Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jaka Tingkir Ingkar Janji oleh Anton Kurnia

Posted on Ming, 05 Feb 2023

Tujuh puluh tahun setelah Demak berdiri, Jaka Tingkir dinobatkan Sultan Trenggana sang penguasa Demak sebagai adipati di Pajang. Dia segera memerintahkan untuk membabat hutan di sebelah barat Desa Pengging kampung asalnya untuk dijadikan pusat pemerintahan kadipaten. Begitu ibu kota baru berdiri, rakyat berbondong-bondong pindah ke sana sehingga dalam waktu singkat tempat yang semula daerah pinggiran berkembang menjadi sebuah kota yang ramai dan makmur.

SETELAH Sultan Trenggana wafat, Jaka Tingkir mengangkat diri sebagai raja bergelar Sultan Adiwijaya. Kian lama pamor Sultan Adiwijaya kian bersinar. Pajang pun menjelma kerajaan besar. Sementara, cahaya Demak makin redup.

Namun, di balik kemegahan Pajang, ada sesuatu yang menggundahkan hati Sultan Adiwijaya. Hingga sekian lama, dia belum juga memiliki keturunan yang bakal menjadi penerus kekuasaannya kelak. Istrinya Ratu Mas Cempaka, putri keempat mendiang Sultan Trenggana, tak juga mengandung. Mengikuti tradisi untuk memancing keturunan, sang Sultan memutuskan untuk mengambil anak angkat.

Anak yang beruntung itu seorang remaja bernama Danang. Dia putra Ki Ageng Pemanahan, orang kepercayaan Sultan yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri. Di Keraton Pajang, Danang disayangi dan diperlakukan sebagai anak kandung oleh sang Sultan. Sampai-sampai dia lupa bahwa dia hanyalah anak pungut.

Diam-diam ada seorang adipati yang tak sudi tunduk kepada Sultan Adiwijaya. Dialah Arya Penangsang, penguasa Jipang. Dia putra Pangeran Seda Lepen dan cucu Raden Patah –pendiri Kesultanan Demak.

Dalam pandangan Penangsang, Jaka Tingkir cuma menantu Sultan Trenggana sehingga tidak punya hak atas takhta. Lagi pula, anak desa jelata itu tak memiliki trah darah biru. Dia merasa lebih berhak dan lebih layak menjadi raja ketimbang Jaka Tingkir.

Penangsang adalah murid Sunan Kudus. Dia mencurahkan isi hatinya kepada sang guru yang merupakan sesepuh para wali. Sunan Kudus mendukungnya. Makin hari keinginan Penangsang untuk berkuasa kian bergelora. Berkali-kali dia memohon restu kepada Sunan Kudus agar diperbolehkan memberontak terhadap Sultan Adiwijaya. Namun, Sunan Kudus tak juga memberi izin dengan alasan belum tiba waktunya untuk melancarkan perlawanan. Jika dipaksakan, akan berakhir sia-sia dan menelan banyak korban.

”Kapankah saya diizinkan menyerbu Pajang? Saya tidak rela tunduk terhadap seorang anak desa jelata,” kata Penangsang jemawa.

”Anakku, bersabarlah. Sultan Pajang itu sakti dan waskita,” sahut Sunan Kudus mencoba menenangkan muridnya.

Penangsang memang memiliki kelemahan berwatak sombong dan mudah naik darah. Dia juga pantang ditentang. Jika sudah memiliki kemauan, dia sulit dicegah. Jika menginginkan sesuatu, dia tak segan merebutnya dengan kekerasan. Kalau tidak senang dan marah dengan seseorang, dia tega membunuh.

Dia pernah menyuruh anak buahnya membunuh Raden Prawoto yang menggantikan Sultan Trenggana sebagai penguasa Demak. Sebabnya, abang sepupunya itu dianggap telah bersekongkol membunuh ayahnya.

Adik Raden Prawoto yang bernama Ratna Kencana atau Ratu Kalinyamat yang berkuasa di Jepara berupaya menuntut balas. Namun, Penangsang malah menyuruh kaki tangannya membunuh suami sang ratu, Pangeran Hadiri.

Karena merasa dizalimi, tapi tak berdaya membalas kematian dua lelaki yang dia cintai, Ratu Kalinyamat yang terhitung kakak ipar Sultan Adiwijaya itu bertapa telanjang di Gunung Danaraja. Dia bersumpah tak akan berpakaian sampai dendamnya terbalaskan. Berbulan-bulan perempuan ayu itu bersila tanpa busana, hanya menutupi tubuhnya dengan rambut sepinggang yang liar tergerai.

”Jika kematian suami dan kakakku belum ditebus dengan kematian Penangsang, jika aku belum dapat menginjak kepalanya, aku tak akan berkain!” ucapnya sungguh-sungguh.

Sementara itu, Penangsang sudah tak tahan membendung nafsu berkuasa. Tanpa sepengetahuan Sunan Kudus, dia mengutus empat bromocorah untuk membunuh Sultan Adiwijaya. Keempat lelaki berilmu tinggi itu ialah Wanengpati, Singaprana, Kartajaya, dan Jagasatru. Penangsang membekali mereka dengan keris Kyai Setan Kober.

”Jika berhasil membunuh Jaka Tingkir, kalian akan kuberi hadiah rajabrana dan kuangkat menjadi adipati!” kata Penangsang.

Janji imbalan menggiurkan itu membuat mereka rela bertaruh nyawa. Lebih baik mati dalam memperjuangkan harapan ketimbang hidup melata dalam kemiskinan. Mereka berangkat dari Jipang dengan menyamar sebagai petani.

Setelah tiga hari mempelajari situasi di purasaba dan memata-matai istana, pada tengah malam mereka berhasil menyusup ke dalam Keraton Pajang tanpa diketahui oleh para pengawal yang telah mereka sirep sehingga tertidur. Sungguh ampuh pengaruh mantra ajian megananda sehingga seluruh penghuni istana terlelap, termasuk Sultan Adiwijaya.

Tiga orang berbusana serbahitam masuk ke dalam kamar keprabon. Sementara, Jagasatru berjaga-jaga di luar kamar. Di atas ranjang, berdampingan dengan istrinya, tampak lelaki jatmika itu tengah tidur nyenyak berbalut sehelai selimut. Matanya terpejam rapat dan terdengar dengkur lembut. Orang paling berkuasa di Pajang itu terlihat tak berdaya.

Wanengpati lekas menghunjamkan Kyai Setan Kober yang telah mencabut banyak nyawa ke perut sang Sultan. Namun, jangankan melukai tubuh yang telentang pasrah itu, selimutnya saja tak robek sedikit pun. Ternyata Sultan Adiwijaya memang sungguh mandraguna. Dia tetap pulas meski berkali-kali ditujah keris keramat yang konon bertuah.

Ketiga penyusup itu berusaha menikam sang Sultan bergantian. Tetapi tak mempan. Sultan pun terbangun. Dia melemparkan selimutnya kepada ketiga penyerangnya. Mereka terkejut mendapat serangan kilat, lalu terkapar muntah darah.

Tak berapa lama, Ki Ageng Pemanahan dan beberapa penggawa yang telah siuman berhasil melumpuhkan penyusup yang berjaga di luar kamar Sultan. Ketika ditanyai, karena ketakutan mereka mengaku terus terang bahwa mereka suruhan Arya Penangsang dari Jipang.

Alih-alih murka, Sultan Adiwijaya hanya tersenyum tipis menatap para penyerangnya yang telah tak berdaya. ”Jangan diapa-apakan. Mereka kuampuni karena hanya menjalankan perintah,” katanya kepada para pengawalnya. Kemudian, kepada Ki Ageng Pemanahan dia memberi amanat, ”Kakang, lepaskan mereka dan berilah bekal yang cukup untuk pulang ke Jipang.”

Keempat orang itu pulang dengan perasaan wirang. Namun, mereka bersyukur karena masih dibiarkan hidup. Malah, masing-masing dibekali uang emas setail. Sementara, keris Kyai Setan Kober disita oleh Ki Ageng Pemanahan.

Sepulang ke Jipang, mereka menghadap Arya Penangsang. Mendapat laporan dari keempat begundal suruhannya, dia marah dan merasa ditampar. Namun, diam-diam dia kagum atas kesaktian Jaka Tingkir yang semula dia remehkan.

Sementara itu, di balairung Keraton Pajang, Sultan Adiwijaya mengumpulkan orang-orang kepercayaannya untuk membahas ulah Arya Penangsang. Sultan bersabda, ”Siarkan sayembara. Siapa saja yang sanggup membunuh Arya Jipang akan aku anugerahi tanah Mataram!”

Tiga hari kemudian, Ki Ageng Pemanahan datang menghadap Sultan bersama sahabatnya Ki Juru Martani yang menjabat lurah tamtama atau kepala pasukan penjaga istana. Dia menyatakan bahwa mereka berdua bersedia melawan Arya Penangsang.

Sultan merasa senang mendengarnya. Dia tersenyum lebar. ”Bagus. Kuberikan doa restu. Berhati-hatilah menghadapi Arya Jipang. Ilmunya tinggi.”

Ki Juru Martani yang cerdik telah mempersiapkan siasat. Pada satu sore yang cerah dia mengirimkan sepucuk surat tantangan kepada Arya Penangsang untuk bertarung satu lawan satu di tepi Bengawan Sore. Isi surat itu sangat merendahkan martabat.

Ki Juru Martani menangkap seorang tukang rumput abdi kadipaten Jipang. Orang itu lalu dia suruh mengantarkan surat kepada majikannya. Untuk menghina Arya Penangsang, dia memotong telinga kiri si tukang rumput. Dengan darah bercucuran, tukang rumput malang itu menghadap majikannya dan menyerahkan surat dari Ki Juru Martani.

Melihat abdinya dalam keadaan serupa itu, Arya Penangsang berang dan merasa dipermalukan. Murkanya kian memuncak saat dia membaca surat tantangan yang amat kurang ajar. Amarah membakar hatinya. Membuat dia lupa diri.

”Bajingan tak tahu diri!” rutuk Arya Penangsang dengan wajah beringas.

Dia berteriak menyuruh abdinya menyiapkan si Gagak Rimang. Seraya menyandang tombak, Arya Penangsang melompat ke punggung kudanya, lalu berangkat sendirian tanpa pengawal. Kuda jantan legam itu melesat bagai terbang menuju Bengawan Sore.

Ketika Arya Penangsang muncul di tepi bengawan, yang datang menghadapinya bukanlah Ki Juru Martani atau Ki Ageng Pemanahan, melainkan Danang yang kini telah tumbuh menjadi pemuda tangguh yang gesit berperang.

Begitu melihat Penangsang di seberang, Danang segera berteriak menantang. Penangsang menjadi gelap mata. Tanpa perhitungan dia menyerang dengan berang. Dia menyeberangi sungai kecil itu dan dengan tombak teracung memacu kudanya ke arah musuh.

Danang yang menunggangi kuda betina menyambutnya dengan tombak pusaka Kyai Plered. Melihat kuda betina itu, Gagak Rimang timbul berahi dan menjadi lepas kendali. Dengan sigap Danang melompat turun dari kudanya. Saat Penangsang sibuk mengendalikan kudanya yang berlari liar karena keranjingan, Danang menusukkan tombaknya merobek perut musuh.

Penangsang terjatuh ke bumi dengan usus terburai. Dia berupaya bangkit untuk balas menyerang. Namun, dia tak sanggup lagi berdiri. Lelaki digdaya itu terkapar meregang nyawa. Darahnya memerahkan bumi.

Ki Ageng Pemanahan lalu memenggal kepala Penangsang dan membawanya menghadap Sultan Adiwijaya. Atas saran Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan mengaku bahwa dia sendirilah yang telah membunuh Penangsang. Ki Ageng Pemanahan berharap dianugerahi tanah Mataram sebagai hadiah sesuai janji Sultan.

Namun, Sultan Adiwijaya ingkar janji. ”Terima kasih, Kakang telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Jika Kakang bersedia menerima Jipang, akan kuberikan sekarang. Namun, jika menginginkan tanah Mataram, Kakang harus bersabar dahulu.”

Mendengar kata-kata itu, Ki Ageng Pemanahan kecewa, tetapi dia tak kuasa membantah. Dia hanya bisa membatin. Ajining diri ana ing lathi. Bukankah kehormatan seorang manusia terletak pada lidahnya? Apakah penguasa boleh berbuat semaunya? Di manakah keadilan?

Setelah terdiam cukup lama, dia berkata lirih, ”Mohon ampun, Sinuwun. Hamba sungguh tak berani menerima selain yang telah dijanjikan. Biarlah hamba menunggu saja.”

Sang Sultan tak berucap apa-apa lagi. Dia bangkit dari singgasananya dan masuk ke dalam istana, meninggalkan Ki Ageng Pemanahan yang tunduk terpekur.

Pendapa agung itu begitu sunyi. Tak terdengar cericit burung di pepohonan. Sementara, di langit barat cahaya jingga telah meredup. Tak lama lagi malam akan menyelimuti bumi Pajang. (*)

ANTON KURNIA : Menulis tiga kumpulan cerpen, antara lain Insomnia (2004) yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Arab, dan Spanyol. Novelnya, Majnun, baru saja terbit. Ia terpilih mengikuti Melbourne Virtual Writers in Residence 2022.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 5 Februari 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme