnya melakukan salat Tahajud di tengah malam itu berdua untuk menenangkan hati masing-masing.

**

Ketika pagi itu Pak Man mau berangkat ke sekolah, ia tidak melihat lagi kardus mi instan itu di meja ruang tamu. Mungkin sudah disimpan Marlini, pikir Pak Man jernih sekali pagi itu.Setelah Pak Man hilang di tikungan bersama sepeda motornya, Marlini tidak melihat lagi kardus mi instan di meja ruang tamu itu.Mungkin sudah dibawa papa Fitri ke bank, pikir Marlini jernih sekali pagi itu.Sementara, Fitri tidak peduli dengan benda itu.Ia terus saja berjalan seperti menari-nari, seperti apa yang sering ditontonnya di Youtube, menuju sekolahnya tak seberapa jauh dari rumahnya.

Esoknya, hari Minggu pagi, sekembali dari olah raga jalan kaki, Pak Man menanyakan uang dalam kardus mi instan itu kepada istrinya.

”Papa bercanda, ah.”

”Tidak, papa serius. Sudah kamu simpan bukan?”

Marlini terbelalak, ”Wah, bagaimana ini.Justru saya menyangka Papa yang bawa kardus itu kemarin ke bank untuk disimpan.Ya, ’kan?”

”Tidak! Sekali-kali tidak.Ada apa ini? Betul bukan kamu yang menyimpan?”

”Demi Allah!” Marlini tersedak.

”Fitri…! Sini!”

”Ada apa ayah? Bunda?”

”Kamu yang menyimpan kardus berisi uang itu?”

Firi menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Papa ’kan sudah larang Fitri menyentuhnya lagi malam itu.Mengapa Fitri yang dituduh menyimpan?”

”Betul, bukan kamu yang simpan, Nak?”

Fitri mengangguk-angguk sambil menatap kedua orangtuanya itu.Bola mata gadis cilik itu berkaca-kaca. Tampaknya dia mengerti bahwa kedua orangtuanya sedang bertengkar perkara uang pemberian orang kepada papanya.Ia khawatir, kalau-kalau pertengkaran itu membawa perceraian ayah dan ibunya seperti cerita-cerita yang didengarnya dari teman-temannya di sekolah.

**

Pak Man makin merasa tertekan, bila melihat rapor jelek atas nama Yung Tiluang itu di mejanya.Karena, sewaktu-waktu, lelaki ramah itu tentu akan datang menjemput rapor yang sudah dibersihkan oleh rekayasa Pak Man atas kerja sama Kepala Sekolah.Hingga hari ini, Pak Man belum juga membersihkannya.Malah dia berniat akan menolaknya.Oleh karena itu, rapor jelek itu disimpannya jauh-jauh.

Pak Man juga tidak bisa menghilangkan rasa curiganya pada Marlini istrinya.Tidak ada orang lain di rumah itu dan tidak mungkin ada orang lain yang masuk mencuri kardus itu. Bisa saja Marlini membuang atau menguburkan kardus itu karena trauma dengan kematian Firman, putra satu-satunya keluarga itu. Setidaknya, begitu lintasan pikiran Pak Man.

Padang, 2017-2023

***

Harris Effendi Thahar,lahir di Tembilahan, Riau, 4 Januari 1950. Tinggal dan bekerja di Padang sebagai Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Padang. Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat 2007-2010. Terus menulis cerpen atas anjuran tiga orang anaknya yang kini menghadiahinya tujuh cucu, agar tidak cepat pikun.

sumber : kompas.id, 24 Agt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme