Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Berjudi dengan Maut oleh Daisy Rahmi

Posted on Sab, 04 Nov 2023

Putaran bilah-bilah kipas angin tak mampu menghadirkan kesejukan. Ruangan itu terasa pengap bukan hanya karena banyaknya pengunjung, tapi juga dari kepulan asap rokok yang berembus dari puluhan mulut. Aku tahu di tempat seperti ini mudah menemukan seorang putus asa yang bersedia melakukan apa saja dengan imbalan uang. Tapi, saat ini aku butuh seorang yang putus asa dan bisa dipercaya.

Aku memesan minuman. Sembari bersandar ke meja bartender dan menyesap minuman yang dipesan, kuedarkan pandang mencermati seluruh pengunjung. Harus segera kutemukan. Rencana itu harus secepatnya dijalankan. Sosok di seberang ruangan menarik perhatianku. Ada sesuatu di dirinya yang kukenal. Botol minuman di meja depannya tinggal terisi setengah. Dari paras yang kemerahan dan caranya memegang gelas, aku tahu dia sudah mabuk.

Kugamit si bartender.

”Siapa dia?”

Yang ditanya mengikuti arah tatapanku.

”Tak tahu nama, tapi dia cukup sering ke sini.”

”Dia pejudi?”

Senyum samar muncul di bibir lawan bicaraku.

”Bukankah semua begitu.”

”Mungkin seharusnya aku tidak memberinya sebotol lagi,” tambahnya, ”Dia sudah terlalu banyak minum.”

Aku berjalan menuju meja lelaki itu lalu duduk tanpa permisi. Kulirik dia yang bergeming.

Ternyata ia tak semuda sebagaimana tampak dari jauh. Bekas luka di pipi terlihat samar di balik jambang yang dibiarkan tumbuh.

”Malam yang berat?” sapaku.

Laki-laki tersebut berkata tanpa memandang.

”Pergi.”

”Baiklah,” sahutku datar sambil bangkit, ”Agaknya kau tak tertarik dengan tawaranku.”

Ada gerakan mendadak di belakangku.

”Tawaran apa?”

Aku pura-pura tidak dengar. Harus kuuji seberapa tertarik dia. Pengalaman mengajarkan: semakin tertarik seseorang, semakin mudah ia dikuasai. Gelas minuman dan lembaran uang aku letakkan di meja bartender sebelum melangkah keluar.

Mungkin seharusnya aku tidak memberinya sebotol lagi.

Malam mulai larut. Kutinggalkan kedai minum tersebut dan menyusuri jalan pulang hanya diterangi sinar pucat bulan, mengabaikan gemerisik di belakang. Kesabaran si penguntit rupanya tak bertahan lama. Dipercepatnya langkah, menarik lenganku sambil berteriak sebelum mencapai tempat kendaraan diparkir.

”Hei! Aku tanya, apa tawaranmu!”

Dahiku mengernyit ketika napas berbau alkohol menyapu wajah. Meski suka minum, aku benci pemabuk. Tiap manusia harus tahu batas kemampuannya sebelum jadi makhluk rendahan yang sama sekali tak beretika. Aku renggut lepas cengkeramannya, mendorong laki-laki tersebut sampai jatuh terjerembab, kemudian melemparkan kartu nama yang kuambil dari saku ke sisinya.

”Aku tidak berbisnis dengan pemabuk. Bersihkan dirimu. Datang ke alamat itu setelah kau sadar.”

Aku masuk ke mobil dan melaju pergi.

***

Beberapa hari berselang, selagi menimbang berapa lama harus menunggu, pintu rumahku diketuk. Minuman keras memang bisa mengubah seseorang. Menyaksikan perubahan sosok di balik pintu, aku mulai meragukan kesanggupannya menjalankan tugas.

Si tamu menggumam.

”Aku datang.”

Ia melangkah masuk dan duduk begitu aku menyisih memberi jalan. Kututup pintu dan duduk di depannya. Pria tersebut gugup dan gelisah. Berulang kali disisirnya rambut dengan jari- jari tangan sambil mengerling cemas ke pintu masuk seakan takut ada yang membuntuti.

”Apa tawaranmu?” tanyanya. ”Aku benar-benar terdesak.”

”Siapa namamu?”

Tak segera terdengar jawaban.

”Terserah nama asli atau palsu. Hanya untuk memudahkanku memanggilmu.”

”Rex.”

”Berapa utangmu?”

Anak muda itu menyebutkan jumlahnya.

”Anggap lunas.”

”Bukan hanya itu,” bantah Rex cepat, ”Aku juga ingin bayaran untuk apa pun yang akan kulakukan.”

”Tentu saja.”

”Jadi apa tugasku?”

”Memerankan seseorang.”

Mata Rex mengerjap. Sebelum diutarakannya apa yang ada di pikiran, aku bangkit dan mengulurkan tangan.

”Kau akan kuhubungi lagi.”

Lelaki itu menjabat tanganku dengan enggan. Sesaat terlihat ia ingin mengatakan sesuatu yang segera diurungkan. Kupandangi sosoknya melangkah pergi, membuka pintu depan dan menghilang. Gerakannya setengah menyelinap, membuatku makin yakin telah mengenalnya.

Tiga hari kemudian aku menghubunginya. Kami bertemu di rumahku tepat pukul sembilan pagi. Pembicaraan berkisar tugas untuknya dan pembayaran yang akan diterima. Ketika Rex bersiap pergi sejam kemudian, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, kulontarkan kejutan yang telah kusiapkan.

”Bagaimana kabar ayahmu? Aku harap dia telah keluar dari penjara dan baik-baik saja.”

Perlahan tamuku berbalik. Wajahnya seputih kertas.

”A… apa maksudmu?”

Aku menarik laci lemari terdekat dan mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya. Kutaruh berkas-berkas itu di meja depanku, memandang tenang si pria.

Bagaimana kabar ayahmu? Aku harap dia telah keluar dari penjara dan baik-baik saja.

”Tak sulit mengenalimu, Rex. Bukan hanya perawakan dan gerak-gerik ayahmu yang kau warisi, tapi juga sifatnya.”

Rex kembali duduk. Bulir keringat muncul di dahinya.

”Semua ada di situ,” ucapku, sementara laki-laki tersebut membalik-balik tumpukan berkas dengan jari gemetar.

”Apa maumu?!””teriaknya putus asa.

Kukeluarkan secarik kertas dari saku baju.

”Bacalah.”

Disambarnya kertas itu. Bola mata Rex bergerak cepat, menelusuri tulisan yang tertera.

Susah payah ditelannya ludah sebelum membantah parau.

”Bukan ini kesepakatan kita.”

”Kesepakatan batal. Mulai sekarang kau akan melakukan apa pun yang kuperintahkan.”

Kutatap sosok yang sepenuhnya menyadari ia tak punya pilihan. Sudut bibirku terangkat, gembira menemukan sekutu tepercaya. Rex, atau siapa pun dia sebenarnya, tidak akan berani berkhianat selama rahasia hidupnya ada di tanganku.

***

Rencana itu berjalan mulus, aku tinggal selangkah lagi. Mudah saja mempergunakan Rex untuk menarik perhatian lelaki tersebut. Berbagai informasi yang dikumpulkan Rex melengkapi penyelidikan yang telah kulakukan selama ini. Lima bulan kemudian aku yakin sudah waktunya bertindak.

Jarum arloji menunjukkan sepuluh menit setelah tengah malam setiba di sana. Terletak di pinggiran kota, nyaris tanpa penerangan, bangunan besar itu tampak bagai raksasa dalam gelap.

Aku matikan mesin setelah melintasi gerbang utama, turun dari mobil, kemudian menghampiri sosok gelisah yang menanti di teras.

”Sudah kulakukan semua yang kau inginkan. Dia ada di kamar tidur di lantai atas, ruangan kedua sebelum balkon. Begitu siuman, dia tak bisa melakukan apa pun, termasuk bersuara.”

”Terima kasih,” ucapku. Bagaimana pun aku bisa sejauh ini berkat bantuannya.

”Semua utangmu lunas. Sudah kutransfer pembayaran ke rekeningmu. Aku sarankan juga kau pergi secepatnya dari kota ini.”

Rex mengabaikan ucapanku. Dipandangnya aku dengan tajam.

”Pegang kata-katamu. Aku tak mengenalmu. Masalah ini sepenuhnya tanggung jawabmu.”

”Tentu.”

Aku perhatikan sosok Rex hilang dalam gelap. Sesaat diriku bergeming. Terdengar deru mesin di kejauhan, diikuti kemunculan mobil. Lampu depannya yang terang menyorot kendaraan yang kuparkir selagi mobil itu meluncur pergi. Detik berikutnya kukenakan sarung tangan karet dan menekan gagang pintu.

Meja berhiaskan rangkaian bunga plastik serta beberapa kursi di sekitarnya adalah yang pertama kulihat. Detak jarum jam dinding terdengar jelas dalam keheningan. Berbeda dengan keadaan di luar rumah yang kelam, seluruh ruangan bermandikan cahaya. Menempel ke tembok taman belakang, terdapat kandang anjing dengan sang penghuni yang tertidur pulas setelah Rex membiusnya.

Aku naik tangga yang melingkar ke atas dan menuju ruangan sesuai petunjuk Rex. Lelaki itu belum sadar. Aku keluar mengambil segayung air dari kamar mandi. Aku tak bisa lama-lama di sini. Dua kelopak mata pria yang terbaring di tempat tidur terbuka begitu air mengenai wajah.

Berkedip-kedip, berupaya mengusir kabut air yang mengaburkan penglihatan. Sesaat kemudian ekspresinya berubah. Masa yang berlalu belum cukup banyak untuk mengubah penampilanku.

Dibukanya mulut, berusaha mengeluarkan suara tanpa hasil.

Kusunggingkan senyum lalu berkata ramah.

”Waktumu habis.”

Setengah jam kemudian aku sudah ada dalam mobil. Ada satu tempat lagi yang harus aku datangi sebelum pulang. Kusentuh bekas luka di dada. Tanda mata yang ditinggalkan si lelaki dua tahun lalu. Aku puas melihat keputusasaan di matanya, sadar hidupnya akan berakhir di tangan korban yang tak sengaja dibiarkannya hidup hari itu.

Kendaraan kuhentikan di tepi jalan tanah, keluar kemudian menyerahkan kunci mobil pada seseorang yang menunggu.

”Lakukan sesuai perintah.”

Ia mengangguk sebagai jawaban dan membawa mobilku pergi. Aku berhenti di dekat sungai dalam perjalanan pulang, membakar sarung tangan karet dan menghanyutkan gumpalan hitam. Langit semburat merah begitu aku sampai di rumah. Beberapa jam lagi akan terjadi kegemparan yang segera reda. Terlupakan. Karena sebagaimana laki-laki itu di kotanya, di sini aku adalah hukum.

Daisy Rahmi, kelahiran Manado. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta. Kumpulan Cerpen Solo Kepak Sayap Merpati (Alinea Publishing, 2022), Antologi : Musim Bahagia (Gigih Mandiri Pustaka, 2022), Yang Tak Diketahui (Alinea Publishing, 2022), Kembalinya Imam Surau (Phoinex Publisher, 2022).

sumber : kompas.id, 04 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme