Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Manisan Mangga oleh Puspa Seruni

Posted on Sab, 23 Des 2023

Orang tua tidak semestinya mengantar anak-anaknya dikubur. Sebagaimana hukum usia, yang tua akan melemah lalu mati berkalang tanah, sementara yang muda tumbuh semakin kuat dan berjaya.

Akan tetapi, kehidupan terkadang menipu. Dia tumbangkan yang muda sebelum sampai masa jaya hingga membuat perempuan itu bersimpuh dengan kepala merunduk rapuh. Anak lelaki satu-satunya, yang pamit bekerja, pulang diantar keranda.

”Saya berharap,” suara Pak Kyai berhenti, ”anak muda yang sebentar lagi akan kita kubur memiliki kebaikan-kebaikan yang bisa dikenang. Tolong bagi yang mengenalnya bisa memberi kesaksian.”

Pandangan lelaki berambut keperakan itu menyapu kepala-kepala yang tertunduk menekuri tikar pandan. Kalimat itu hanya mengambang, mengisi ruang udara yang sedikit panas sore itu.

Anak lelaki satu-satunya, yang pamit bekerja, pulang diantar keranda.

Beberapa jenak tak ada tanggapan. Kudengar helaan napas panjang dari Pak Kyai. Mungkin sebenarnya dia pun tahu akan sangat sulit mendapat jawaban atau meminta pengakuan kebaikan si mayit. Akan tetapi, tentu saja sesepuh desa itu tak bisa melewatkan kebiasaan kampung kami sebelum menguburkan jenazah. Secara bergilir, para pengantar jenazah: keluarga, tetangga, atau handai taulan, akan berbicara tentang kenangan baik si mayit.

Kali ini tak ada, semua mengunci rapat mulutnya. Hanya perempuan yang duduk di dekat kepala jenazah yang matanya basah. Dia terus menunduk, berduka sendirian di antara para pelayat yang berwajah datar tanpa segaris kesedihan.

Mungkin dia tak berharap apa-apa selain satu saja pengakuan bahwa anaknya pernah berbuat kebaikan, mungkin ada orang yang pernah ditolong anak lelakinya, atau yang pernah mengetahui kebaikan tersembunyi dari si anak. Setelah beberapa jenak tak ada suara, kulihat wajahnya mulai pasrah.

Jika Pak Kyai itu bertanya seberapa buruk si mayit semasa hidupnya, tentu akan dengan mudah mendapat jawabannya. Warga desa mungkin akan berebut menceritakan keburukan perilaku Timin semasa hidupnya. Keberadaannya menjadi beban, menjadi sampah yang membaui seluruh desa.

Akan tetapi, bagi ibunya sendiri, Timin adalah anugerah. Perempuan yang ditinggal kabur oleh suaminya itu melahirkan Timin di sebuah rumah kosong di tengah kebun mangga, sendirian. Juragan pemilik kebun mengizinkan mereka menumpang selama ibu Timin mau membantunya menjaga dan merawat kebun seluas dua hektaritu. Dia juga diperbolehkan menanam singkong, cabai, atau tanaman apa pun di kebun selama tidak mengganggu pohon-pohon mangga.

”Bagaimana, adakah yang ingin memberi kesaksian?” Suara berat Pak Kyai mencubit kesadaranku.

”Ya, dia baik,” ucapku kemudian, terdengar ragu, tetapi memecah keheningan di ruangan berukuran tak lebih dari dua kali tiga meter itu. Kami duduk bersila, di depan jenazah, berdesak-desakan kurang lebih lima belas orang, sementara yang lain di teras depan.

Jika Pak Kyai itu bertanya seberapa buruk si mayit semasa hidupnya, tentu akan dengan mudah mendapat jawabannya.

Seketika aku merasa semua orang sedang menatapku, menguliti kebohonganku. Mereka menunggu, mungkin sambil menahan napas, kelanjutan kalimat yang kulontarkan. Terutama perempuan itu, yang menatap penuh harap padaku. Kutemukan matanya menitik pelan.

”Alhamdulillah. Silakan jika ingin menyampaikan sesuatu,” Pak Kyai mempersilakan.

”Timin orang baik. Setidaknya begitu menurutku.” Aku menghela napas panjang, ragu. ”Dia… mengambil paksa tiketku,” lanjutku.

Seketika ruangan dipenuhi suara gumaman. Ibu Timin kembali menunduk, menyeka air yang telanjur jatuh di bawah matanya. Suara-suara itu berdengung seperti lebah, berbisik-bisik di depan, di samping, dan di belakangku. Mungkin mereka berpikir bagaimana mungkin perampasan tiket itu dianggap sebagai hal baik. Semua warga mengetahui bahwa salah satu kebiasaan Timin adalah merampas barang milik orang lain, seperti menjambret tas atau dompet orang-orang di pasar.

Semua orang masih menatapku, ingin tahu kelanjutan kalimat itu. Pandangan mereka mulai menyipit seolah memintaku tak meneruskan jika kalimat lanjutannya hanya akan melukai pemilik rumah. Dia menyelamatkan nyawaku dari kerusuhan di dalam stadion, itu satu hal, namun ada hal lain yang membuatku merasa harus memberi saksi atas kebaikannya.

Timin, si bocah gemblung, kemarin malam mendatangi rumahku. Wajahnya kusut masai, pandangannya redup, dia terlihat berantakan—meski biasanya memang selalu berantakan, tetapi malam itu dia terlihat kacau seolah ada beban berat di pundaknya.

”Ibuku sakit,” katanya dengan suara lirih.

Aku menghela napas panjang, sudah hapal kelanjutan kalimatnya yang selalu berujung pada peminjaman uang dengan alasan untuk biaya pengobatan ibunya yang ujung-ujungnya kutahu itu kebohongannya belaka.

”Aku butuh uang,” lanjutnya.

Nah, kan, benar dugaanku. Aku bergeming, menatapnya dengan dahi berkerut. Aku sudah tertipu dua kali dan tidak akan untuk yang ketiga kalinya.

”Aku mau kerja,” lanjutnya lagi. Kedua lengannya bertumpu di atas paha, kepalanya menunduk. Aku berjengit, dahi berkerut, menatapnya tajam.

”Kau punya tiket untuk nonton bola besok malam?” tanyanya menoleh kepadaku. Ah, hampir saja aku tertipu lagi.

”Tidak ada,” ucapku sambil memalingkan muka. Kukira saat dia mengatakan ingin bekerja, dia akan bekerja secara benar, mungkin jadi kuli bangunan atau apa saja yang halal, bukan malah mencopet seperti kebiasaannya sebelumnya.

”Aku butuh tiket itu, aku harus bekerja. Di stadion pasti ramai, aku pasti bisa berjualan manisan mangga buatan ibuku di sana,” suaranya lirih.

Aku kembali mengerutkan kening, menatapnya bingung. Apa ini akal bulusnya yang lain? Dengan dalih menjual manisan mangga untuk mengelabuiku yang mengenalnya sebagai pencopet ulung?

”Harga mangga lagi murah, pemilik kebun mengizinkan ibu mengambil mangga untuk diolah. Dan ibu mengolahnya menjadi manisan mangga. Tetapi… belum ada seorang pun di pasar yang membelinya.” Dia berkata dengan lesu.

Ibu Timin perempuan berusia empat puluhan, tetapi terlihat lebih tua sepuluh tahun. Wajahnya penuh kerutan, rambutnya beruban, tulung punggungnya sedikit bengkok ke depan—mungkin karena terlalu banyak memanggul obat semprot bunga mangga. Orang-orang kampung tak mengusir Timin karena rasa kasihan kepada ibunya, malaikat yang selalu menjadi pembela Timin. Setiap Timin berbuat ulah dan warga memprotesnya, ibu Timin yang selalu meminta maaf dan mengambil tanggung jawab atas perbuatan anaknya.

Di kampung itu dan beberapa kampung di sebelahnya, mangga merupakan pohon yang banyak tumbuh atau di tanam di pekarangan rumah. Hampir setiap rumah memiliki mangga dan akan sangat aneh jika ada warga kampung dan sekitarnya membeli mangga. Aku tidak heran jika manisan mangga itu tidak laku di pasar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kampung.

”Kamu, kan, bisa beli tiket ke stadion,” ucapku tak mau menyerahkan tiketku begitu saja kepadanya.

”Aku sedang ndak punya uang. Ibu ndak mau aku belikan obat dari uang hasil mencopet. Ayolah, kamu, kan, bisa nonton lain kali.”

”Ndak bisa, ini pertandingan yang ditunggu-tunggu.”

”Halah, palingan klub jagoanmu, yo, kalah lagi. Aku bilangin, ya, klubmu akan susah menang kalau lawan sama klub kota sebelah itu.” Ucapan Timin membuat emosiku tersulut.

”Heh, ojo sembarangan kamu, ya.”

Aku berdiri dan mencengkeram kerah kaus Timin. Dia menarik sudut bibirnya ke sisi sebelah kiri, terlihat sekali meremehkanku. Dia kemudian melepaskan tanganku dari bajunya, lalu tanpa berkata apa pun dia pergi. Di atas motor, dia memanggilku yang masih berdiri di teras dengan wajah kesal.

“Terima kasih tiketnya,” teriaknya.

Dia melambaikan tangan sambil berlalu ke luar halaman. Sial. Timin mencopet tiket yang baru tadi kudapat dan masih tersimpan di kantong belakang celana. Itu adalah tiket satu-satunya dengan harga terjangkau yang masih tersisa di calo langgananku. Semakin mendekati hari pertandingan, harga tiket semakin mahal.

Aku mengumpat sambil menendang kaki meja di hadapanku. Barang yang sudah ada pada bocah gemblung tentu akan sulit untuk kembali. Dan aku hanya bisa menggerutu semalaman sambil mencari cara mendapatkan tiket baru.

Sial. Timin mencopet tiket yang baru tadi kudapat dan masih tersimpan di kantong belakang celana. Itu adalah tiket satu-satunya dengan harga terjangkau yang masih tersisa di calo langgananku.

Sayangnya, aku sama sekali tak menemukan jalan mendapat tiket baru hingga malam pertandingan. Sempat ingin nekat, menyelinap atau naik ke pagar stadion, tetapi kuurungkan karena tiba-tiba saja malam itu hujan deras. Jarak antara kampung dan stadion mencapai lima belas kilometer. Malam itu, aku duduk di pojok kamar sambil mencaci maki si Timin.

Pukul dua belas malam, aku tersentak, dikejutkan oleh kabar bahwa terjadi kerusuhan di dalam stadion. Sebuah stasiun televisi bahkan mengabarkan ada banyak korban meninggal. Aku mencoba mencari tahu kabar teman-teman yang pergi ke stadion malam itu. Sebagian ada yang berhasil selamat dan sebagian lain belum merespons pesan yang kukirimkan. Aku melewatkan malam itu dengan perasaan cemas.

Pagi hari, kabar buruk itu datang. Timin meninggal. Dia dikabarkan menjadi salah satu korban kerusuhan. Kedua lututku tiba-tiba saja lemas, membayangkan andai Timin tidak merampas tiket itu mungkin aku yang akan pulang sebagai jenazah keesokan paginya. Mungkin begitulah takdir bekerja, Tuhan menyelamatkan hidupku sekaligus memberi Timin kesempatan berbakti pada ibunya. Timin sudah berniat membeli obat dengan uang hasil perasan keringatnya.

Bukankah Tuhan tetap akan memberi ganjaran pada niat baik? Aku menoleh kepada ibu Timin yang sedang menatapku dengan linangan air mata.

Puspa Seruni, penulis yang berdomisili di Jembrana, Bali, terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

sumber : kompas.id, 23 Des 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme