Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gunung Batu oleh Ramayda Akmal

Posted on Ming, 07 Mei 2023

”Apa pun yang terjadi, saya tidak akan mati. Jika saya mangkir, kalian harus memaksa. Jika saya lari, tarik saya kembali. Jika saya ketakutan, tertawalah. Jika saya cemas, yakinkan saya, itu cuma ilusi manja. Yang sedang menggerogoti saya adalah takut akan ketakutan, dan cemas terhadap kecemasan. Bagaimana?”

DUA perempuan lain di hadapan Martha terdiam. Rencana pendakian yang ditawarkannya indah bukan kepalang. Namun, pengakuannya dijawab dengan bungkam.

”Liu, kota itu dihuni banyak laki-laki berambut hitam kontinental.” Martha mengembalikan semangat gadis pertama. ”Dan Ratna, saya punya waktu tiga hari penuh membantumu berpikir cara mendapatkan musisi itu.” Martha menyentuh kelemahan gadis kedua.

Ditambah dengan kebetulan dan target-target aneh yang terus diembuskan Martha, pergilah mereka ke perbukitan batu Saxon-Switzerland. Saat itu Januari, musim dingin tepat di atas kepala. Liu ingin mendaki gunung itu sebagai laku yang mengawali tahun baru kelinci. Ratna mau mendatangi gereja tak jauh darinya, di mana Bach menjadi Kantor1 untuk beberapa dekade. Ia ingin menyalakan lilin doa, kesekian ratus, untuk cinta yang satu sama. Dan Martha, ia mau menantang dirinya sendiri; tubuhnya yang selalu gemetar; otaknya yang semrawut; sementara ilusi maut terus bergelayut.

***

Tahun lalu, Martha menyelesaikan studi dan pulang ke negaranya. Liu dan Ratna masih bertahan, terus-menerus liburan, sambil sesekali mengulang kelas yang ketinggalan. Ketika Martha berkunjung, mereka mengharap berita baik dan cerita baru.

Namun, Liu masih tidak beranjak dari aplikasi kencan. Keanggotaannya premium. Ia bisa tanpa batas menggeser layar kiri dan kanan, mengejar cocok dan supercocok. Sementara Ratna, setelah menjaga keperawanan sampai umur 38 tahun, tiba-tiba luluh oleh kengawuran seorang musisi, yang tidak peduli apa pun kecuali serulingnya. Tubuhnya meliuk bersama seruling, tetapi moralnya jungkir balik mencari penyelamatan.

Martha sendiri melewati ritus hidup seperti berkendara di jalan tol; mulus dan cepat. Karier, rumah tangga, cinta tersembunyinya. Namun, seperti halnya jalan tol, ongkosnya juga besar. Masalah yang lewat cepat menyisakan debu. Dunianya kelabu. Harapan yang besar jadi batu di punggungnya. Gambar masa depan seperti gunung di kampungnya; berliku, kasar, menyesatkan.

***

Mereka membayar tiket kereta api murah, di mana semua orang mendapat nomor kursi, hanya untuk duduk di nomor yang lain. Martha dan Ratna duduk bersebelahan, sementara Liu di belakang mereka. Ia membuka gawainya, masuk ke kelas online. Sambil tiduran, sesekali ia menyahut genau2 dan richtig3.

”Udaranya pengap.” Martha mulai gelisah. Ratna membuka jendela untuknya.

”Terima kasih. Kamu tahu, udara dingin memberi sensasi segar. Dan kesegaran memberi kesan saya bisa bernapas, dan bisa bernapas tandanya saya tidak cemas. Ini otak saya saja, atau faktanya begitu?” lanjutnya bertanya Ratna yang ia tahu, mengikuti semua video tentang kesehatan dan penyakit di YouTube.

”Bisa dua-duanya. Cemas membuatmu sesak napas, dan sesak napas juga membuatmu cemas. Seperti tanpa henti.”

”Bagaimana pekerjaanmu?” Ratna beralih ke obrolan lain, berharap temannya keluar dari putaran cemas.

”Saya akan menjawabnya dengan gambaran kuliah saya di tahun kedua, ketika mempelajari teori interpelasi dari Althusser. Saya ingat profesor saya memberi contoh dengan formula hadis nabi, hei orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu, bla bla bla. ”Hei orang-orang yang beriman” adalah panggilan yang menentukan. Jika kamu menyahut, ”diwajibkan atas kamu”. Begitulah aku yang telah menjawab panggilan. Di Indonesia, anak-anak memanggilku ibu guru, kolega menyebutku doktor dan bahkan profesor, dan saudara-saudara dengan kacau memanggil rektor. Aku pikir panggilan itu membuatku senang. Nyatanya, kian hari, badanku kian gemetar, tidak terkendali. Ruang kerjaku menyempit. Badanku berkeringat dingin setiap bertemu guru yang kukagumi. Matahari yang kusukai, menakutkanku, merenggut kekuatanku pelan-pelan. Aku pikir aku panik, takut, tapi kenapa, terhadap apa. Aku tidak tahu ujung pangkalnya. Aku merasa hari-hari ngawur dan sombongku hilang. Terenggut!” Martha mengucapkan kata terakhir seperti Ratna mengucapkannya ketika diperawani oleh musisi seruling itu.

”Mungkin kamu benar, tetapi kamu bercerita seperti guru sungguhan. Itu sudah ada di darahmu. Semua orang punya ketakutan. Ada yang tumbuh ke dalam, ada yang mencuat ke luar. Bisa menyadarinya itu lebih baik.” Ratna menjawab.

”Semoga. Lalu bagaimana denganmu?” Martha bertanya sembari terengah. Napasnya mulai memendek, seperti setiap kali ia menceritakan kondisinya.

”Aku kembali dengan musisi itu, di pelukannya. Beserta tangis-tangisku yang tidak berguna. Baru sebulan yang lalu dia tidur dengan kekasihnya yang lain. Tiba-tiba suatu malam, di bawah pengaruh jäger4 sialan, ia menjadi lelaki baru. Bersih. Bekas-bekasnya tak ada. Aku bernafsu sangat menggulatinya. Kadang aku merasa, aku sangat tidak percaya diri. Berpikir tidak ada orang lain mau denganku selain dia. Di lain waktu aku merasa, jangan-jangan kebebalanku ini disebabkan justru karena aku terlalu percaya diri, merasa bisa menaklukkannya, tanpa malu. Aku dengar orang melabeliku perempuan bermoral longgar, seperti salju tebal di malam hari, yang melembek becek di pagi hari.”

”Saya pikir, orang bisa percaya diri dan tak percaya diri secara bersamaan.” Martha kemudian tenggelam dalam permainan logikanya sendiri.

”Mau membantuku?” Liu menelusupkan telepon genggamnya lewat celah-celah kursi mereka. Rupanya kelas telah usai. Ia membuka aplikasi kencan dan menyesuaikan tempat pencarian di area gunung batu yang akan mereka datangi.

Ratna selalu swipe kiri, Martha sering kali swipe kanan. Kadang-kadang mereka menyesal menggeser ke kiri, dan akun premium Liu memungkinkan mereka mengembalikannya, sebelum kemudian tetap membuangnya ke kiri.

***

Tengah malam mereka sampai di penginapan. Liu menelusupkan badannya ke selimut setelah melewati ritual perawatan wajah sambil menceramahi kami tentang algoritma aplikasi kencan. Di tempat baru, lebih banyak laki-laki yang bagus. Setelah satu dua kali berseluncur, kita kehabisan. Setelah berhasil ketemu satu dua kali, tidak ada lagi.

Ratna masih berbaju lengkap, duduk di ujung kasurnya sambil menatap telepon genggamnya yang memanggil dan ditolak. Ia memulai ritual menelepon-tutup-menelepon-tutup sampai puluhan kali. Martha dan Liu tidak mau ikut campur, tidak bisa. Sampai beberapa lama kemudian terdengar ritme napas tidur mereka yang teratur. Tapi, Martha masih terjaga. Ia datang. Ruang kamarnya membesar, cembung. Kadang-kadang berputar sedikit. Dengkuran temannya menjauh. Lalu dia mengingat bahwa sebentar lagi liburnya usai. Ia harus kembali. Ia menghitung tabungannya. Ia sadar belum melakukan ini dan itu. Ia menyusun jadwal. Wajah almarhum neneknya muncul. Percakapan dengan Liu dan Ratna terulang. Ia ingat jari-jari mantan suaminya yang bengkak. Aliran darah hangat terasa di kaki kirinya. Naik ke atas. Ke perut, memanggil rasa mulas. Keringat di dahi. Ia memiringkan badan. Ia mendengar detak jantungnya mencepat. Ia biarkan. Ia rasakan. Ia miring ke arah berlawanan. Ia nyalakan musik, ia dengarkan podcast. Dini hari ia meminta izin untuk menyalakan lampu. Ia memberi tahu Liu dan Ratna. Mereka terbangun dan menepuk-nepuk pundak Martha, merangkulnya, sebelum kemudian kembali mendengkur. Jam 6 pagi, Martha menyerah. Ia siap, sekarat atau terlelap.

***

”Saya cuma tidur dua jam, sarapan croissant keras, dan sekarang menembus salju tebal bermodal sneaker musim panas. Saya tidak yakin.”

”Kamu manja,” kata Liu dan Ratna kompak.

Martha diam, kakinya menurut saja arah teman-temannya berjalan. Ketika mereka mulai memasuki pegunungan, ketakjuban menyelimuti. Gunung itu hitam, tinggi, dipahat abad-abad lampau, berselimut salju yang turun seperti tepung tertumpah. Mereka pindah ke feri, menyeberangi Sungai Elbe, lalu turun persis di kaki-kaki raksasanya. Rumah-rumah lancip tertutup. Uap nongol dari cerobongnya yang mengerut. Turis-turis lain seperti kotoran di salju putih, berpencar dan bungkuk. Jalan berkelok-kelok disisir oleh hujan salju miring. Situasi ini merenggut segala kecemasan.

Di satu titik, jalan batu mulai hilang. Jalan berundak terbuat dari tanah dan kayu menggantikannya. Mengular dan meninggi. Liu dan Ratna mengapit Martha dan menaikkannya ke tangga pertama. Seperti mesin tua, mereka maju sedikit demi sedikit. Di tikungan pertama, mereka bertukar kekaguman. Di tikungan kedua, Martha mengeluhkan matanya sakit oleh warna putih. Terlalu terang. Di tikungan berikutnya, Ratna mengecek peta. Berapa lama lagi. Martha mulai memutar-mutar badannya, mencari tumpuan pandangan. Selain putih, tak ada. Ia mencengkeram tangan Liu.

Baca Juga: Piagam

”Kita turun saja?”

”Tidak.”

”Ada restoran di atas sana? Aku butuh hangat dan duduk.”

”Pasti ada. Semua orang butuh itu.”

”Mataku sakit. Aku pusing.”

”Ada gua di sini. Kita bisa berlindung!” Ratna teriak dari depan.

”Kamu jalan cepat sekali!” Liu berkomentar ke Ratna.

”Aku mau cepat sampai ke puncak. Kita harus ke gereja. Mereka tutup begitu hari habis.”

”Hari sudah habis sejak tadi,” sahut Martha sambil menyenderkan badan ke dinding terdalam cekungan. Ia merogoh tas kainnya, mencari cokelat. Sumber energi, sumber ketenangan. Sambil mengemut bongkahan cokelat, ia mengamati dinding gua. Ia menghindari jarum-jarum salju putih yang menusuki kesadarannya. Liu memandang ke entah. Ratna terus melihat peta dan menghitung-hitung waktu.

Baca Juga: Sebelum Hari Itu

Seorang laki-laki bersetelan Norwegian Hiking lewat. Tersenyum kepada mereka. Tapi, Liu yakin senyum itu hanya untuknya. Ekor matanya terus merunut laki-laki itu, punggungnya, pantatnya.

”Bisakah kau tanya padanya di mana kita bisa menemukan restoran?” Martha memancing.

”Tidak. Aku harus membuka aplikasi. Mungkin dia juga terdaftar di sini.” Liu jongkok, melepas seluruh bawaannya, tenggelam dalam lautan foto-foto.

”Matanya cokelat ya? Aku lihat tadi dia punya tanda luka di dahinya. Rambutnya? Ah aku lupa!” Liu semringah.

Sementara Ratna, dalam ketidaksabaran sampai ke gereja, kembali tenggelam dalam ritual menelepon dan me-reject.

Hujan salju deras dan miring, menerobos bibir gua, memampatkan tiga perempuan ini di pojok yang sama.

Martha masih menghadap ke dinding batu. Menghitung jamur-jamurnya. Ada yang bulat. Ada yang lancip. Warnanya putih kehijauan. Ada yang menonjol. Memiliki spora di atasnya. Dia mencoba menghitung titik-titik kumpulan spora itu sembari batinnya terus menginstruksi otaknya: fokus-fokus, jangan cemas, tarik napas. Sial dia datang. Tarik napas. Fuck! (*)

Hamburg 2023

 

1Musikus gereja

2Tepat

3Benar

4Sejenis liqueur, alkohol 35%, rasa herbal

—

RAMAYDA AKMAL : Penulis Aliansi Monyet Putih (2022)

sumber : JAWAPOS, Minggu, 7 Mei 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme