Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Megatruh oleh Tjahjono Widarmanto

Posted on Sab, 09 Des 2023

Tak ada yang ingat, kapan lelaki tua itu datang dan kemudian menetap di dusun kami, mungkin enam atau delapan tahun lalu. Lelaki yang sekarang berusia sekitar tujuh puluh tahun itu mengenalkan dirinya dengan nama: Wasisto. Seluruh penduduk dusun kemudian menyapanya sebagai Mbah Wasis. Perawakannya biasa-biasa saja, seperti lazimnya orang ndeso, dadanya bidang dan kulitnya melegam dipanggang matahari. Tak pendek, tak juga jangkung. Agak bungkuk namun berahang keras sehingga tampak kokoh dan liat menandakan tubuh yang akrab dengan kerja keras.

Yang membedakan Mbah Wasis dengan orang tua-orang tua di dusun kami lainnya, adalah rambut dan matanya. Rambut Mbah Wasis panjang sampai ke punggung. Selepas mandi Mbah Wasis acap kali membiarkan rambut putihnya yang panjang dan basah itu terurai. Setelah kering, Mbah Wasis mengikat rambut putihnya rapi-rapi dengan udeng berwarna hitam. Dengan rambutnya yang panjang di balik iket udengnya, Mbah Wasis tampak gagah seperti tokoh-tokoh silat dalam karya SH Mintardja atau Kho Ping Ho.

Mata Mbah Wasis tajam dan bening, tidak seperti kebanyakan mata orang tua yang buram dan suram. Alis mata Mbah Wasis juga berwarna putih. Hidungnya tak pesek tapi juga tak mancung dan tanpa kumis. Walau bermata tajam, berambut panjang putih, beralis putih, tak menjadikan orang lain takut pada Mbah Wasis, sebab bibirnya selalu tersenyum. Mbah Wasis selalu tersenyum pada siapa saja. Pada anak-anak, mbok-mbok, bapak-bapak, bakul-bakul, lelaki-lelaki yang berangkat ke sawah atau ke warung, pokoknya kepada setiap orang.

Walau bermata tajam, berambut panjang putih, beralis putih, tak menjadikan orang lain takut pada Mbah Wasis, sebab bibirnya selalu tersenyum.

Mbah Wasis tinggal di lorong kecil, paling utara sudut dusun kami, di dekat makam kuburan dusun. Setiap orang yang mengantar keranda jenazah ke kubur atau sepulangnya, akan melewati rumahnya. Mbah Wasis tinggal seorang diri. Tak ada yang tahu di mana anak dan istrinya. Selentingan kabar, Mbah Wasis memang tak punya istri dan anak karena wadat. Kabar angin lainnya, istri Mbah Wasis telah mati karena tenggelam saat Bengawan Solo bandang.

Rumah Mbah Wasis kecil, namun berpekarangan cukup luas. Dinding rumahnya terbuat dari papan kayu campur tripleks yang semua dicat putih. Sederhana namun bersih dan rapi. Lantai rumah Mbah Wasis terbuat dari batu bata merah yang selalu disiram air sehingga tampak sejuk dan tanpa debu. Ada tiga ruang yang disekat dengan papan tripleks yang juga bercat putih bersih.

Ruang depan merangkap ruang tamu sekaligus ruang pribadi. Di ruangan itu hanya ada kursi rotan dan meja bulat yang kuno. Di atasnya selalu ada kendi berisi air dan sebuah radio transistor kecil. Di dinding ruangan itu tergantung hiasan dinding berupa wayang Werkudara, Kresna, Hanoman, dan keluarga punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Di bagian dinding lain tergantung sebuah capil lebar dan welasan berikut jorannya. Di bawah capil tergantung pula sebuah sabit dan parang.

Ruangan yang lain, lebih kecil. Tampaknya bilik tempat Mbah Wasis tidur. Tidak berpintu, hanya ada selambu atau tirai sederhana terbuat dari kain tipis berwarna putih keabuan. Di bilik itu ada sebuah ranjang atau tepatnya balai-balai tanpa kasur yang di atasnya terbentang sebuah tikar andong dan sebuah jarit yang terlipat rapi. Ada jendela di bilik itu sehingga udara selalu sejuk. Tak ada cermin di bilik itu.

Ruangan yang lain adalah dapur yang juga tak berpintu namun memiliki butulan ke luar belakang rumah. Tak banyak perabotan di sana. Hanya ada kompor minyak tanah, rak kayu kecil dengan beberapa piring seng, dua cangkir seng, satu gelas, sebuah layah dan ulek-uleknya, beberapa sendok, blek-blek kosong, ceret dan beberapa panci yang sudah tesok.

Pekarangan Mbah Wasis selalu bersih dan asri berpagar bambu yang bercat putih. Di dalam pekarangan itu ada beberapa rumpun bunga soka, puring, pandan, serai, kunir, kencur, dan melati yang selalu disiangi dengan rapi. Ada pula pohon belimbing wuluh dan pohon mangga yang besar dan tua. Di bawah pohon mangga itu, Mbah Wasis meletakkan sebuah lincak bambu untuk klekaran menikmati udara segar.

Mbah Wasis adalah orang tua yang ramah dan ringan tangan menolong siapa saja dan apa saja. Mulai dari menyembelih ayam, menyembelih kambing, membetulkan genteng rumah yang bocor, mengecat rumah, membersihkan tegalan, menebang pohon, nguras sumur, memperbaiki sanyo air yang rusak, bahkan memijat.

Anak-anak pun menyukai Mbah Wasis karena pandai mendongeng. Saban sore, sehabis menyapu pekarangan rumahnya dengan sapu lidi bertangkai panjang, Mbah Wasis duduk di lincak di bawah pohon mangga, kami mengerumuninya, dan mulai merajuk memintanya mendongeng. Mendongeng apa saja. Mulai dari dongeng kancil nyolong timun, kancil menunggui gongnya Nabi Sulaiman, kisah cinta Roro Mendut, riwayat tragis Roro Jonggrang, keris Nagasasra Sabuk Inten, Saridin, Aryo Penangsang gugur, kisah pengembaraan cita Panji Asmarabangun dan Candra Kirana, hingga lakon-lakon wayang yang dipetik dari kisah Ramayana atau Mahabarata.

Mbah Wasis, piawai mendongeng. Terasa hidup di benak kami, tokoh-tokoh yang dikisahkannya. Terlongong-longong kami membayangkan kecantikan Roro Mendut yang dengan seksinya mengisap kreteknya lantas sisa kretek berbekas bibirnya itu dijualnya mahal-mahal. Terngungun-ngungun kami membayangkan arca Roro Jonggrang meneteskan air matanya di kala senja menyelimuti Prambanan.

Terpingkal-pingkal kami membayangkan kecerdikan kancil memperdayai musuh-musuhnya. Terbayang-bayang kami menjelma menjadi Mahesa Jenar, pendekar jagoan yang nglanglang memburu keris Nagasasra Sabuk Inten atau menjadi Saridin yang sakti tapi lugu yang sanggup menguras sungai dengan rinjing yang bolong, atau menjadi Aryo Penangsang yang sakti dengan kuda hitamnya bernama Gagak Rimang, menggenggam keris pusaka ampuh, Kyai Brongot Setan Kober. Kadang kami pun merasa menjadi Panji, petualang yang tampan dan digandrungi perempuan-perempuan cantik.

Yang paling memesona, jika Mbah Wasis mendongeng lakon-lakon wayang, utamanya tokoh-tokoh yang terpajang di dindingnya. Tak jarang saat mendongeng Mbah Wasis memainkan tokoh-tokoh wayang itu. Menimang-nimang tokoh Werkudara kesayangannya, Mbah Wasis mendongeng sekaligus berfilosofi, ”Ngger, Tole, ini adalah Werkudara, kesatria mbarep keluarga Pandawa. Disebut juga Brotosena atau Bimasena. Seorang kesatria sakti yang teguh pada janji serta patuh dan hormat terhadap gurunya. Sakti mandraguna dengan kekuatan tubuhnya yang dahsyat. Memiliki pusaka sakti berbentuk gada yang diberi nama gada rujak polo yang sanggup meruntuhkan gunung. Senjatanya yang lain berupa kuku panjang dan tajam di ibu jarinya bernama kuku pancanaka yang sanggup merobek-robek perut lawannya. Tubuhnya yang tinggi besar membayangkan keteguhan hati dan jiwa kesatrianya. Werkudara tidak pernah bicara krama inggil, selalu ngoko kepada siapa saja karena sikap egaliter dan keberaniannya mengkritik segala ketidakadilan,” kata Mbah Wasis sambil menggerak-gerakkan wayang Werkudara itu dengan beksan gagah. Kami pun hanya melongo. Dan, mengalirlah cerita Werkudara yang mengobrak-abrik lautan dan berperang dengan naga raksasa demi perintah gurunya.

Kadang kami pun merasa menjadi Panji, petualang yang tampan dan digandrungi perempuan-perempuan cantik.

Di sore yang lain, Mbah Wasis dengan lucu memainkan dan mendongeng para punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sambil mendongeng, Mbah Wasis mewejang, ”Tole, Ngger… punakawan-punakawan ini gambaran kita para manusia yang tak pernah sempurna. Semar yang gendut dan bersenjata kentut yang busuknya luar biasa adalah gambaran untuk mewaspadai keserakahan yang mendekam di tubuh dan jiwa kita. Gareng yang pincang, tangan kirinya ceko dan matanya mlolo, mengingatkan kita untuk waspada melihat segala kepincangan yang ada dalam diri sendiri dan di sekeliling kehidupan kita. Petruk yang tinggi jangkung selalu malangkirik dan menuding-nuding, merupakan perlambang diri untuk mengendalikan sikap sombong dan menyalahkan orang lain. Sedang Bagong yang gembrot, bermulut lebar, dan pelo melambangkan diri kita yang selalu tak puas memanjakan nafsu dan membicarakan orang lain.”

Kami pun hanya manggut-manggut sambil merem melek membayangkan siapa di antara kami yang jadi Semar, Gareng, Petruk, atau Bagong. Di sela-sela dongengnya yang membuai, Mbah Wasis selalu menyelipkan tembang-tembang sesuai isi cerita. Bila mendongeng punakawan, ditembangkannya tembang lelagon dolanan pucung yang lucu atau berupa cangkriman. Jika berkait dengan kisah-kisah cinta maka Mbah Wasis nembang sinom atau asmaradana. Sedangkan kalau ceritanya menggambarkan kepahlawanan atau peperangan Sang Werkudara atau Aryo Penangsang, maka Mbah Wasis menembangkan gambuh atau durma. Di setiap akhir cerita kami pun bersorak, bertepuk tangan, kemudian lari berhamburan, pulang sambil membayangkan menjadi tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut.

/**/

Hampir dua bulan ini, Mbah Wasis tidak mendongeng. Mbah Wasis tiba-tiba menjadi pendiam dan mengurung diri di dalam rumahnya. Pekarangan rumah Mbah Wasis jadi tampak sunyi. Di sore hari Mbah Wasih tak lagi leyeh-leyeh klekaran di lincak bambu di bawah pohon mangga di pekarangan rumahnya. Tak pernah memerdulikan teriakan-teriakan kami, ”Mbah… Mbah… Mbah Wasis… ndongeng Mbah…!” Rumahnya pun tampak gelap dan suram. Suara radio transistor yang dulu saban malam berbunyi sekarang tak terdengar lagi. Bahkan lampu rumah Mbah Wasis yang dulu terang tampak lebih banyak gelap. Tanaman-tanaman soka, puring, serai, pandan, dan rumpun melati tumbuh liar tak terawat lagi. Daun-daun mangga yang kering berserakan di pekarangan tak pernah disapu.

Entah. Tak ada yang tahu mengapa Mbah Wasis mengurung diri dalam rumahnya. Para tetangga mulai dijangkiti penyakit usil dan rasa ingin tahu. Kasak-kusuk pun mulai berdengung, ”Mbah Wasis tapa. Semedi. Mbah Wasis tapa mbisu. Mbah Wasis tapa ngluweng!”

Suatu sore menjelang surup, Kang Pardi Pesek memberanikan diri masuk ke pekarangan dan mengintip ke dalam rumah Mbah Wasis. Kang Pardi Pesek tidak berhasil melihat apa pun. Kang Pardi Pesek hanya melihat sosok Mbah Wasis yang remang-remang, duduk mencangkung di kursi rotan. Di warung kopi Pak Munaji, Kang Pardi Pesek nyerocos bercerita dengan berbagai bumbu dan reka-rekanya sendiri.

”Lik, Lik Munaji, aku tadi nginceng Mbah Wasis,” kata Kang Pardi Pesek kepada Pak Munaji, si pemilik warung.

”Ha, kamu lihat Mbah Wasis? Sedang ngapain Mbah Wasis mendekam di rumahnya? Apa yang dilakukannya? Apa bener Mbah Wasis nglakoni tapa ngluweng?” sergah Pak Munaji dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Pardi Pesek hanya menggeleng dan berkata pelan, ”Aku tak bisa melihat dengan jelas, Lik. Lampunya dimatikan. Aku hanya melihat sosoknya remeng-remeng.”

”Lho, Kamu ngincengnya, malam, too,” tanya Pak Munaji tambah bernafsu ingin tahu.

”Ya, Lik. Surup tadi. Aku hanya melihat sosok Mbah Wasis duduk di ruang kursi rotannya,” jawab Pardi Pesek yang semakin antusias bercerita melihat wajah Munaji yang penuh rasa ingin tahu.

Setelah nyruput kopi cingkirnya, Pardi Pesek melanjutkan ceritanya dengan dibumbui di sana sini, ”Aku melihat samar-samar Mbah Wasis duduk bersila di tengah ruangan, di atas kursi rotannya. Rambut putihnya yang panjang tampak terurai tak disisir.”

”Lho, Mbah Wasis ndak ngluweng, to. Seperti kabar selama ini,” potong Munaji.

”Tidak, Lik,” kata Pardi Pesek diam sejenak sambil memberi isyarat kepada Munaji untuk menambah air panas di cangkir kopinya. Lantas dilanjutkannya ceritanya, ”Mbah Wasis duduk bersila di tengah ruangan sambil mulutnya komat-kamit entah membaca apa.”

”Mbah Wasis, ngrampal mantra apa, Di?” potong Munaji tak sabar.

Pardi Pesek kembali menggelengkan kepalanya, lantas berkata, ”Aku tak mendengar dengan jelas apa yang dikomat-kamitkan Mbah Wasis. Tapi aku mencium bau kenanga yang tajam.”

”Kenanga?” tanya Munaji.

”Ya, kenanga yang wanginya menyengat tajam,” kata Pardi Pesek sambil menghabiskan kopi cingkirnya.

Mulai malam itu pun tersiar kasak-kusuk Mbah Wasis tidak tapa ngluweng tapi tapa ngalong dengan menebarkan harum aroma kenanga. Kasak-kusuk itu menyebar ke mana-mana dengan tambahan bumbu yang juga ke mana-mana. Namun, Mbah Wasis tak juga keluar rumahnya. Orang-orang sedusun makin kasak-kusuk. Rumah Mbah Wasis makin suram dan tampak wingit. Pekarangan rumah Mbah Wasis tambah sepi. Anak-anak tak lagi teriak-teriak memanggili Mbah Wasis minta didongengi. Bahkan tak ada lagi yang lari-lari melintas di pekarangan rumah Mbah Wasis.

/***/

Tiba-tiba, pagi itu, Mbah Wasis nongol keluar dari dalam rumahnya. Wajahnya tampak tegang dengan rahang yang mengeras. Matanya yang tajam tampak suram, menceruk ke dalam rongganya, dan berkedip-kedip gelisah. Bibir Mbah Wasis yang dulu selalu tersenyum kini tertutup rapat-rapat. Udeng ikat kepalanya dibiarkan terlepas dan tergantung di leher. Rambut Mbah Wasis yang putih, tergerai kusut tak disisir. Tubuhnya yang agak bungkuk tampak mengurus.

Mbah Wasis berjalan melintasi pekarangan rumahnya dengan bergegas. Tangannya erat-erat memegang sapu lidi bertangkai panjang. Langkahnya makin bergegas, tak menghiraukan anggukan orang-orang yang berpapasan dengannya. Wajah Mbah Wasis tampak juga makin menegang. Sambil berjalan, mulutnya komat-kamit. Mula-mula berjalan pelan, bersuara pelan, lama-kelamaan langkahnya mencepat dan suaranya makin nyaring, meninggi dan jelas, nembang megatruh.

Sesampai di depan rumah Kang Pardi Pesek, langkah Mbah Wasis berhenti, menatap tak berkedip rumah Pardi Pesek, kemudian pelan menyapu tanah halaman Pardi Pesek. Gumam tembang megatruh dari mulut Mbah Wasis makin nyaring: ”Mati iku pepesthen Gusti Hyang Agung, kabeh urip mesti mati, mula iku golek sangu cegah dahar lawan guling, nrima sabar jroning batos…”.

Seselesainya tembang megatruh itu, Mbah Wasis pun berbalik bergegas pulang. Mulutnya terkatup rapat, wajahnya masih tetap tegang. Matanya makin suram dan tangannya yang memegang sapu lidi bertangkai panjang tampak bergetar. Selepas bedug lohor tersiar kabar; Kang Pardi Pesek nggeblag terpeleset di pematang sawah lantas berhenti denyut jantungnya sebelum sempat dibawa ke puskesmas. Istrinya melolong-lolong.

’Mati iku pepesthen Gusti Hyang Agung, kabeh urip mesti mati, mula iku golek sangu cegah dahar lawan guling, nrima sabar jroning batos…’.

Jasad Pardi Pesek dikuburkan siang itu juga. Jalan menuju makam menjadi lebih ramai oleh para pelayat. Mereka melintasi rumah Mbah Wasis yang tampak tertutup rapat pintu dan jendelanya. Muncul selentingan yang mengait-ngaitkan kematian Pardi Pesek dengan tembang Mbah Wasis. Namanya selentingan, tentu saja hanya kabar kasak-kusuk yang segera kabur. Mbah Wasis tetap saja mendekam, tak keluar sejengkal pun dari dalam rumahnya. Tak ada dongeng. Tak ada tembang yang nglangut.

Tiga minggu kemudian. Hari sepagi itu sudah mendung. Tiba-tiba Mbah Wasis keluar rumah. Tubuhnya makin mengurus sehingga bungkuknya makin kelihatan. Wajahnya tampak tegang dengan rahang yang mengeras. Matanya yang tajam makin menyuram. Semakin menceruk ke dalam rongganya. Rambut Mbah Wasis yang putih, tergerai kusut tak disisir. Udeng ikat kepalanya dibiarkan terlepas dan tergantung di leher. Mulut Mbah Wasis semula terkatup rapat tiba-tiba komat-kamit makin lama makin bergumam keras. Kaki Mbah Wasis bergegas melangkah keluar pekarangan rumahnya. Tangannya tampak gemetar dan erat-erat memegang sapu lidi bertangkai panjang. Langkahnya makin bergegas, tak memerdulikan orang-orang yang menyisih dan menatapnya penuh tanda tanya. Sambil berjalan, mulut Mbah Wasis komat-kamit. Mula-mula berjalan pelan, bersuara pelan, lama-kelamaan langkahnya mencepat dan gumamnya makin nyaring, meninggi dan jelas. Gumam tembang megatruh.

Sesampainya di depan rumah Joyo Blantik, salah seorang terkaya di dusun kami, Mbah Wasis berhenti, gemetar menghadap pagar. Gumam megatruh di mulut Mbah Wasis makin mengeras. Tangannya makin gemetar menyapu tanah depan pintu pagar. Tembang megatruh dalam gumamnya makin nyaring dan terdengar nglangut: ”Mati iku pepesthen Gusti Hyang Agung, kabeh urip mesti mati, mula iku golek sangu cegah dahar lawan guling, nrima sabar jroning batos…”.

Setelah tembang itu purna, Mbah Wasis bergegas melangkah balik ke rumahnya. Mulutnya terkatup rapat, wajahnya masih menegang, dan tubuhnya gemetar. Burung gagak tampak terbang melintas menuju kuburan mendahului langkah Mbah Wasis. Sesampai di rumah, Mbah Wasis menutup rapat-rapat pintu dan jendela.Terdengar burung bence bersahut-sahutan. Sore harinya, sebelum matahari lingsir ke arah barat, terdengar kabar lelayu dari pengeras suara di langgar dusun: Joyo Blantik mati mendadak karena disepak sapinya.

Kasak-kusuk pun berdengung seperti lebah. Kali ini tak segera kabur dibawa angin dan waktu. Mbah Wasis tetap mendekam di rumahnya yang kian suram dan wingit. Setelah kejadian itu, sebelum ada kabar lelayu, Mbah Wasis selalu keluar rumahnya sambil nembang megatruh berdiri di depan rumah ”sang calon mayat”, seolah berkabar tibanya hari kematian itu.

Orang-orang sedusun jadi takut dan giris jika melihat sosok Mbah Wasis keluar rumah. Tak ada seorang pun warga dusun yang sudi berjumpa dengan Mbah Wasis. Mereka menganggap Mbah Wasis sebagai yama dipati yang mencabut nyawa. Sampai di suatu hari, sejak pagi hingga menjelang malam, burung-burung gagak mengitari wuwungan rumah Mbah Wasis, burung bence dan kolik ramai bersuara di pekarangan rumah, bersahut-sahutan …ceeitcuitt… cuitt… cet… cuitttkoliikkk… kolikk… likkk. Sejak pagi hingga malam terdengar suara Mbah Wasis lantang dan gemetar, tak putus-putus menembangkan tembang megatruh, ”Mati iku pepesthen Hyang Agung, kabeh urip mesti mati…”.

Pagi harinya, selepas subuh, pengeras suara dari langgar dusun menyiarkan kabar lelayu: Mbah Wasis meninggal dalam keadaan duduk dan tangannya memegang erat sapu lidinya yang bertangkai panjang. Saat jasad Mbah Wasis dimandikan, para pelayat seolah mendengar gumam lirih megatruh itu ditembangkan di telinga mereka: mati iku pepesthen Hyang Agung, kabeh urip mesti mati. Kini, rumah Mbah Wasis tinggal suram, tanpa dongeng dan tanpa tembang.

Tjahjono Widarmanto, sastrawan, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel, dan cerpen telah dipublikasikan berbagai media. Buku puisinya Suluk Pangracutan dari Kampung Para Arwah (2023), Bersepeda dari Barat ke Utara hingga Tumbuh Bulu di Tulang Rusukku (2021), dan masih banyak lagi. Buku nonfiksinya antara lain Yuk, Nulis Puisi (2018) serta Kata dan Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia (2020).

sumber : kompas.id, 09 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme