Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Datangnya Malapetaka oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita

Posted on Kam, 16 Nov 2023

Bualan ini dimulai dengan terdamparnya seorang lelaki tua di pantai. Semua orang, pada mulanya, menganggapnya sebagai orang suci karena berhasil bertahan di dalam perut seekor paus. Namun, sebuah penyakit aneh yang segera menghantam kampung di pantai itu membuat semuanya sepakat bahwa ”Orang Suci” itu tampaknya tiba di kampung mereka dengan membawa malapetaka.

”Dia telah memikul malapetaka di sepanjang jalan yang telah dilaluinya dan dia membagi-bagikannya kepada siapa pun yang ditemuinya,” kata Ketua Kampung. ”Dia sedang dalam perjalanan pulang menuju ke suatu tempat suci sehingga dia perlu melepaskan pikulannya. Di tempat suci, seseorang tidak boleh membawa apa pun. Kita mungkin harus mengorbankan diri untuk membantunya mencapai tempat itu. Barangkali dengan begitu nama kita akan dicatat dalam sejarah dan abadi dalam ingatan kolektif generasi mendatang dan akan disebut-sebut di dalam kitab suci sebagai kaum yang pantas diteladani.”

Ketua Kampung adalah orang yang paling percaya takhayul di antara penduduk kampung bahkan ketika kabel-kabel sambungan internet telah merajalela di langit kampung itu. Sesuatu yang mampu menghubungkan orang-orang dengan dunia luar yang jauh, yang ada di seberang lautan, atau bahkan sesuatu yang ada di balik bumi yang mereka pijak sekarang.

Namun, bagaimanapun, dia orang terhormat, yang berhasil mengusir orang-orang kulit putih yang pernah mencoba untuk menggali minyak di lautan mereka. Itu terjadi ketika dia masih berusia paruh baya, ketika Ketua Kampung sebelumnya masih hidup meski dalam kondisi tidak berdaya, hanya bisa berbaring di atas ranjang gantungnya sambil memberikan petuah-petuah bagi penduduk kampung.

Dia mengangkat senapan berburunya dan menyerukan kepada para pemuda di sana agar turut serta memikul senjata apa pun yang bisa digunakan untuk mengusir orang-orang kulit putih yang tamak itu. Peristiwa itu ditulis oleh sejarah dengan tajuk ”Darah Berminyak” dan hanya bisa diingat oleh segelintir orang saja karena negara telah berusaha menghapusnya dari ingatan kolektif rakyatnya agar nama baik mereka tidak berlumuran darah.

Alkisah, disebutkan bahwa Kepala Kampung telah menghabisi tujuh polisi yang bertugas menjaga pengeboran minyak itu hanya dengan enam peluru. Aksi heroiknya ditutup dengan cacatnya kaki kirinya karena terkena peluru senapan seorang tangan kanan kepala rombongan kulit putih itu yang pada akhirnya berhasil juga ditumpas oleh sang Kepala Kampung di detik-detik terakhir perjuangannya.

Dalam masa invalidnya itulah dia akhirnya diangkat menjadi Kepala Kampung untuk menggantikan Kepala Kampung sebelumnya yang wafat satu hari setelah peristiwa Darah Berminyak itu usai. Mereka butuh seorang tokoh untuk berunding dengan delegasi dari ibukota. Dengan menggunakan tongkat dan dipapah seorang pemuda yang dia percayai kecakapannya, Kepala Kampung menghadiri perundingan itu dan berhasil meyakinkan orang-orang dari ibukota itu untuk melindungi lautan.

”Pada mulanya Ibu kami adalah penduduk lautan. Ayah kami yang tidak bisa menahan nafsunya menyelam ke dasar lautan untuk bercinta dengannya dan lahirlah penduduk kampung ini. Lautan juga bagian dari kampung halaman kami dan sudah tugas kami untuk menjaga kemurniannya untuk generasi mendatang. Tuan rumah tidak perlu berunding dengan maling di rumahnya,” kata Kepala Kampung sambil mengacungkan tongkatnya kepada delegasi itu.

Pada mulanya Ibu kami adalah penduduk lautan. Ayah kami yang tidak bisa menahan nafsunya menyelam ke dasar lautan untuk bercinta dengannya dan lahirlah penduduk kampung ini.

Itu adalah cerita asal-usul kehidupan di kampung itu. Semuanya memercayainya, meskipun generasi-generasi baru mulai menyangsikannya. Cerita itu kemudian menjadi bahan olok-olokan. Terutama ketika lelaki tua yang terdampar di pantai mereka selamatkan.

”Kalian sinting. Tidak ada yang semacam itu. Mungkin yang kalian sebut Ibu itu adalah perempuan dari seberang lautan. Cerita zaman dahulu selalu dibumbui hal-hal di luar nalar agar terdengar heroik, sekadar untuk menumbuhkan kekaguman pada generasi mendatang, sekadar untuk menunjukkan dominasi generasi terdahulu atas generasi mendatang.”

Lelaki tua itu sempat akan dibakar karena dianggap melecehkan kisah asal-usul penduduk sana, tetapi Ketua Kampung berhasil meredam kemarahan orang-orang fanatik itu.

”Siapa pun yang datang ke kampung kita tanpa maksud mengotori lautan kita dan menghancurkan pohon-pohon kelapa dan bakau kita, tidak berhak ditumpahkan darahnya. Zaman mungkin telah berubah. Jika kalian masih ingin memercayai kisah itu, silakan. Jika ada yang memutuskan untuk menganggapnya sebagai bualan, tidak boleh ada yang menghukumnya. Satu-satunya yang perlu kita jaga hanyalah kampung ini. Angkatlah senjata pada tangan-tangan kotor dan ulurkan tangan pada mereka yang membutuhkan bantuan.”

Lalu, datanglah hari itu, dimulai sejak kokokan pertama ayam jantan di kandang Kepala Kampung yang selalu menjadi jawara dalam acara sabung ayam: seorang bocah terbangun dan bersin-bersin sebanyak tujuh kali berturut-turut dan kehilangan nyawanya begitu saja sebelum ibunya yang berada di dapur menyadarinya.

”Kematian bisa datang dari apa pun,” kata Kepala Kampung. ”Bahkan tawa sekalipun bisa mengundang maut. Tugas kita, sebagai yang masih hidup, adalah mengantarkannya ke dunia seberang dengan membakarnya sampai menjadi abu dan menaburkan abunya ke lautan, untuk dikembalikan kepada Ibu kita.”

Baca juga: Parkit

Ketika matahari berada pada puncak tertinggi, tujuh orang dari berbagai kalangan sudah meregang nyawa. Kampung menjadi sibuk. Jumlah penanggung jawab pembakaran jenazah yang semula hanya berjumlah dua orang perlu ditambah tiga orang lagi. Duka segera memenuhi kampung, asap pembakaran jenazah memenuhi langit, dan air mata membanjiri jalanan. Satu penduduk dengan penduduk lainnya serupa satu bagian tubuh dengan bagian tubuh lainnya. Rasa sakit pada satu bagian akan menyebar ke bagian lain. Persatuan benar-benar mewujud di kampung itu, bukan sekadar sebuah slogan yang terus digaungkan, terutama di peringatan hari kemerdekaan.

Seseorang memberikan korespondensi kepada ibukota, tapi tak kunjung mendapatkan balasan. Bagi ibukota, inilah kesempatan untuk menghancurkan para pembangkang tanpa perlu melumuri tangan sendiri dengan darah. Orang-orang lekas putus asa karena para dukun gagal mengobati orang-orang bersin dan mencegah kematian merangkul mereka. Para dukun berputus asa dan melakukan bunuh diri masal karena gagal menjalankan tugasnya. Di kampung itu, bunuh diri adalah cara paling terhormat untuk menebus kegagalan.

”Kepala Kampung,” kata pimpinan dukun, ”Kami gagal menjalankan tugas yang telah kau berikan. Kami juga tidak menemukan jalan keluar. Kehidupan kami sudah tidak berarti lagi ketika kami tidak bisa menjalankan tugas kami. Kami harap Anda menebarkan abu kami dengan cara yang pantas. Bukankah kami masih berhak pulang kepada pelukan Ibu?”

”Tentu.”

Para dukun kemudian menghunuskan sebilah pisau dari pinggang masing-masing dan memutus urat nadi pada leher mereka. Kisah itu, di masa mendatang, di luar kampung, menjadi bahan olok-olokan karena para dukun mereka anggap sebagai sekumpulan orang bodoh yang tidak menghargai kehidupan dan terjebak dalam kekangan peran.

Pada hari ketiga, hampir separuh abu penduduk kampung ditaburkan ke laut. Kampung menjadi lebih sunyi daripada sebelumnya. Penyakit itu mereka anggap sebagai kutukan (beberapa dari mereka yang religius menganggapnya sebagai panggilan) dari laut.

”Ibu mengirimkan angin kepada kita dan membuat kita bersin-bersin sebanyak tujuh kali dan mati setelahnya. Ibu ingin kita kembali kepadanya.”

Pada hari kelima, ketika jumlah penduduk hanya tersisa seperempat dari jumlah sebelum malapetaka itu tiba, seorang tua yang lebih senang mengurung diri sejak berakhirnya peristiwa Minyak Berdarah keluar dari gubuknya dan bersabda kepada orang-orang yang masih hidup bahwa pendatang, lelaki tua yang terdampar di pantai, adalah penyebab malapetaka ini.

Ibu mengirimkan angin kepada kita dan membuat kita bersin-bersin sebanyak tujuh kali dan mati setelahnya. Ibu ingin kita kembali kepadanya

”Kepala Kampung,” katanya dalam majelis darurat, ”Sebelum seluruh penduduk tersapu habis, termasuk Anda sendiri, sebaiknya segera usir dia.” Seorang tua itu menunjuk Azazel, lelaki tua yang terdampar di pantai, yang duduk di sudut ruang majelis.

Azazel tidak bergerak, juga tidak terkejut ketika dituduh semacam itu. Sudah sejak pengusiran itu dia selalu dituduh sebagai akar segala masalah. Tuduhan kecil yang dilayangkan kepadanya sekarang tidak berarti apa pun dibanding tuduhan, penghinaan, pertama yang dia terima di Taman Firdaus.

Orang-orang tersulut, bahkan generasi muda yang tidak terlalu percaya takhayul lagi. Mereka bersiap untuk menangkap Azazel dan membawanya keluar dari perbatasan kampung yang berarti adalah lautan karena kampung itu adalah sebuah pulau terpencil. Tapi mereka urung bergerak ketika Kepala Kampung mengangkat tongkatnya.

”Barangkali dia memang akar dari malapetaka ini, tapi barangkali ini sudah garis yang telah ditetapkan sebagai akhir dari riwayat kita. Barangkali bangsa kita tidak memiliki kesempatan kedua di muka bumi.”

”Aku akan pergi jika kalian menghendakinya,” kata Azazel.

”Tidak, Sahabatku,” kata Kepala Kampung. ”Kau tidak akan ke mana-mana. Harus ada yang menaburkan abu ke lautan dari orang terakhir kampung ini yang bersin sebanyak tujuh kali.”

Tepat tujuh hari, hanya tersisa Kepala Kampung yang menjadi penduduk asli kampung itu. Selama satu minggu itu, kampung itu tetap sibuk dengan upacara kematian. Selama seminggu itu pula, Kepala Kampung terus menumpahkan air matanya hingga menyebabkan kebutaan. Hanya Azazel kini yang tersisa di sampingnya.

Baca juga: Lelaki dan Nyamuk

”Mereka akan datang lagi. Orang-orang kulit putih itu akan datang lagi dan mengeruk harta laut kami dan mengotorinya dan menghapus sepenuhnya tempat ini dari peta.”

”Tidak ada yang abadi, Sahabat.”

”Maukah kau membakarku sebelum lautan itu kotor dengan minyak?”

”Tentu.”

”Terima kasih. Aku juga telah gagal menjalankan tugasku sebagai kepala kampung. Ah, jabatan itu seperti bualan saja sekarang. Hanya api dari upacara pemakaman yang mampu membersihkan dosa-dosaku sebagai Kepala Kampung yang tak berdaya.”

Azazel menyiapkan tumpukan kayu yang masih tersisa di gudang kampung, menatanya serapi mungkin agar Kepala Kampung merasa nyaman ketika berbaring untuk yang terakhir kalinya nanti.

”Kau harus mengikatku agar aku tidak melarikan diri. Manusia bisa membangkitkan kekuatan terbesarnya dalam kondisi bahaya, bahkan jika tubuhnya tinggal separuh.”

”Baik.”

Setelah tumpukan kayu itu sudah siap, Azazel membantu Kepala Kampung untuk berbaring di atasnya. Dia membaringkan sahabat barunya itu dengan begitu perlahan. Dia mengikat sekujur tubuh Kepala Kampung dengan kabel-kabel yang sudah tidak ada artinya lagi di kampung itu. Azazel berpikir mungkin sahabatnya itu ingin sekali menangis, tapi air matanya telah dia habiskan untuk menangisi penduduk kampungnya.

”Bakar aku sampai benar-benar menjadi abu, termasuk tulang-tulangku.”

”Sesuai permintaanmu.”

”Berapa malapetaka yang masih tersisa padamu?”

”Hanya Tuhan yang tahu, Sahabat.”

Bakar aku sampai benar-benar menjadi abu, termasuk tulang-tulangku.

Azazel turun dari tumpukan kayu itu dan mulai membakar kayu-kayu yang berada di bawah. Api segera menjalar, menjilat-jilat udara dan menggoda pucuk daun-daun palem agar mendekatinya. Azazel menunggu di sana sampai api itu memurnikan jasad sang Kepala Kampung. Selama pembakaran itu berlangsung, sekelompok kapal mulai mendekati pulau itu.

Begitulah bualan ini berakhir dan, kelak, di masa mendatang, orang-orang tidak akan percaya bahwa sebuah pulau yang damai dari tangan-tangan serakah itu pernah dihuni oleh sekelompok manusia yang percaya bahwa mereka berasal dari laut dan harus pulang ke laut ketika mati. Orang-orang hanya percaya bahwa titik hitam pada peta hanyalah kilang minyak di tengah samudra. Para pemuda yang kelimpungan mencari pekerjaan akan nekat untuk pergi ke sana, bertempur dengan badai hanya untuk mengebor minyak yang agaknya tidak akan pernah habis sampai kiamat.

25 Agustus 2023

Mochamad Bayu Ari Sasmita.Lahir di Mojokerto pada HUT Ke-53 RI. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.

sumber : kompas.id, 16 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme