Bualan ini dimulai dengan terdamparnya seorang lelaki tua di pantai. Semua orang, pada mulanya, menganggapnya sebagai orang suci karena berhasil bertahan di dalam perut seekor paus. Namun, sebuah penyakit aneh yang segera menghantam kampung di pantai itu membuat semuanya sepakat bahwa ”Orang Suci” itu tampaknya tiba di kampung mereka dengan membawa malapetaka.
”Dia telah memikul malapetaka di sepanjang jalan yang telah dilaluinya dan dia membagi-bagikannya kepada siapa pun yang ditemuinya,” kata Ketua Kampung. ”Dia sedang dalam perjalanan pulang menuju ke suatu tempat suci sehingga dia perlu melepaskan pikulannya. Di tempat suci, seseorang tidak boleh membawa apa pun. Kita mungkin harus mengorbankan diri untuk membantunya mencapai tempat itu. Barangkali dengan begitu nama kita akan dicatat dalam sejarah dan abadi dalam ingatan kolektif generasi mendatang dan akan disebut-sebut di dalam kitab suci sebagai kaum yang pantas diteladani.”
Ketua Kampung adalah orang yang paling percaya takhayul di antara penduduk kampung bahkan ketika kabel-kabel sambungan internet telah merajalela di langit kampung itu. Sesuatu yang mampu menghubungkan orang-orang dengan dunia luar yang jauh, yang ada di seberang lautan, atau bahkan sesuatu yang ada di balik bumi yang mereka pijak sekarang.
Namun, bagaimanapun, dia orang terhormat, yang berhasil mengusir orang-orang kulit putih yang pernah mencoba untuk menggali minyak di lautan mereka. Itu terjadi ketika dia masih berusia paruh baya, ketika Ketua Kampung sebelumnya masih hidup meski dalam kondisi tidak berdaya, hanya bisa berbaring di atas ranjang gantungnya sambil memberikan petuah-petuah bagi penduduk kampung.
Dia mengangkat senapan berburunya dan menyerukan kepada para pemuda di sana agar turut serta memikul senjata apa pun yang bisa digunakan untuk mengusir orang-orang kulit putih yang tamak itu. Peristiwa itu ditulis oleh sejarah dengan tajuk ”Darah Berminyak” dan hanya bisa diingat oleh segelintir orang saja karena negara telah berusaha menghapusnya dari ingatan kolektif rakyatnya agar nama baik mereka tidak berlumuran darah.
Alkisah, disebutkan bahwa Kepala Kampung telah menghabisi tujuh polisi yang bertugas menjaga pengeboran minyak itu hanya dengan enam peluru. Aksi heroiknya ditutup dengan cacatnya kaki kirinya karena terkena peluru senapan seorang tangan kanan kepala rombongan kulit putih itu yang pada akhirnya berhasil juga ditumpas oleh sang Kepala Kampung di detik-detik terakhir perjuangannya.
Dalam masa invalidnya itulah dia akhirnya diangkat menjadi Kepala Kampung untuk menggantikan Kepala Kampung sebelumnya yang wafat satu hari setelah peristiwa Darah Berminyak itu usai. Mereka butuh seorang tokoh untuk berunding dengan delegasi dari ibukota. Dengan menggunakan tongkat dan dipapah seorang pemuda yang dia percayai kecakapannya, Kepala Kampung menghadiri perundingan itu dan berhasil meyakinkan orang-orang dari ibukota itu untuk melindungi lautan.
”Pada mulanya Ibu kami adalah penduduk lautan. Ayah kami yang tidak bisa menahan nafsunya menyelam ke dasar lautan untuk bercinta dengannya dan lahirlah penduduk kampung ini. Lautan juga bagian dari kampung halaman kami dan sudah tugas kami untuk menjaga kemurniannya untuk generasi mendatang. Tuan rumah tidak perlu berunding dengan maling di rumahnya,” kata Kepala Kampung sambil mengacungkan tongkatnya kepada delegasi itu.
Pada mulanya Ibu kami adalah penduduk lautan. Ayah kami yang tidak bisa menahan nafsunya menyelam ke dasar lautan untuk bercinta dengannya dan lahirlah penduduk kampung ini.
Itu adalah cerita asal-usul kehidupan di kampung itu. Semuanya memercayainya, meskipun generasi-generasi baru mulai menyangsikannya. Cerita itu kemudian menjadi bahan olok-olokan. Terutama ketika lelaki tua yang terdampar di pantai mereka selamatkan.
”Kalian sinting. Tidak ada yang semacam itu. Mungkin yang kalian sebut Ibu itu adalah perempuan dari seberang lautan. Cerita zaman dahulu selalu dibumbui hal-hal di luar nalar agar terdengar heroik, sekadar untuk menumbuhkan kekaguman pada generasi mendatang, sekadar untuk menunjukkan dominasi generasi terdahulu atas generasi mendatang.”
Lelaki tua itu sempat akan dibakar karena dianggap melecehkan kisah asal-usul penduduk sana, tetapi Ketua Kampung berhasil meredam kemarahan orang-orang fanatik itu.
”Siapa pun yang datang ke kampung kita tanpa maksud mengotori lautan kita dan menghancurkan pohon-pohon kelapa dan bakau kita, tidak berhak ditumpahkan darahnya. Zaman mungkin telah berubah. Jika kalian masih ingin memercayai kisah itu, silakan. Jika ada yang memutuskan untuk menganggapnya sebagai bualan, tidak boleh ada yang menghukumnya. Satu-satunya yang perlu kita jaga hanyalah kampung ini. Angkatlah senjata pada tangan-tangan kotor dan ulurkan tangan pada mereka yang membutuhkan bantuan.”
Lalu, datanglah hari itu, dimulai sejak kokokan pertama ayam jantan di kandang Kepala Kampung yang selalu menjadi jawara dalam acara sabung ayam: seorang bocah terbangun dan bersin-bersin sebanyak tujuh kali berturut-turut dan kehilangan nyawanya begitu saja sebelum ibunya yang berada di dapur menyadarinya.
”Kematian bisa datang dari apa pun,” kata Kepala Kampung. ”Bahkan tawa sekalipun bisa mengundang maut. Tugas kita, sebagai yang masih hidup, adalah mengantarkannya ke dunia seberang dengan membakarnya sampai menjadi abu dan menaburkan abunya ke lautan, untuk dikembalikan kepada Ibu kita.”
Baca juga: Parkit
Ketika matahari berada pada puncak tertinggi, tujuh orang dari berbagai kalangan sudah meregang nyawa. Kampung menjadi sibuk. Jumlah penanggung jawab pembakaran jenazah yang semula hanya berjumlah dua orang perlu ditambah tiga orang lagi. Duka segera memenuhi kampung, asap pembakaran jenazah memenuhi langit, dan air mata membanjiri jalanan. Satu penduduk dengan penduduk lainnya serupa satu bagian tubuh dengan bagian tubuh lainnya. Rasa sakit pada satu bagian akan menyebar ke bagian lain. Persatuan benar-benar mewujud di kampung itu, bukan sekadar sebuah slogan yang terus digaungkan, terutama di peringatan hari kemerdekaan.
Seseorang memberikan korespondensi kepada ibukota, tapi tak kunjung mendapatkan balasan. Bagi ibukota, inilah kesempatan untuk menghancurkan para pembangkang tanpa perlu melumuri tangan sendiri dengan darah. Orang-orang lekas putus asa karena para dukun gagal mengobati orang-orang bersin dan mencegah kematian merangkul mereka. Para dukun berputus asa dan melakukan bunuh diri masal karena gagal menjalankan tugasnya. Di kampung itu, bunuh diri adalah cara paling terhormat untuk menebus kegagalan.
”Kepala Kampung,” kata pimpinan dukun, ”Kami gagal menjalankan tugas yang telah kau berikan. Kami juga tidak menemukan jalan keluar. Kehidupan kami sudah tidak berarti lagi ketika kami tidak bisa menjalankan tugas kami. Kami harap Anda menebarkan abu kami dengan cara yang pantas. Bukankah kami masih berhak pulang kepada pelukan Ibu?”
”Tentu.”
Para dukun kemudian menghunuskan sebilah pisau dari pinggang masing-masing dan memutus urat nadi pada leher mereka. Kisah itu, di masa mendatang, di luar kampung, menjadi bahan olok-olokan karena para dukun mereka anggap sebagai sekumpulan orang bodoh yang tidak menghargai kehidupan dan terjebak dalam kekangan peran.
Pada hari ketiga, hampir separuh abu penduduk kampung ditaburkan ke laut. Kampung menjadi lebih sunyi daripada sebelumnya. Penyakit itu mereka anggap sebagai kutukan (beberapa dari mereka yang religius menganggapnya sebagai panggilan) dari laut.
”Ibu mengirimkan angin kepada kita dan membuat kita bersin-bersin sebanyak tujuh kali dan mati setelahnya. Ibu ingin kita kembali kepadanya.”
Pada hari kelima, ketika jumlah penduduk hanya tersisa seperempat dari jumlah sebelum malapetaka itu tiba, seorang tua yang lebih senang mengurung diri sejak berakhirnya peristiwa Minyak Berdarah keluar dari gubuknya dan bersabda kepada orang-orang yang masih hidup bahwa pendatang, lelaki tua yang terdampar di pantai, adalah penyebab malapetaka ini.
Ibu mengirimkan angin kepada kita dan membuat kita bersin-bersin sebanyak tujuh kali dan mati setelahnya. Ibu ingin kita kembali kepadanya
”Kepala Kampung,” katanya dalam majelis darurat, ”Sebelum seluruh penduduk tersapu habis, termasuk Anda sendiri, sebaiknya segera usir dia.” Seorang tua itu menunjuk Azazel, lelaki tua yang terdampar di pantai, yang duduk di sudut ruang majelis.
Azazel tidak bergerak, juga tidak terkejut ketika dituduh semacam itu. Sudah sejak pengusiran itu dia selalu dituduh sebagai akar segala masalah. Tuduhan kecil yang dilayangkan kepadanya sekarang tidak berarti apa pun dibanding tuduhan, penghinaan, pertama yang dia terima di Taman Firdaus.
Orang-orang tersulut, bahkan generasi muda yang tidak terlalu percaya takhayul lagi. Mereka bersiap untuk menangkap Azazel dan membawanya keluar dari perbatasan kampung yang berarti adalah lautan karena kampung itu adalah sebuah pulau terpencil. Tapi mereka urung bergerak ketika Kepala Kampung mengangkat tongkatnya.
”Barangkali dia memang akar dari malapetaka ini, tapi barangkali ini sudah garis yang telah ditetapkan sebagai akhir dari riwayat kita. Barangkali bangsa kita tidak memiliki kesempatan kedua di muka bumi.”
”Aku akan pergi jika kalian menghendakinya,” kata Azazel.
”Tidak, Sahabatku,” kata Kepala Kampung. ”Kau tidak akan ke mana-mana. Harus ada yang menaburkan abu ke lautan dari orang terakhir kampung ini yang bersin sebanyak tujuh kali.”
Tepat tujuh hari, hanya tersisa Kepala Kampung yang menjadi penduduk asli kampung itu. Selama satu minggu itu, kampung itu tetap sibuk dengan upacara kematian. Selama seminggu itu pula, Kepala Kampung terus menumpahkan air matanya hingga menyebabkan kebutaan. Hanya Azazel kini yang tersisa di sampingnya.
Baca juga: Lelaki dan Nyamuk
”Mereka akan datang lagi. Orang-orang kulit putih itu akan datang lagi dan mengeruk harta laut kami dan mengotorinya dan menghapus sepenuhnya tempat ini dari peta.”
”Tidak ada yang abadi, Sahabat.”
”Maukah kau membakarku sebelum lautan itu kotor dengan minyak?”
”Tentu.”
”Terima kasih. Aku juga telah gagal menjalankan tugasku sebagai kepala kampung. Ah, jabatan itu seperti bualan saja sekarang. Hanya api dari upacara pemakaman yang mampu membersihkan dosa-dosaku sebagai Kepala Kampung yang tak berdaya.”
Azazel menyiapkan tumpukan kayu yang masih tersisa di gudang kampung, menatanya serapi mungkin agar Kepala Kampung merasa nyaman ketika berbaring untuk yang terakhir kalinya nanti.
”Kau harus mengikatku agar aku tidak melarikan diri. Manusia bisa membangkitkan kekuatan terbesarnya dalam kondisi bahaya, bahkan jika tubuhnya tinggal separuh.”
”Baik.”
Setelah tumpukan kayu itu sudah siap, Azazel membantu Kepala Kampung untuk berbaring di atasnya. Dia membaringkan sahabat barunya itu dengan begitu perlahan. Dia mengikat sekujur tubuh Kepala Kampung dengan kabel-kabel yang sudah tidak ada artinya lagi di kampung itu. Azazel berpikir mungkin sahabatnya itu ingin sekali menangis, tapi air matanya telah dia habiskan untuk menangisi penduduk kampungnya.
”Bakar aku sampai benar-benar menjadi abu, termasuk tulang-tulangku.”
”Sesuai permintaanmu.”
”Berapa malapetaka yang masih tersisa padamu?”
”Hanya Tuhan yang tahu, Sahabat.”
Bakar aku sampai benar-benar menjadi abu, termasuk tulang-tulangku.
Azazel turun dari tumpukan kayu itu dan mulai membakar kayu-kayu yang berada di bawah. Api segera menjalar, menjilat-jilat udara dan menggoda pucuk daun-daun palem agar mendekatinya. Azazel menunggu di sana sampai api itu memurnikan jasad sang Kepala Kampung. Selama pembakaran itu berlangsung, sekelompok kapal mulai mendekati pulau itu.
Begitulah bualan ini berakhir dan, kelak, di masa mendatang, orang-orang tidak akan percaya bahwa sebuah pulau yang damai dari tangan-tangan serakah itu pernah dihuni oleh sekelompok manusia yang percaya bahwa mereka berasal dari laut dan harus pulang ke laut ketika mati. Orang-orang hanya percaya bahwa titik hitam pada peta hanyalah kilang minyak di tengah samudra. Para pemuda yang kelimpungan mencari pekerjaan akan nekat untuk pergi ke sana, bertempur dengan badai hanya untuk mengebor minyak yang agaknya tidak akan pernah habis sampai kiamat.
25 Agustus 2023
Mochamad Bayu Ari Sasmita.Lahir di Mojokerto pada HUT Ke-53 RI. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.
sumber : kompas.id, 16 Nov 2023.