Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Payung oleh Yin Ude

Posted on Kam, 02 Nov 2023

Bagi Netty kemarau tahun ini lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Mataharinya pun lebih terik, dan panas paparannya sudah cukup menyiksa bahkan dari pukul sembilan pagi.

Ibu muda satu anak itu menjadi semakin enggan keluar rumah sebelum sore sekali. Ia, yang sedang berusaha memutihkan kulitnya tak ingin mengambil risiko mengurangi efektivitas kinerja krim khusus yang ia pakai. Uangnya sudah keluar banyak untuk membeli. Tak ingin ia melakukan sesuatu yang sia-sia.

Tapi siang ini, pukul dua, sebentar lagi, ia harus ke rumah Bu Risa. Acara arisan, yang waktunya dimajukan dari biasanya setelah asar, berhubung tuan rumah akan keluar kota untuk urusan mendadak.

”Ada-ada saja Bu Risa. Mendingan ditunda saja sampai dia pulang, daripada seperti ini, arisan di siang bolong. Bikin kita terpaksa mengarungi terik matahari,” gerutunya gelisah seraya membuka aplikasi WA di ponselnya, mencari nama suaminya untuk di-call, memintanya segera pulang agar bisa mengantar dirinya dengan mobil pick up pabrik ke tempat arisan.

Mendingan ditunda saja sampai dia pulang, daripada seperti ini, arisan di siang bolong.

Tapi sejurus ia tutup kembali layar ponsel itu. Urung ia menelepon saat ingat bahwa jam segini suaminya yang sopir pabrik pakan ternak itu masih sibuk. Lagi pula ia takut akan diomeli, ”masa ke rumah Bu Risa yang dekat, masih satu RT, harus diantar pakai mobil? Jalan kaki kan bisa, Bu.”

Ya, rumah Bu Risa sangat dekat, jalan kaki tujuh menit sampai. Tapi itu tadi, Netty tak ingin berjalan di bawah paparan terik matahari.

Pakai payung? Nah ini masalah yang selalu dan sekarang berkecamuk pula di dalam hati Netty. Ingin ia memakai payung kemana-mana, untuk melindungi kulitnya. Tapi mertua perempuannya cerewet. Ibu dari Dani, suaminya itu pasti akan langsung menegur dengan kata-kata tajam, ”masa ndak hujan kamu pakai payung. Risihlah dilihat warga sekitar yang pasti akan menilai kamu petantang-petenteng, sok gaya-gayaan kayak orang-orang kota, kayak orang yang ndak pernah berpanas-panas di sawah saja.”

Netty memastikan itu setelah beberapa bulan lalu, pada hari pertama ia memakai pemutih, mertuanya terkejut melihat payung teronggok di sudut teras. Payung yang rencananya akan digunakan Netty keluar ke kios.

”Ih, kenapa ada payung di sini? Siapa yang akan pakai payung dalam cuaca bagus begini?” seru sang mertua seraya membawa kembali payung itu ke tempat penyimpanan.

Tak mungkin juga Netty berterus terang menjelaskan bahwa ia sedang menggunakan krim pemutih dan payung penting untuk menghindari kulitnya dari paparan sinar matahari.

Itu akan memicu sindiran dan omelan lain lagi dari mertuanya. Jangankan si ibu, Dani saja tak diberitahu oleh Netty perihal dirinya sedang merawat kulit. Takutnya Dani akan mencetuskan reaksi yang tidak nyaman pula.

Sungguh, Netty merasa bersalah karena tidak jujur pada suaminya itu. Apalagi ini menyangkut keluarnya anggaran yang harusnya diketahui oleh Dani. Wanita itu hanya bisa terus menguat-nguatkan dirinya sendiri, ”nanti, besok lusa, akan kuberitahu juga Mas Dani. Untuk saat ini aku tunda dulu.”

Sudah pukul 13.30. Pikiran Netty semakin berkecamuk, semakin gelisah karena menghadapi keharusan pergi ke rumah Bu Risa, sementara tak ada jalan keluar untuk menghindari paparan terik matahari di jalan nantinya.

Ia bangkit dari kursi teras tempatnya duduk dari tadi. Tapi tak tahu untuk apa.

Tatapannya saja yang kosong merayapi suasana di luar halaman yang lengang. Tidak satu pun orang terlihat keluar. Karena tak mau berpanas-panas juga pastinya.

Wanita itu menghela nafas, menghela emosi yang sejenak menguasai hatinya. Emosi pada ibu mertuanya yang kenapa mesti begitu cerewet.

Bukannya Netty tak berani melawan. Ia ingin terus menghormati perempuan tua itu, sebab demikianlah salah satu cara ia memberi harga setinggi-tingginya pada suaminya, Dani.

Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di benak perempuan dua puluh tahunan itu : gagasan untuk nekad, paling tidak untuk kali ini saja!

”Bukankah biasanya jam segini ibu mertuaku sedang di kamar, tidur, dan bangunnya paling nanti sekitar pukul setengah empat?” suara hatinya.

Tatapannya menyelidik ke dalam rumah. Tak nampak orang, tak ada tanda-tanda ibu mertuanya berada di luar kamar.

”Cukup waktuku untuk pergi berpayung ke tempat arisan. Jam tiga aku sudah balik lagi ke rumah. Ibu mertuaku masih tidur. Jadi ia tidak akan melihat aku memakai payung,” bisik Netty pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di benak perempuan dua puluh tahunan itu: gagasan untuk nekad, paling tidak untuk kali ini saja!

Ia yakin, itulah gagasan terbaik untuk solusi terbaik! Maka dengan langkah pelan ia menuju gudang di belakang rumah. Dari sana ia keluar lagi dengan payung sudah di tangannya.

”Untung Alvaro main di rumah bibinya, jadi tidak ada yang rewel, yang mungkin saja membuat keributan saat aku pergi seperti ini,” kata hatinya senang. Alvaro adalah anaknya, yang baru berusia enam tahun.

Tak mau membuang-buang waktu lagi, kini Netty telah berada di jalan menuju rumah Bu Risa. Ia melangkah cepat dinaungi payung.

*

Hari yang sial buat Netty. Dugaannya salah! Pulang dari arisan ternyata mertuanya sudah duduk di teras. Dan tatap tajam wanita tua itu serasa seperti tikaman bagi hati menantunya yang masuk halaman dengan terkejut dan risih.

”Kok terang-terang begini pakai payung, Netty?”

Benar! Terbukti sudah keyakinan Netty tentang apa yang akan terjadi ketika mertuanya itu mendapatinya memakai payung di siang cerah seperti ini!

Ia berusaha menenangkan diri, menunjukkan sikap biasa dan bahkan tersenyum pada mertuanya itu.

”Saya, Bu.” Itu saja kalimat yang sanggup ia lontarkan, sebab kerongkongannya tercekat karena gugup. Kemudian ia mengisyaratkan permintaan ijin masuk ke dalam rumah dengan sangat sopan.

Netty berprinsip tak ada artinya menjawab apalagi mencoba menentang mertuanya itu, sebab wanita yang telah janda itu tak mengenal kata kalah atau mengalah. Selalu saja ia memiliki argumen, untuk perdebatan apa saja.

Netty memilih lekas-lekas ke gudang untuk menyimpan kembali payung yang ia bawa, lalu masuk kamar guna menyeka keringat yang membaluri tubuhnya. Dan yang paling penting segera bercermin, memeriksa keadaan wajah, leher dan lengannya seusai berada di ruang terbuka yang panas.

”Masa ndak hujan pakai payung. Apa ndak risih dilihat warga sekitar? Nanti dikira petantang-petenteng, sok gaya-gayaan kayak orang-orang kota, kayak orang yang ndak pernah berpanas-panas di sawah saja.”

Pas seperti perkiraan Netty. Kalimat yang nampaknya sengaja dikeraskan itu meluncur dari mulut ibu mertua yang masih berada di teras. Didengar jelas oleh sang menantu yang hanya bisa menggeleng-geleng.

Tapi lagi-lagi, walaupun dengan batin perih, Netty tetap berusaha untuk tidak mengambil hati ucapan ibu mertuanya itu. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya pada rencana menjemput Alvaro nanti sore. Sementara ia akan berbaring dulu, sambil menunggu kepulangan Dani.

**

Klakson berbunyi keras di depan rumah. Netty yang baru saja akan lelap harus terjaga karena kaget. Lekas ia bangkit dari dipan, keluar menyambut Dani yang sudah pulang.

Di pintu depan ia menunggu suaminya itu turun dari mobil pick up. Tapi sang suami justru melambaikan tangan, memanggil. Cepat-cepat Netty keluar halaman.

”Basuh mukamu sedikit, ganti pakaian, kita ke toko!” seru Dani menyaingi deru mesin mobil yang terus dibiarkan menyala.

Bibir Netty bergerak hendak bertanya, ”untuk apa, kenapa tiba-tiba?” Tapi ekspresi wajah Dani menunjukkan ketidakinginan bicara. Yang ada adalah dorongan agar isterinya itu segera melaksanakan perintahnya.

Gerak cepat, karena takut Dani ngomel, Netty sudah kembali, naik ke mobil dan langsung duduk di jok dengan wajah pasrah.

Sepanjang jalan Dani tak bicara sepatah kata pun. Netty jadi tidak enak hati. Ada kecemasan merayapi dadanya. Ia tahu betul watak suaminya itu, kalau sudah diam berarti ada yang sedang tak ia sukai.

”Apakah, apakah Mas Dani sudah tahu kalau aku membeli krim pemutih dan ia marah tak kuajak kompromi dulu? Tapi, masa iya Mas Dani tahu tanpa kuberitahu. Ia kan tidak mengerti apa-apa tentang kosmetik. Kemasan krim itu pun tak pernah kuletakkan di meja rias. Aku simpan baik-baik di tempat yang pastinya tak akan diketahui Mas Dani.”

Spekulasi mulai berkecamuk di kepala wanita yang berwajah cantik itu.

”Tadi saat kamu tidak ada di rumah, aku pulang tapi kembali lagi ke pabrik.”

”Duh, marahkah Mas Dani karena aku keluar tanpa memberitahukannya lewat ponsel?” seru batin Netty demi mendengar kalimat tiba-tiba dari Dani barusan. ”Oh, bisa jadi Ibu sudah bicara macam-macam pada Mas Dani karena pada beliau pun aku tak pamit. Pasti, pasti Mas Dani marah karena hal ini!”

Duh, marahkah Mas Dani karena aku keluar tanpa memberitahukannya lewat ponsel?

”Saya minta maaf, Mas, tak beritahu Mas, tak pamit juga ke Ibu sebelum pergi. Tadi saya hadiri acara arisan di rumahnya Bu Risa.” Lirih suara Netty karena dilatari kecemasan dan penyesalan.

Tapi kelihatannya Dani tidak memerhatikan. Ia justeru berkata tentang hal lain, ”urusan berpayung saja kok jadi repot sekali bagi Ibu, ya?”

Dada Netty berdesir. Ucapan Dani kali ini lebih menghentak dalam pendengarannya, lebih membuat kecemasannya menjadi-jadi.

Dengan ekor mata ia beranikan diri mencuri pandang kepada lelaki itu, yang terus menatap ke depan, berkonsentrasi mengemudi walaupun sambil bicara. Raut mukanya tawar.

”Apakah Ibu juga sudah mengadukan kelakuanku memakai payung di siang bolong?” jerit hati Netty. ”Dari nada Mas Dani, kayaknya ia kesal sama Ibu. Apakah ketika Ibu mengadukan aku, Mas Dani menentang mertuaku itu?”

Jika itu yang terjadi, sungguh, Netty cemas Dani akan menanyakan kenapa dirinya memakai payung segala, yang akibatnya memancing reaksi Ibu, yang membuat dirinya harus menentang, harus kesal pada orang tua satu-satunya itu.

Netty takut Dani akan memintanya tak usah lagi memakai payung demi menghindari omelan Ibu. Itu akan menjadi petaka bagi dirinya yang ingin sekali mempertahankan usahanya memutihkan kulit.

Sama pula takutnya Netty kalau-kalau Dani menyelidik dirinya dengan pertanyaan, “memangnya kenapa kamu harus pakai payung di hari tak berhujan. Kan biasanya kamu tahan dengan terik matahari. Toh kita yang biasa bertani juga tak masalah dengan itu!”

Netty tak akan bisa berbohong pada suaminya. Ia akan jujur memberi tahu bahwa dirinya sudah beberapa bulan menggunakan krim pemutih kulit, bahwa dirinya sudah menyisihkan uang belanja untuk itu, bahwa dirinya tak kompromi dulu sebelum mengambil keputusan, bahwa dirinya telah mendustai Dani!

Mobil berbelok ke kiri, lalu berhenti di depan toko perlengkapan rumah tangga. Netty masih terbawa kecamuk perasaannya. Ia terpekur, tak sadar Dani menatapinya dengan heran.

”Kita sudah sampai, ayo turun!”

Barulah perempuan itu sadar, turun dari mobil dan melangkah dengan tanpa semangat, mengikuti suaminya yang masuk ke dalam toko.

”Mau beli payung, Mbak. Dua biji.”

Netty seperti tersengat mendengar Dani mengucapkan itu kepada pramuniaga.

”Payung? Beli payung?” seru hatinya tak mengerti. ”Kenapa Mas Dani beli payung, dua biji lagi?”

Ingin ia bertanya pada suaminya itu. Tapi kecemasan masih menguasai dirinya, hingga keraguan begitu besar mengganjal dalam otaknya.

”Nih, pegang.” Dani menyodorkan dua payung yang telah ia bayar sendiri. Lengan Netty ditariknya pula agar lekas berjalan kembali ke mobil.

Pick up melaju lagi di bawah terik matahari yang mulai turun suhunya, sebab waktu sore mulai menjelang.

”Selama musim kemarau yang panasnya luar biasa ini Ibu harus memakai payung kalau keluar di siang hari. Tadi aku sedikit kesal. Ketika pulang kudapati beliau akan pergi ke warung sementara cuaca panas sekali. Kusuruh memakai payung, tidak mau. Alasannya payung tak ada, kau bawa. Aku takut beliau yang sudah berumur itu akan mudah sakit jika terpapar terik. Makanya kuajak kamu beli payung. Biar tak ada lagi alasan beliau. Biar sekarang masing-masing kita punya satu payung.”

Sontak Netty mengangkat mukanya yang dari tadi terus tertunduk, memandangi Dani dengan sorot mata tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

”Kenapa kau memandangku seperti itu?” Protes suaminya.

”Jadi kita semua harus pakai payung, ya?” Pelan suara Netty seperti bicara pada dirinya sendiri. Ia berharap Dani mengulang lagi kata-katanya untuk lebih yakin.

”Ya, benar. Ibu harus memakai payung kalau keluar di siang hari. Kamu juga. Aku juga.”

Netty merasa dirinya seperti mengawang-awang karena begitu lega demi mendengar ucapan Dani untuk kedua kali, demi menyadari bahwa apa yang ia cemaskan dari tadi ternyata tidak benar! Demi mendapati kenyataan bahwa ia diharuskan memakai payung oleh suaminya itu. Alih-alih diomeli, alih-alih dilarang!

Kini kebahagiaanlah yang sedang menguasai hati dan pikirannya. Bahagia sekali.

Tiba-tiba perempuan itu ingin jujur pada lelaki yang sangat dicintainya itu.

”Mas, menurut Mas, bagaimana penampilan saya sekarang? Ada yang berubah ndak dalam pandangan Mas Dani?”

Mendadak manja suara Netty, berharap Dani memandangi wajahnya, lalu menangkap perubahan yang terjadi karena ia memakai krim pemutih kulit.

Dani memelankan laju mobil. Dada Netty dag-dig-dug ketika sang suami memandangi wajahnya dengan lekat.

”Biasa saja. Dari saat pacaran sampai sekarang, kamu tetap cantik. Tak ada yang berubah.”

Polos sekali, santai sekali suara Dani.

Merahlah wajah Netty. Merah karena malu, apa yang dia harapkan dari suaminya ternyata tak terwujud. Jauh sekali dari ekspektasinya!

”Ow, memang, belakangan ini aku lihat kamu berbeda. Kulitmu semakin cerah saja!”

Kata-kata itu yang diinginkan Netty terlontar dari mulut Dani, yang dibarengi senyuman senang! Netty menggeleng-geleng kecewa.

Ia jadi cemas krim pemutih yang ia pakai tidak maksimal kinerjanya.

Ia juga marah pada dirinya yang tak nekad dari dulu, memakai payung saja kemana pun pergi, tanpa peduli pada orang lain, asal usahanya membuahkan hasil.

Sumbawa Timur, 6 Desember 2022

Yin Ude, penulis Sumbawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel dan artikel terpublikasi di media cetak dan online dalam dan luar daerah Sumbawa. Memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Buku tunggalnya adalah Sepilihan Puisi dan cerita Sajak Merah Putih (Rehal Mataram, 2021) dan Novel Benteng (CV Prabu Dua Satu Batu Malang, Mei 2021) dan antologi puisi Jejak (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2022). Puisinya termuat pula dalam belasan antologi bersama para penyair Indonesia.

sumber : kompas.id, 02 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme