Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak Pak Lurah oleh Herumawan P A

Posted on Kam, 28 Des 2023

Ilustrasi

Aku ini anak seorang lurah yang dihormati di Kalurahan Kenari. Pembangunan desa-desa seantero kalurahan¹ yang digagas Ayahku sejauh ini berjalan terencana dan baik. Banyak warga mengelu-elukan Ayahku, menganggapnya bapak pembangunan insfrastruktur kalurahan. Hingga tidak rela harus ditinggalkan Ayahku. Meminta Ayahku mencalonkan kembali untuk ketiga kalinya saat pemilihan lurah tahun depan. Tapi Ayahku tidak mau mencalonkan lagi jadi lurah karena ia sudah cukup menjabat dua periode. Ayahku orang yang tahu diri. Bukan kemaruk jabatan. Ayahku punya integritas kuat. Aku bangga kepadanya.

Aku ingin mengikuti jejak ayahku. Jadi lurah. Atau jadi wakil lurah pun tidak mengapa. Wajar saja menurutku. Apalagi ada pepatah ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Tujuanku mulia agar bisa melanjutkan program-program kerja Ayahku yang selama ini sudah berjalan baik di Kalurahan Kenari. Karena tujuan itulah, aku mantap mendaftarkan diri jadi calon wakil lurah. Sedang yang jadi calon lurah adalah Pak Bono sahabat terbaik Ayahku. Kami berdua lantas dikenal dengan nama julukan Boruto, kepanjangan dari Bono Heru Top. Kami berdua senang mendengarnya. Boruto itu anaknya Naruto, Ninja pembela keadilan dan kebenaran dari Desa Konoha. Begitulah juga visi misi kami berdua, memberikan keadilan dan memperjuangkan kebenaran untuk warga Kalurahan Kenari.

Beberapa hari sebelumnya, aku sudah mengetahui putusan Badan Permusyawaratan Kalurahan yang diketuai Pamanku mengabulkan aspirasi seorang pemuda warga sebuah desa di kalurahan agar batas usia calon yang bisa ikut pemilihan lurah menjadi dua puluh lima tahun. Aku tidak kenal siapa pemuda itu. Tapi aku yakin maksudnya baik. Ingin agar generasi muda bisa jadi pemimpin. Bagiku putusan itu ibarat durian runtuh. Aku langsung sujud syukur. Sekarang tinggal selangkah lagi keinginanku akan terwujud.

Usiaku dua puluh enam tahun ketika kuputuskan ikut pemilihan lurah tahun depan. Ini semua keinginanku sendiri untuk jadi calon wakil lurah. Ayahku tidak pernah memintaku. Pamanku juga tidak peduli aku maju sebagai calon wakil lurah. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai pemberi keputusan akan sebuah permohonan seorang pemuda yang aku tidak kenal siapa dia.

Ayahku tidak pernah memintaku. Pamanku juga tidak peduli aku maju sebagai calon wakil lurah.

Ilustrasi

Putusan Pamanku menjadi ontran-ontran,² kegaduhan di desa-desa yang ada di Kalurahan Kenari. Membuat gaduh suasana antardesa menjelang dua bulan pemilihan lurah. Banyak warga berasumsi tidak baik kepadaku. Lalu apa aku salah mengikuti keputusan yang dibuat Pamanku? Apa aku keliru ingin melanjutkan program-program Ayahku yang sudah berjalan baik, sedangkan lawanku di pemilihan lurah nanti malah ingin mengubahnya? Aku sendiri tidak peduli pada jawaban yang diberikan.

Kini aku kian mantap menjadi calon wakil lurah. Aku tinggal berharap pemilih milenial atau Gen Z di Desa Kenari akan memilihku nanti. Uang banyak sudah aku siapkan untuk keperluan kampanye yang akan dimulai sebentar lagi.

Jangan tanya uangku banyak dari mana? Apalagi kalau bukan dari penghasilanku sebagai youtuber, tiktoker, endorser, selebgram, hingga influencer.

Janji kampanye? Aku sudah menyiapkan janji-janji yang lebih mutakhir, lebih modern, lebih bombastis, tapi tetap realistis dan masuk akal daripada janji kampanye rivalku di pemilihan lurah. Seperti gagasan penambahan dana untuk para insan media kreatif di desa-desa yang ada di Kalurahan Kenari, mengusulkan pembentukan divisi khusus kreator konten yang langsung di bawah kendaliku sebagai wakil lurah jika nanti terpilih, memperjuangkan pengurangan atau penghapusan pajak bagi para kreator konten yang berkontribusi mengharumkan nama Kalurahan Kenari di pentas nasional, insentif dana bagi kreator konten yang mau membagi ilmu atau menyedekahkan sebagian hasil monetisasi lewat divisi khusus kreator konten Kalurahan Kenari, perbanyak event kreatif anak muda di Kalurahan Kenari, hingga janji memasukkan profesi kreator konten sebagai pekerjaan di Kartu Pemuda Desa.

Kubayangkan sedang menyampaikan semua gagasanku itu di atas sebuah panggung besar yang berada di tengah-tengah para pendukungku yang sebagian besar masih remaja, mengelu-elukanku laksana bintang K-Pop yang mereka gandrungi.

”Ah, jangan terlalu jauh bermimpi dulu,” akal sehat mengingatkanku. Lalu kusudahi membayangkan sesuatu yang belum pasti itu. Berganti mematut diri pada cermin besar di depanku. Ah, betapa gagahnya aku, dalam balutan pakaian jas dan dasi mahal ditambah sepatu merek terkenal dari luar negeri.

Janji kampanye? Aku sudah menyiapkan janji-janji yang lebih mutakhir, lebih modern, lebih bombastis.

***

Malam ini, aku berencana foto diri sebagai calon wakil lurah untuk ditunjukkan kepada warga-warga desa seantero Kalurahan Kenari. Nantinya fotoku dipasang bersama Pak Bono di spanduk besar, lalu disebar ke penjuru kalurahan. Aku pun mencoba beberapa pose. Tapi aku memutuskan memakai pose mengepalkan tangan. Lebih familiar dan dikenal banyak orang.

”Mas Heru, sudah siap?” Pak Dani, fotografer pribadi, seorang pria paruh baya yang lama bekerja dengan Ayahku, tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Membuatku sedikit kaget.

”Sudah siap dong, Pak Dani,” aku menyahut lalu tersenyum.

”Pak Bono mana? Enggak ikut foto sekalian?”

Pak Dani menggeleng. ”Tadi Pak Bono sudah difoto duluan.”

”Kenapa enggak barengan sama saya? Kan kesannya kurang kompak gitu.”

”Tadi saya juga tanyakan itu sama tim sukses, tapi kata mereka biarkan saja, hitung-hitung pengalihan isu.”

Aku hanya garuk-garuk kepala, lalu mengangguk.

”Nanti di fotonya harus kelihatan saya mengepalkan tangan, ya,” kataku coba mengalihkan pembicaraan. Pak Dani geleng-geleng kepala.

”Wah, kalau itu lebih baik jangan dilakukan. Sudah banyak yang begitu, Mas Heru.”

”Pokoknya saya mengepalkan tangan.” Aku ngeyel.

”Mas Heru ini mau jadi calon wakil lurah atau mau jadi petinju. Pakai kepalkan tangan segala.”

”Ya sudah kalau gitu seperti ini.” Aku mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.

”Mas Heru mau halalbihalal atau gimana, Idul Fitri sudah lewat, Mas.”

Aku menghirup napas panjang, coba untuk tidak kesal.

”Kalau ini gimana, kesannya njawani banget, kan?” Aku mempraktikkan ngapurancang.

”Ini foto Mas Heru sebagai calon wakil lurah, bukan foto di kondangan mantenan.”

Aku kesal mendengarnya.

”Lha pose saya harus bagaimana dong? Begini salah, begitu salah. Anda ini fotografer pribadi, tapi kok main larang-larang.” Aku menumpahkan kekesalanku. Pak Dani tersenyum.

”Bukan begitu, Mas. Ini panggung politiknya Mas Heru, jadi harus pasang pose yang berbeda biar ada ciri khasnya.”

”Pak Bono tadi apa Anda juga larang-larang begini, ya?”

Pak Dani tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Aku pun manggut-manggut.

”Sekarang Mas Heru ganti pakai kaus putih dan celana panjang hitam.”

”Kenapa harus pakai kaus dua warna itu?”

”Karena putih melambangkan kesucian hati, kerendahan hati, dan juga keikhlasan dalam mengemban serta melaksanakan amanat warga desa saat terpilih nanti. Sedang hitam melambangkan kalau kita masih bisa berbuat kesalahan suatu hari nanti. Seperti Mas Heru yang mungkin saja bisa lupa janji-janji kampanyenya saat nanti sudah terpilih jadi wakil lurah.” Pak Dani menjelaskan panjang lebar. Aku tersenyum kecut mendengarnya. Tanpa banyak tanya lagi kuturuti sarannya walaupun dalam hati agak jengkel, sudah dandan ganteng-ganteng disuruh ganti pakaian. Tapi tidak apa-apa, aku maklumi semua demi pencitraanku sebagai calon wakil lurah nanti.

Sekarang, aku sudah memakai kaus putih dan celana hitam. Bersiap pemotretan.

”Saya harus gimana posenya?” kataku jengkel.

”Pakai gaya anak muda zaman sekarang dong, Mas.” Pak Dani mencontohkan, jempol dan jari telunjuk dilekatkan. Aku heran Pak Dani bisa tahu simbol itu. Tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya.

”Ini gaya baru, Mas.”

”Iya saya tahu. Saya, kan, masih muda, Pak Dani. Tapi kenapa harus dari luar sih? Lokal, kan, lebih bagus gayanya.”

”Ya, enggak apa-apa, Mas Heru. Biar lebih mengena di hati pemilih pemula.” Aku mengangguk.

”Ingat ya, Mas Heru, generasi milenial dan generasi Z Desa Kenari mendominasi dalam daftar pemberi suara nanti,” imbuhnya.

”Iya, benar juga,” batinku. Lalu mempratikkannya.

”Jangan lupa senyum, Mas.” Aku tersenyum hingga tampak gigi depanku yang putih bersih.

”Sekarang ganti gaya, Mas. Pakai tanda hati.” Aku langsung paham. Segera pasang pose jari tanda hati di depan dada.

”Pose tangannya di dada kiri, bukan di depan dada. Sambil senyum, Mas.” Aku menurut.

”Bagus, Mas.” Aku menghampirinya. Melihat hasil jepretan fotonya dari berbagai sisi. Aku pun puas. Lalu beranjak pergi, hendak berganti pakaian jas.

”Belum selesai, Mas.” Aku kaget.

”Foto apa lagi? Dua pose itu, kan, sudah cukup.”

”Masih ada satu sesi foto lagi.” Aku mendelik kesal.

”Saya ini calon wakil lurah, bukan model busana,” aku ketus menyahut. Pak Dani tersenyum.

”Iya, saya tahu. Tapi kalau Mas Heru ini, kan, calon wakil lurah yang kontroversi, jadi harus ada hal yang menyamarkan itu.” Pak Dani kembali mengingatkan. Aku mengangguk.

”Oke. Jadi, pose apa lagi?”

”Mas Heru pakai ini.” Pak Dani memberiku baju dan celana lusuh compang-comping bolong-bolong. Tanpa banyak tanya langsung kupakai. Setelah itu pemotretan sesi terakhir dilakukan.

Selesai pemotretan, aku berganti pakaian jas. Kemudian kudatangi Pak Dani yang sedang aksi mengedit fotoku.

”Kalau pose pakai pakaian lusuh yang tadi tujuannya apa?”

”Ooo, itu biar Mas Heru dikesankan peduli sama nasib orang miskin di desa. Nanti tinggal disertai tulisan di spanduknya berbunyi: ’Aku ini calon wakil lurah yang peduli orang miskin’.”

Aku tersenyum puas.

”Terima kasih, Pak Dani. Anda hebat.”

Pak Dani mengangguk. Segepok uang kuberikan kepadanya sebagai upah. Tapi Pak Dani menolaknya.

”Sudah dibayar sama tim sukses.” Begitu alasannya. Aku salut ia tidak kemaruk uang seperti Ayahku.

Begitu selesai, aku dan tim sukses langsung pergi ke percetakan. Membuat spanduk lengkap dengan gambar fotoku dan Pak Bono. Tidak banyak jumlahnya. Hanya sepuluh atau dua puluh macam spanduk. Lalu memasangnya di tempat-tempat strategis di Kalurahan Kenari agar warga tertarik mendukungku. Kemudian kami pulang ke rumah yang kujadikan markas pemenangan.

Saya ini calon wakil lurah, bukan model busana.

***

Seminggu kemudian. Sentimen-sentimen negatif tentangku anak lurah yang jadi calon wakil lurah kian santer terdengar. Mulai dari dibantu paman, modal nama orangtua, tidak punya prestasi, rakus jabatan, nepotisme, tidak punya pengalaman, hingga milenial palsu. Aku sebetulnya ingin menanggapinya. Aku tidak tahan lagi, apalagi nama ayah ibuku ikut dibawa-bawa. Tapi ayah menenangkanku, menghiburku dengan kalimat, ”Tenanglah Heru, Ayah selalu ada untukmu.” Memberiku penyemangat baru.

Ayah memuji spanduk calon wakil lurah milikku yang unik dan tidak biasa.

”Ini sebuah masterpiece yang luar biasa enggak beda kreatifnya seperti One Piece,³” selorohnya.

Aku tersenyum senang mendengarnya.

”Teruslah kreatif dalam kampanye calon wakil lurahmu. Jangan hiraukan omongan orang, jangan pedulikan suara-suara sumbang. Ingatlah kamu harus kuat,” pesannya.

Aku makin yakin dengan keputusanku maju sebagai calon wakil lurah. Tidak peduli anggapan aku ini bocah cilik, bocah ingusan, manja, selalu dibantu orangtua. Aku akan buktikan bahwa aku mampu, aku bisa jadi anak Ayah yang bisa dibanggakan. Menang di pemilihan lurah tahun depan itu tujuanku kini. Kalah bagiku pun tidak masalah karena aku tetap akan dikenang sebagai anak Pak Lurah yang tidak malu mencalonkan jadi wakil lurah.

Yogyakarta, 30 Oktober 2023

1) Kalurahan: Dalam pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, kalurahan adalah satuan pemerintahan di bawah kapanewon dan kemantren yang setara dengan desa. Bersama dengan istilah kapanewon dan kemantren, istilah tersebut diberlakukan pada tahun 2020 sesuai dengan Pergub Nomor 25 Tahun 2019. Dikutip dari Wikipedia Kalurahan.

2) Ontran-ontran: Kehebohan, keonaran.

3) One Piece: Komik Jepang karya Eiichiro Oda.

Herumawan Prasetyo Adhie (Herumawan PA), seorang pejalan kaki yang memilih naik Transjogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apa pun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu, hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpennya pernah dimuat di Kompas.id, Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Harian Rakyat Sultra, Joglosemar, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, majalah Story, Minggu Pagi, majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Republika, Serambi Ummah, Solopos, tabloid Nova, dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia). Buku kumpulan cerpennya berjudul Pulsa Nyawa terbit pada Agustus 2019.

sumber : kompas.id, 28 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme