Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Firasat Kematian oleh Kristian Fourina

Posted on Kam, 23 Nov 2023

Rombongan pelayat menjalar sepanjang jalan. Terdengar bisik-bisik dari para pelayat menaruh rasa iba pada nasib Pak Han kelak. Namun, rasa iba hanyalah sebatas kata-kata, tak ada satu pun dari mereka yang ingin menemani Pak Han di masa tuanya yang kesepian.

Di antara begitu banyaknya pelayat yang mengucapkan bela sungkawa, ada satu dua kerabat dekat Pak Han—yang entah disengaja atau tidak—menanyakan adakah sebelumnya Pak Han memiliki firasat sebelum kepergian anak bungsunya yang memilukan. Pertanyaan basa-basi itu memaksa Pak Han untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang dialami beberapa hari terakhir.

”Entahlah, hanya saja semalam sebelum anakku pergi, aku bermimpi melihatnya berada di tengah-tengah keributan. Mungkin ada lima orang yang mengepung anakku dalam mimpi,” jawab Pak Han sambil terus mengingat-ingat. Para pelayat yang kebetulan mendengar penuturan Pak Han hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan memasang wajah penuh iba. Pak Han tidak mengerti, apakah pelayat itu bertanya karena benar-benar ingin tahu atau hanya bertanya untuk membunuh rasa jenuh. Sepertinya pertanyaan seperti itu ialah pertanyaan yang lumrah ada dalam suatu upacara pemakaman.

”Oh, betul, itu firasat,” timpal kerabatnya yang duduk bersebelahan dengannya. Pak Han sama sekali tidak merasa terhibur dengan perbincangan mengenai firasat kematian. Ia justru semakin merasa sedih karena jika memang mimpinya adalah sebuah firasat, seharusnya ia sudah mengatakan kepada anak bungsunya untuk berhati-hati atau bahkan melarang anaknya untuk keluar rumah sementara waktu agar mimpi itu tidak menimpa anaknya. Dengan kata lain, seharusnya ia bisa menunda kematian anaknya.

Sepertinya pertanyaan seperti itu ialah pertanyaan yang lumrah ada dalam suatu upacara pemakaman.

Setelah anak bungsu Pak Han dimakamkan, para pelayat berarak meninggalkan rumah lelaki tua itu. Pak Han sendiri hanya terlihat berjalan ke sana kemari untuk menyalami para pelayat yang meninggalkannya.

Kesedihan Pak Han dirasakan datang begitu tiba-tiba. Malam itu, Pak Han mengikuti acara doa bersama untuk arwah anaknya yang dihadiri oleh kerabat dan tetangga dekat.

Ketika semua orang sedang khusyuk berdoa, ingatan Pak Han tentang firasat kematian itu justru masih bermain-main di dalam kepalanya.

Doa bersama selesai dilakukan, tinggallah Pak Han seorang diri tanpa satu orang pun yang menemani. Pak Han sesekali menoleh ke sudut ruangan rumah yang mengingatkannya pada kenangan. Ruang keluarga yang dahulu terasa hangat kini membeku tanpa kehadiran anaknya.

Dahulu, rumah Pak Han begitu menyenangkan. Dapur terang benderang dengan bunyi spatula beradu dengan wajan, kamar anak sulungnya selalu dipenuhi suara musik anak remaja, sementara kamar anak bungsunya terdengar suara lantunan kitab suci. Berbagai peristiwa di rumah terasa semarak dalam benak. Semua kenangan itu rupanya mampu menghambat Pak Han untuk melakukan kegiatan apa pun.

Pak Han mengutuk takdir hidupnya yang selalu diikuti oleh rasa kehilangan. Seandainya istrinya tidak mengalami sakit yang berujung kematian, tentu ia masih memiliki kawan bicara. Kini ia merasa tidak berguna seperti sepeda tua yang kehilangan roda.

Kehidupan anak sulungnya berubah drastis setelah kematian istrinya. Putrinya yang selalu mengumbar keceriaan itu menjadi gadis pemurung yang tertutup. Bahkan Pak Han tidak tahu bahwa putrinya sedang menahan kegetiran hidup yang dialaminya di sekolah.

Waktu itu, putrinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Karena kenakalan remaja atau keisengan remaja, anak sulung Pak Han dilecehkan oleh kakak kelasnya. Kejadian itu cukup mengejutkan Pak Han karena anak sulungnya tidak pernah menceritakan apa pun kepadanya.

Pihak sekolah memohon kemurahan hati Pak Han untuk bersedia memaafkan peristiwa mengejutkan itu. Tanpa diminta, orangtua siswa yang melakukan pelecehan kepada anak sulung Pak Han pun memberikan segepok uang damai. Tentu saja saat itu Pak Han melengos karena baginya jika ia menerima uang damai sama saja dengan menjual tubuh anak gadisnya. Saat itu Pak Han bahkan berteriak murka hingga pertemuan damai itu berakhir begitu saja.

Rupanya setelah kejadian itu, anak sulung Pak Han merasa bahwa dirinya sudah telanjur menjadi pendosa. Ia tak mau memaafkan takdir buruk yang memeluknya. Lulus dari sekolah menengah atas, anak sulung Pak Han memutuskan bekerja sebagai pemandu karaoke.

Setiap malam, wajah anak sulung Pak Han tampak bersepuh bedak dengan bibir merah menyala. Rambut panjangnya yang dahulu hitam arang berubah ungu kemerahan. Jika berjalan, tubuh gadis itu menguarkan wewangian yang memabukkan. Pak Han merasa bahwa anak sulungnya sudah jauh berubah, namun ia tak bisa menahannya. Bagi Pak Han, melihat anak sulungnya masih waras jauh lebih baik daripada menasihatinya yang mungkin hanya akan membuat gadis itu menjadi gila.

Setiap malam, wajah anak sulung Pak Han tampak bersepuh bedak dengan bibir merah menyala. Rambut panjangnya yang dahulu hitam arang berubah ungu kemerahan.

Tiga tahun setelah anak sulung Pak Han menjadi pemandu karaoke, seorang polisi menghubungi dan mengatakan kepadanya bahwa anaknya tersebut telah menjadi korban pembunuhan. Para tetangga menaruh belas kasihan kepada gadis itu terlebih setelah mengetahui bahwa pembunuhnya adalah teman kencannya. Saat itu, Pak Han tak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ia tidak bisa mengembalikan hidup anak sulungnya meskipun pembunuh itu telah ditangkap dan kemudian dipenjara.

Pak Han termangu berhari-hari setelah kematian anak sulungnya. Para tetangga mengatakan bahwa Pak Han frustrasi karena tidak bisa menjaga anak gadisnya. Seandainya saat itu tidak ada anak bungsunya, mungkin Pak Han akan mengalami frustrasi berkepanjangan sampai akhir hidup. Untungnya, setiap malam, anak bungsu Pak Han yang taat beragama itu selalu mengajak Pak Han untuk beribadah bersama. Dengan begitu, kehidupan Pak Han kembali berangsur normal.

Namun, rupanya itu tidak berlangsung lama. Hidup Pak Han kembali terguncang karena kematian anak bungsunya. Kematian itu terjadi tiba-tiba, hanya karena ada dua pemuda klithih berboncengan sepeda motor yang iseng membacokkan parang kepada anak bungsunya ketika sedang berjalan kaki pulang dari langgar. Anak bungsu Pak Han memang biasa pulang dari langgar dini hari karena ia adalah seorang penjaga dan pengurus langgar. Ia membersihkan langgar di malam hari yang kemudian dilanjutkan dengan ibadah di sepertiga malam terakhir. Ia ingin langgar sudah bersih dan wangi ketika jemaah berdatangan untuk menunaikan ibadah subuh.

***

Pak Han tersadar dari lamunan. Rupanya malam setelah doa bersama untuk arwah anak bungsunya itu selesai, ia tidak bisa tidur. Kepalanya selalu dipenuhi oleh mendiang istri, anak sulung, dan anak bungsunya. Menurut kata hati Pak Han, mereka mati dengan tidak wajar. Bukan kematian yang disebabkan oleh uzurnya usia, melainkan karena suatu penyebab yang memilukan.

Pak Han menyesali dirinya yang tidak bisa menunda kematian seluruh anggota keluarga. Seandainya ia bisa menajamkan kepekaan jiwa, mungkin saja ia bisa menggunakan firasatnya untuk menunda kematian itu. Pada detik itu, terkejutlah ia mendapati jarum jam dinding sudah menunjukkan angka satu dini hari. Kepalanya terasa sakit seperti dihantam bongkahan batu kali. Kemudian ia beranjak untuk berusaha tidur dengan harapan setelah terbangun jiwanya akan merasa jauh lebih baik.

Tiga malam itu, Pak Han merasa telah diburu oleh firasatnya sendiri. Malam kesatu setelah kematian anak bungsunya, ia bermimpi bahwa tangannya mengucurkan darah.

Lukanya tak begitu lebar, namun darah yang keluar dari tangannya terlihat tampak sungguhan. Ia merasa kepayahan melihat darah yang terus mengucur dari tangannya hingga ia terbangun dari tidurnya.

Barangkali suatu kebetulan, esok paginya tangan Pak Han benar-benar mengucurkan darah segar ketika ia sedang mencuci sebilah pisau dapur yang baru saja ia gunakan untuk mengupas mangga. Mungkin saja peristiwa itu terjadi karena kelalaian Pak Han karena mencuci pisau sambil melamun. Namun, Pak Han percaya bahwa ia telah mendapat firasat lewat mimpi mengenai kejadian yang akan menimpanya, hanya saja ia kurang waspada.

Malam kedua, Pak Han bermimpi tentang kepala kerbau. Tubuh kerbau itu tidak ada, hanya kepala saja. Pelan-pelan kepala kerbau itu mendekati Pak Han. Dari jarak dekat, Pak Han bisa melihat kepala kerbau itu memiliki tanduk yang sangat panjang. Tiba-tiba kepala kerbau itu menyerangnya dengan tanduknya yang panjang. Pak Han berlari kencang agar tidak terkena tanduk kerbau yang tampak runcing itu sampai ia merasa telah kehabisan napas hingga ia terbangun dari tidur.

Esok paginya, Pak Han menganggap itu hanya sekadar mimpi. Tetapi setelah ia bertemu dengan seorang lelaki di sebuah warung makan, ia merasa itu bukan mimpi melainkan firasat. Ia merasa kadang-kadang firasat bisa hadir secara implisit melalui simbol.

Mungkin saja kepala kerbau bertanduk dalam mimpinya menyimbolkan seorang laki-laki yang berniat akan menyerangnya. Dugaan itu semakin meyakinkannya ketika ia melihat gerak-gerik si lelaki asing yang sangat mencurigakan. Jadilah Pak Han berlari kencang meninggalkan lelaki asing yang ia duga sedang menyembunyikan sebilah belati yang mungkin saja akan digunakan untuk menghabisi nyawanya.

Mimpi di malam ketiga ialah ratusan batu yang turun dari langit dan menghujani Pak Han. Dari bawah tampak bahwa batu-batu itu sengaja dituangkan ke tubuh Pak Han. Seketika Pak Han melindungi kepalanya dari serbuan batu yang bisa melukainya. Namun, tiba-tiba batu-batu yang telah jatuh menyentuh kakinya itu kemudian berubah menjadi akar yang menjalar dan membelit kaki hingga membuatnya jatuh dan terbangun dari tidur.

Esok paginya, Pak Han sadar betul bahwa ia telah mendapat firasat. Ia tidak ingin nasib buruk menimpanya seperti dalam mimpi. Saat ia keluar rumah, matanya dengan waspada menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak akan ada mara bahaya yang akan menemuinya. Sambil mencoba menafsirkan apa arti dari hujan batu yang menimpanya dalam mimpi, ia terus saja berjalan sambil menoleh kanan dan kiri bahkan belakang. Hingga kemudian ia jatuh tersungkur setelah kakinya tidak sengaja tersandung sebuah bongkahan batu di tepi jalan.

Akhirnya, malam itu ia memutuskan untuk tidak tidur. Ia tidak mau diburu firasatnya sendiri. Berjam-jam ia menonton acara televisi yang menayangkan berita yang diulang-ulang dan sinetron yang memuakkan. Ketika secara tidak sengaja ia terlelap dalam tidurnya, mungkin dalam hitungan detik, ia buru-buru tersadar dan membasuh wajahnya agar tidak mengantuk. Setelah itu, ia berjalan mondar-mandir di teras rumah, memandang bulan dan pepohonan. Kemudian ia berjalan ke belakang rumah dan menyibukkan diri dengan mengumpulkan satu per satu dedaunan kering yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik.

Selama lima malam berturut-turut, Pak Han melakukan aksinya untuk tidak tidur. Ia masih takut diburu firasat dalam mimpi jika tidur. Tubuhnya mulai lemas, nafsu makannya berkurang dan matanya terasa nyeri.

Akhirnya, malam itu ia memutuskan untuk tidak tidur. Ia tidak mau diburu firasatnya sendiri.

Pak Han duduk bersandar di bawah pohon yang berada tak jauh dari trotoar yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang seharusnya tidak boleh berdagang di tempat itu.

Seorang perempuan mendekatinya sambil menawarkan aneka macam jajanan. Pak Han menggelengkan kepala sambil mengibaskan tangan untuk menyuruh perempuan itu pergi.

Namun, perempuan itu justru duduk di samping Pak Han dan berkeluh kesah bahwa jualannya sedari pagi belum ada yang laku, berharap Pak Han terbujuk oleh keluh kesahnya dan bersedia membeli dagangannya.

Saat Pak Han menoleh pada perempuan itu, tiba-tiba perempuan itu mendesis-desis dan lidahnya menjulur seperti ular. Kaki perempuan itu menyempit dan menyatu menjadi ekor ular yang dipenuhi sisik. Pak Han menjerit menyaksikan perempuan itu tapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara selain gumaman yang tidak jelas.

Beberapa saat kemudian, tanpa diaba-aba para pedagang secara bersamaan membereskan dagangan mereka dan berlari kalang kabut. Perempuan yang tadi duduk di sebelah Pak Han sambil menjajakan dagangan juga sudah menghilang meninggalkan ingatan mengenai ular. Trotoar berubah gaduh seperti sedang terjadi kerusuhan.

Tiba-tiba lengan Pak Han ditarik paksa oleh seorang berseragam. Sementara orang- orang lainnya yang juga berseragam sedang mengobrak-abrik dagangan. Beberapa dagangan diangkut dan dimasukkan ke dalam mobil. Pak Han juga dipaksa untuk masuk ke dalam mobil. Ia berusaha melawan, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia merasa lemas seperti selembar tisu basah.

”Heran, semakin banyak gelandangan di kota ini,” kata salah seorang lelaki berseragam.

Pak Han menoleh pada lelaki yang barusan berbicara. Ia melihat lelaki itu berkepala kerbau seperti di mimpinya waktu lalu.

”Dari mana asalmu?” tanya lelaki berkepala kerbau.

Pak Han ingin menjerit, namun ia justru tertawa terpingkal-pingkal.

”Kepala kerbau,” gumam Pak Han sambil terpingkal.

Beberapa menit kemudian, Pak Han sudah berada di dalam mobil yang melaju. Di sekelilingnya ada berbagai macam barang dagangan. Ada tiga orang yang juga berpenampilan lusuh seperti dirinya. Pak Han tidak tahu akan dibawa ke mana. Dari mobil yang terbuka itu Pak Han merasakan embusan angin kencang yang membuai kepalanya hingga membuatnya tak bisa menahan kantuk.

Saat tiba di sebuah gedung, seluruh barang dagangan diturunkan dari mobil. Orang- orang yang berpenampilan lusuh digiring memasuki bangunan. Seorang lelaki berseragam berusaha membangunkan Pak Han, tetapi usahanya gagal.

”Tinggalkan saja orang gila itu, tadi dia mengataiku kepala kerbau!” seru seseorang dari kejauhan.

Siang terik itu, Pak Han terlelap.

Kristin Fourina, menyelesaikan pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Menulis cerita pendek di media lokal dan nasional. Tinggal di Kulon Progo, DIY.

sumber : kompas.id, 23 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme