Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Polong oleh T Agus Khaidir

Posted on Ming, 19 Nov 2023

Pengantin laki-laki Maimunah mati. Saat berjalan dalam iring-iringan menuju rumah keluarga perempuan, lelaki berperawakan tinggi tegap itu mendadak tersungkur dan menggelepar-gelepar. Darah menyembur dari mulutnya, lalu keluar dari hidung, telinga, bahkan dari dubur dan sudut-sudut matanya.

Bertalu pukulan rebana dan lantunan marhaban terhenti seketika.

”Salah apa dia? Tega betul kalian berbuat begini!” seru Maimunah di sela raung tangisnya yang menyayat.

Ayah, ibu, dan sanak kerabatnya datang menyabarkan. Namun memang hanya kalimat istigfar yang kuasa terucap. Apa mau dikata! Mereka bukan tak tahu siapa pelakunya. Seperti banyak kejadian terdahulu, pelakunya tak pernah berada jauh. Bahkan, sering kali berbaur di antara kerumunan, berdiri menatap dengan wajah dingin, seolah hendak memastikan korbannya tidak sekadar menggelepar di ambang mati. Pun kali ini. Maimunah bahkan melihatnya tersenyum menyeringai tatkala laki-laki yang bakal jadi suaminya terkapar tak bangun-bangun lagi.

Namun, Maimunah hanya bisa menangis. Hanya bisa bersumpah serapah. Menunjuk hidung, apalagi melaporkan peristiwa ini ke polisi, adalah tindakan percuma dan berbahaya. Besar kemungkinan ada kematian susulan, yang boleh jadi lebih keji, dan polisi tidak akan pernah sampai pada kesimpulan apa pun lantaran tabiat pembunuhan ini tidak kasatmata. Ada tapi tidak ada. Tak berwujud tapi nyata.

Maka memang tidak ada yang bisa dilakukan Maimunah selain menangis dan bersumpah-serapah. Pesta pernikahannya bubar. Padahal, tiada kurang dua ekor lembu, lima kambing, dan empat puluhan ekor ayam sudah disembelih. Mak Etek, juru masak dari kampung sebelah yang dikenal piawai meracik rempah, juga telah didatangkan untuk memanjakan lidah tamu undangan.

”Semoga kalian nanti membusuk di neraka!”

Maimunah kembang kampung. Kecantikannya mencengangkan. Kulitnya bersih, tidak terlalu putih tapi juga bukan sawo matang. Matanya bulat berbinar dan hidungnya mancung layaknya hidung bintang-bintang film India. Bibirnya pipih dengan rona merah yang tidak betul-betul merah, seperti pipinya. Posturnya tinggi, langsing, tampak bertenaga dengan otot-otot yang padat proporsional. Pendek kata, molek, dan ini adalah bawaan badan. Hampir tidak pernah ia menggunakan riasan, terlebih-lebih perhiasan, yang berlebihan.

Tidak cuma cantik. Maimunah terpelajar dan berotak encer juga. Lain dari kebanyakan perempuan di kampung ini, Maimunah bergelar sarjana. Empat tahun ia kuliah di fakultas ekonomi, dilanjutkan dua setengah tahun menuntaskan magister. Terlebih pula, ayahnya, Haji Zainuddin, merupakan pemuka masyarakat sekaligus orang paling kaya di kampung ini. Tongkangnya tujuh, ditambah dua truk tiga suku dan empat colt diesel untuk mengangkut ikan-ikan tangkapan para nelayan upahan ke pasar.

Tak heran Maimunah jadi rebutan. Rasa-rasanya tidak ada laki-laki di kampung ini —dan kampung-kampung tetangga—yang tidak menaruh hati padanya. Namun, tak sedikit pun Maimunah menunjukkan ketertarikan pada mereka.

”Bukan perkara aku cantik, aku sarjana, dan ayahku kaya, Laila. Mungkin kedengaran klise. Namun, cinta itu memang soal hati, tidak bisa dipaksakan,” katanya padaku setelah ia, untuk kali ke sekian, menolak ungkapan perasaan Anwar Sadat.

Aku tidak tahu sejak kapan Anwar Sadat menyukai Maimunah. Walau berkawan-kawan sejak kecil, keduanya tak pernah terlalu akrab. Selalu ada jarak, yang membentang justru lantaran dirawat dengan telaten oleh keluarga mereka, terutama Suwardi Maladewa, ayah Sadat. Suwardi (orang-orang memanggilnya ”Lek Wardi”) menaruh dendam pada Haji Zainuddin. Dendam yang menurut cerita ayahku berangkat dari setidaknya dua perkara kegagalan.

Pertama, kegagalan mempertahankan jabatan kepala desa. Ihwalnya adalah Pemilu 1987. Sebagai kepala desa di era Orde Baru sudah barang tentu Lek Wardi menjadi juru kampanye Golkar dan bertugas kembali memenangkan partai ini sebagaimana dilakukannya pada tahun 1982. Golkar kala itu menang telak. Menyapu bersih suara. Kecuali di kampung kami. Suara Golkar dibayang-bayangi PPP.

Lek Wardi paham dia harus menjaga siapa. Iya, Haji Zainuddin! Kata ayahku, walau tidak pernah secara resmi berbaju PPP, darah Masyumi yang kental mengalir di tubuhnya membuat Haji Zainuddin merasa dia harus memberi andil untuk partai berlambang Kabah itu. Ayah Haji Zainuddin, Kakek Maimunah, merupakan pemangku jabatan teras di kepengurusan Masyumi yang berperan penting dalam terlaksananya Muktamar Alim Ulama se-Indonesia di Medan pada 11 April 1953, sebagai reaksi atas pidato Presiden Soekarno di Amuntai tentang negara Islam.

Merasa telah menjalankan semua petunjuk para politisi senior partai, Lek Wardi setel yakin dirinya bisa mengatasi Haji Zainuddin. Namun, dia salah berhitung. Alih-alih memperbaiki pencapaian Golkar, suara PPP justru berlipat, dan untuk kali pertama sejak ikut pemilu Golkar kalah di kampung kami.

Kegagalan kedua tidak jauh-jauh dari politik juga. Pemilu 1992 Lek Wardi mencoba peruntungan menjadi anggota dewan. Dia gagal, dan lagi-lagi, kegagalan ini berkaitan dengan Haji Zainuddin.

Waktu itu Lek Wardi cuma caleg nomor sepatu. Namanya tercecer di urutan 39. Kata Ayahku, sebenarnya ini lazim dalam politik. Bagaimanapun kader baru mesti tahu diri dan memberi jalan kepada para senior. Lek Wardi berkeyakinan lain. Menurut dia, sekiranya punya modal lebih banyak posisinya bisa terdongkrak. Paling tidak masuk jajaran sepuluh besar dan dengan demikian peluang menang jadi lebih terbuka.

Modal inilah masalahnya. Sekitar satu setengah tahun sebelum pemilu Lek Wardi bekerja dalam senyap. Dia berhasil membujuk warga agar bersedia menjual tanah mereka kepada pengembang untuk pembangunan tempat pelelangan ikan dan dermaga baru. Namun, mendekati hari pembayaran ganti rugi, Haji Zainuddin angkat bicara. Bilangnya, kita Melayu bangsa beradat, pantang melepas tanah ulayat. Ampuh! Warga terpengaruh dan urung membubuhkan tanda tangan di dokumen perjanjian.

Kata ayahku, ini bukan sengketa tanah pertama yang melibatkan mereka berdua. Saat masih menjabat kepala desa, dengan kuasanya; stempel, kop surat, dan kata sakti ”pembangunan”, Lek Wardi kerap memaksa warga menjual tanah mereka. Sering kali dengan harga kelewat murah. Namun, di hadapan Haji Zainuddin dia tidak berkutik. Ketokohan dan kekayaan Haji Zainuddin membuatnya mampu membeli kuasa lain yang membuat Lek Wardi harus menundukkan kepala.

Sejak itu perang dingin terjadi. Keduanya membentuk faksi-faksi, yang dari tahun ke tahun, sadar tak sadar, ikut membagi warga kampung kami ke dalam dua kubu. Walau demikian, tak seperti riwayat-riwayat perseteruan lain yang selalu riuh, mereka justru berupaya untuk tidak bersinggungan. Melangkah di jalan sendiri-sendiri, tak saling mengganggu apalagi mencelakai. Pendek kata semuanya masih baik-baik saja sampai Anwar Sadat merasa dirinya telah jatuh cinta pada Maimunah.

Demi anak Lek Wardi mengalah. Dia datang ke rumah Haji Zainuddin, menyampaikan maksud meminta Maimunah jadi menantu. Namun, Haji Zainuddin menyerahkan keputusannya pada Maimunah. Menurut dia, Maimunah sudah dewasa dan berhak menentukan nasibnya sendiri.

Jawaban ini mengecewakan Lek Wardi dan Anwar Sadat. Kudengar dari orang-orang, dalam ceracau saat tenggen berat usai menenggak entah berapa botol Topi Miring, Anwar Sadat bersumpah tidak akan melepas Maimunah pada laki-laki mana pun.

”Kalau aku tak dapat dia, maka tidak akan ada yang boleh dapat. Celaka bagi siapa pun yang coba-coba mendekat. Begitu dia bilang, Mun,” kataku pada Maimunah menirukan sumpah Anwar Sadat.

Saat itu senyum masih mengembang di bibir Maimunah. Namun, binar matanya meredup dan wajahnya berubah pucat. Ia menggumam tapi aku tak mendengar jelas kalimatnya.

***

KEMATIAN pengantin laki-laki Maimunah sedikit banyak membuatku cemas. Ayahku memang tak serupa Haji Zainuddin dan Lek Wardi yang puluhan tahun betah berseteru. Sepengetahuanku dia tidak bermusuhan dengan siapa pun. Tidak juga pernah kudengar ada yang menyimpan bara dendam kepadanya. Ayahku bukan siapa-siapa. Di kampung ini, orang-orang sekadar mengenalnya sebagai tukang kombur kedai kopi yang nyaris sepanjang hidupnya cuma bisa bekerja mocok-mocok, serabutan, dan ini membuatnya selalu kekurangan uang.

Namun, kematian itu, juga ceracau Anwar Sadat, membangkitkan kecurigaan-kecurigaan lama. Kecurigaan yang tak lekang dari ruang ingat, yang dalam diam sekalipun sesungguhnya tidak pernah disangkal: bahwa penyebab segala bentuk kematian mendadak di kampung ini (dan kampung-kampung tetangga) adalah kiriman polong. Pembunuhan secara gaib, dari jauh, dengan kekuatan ilmu hitam.

Maka aku memilih untuk tidak berpasrah. Aku tak mau menangis meratap dan bersumpah serapah seperti Maimunah. Pagi ini, aku dan calon suamiku masing-masing mengenakan cincin batu sewarna hati ayam dengan pengikat suasa pemberian Tok Awang, orang pintar kenalan calon mertuaku. Tok Awang bilang, atas pertolongan dan izin Allah, cincin ini mustajab menangkal polong.

Percaya tidak percaya, mau tak mau aku harus merasa percaya, dan memang, tidak ada yang tersungkur dalam iring-iringan menuju rumahku, tempat resepsi pernikahanku digelar. Calon suamiku tetap berjalan dengan gagah.

Setelah petuah yang berlinang air mata dari ayahku, dilanjutkan doa-doa dan rangkaian syarat dan syariat, tuan khadi memanggil saksi untuk mendengarkan calon suamiku mengucap ijab kabul.

”Saya terima nikahnya Laila Habsah binti Marjili Samsuri dengan mas kawin perhiasan emas dan seperangkat alat salat dibayar tunai.”

”Bagaimana saksi? Sah?”

Sebelum pertanyaan sempat berjawab, seorang perempuan yang duduk di barisan belakang, yang dari wajahnya kutaksir berusia sepantaran kami, tiba-tiba berdiri, lalu menandak-nandak bagai sedang menarikan tarian perang, memekik-mekik, lalu melompat menempel di dinding dan merayap seperti cicak.

Sejurus itu kurasakan cincin batu sewarna hati ayam pengikat suasa di tanganku bergetar dan memperdengarkan suara berdenging.

Medan, 2023

T Agus Khaidir lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 4 Februari 1977. Menulis puluhan cerpen yang sebagian besar telah tersebar dan dimuat di berbagai media cetak, daring, ataupun buku antologi bersama. Kini tinggal di Medan sebagai wartawan. Masih memotret, sesekali melukis, mengerjakan desain grafis, membuat sketsa, ilustrasi. Juga masih bermusik, dan tentu saja bermain sepak bola. Cerpennya, Ihwal Nama Majid Pucuk, muncul sebagai cerpen terbaik Kompas 2022.

Djaja Tjandra Kirana lahir di Denpasar, 29 Juni 1944. Belajar melukis secara otodidak sejak kecil. Memulai karier fotografinya dengan menjadi fotografer freelance, sambil tetap menekuni aktivitas melukis. Sejak 2018 mengelola Klub Seni Bali dan mengembangkan seni lukis rice paper. Sejak 1999 aktif berpameran tunggal dan bersama.

sumber : kompas.id, 19 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme