Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rahasia di Rubanah oleh Eko Setyawan

Posted on Sab, 07 Okt 2023

”Cepat lari ke kamar. Cepat. Kalau tidak, kita akan ketahuan oleh mereka!” Aku gegas menuju kamar yang dimaksud oleh Mei dengan penuh kekhawatiran. Kami beriringan berjarak beberapa langkah saja. Mei berlari tak kalah panik denganku. Aku mengekor di belakang dirinya dan merasakan ketergesaan. Di luar, suara keributan terdengar memekakkan telinga diiringi dengan suara kaca pecah dan suara-suara lainnya. Kerusuhan pecah dan ribuan orang berlalu lalang di jalanan.

Semua bermula ketika harga kebutuhan pokok mulai melonjak. Hampir semua kebutuhan harganya meningkat drastis. Ada yang meningkat berkali-kali lipat. Termasuk harga kebutuhan pokok meningkat lima hingga sepuluh kali lipat. Lebih dari itu, barang-barang juga mulai langka. Termasuk ketika mereka datang ke toko yang kujaga, mereka pulang dengan tangan hampa. Beberapa meninggalkan toko dengan memakikan kata-kata mengutuk.

Pada akhirnya apa yang kami takutkan pecah. Orang-orang mulai turun ke jalan dan menjarah semuanya. Tak peduli itu makanan, pakaian, atau pun barang-barang lainnya sekalipun itu barang penting tak penting. Krisis telah terjadi, emosi tak bisa lagi diredam dan dipadamkan. Hanya ada nyala api dari diri mereka. Aku merasakan itu di hari-hari sebelum hari ini. Kini bara api itu nyata adanya dan merembet ke segala arah. Aku merasa toko yang kujaga pasti tak luput dari amuk massa. Aku dengan cepat menutup pintu toko milik orangtua Mei. Di toko ini, kami menjual hampir semua kebutuhan yang dibutuhkan orang-orang. Bisa disebut toserba, hanya saja lebih sederhana dan lumayan luas. Jadi tempat ini kupikir akan menjadi sasaran utama massa yang turun ke jalan. Terlebih keluarga Mei adalah keturunan. Bisa dipastikan, bahaya akan mengancam.

Krisis telah terjadi, emosi tak bisa lagi diredam dan dipadamkan. Hanya ada nyala api dari diri mereka.

Toko ini menyatu dengan rumah tinggal keluarga Mei. Aku sendiri juga ikut tinggal di sini sejak umurku belasan. Aku membantu dan bekerja di sini sudah cukup lama sehingga ketika aku mengajak Mei menutup toko, tanpa pikir panjang ia menyetujui. Setelah menggembok semua pintu, lantas kami bergerak dan berlari menuju rumah di belakang. Lebih tepatnya, Mei mengajakku masuk ke kamarnya. Sesaat setelah sampai di kamarnya, aku terkejut ketika Mei mengajakku menggeser kasurnya. Aku mengangkat dan menyandarkan kasur itu ke tembok bersama dengannya.

Setelah menoleh, keterkejutanku semakin menjadi-jadi ketika ternyata di bawah kasur itu ada sebuah pintu kecil. Mei membukanya. ”Cepat masuklah!” Aku lekas menuruti perintah Mei. Menuruni tangga disusul Mei di belakangku setelah menutup pintu itu. Aku memasang wajah kebingungan. Lantas secara tidak sadar pertanyaan terlontar dari mulutku. ”Sejak kapan?” ”Keluargaku meyakini suatu saat hal ini pasti akan terjadi. Jauh sebelum kau ke sini, rubanah ini sudah ada,” jawab Mei sembari bergegas menuruni tangga. ”Untuk sementara, kita akan di sini,” lanjutnya.

Sampai di bawah, aku melihat ada lorong terbentang jauh ke depan. Tapi aku dan Mei hanya duduk di lantai ujung tangga. Kami duduk bersebelahan. Napasku tersenggal karena panik. Begitu pun dengan Mei. Kami menarik napas panjang lantas mengembuskannya. Pikiranku melayang ke orang tua Mei yang sedang membeli stok toko ke luar kota. Bagaimana dengan nasib mereka di luar sana. Tapi kekhawatiranku terpecah karena perkataan yang terlontar dari mulut Mei.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi untuk saat ini kupikir inilah tempat yang paling aman bagi kami. Aku menatap Mei. Ia menunduk. Kurasa ia sedang menenangkan diri. Aku meraih pundaknya dan berkata semua akan baik-baik saja, semua pasti akan berlalu. ”Lin,” kata Mei. Lantas ia mengangkat kepala, menatapku, dan berkata, ”jika kita mati hari ini, atau aku yang mati lebih dulu karena orang-orang itu, tolong ingat apa yang kusampaikan padamu?” Aku bingung menangkap maksud dari apa yang dikatakan Mei. Aku menarik tanganku dari pundaknya, lantas menegaskan posisi dudukku. Aku menatapnya, kepala Mei menengadah lantas menoleh ke arahku. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis. Tak lama setelahnya ia menatap lorong di hadapan kami.

”Aku akan menceritakan rahasia keluargaku. Tapi hanya padamu saja. Kau bisa dipercaya, kan?” kata Mei padaku. Ia mengatakan dengan agak berat dan tegang. Tapi wajahnya tetap menatap lurus ke depan. Lalu ia menolehkan wajahnya ke kiri dan kanan menatap tembok yang penuh coretan atau barangkali catatan yang disengaja. Aku yang duduk di sampingnya lantas menatap wajah Mei. Aku mencoba menerka apa yang ingin ia katakan. Tapi aku gagal membacanya. ”Jika aku nanti pada akhirnya akan mati. Jagalah rahasia ini dari siapa pun. Jangan pernah ada yang tahu selain hanya kau saja.” Mei mengatakan dengan wajah yang serius. Kini ia menatapku. Kami saling memandang. Kelopak matanya cerlang penuh pengharapan.

Aku memeluk Mei. Mencoba menenangkannya. Mei membalasnya dengan pelukan erat. Kurasakan embusan napasnya di tengkukku. Napasnya berat dan kupikir kegelisahan menyelimuti dirinya. Aku meyakini itu karena kurasakan jantungnya berdetak cepat. Ia melepas pelukannya. Menarik diri lantas duduk kembali seperti semula. Aku merasakan kehampaan dalam dirinya. Kupikir itu adalah rasa putus asa akan hidupnya yang terancam. Berkali-kali aku menenangkannya. Kukatakan padanya semua akan baik-baik saja. Kugenggam tangannya erat. Kusapukan ibu jariku perlahan ke kulit luar telapak tangan Mei sebagai tanda bahwa aku bersimpati padanya.

Jika aku nanti pada akhirnya akan mati. Jagalah rahasia ini dari siapa pun. Jangan pernah ada yang tahu selain hanya kau saja.

”Di keluarga ini, masing-masing orang punya rahasia. Aku tentu juga punya. Tapi jauh tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahasia-rahasia lainnya di rumah ini,” kata Mei. Matanya kembali menatap tembok yang penuh coretan. ”Maksudmu?” tanyaku penuh selidik dengan tetap tenang. ”Lihat itu,” katanya tenang disertai dengan gerakan kepala dengan maksud menunjukkan tulisan yang ada di hadapannya.

Aku mendongakkan kepala melihat tembok yang ditunjuk oleh Mei. Lalu aku mulai mencermati dengan lekat dan membacanya. Aku memincingkan mata karena kalimat di tembok samar. Lantas kutanyakan pada Mei apa maksudnya tulisan itu. ”Itu adalah tulisan orangtuaku. Mereka menulis ini sebagai rahasia umum bagi keluarga. Tak ada orang yang tahu di luar sana. Termasuk saudara kami sendiri. Itu adalah buku catatan sederhana mengenai toko dan hal-hal yang diprediksi Baba. Ini menjadi rahasia keluarga kami. Bahwa toko ini didirikan dengan mati-matian oleh Baba. Bahkan ancaman selalu datang ketika pertama kali toko ini berdiri.” Mei bercerita dengan serius. Matanya berkaca-kaca tapi tetap tenang.

Aku hanya diam dan menyimak setiap kata yang dikatakan Mei. Tak mau barang sedikit kata pun terlewat. Aku mendengar dengan seksama dan bahkan tak berniat sekali pun menyela. ”Ada masalah yang lebih besar. Rahasia ini mungkin bukan hanya ada di keluarga ini, tapi juga keluarga-keluarga keturunan yang lain. Bahwa untuk membuka toko sampai seperti sekarang, perlu uang besar untuk menyuap pejabat dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Agar apa? Tentu agar usaha toko ini tidak tersentuh dan bisa melanggeng. Tapi kau tahu, di balik keuntungan toko ini, yang di mata orang-orang memiliki keuntungan besar, sebenarnya keuntungan toko ini mengalir ke kantong orang-orang yang melindungi kami. Meskipun kami tahu bahwa mereka jauh lebih busuk dari yang orang-orang tahu. Apalagi orang-orang partai itu, mereka jauh lebih busuk dari bangkai.” Mei bercerita dengan leluasa. Meski kurasa ia juga tertekan dengan keadaan di luar.

Aku masih terkesiap. Mencoba memahami lebih jauh apa yang dikatakan Mei. Aku masih ingin mendengar lebih darinya. ”Lalu rahasiamu?” tanyaku penasaran. ”Lihat itu,” kata Mei dengan mendongakkan kepala mengarah ke tembok yang lain. ”Apa itu?” tanyaku dengan pelan namun penuh harap. ”Soal itu. Jadi begini. Sejak dulu sebenarnya kelahiranku tak pernah diharapkan. Kau pasti tahu alasannya. Orang yang lahir dari rahim keturunan tak pernah diharapkan karena penderitaan demi penderitaan akan diterima. Kelahiran merupakan bencana kau tahu. Sentimen orang-orang pada kami sangat gila. Jadi sampai saat ini, aku masih jarang keluar dari rumah dan lebih suka di rumah dan tak berhubungan dengan orang banyak. Demi diriku juga demi keluargaku.” Mei bercerita dengan sangat serius. Matanya berkaca-kaca. ”Tapi yang perlu kau tahu, Tuhan bisa saja tidak menyelamatkanmu. Tapi aku yakin jika nantinya kita mati, kita akan berada dalam pelukan Tuhan,” kata Mei mantap dan tegas. ”Jika masih sempat, akan kuceritakan rahasia-rahasia lainnya yang kuketahui. Semua ada di lorong rubanah ini,” tambahnya.

Aku menunduk. Lantas menatap tembok berisi catatan yang dimaksud Mei. Namun hal yang tak kami duga terjadi. Suara gemuruh muncul tepat di atas kepala. Suara-suara memenuhi pintu masuk rubanah tempat kami saat ini. Tiba-tiba semua yang ada di depanku seolah kabur. Tulisan di tembok lesap. Semakin samar. Semakin memudar. Kurasa tulisan itu telah berpindah dari mulut Mei lantas masuk ke kepalaku. Aku menunggu saat-saat itu. Lalu semuanya gelap.

Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu, alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

sumber : kompas.id, 07 Okt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme