Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Biarkan Saya Tetap Tinggal di Rumah oleh I Made Sugianto

Posted on Sab, 30 Des 2023

Semua diam setelah Ayah menyampaikan maksudnya mengundang para saudara kandung dan saudara satu garis keturunan. Ayah minta pendapat kepada semua yang hadir mengenai rencana perkawinan saya. Ini masalah pelik. Hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi jika keluarga besar tidak diajak bertimbang. Diajak bertimbang pun belum tentu menyelesaikan masalah.

Saya berdebar menanti tanggapan para saudara Ayah. Karena sampai lewat beberapa menit belum ada yang memberi tanggapan, Ayah kembali memohon petunjuk apa yang harus dilakukan sebelum upacara perkawinan saya dilaksanakan.

”Apa yang menyebabkan Luh Putu menempuh jalan seperti ini?” Pekak Sepuh, orang yang dituakan oleh keluarga seketurunan darah akhirnya bertanya kepada saya. ”Bukankah Luh Putu punya saudara laki-laki penerus silsilah keluarga sekaligus wakil keluarga di desa kelak? Saya belum pernah melihat atau mendengar yang seperti ini. Bila sudah punya saudara laki-laki, anak perempuan mesti tinggal di rumah suami.”

Saya terhenyak, tak bisa membantah. Apa yang disampaikannya memang sesuai dengan tradisi yang sudah bertahun-tahun berlaku di desa kami. Benar belaka, bila sudah punya saudara laki-laki anak perempuan mesti ke luar. Beda halnya jika saya tidak punya saudara laki-laki. Di desa kami, jika ia anak perempuan tunggal atau jika hanya punya saudara perempuan, ia atau salah seorang dari saudaranya boleh tetap tinggal di rumah dan mesti mencari suami yang berkenan diajak nyentana atau nyeburin, menjadi penerus silsilah keluarga sekaligus sebagai ahli waris.

Namun, meskipun saya punya saudara laki-laki, apa salahnya jika saya tetap tinggal di rumah sepanjang calon suami saya bersedia nyentana? Saya telah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah karena saya ingin berbakti kepada orangtua. Kami sama sekali tidak akan membebani siapa-siapa.

”Rencana perkawinan Luh Putu itu janggal,” lanjut Pekak Sepuh. ”Itu akan merusak tradisi. Apalagi Luh Putu akan kawin dengan laki-laki dari seberang yang adat dan keyakinannya berbeda.”

Ayah tak bersuara, begitu juga para saudara kandungnya. Panas telinga saya mendengar Pekak Sepuh bicara hal yang sudah klise, menekankan soal beda adat dan kepercayaan. Selain itu ia juga mengingatkan bahwa upacara perkawinan baru bisa dilangsungkan bila kedua mempelai menganut sistem kepercayaan yang sama. Ia mengibaratkan kehidupan perkawinan itu seperti menaiki perahu. Apa jadinya jika gerakan pendayungnya tidak kompak?

Semua bergeming, menundukkan wajah.

Itu akan merusak tradisi. Apalagi Luh Putu akan kawin dengan laki-laki dari seberang yang adat dan keyakinannya berbeda.

Ketika diberi kesempatan bicara, saya keluarkan semua uneg-uneg. Saya benarkan pemaparan Pekak Sepuh yang panjang lebar. Tak ada yang saya bantah sebab memang begitu tradisi yang sudah berlaku turun-temurun di desa kami. Hanya satu yang menjadi ganjalan di hati: ucapannya yang menyinggung soal calon suami saya berasal dari seberang. Bukankah sudah biasa laki-laki asing kawin nyeburin pada keluarga perempuan di Bali? Seharusnya sesepuh bangga bila ada anggota keluarga besarnya bisa mengajak laki-laki dari luar menjadi penerus generasi keluarga yang tidak punya keturunan laki-laki. “Maaf, jika tanggapan saya tidak berkenan di hati. Tak ada niat saya merusak tradisi apalagi membantah pendapat orang tua seperti Pekak. Saya telah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah. Meskipun nanti saya dibilang tidak waras, saya terima. Sebab, besar keinginan saya untuk berbakti kepada orangtua.”

Pekak Sepuh menyahuti ucapan saya, ”Niat Luh Putu untuk berbakti kepada orangtua memang baik. Tapi ingat, Luh Putu punya saudara laki-laki yang jadi penerus silsilah keluarga. Berbakti kepada orangtua tidak harus dengan tetap tinggal di rumah bersama suami dari luar. Pekak tidak melarang Luh Putu kawin dengan siapa pun sepanjang dijalani dengan cara yang benar, tidak mencederai adat.”

Pekak Sepuh meneruskan ceramahnya dengan mengatakan, anak perempuan yang sudah kawin ke luar boleh saja tetap tinggal di rumah orangtua apabila saudara laki-lakinya tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai mana mestinya karena satu sebab. Menderita sakit jiwa, misalnya, tentu tidak bisa berbakti kepada orangtua apalagi menjalankan kewajiban sebagai warga desa adat. Begitu pula kalau saudara laki-laki satu-satunya menderita lumpuh, jelas tidak dapat melakukan kewajiban seperti orang normal. Jangankan bisa berbakti kepada orangtua, hidupnya sendiri bergantung kepada orang lain. “Luh Putu punya saudara laki-laki yang sebentar lagi akan jadi dokter. Mestinya tidak alasan bagi Luh Putu untuk tetap tinggal di rumah,” pungkasnya.

”Itu benar sekali, Pekak.” Ayah kemudian menjelaskan bahwa adik saya, Kadek Surya, memang calon dokter yang tak lama lagi akan diwisuda. Dan bila sudah jadi dokter ia berencana menjalani kegiatan sebagai dokter PTT yang pasti akan mendapat tugas di tempat terpencil yang sangat jauh dari rumah. ”Jika Kadek betah, apalagi dapat pasangan hidup di tempat ia menjalankan tugas, pasti ia akan jarang pulang. Dan jika itu terjadi, siapa yang akan menggantikan saya yang sudah renta ini dalam menjalankan kewajiban sebagai warga desa adat?”

”Sekarang aturan desa adat tidak sekaku dulu,” tanggap Pekak Sepuh. ”Kewajiban sekarang bisa diganti dengan uang.”

Ayah membisu mendengar jawaban Pekak Sepuh.

”Keluarga besar tentu senang Kadek akan jadi dokter walaupun mendapat tugas di tempat yang jauh,” Pekak Sepuh menambahkan. ”Seandainya kelak ia sudah tidak bertugas lagi dan tinggal di rumah, tidak ada yang akan mempermasalahkannya karena awig-awig atau aturan adat sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman.”

Ayah masih diam, begitu juga saya dan yang lainnya. Pasti semua merasa sungkan berdebat dengan orang yang dituakan meski yang dikatakannya sudah basi dan tak perlu diulas panjang lebar.

”Apabila setelah jadi dokter Kadek Surya tingal di tempat yang jauh,” Pekak Sepuh masih nyerocos, ”Luh Putu boleh saja tinggal di rumah orangtua bersama suami, tapi suami Luh Putu tidak kawin nyeburin. Tidak berstatus sebagai ahli waris dalam keluarga.”

Anak perempuan yang kawin ke luar tidak berhak atas warisan.

Ayah masih diam, mungkin berharap agar saudara-saudara kandungnya ikut memberikan pertimbangan. Saya geregetan melihat mereka tak kunjung bicara kecuali berbisik satu sama lain. Sampai akhirnya Pekak Sepuh kembali memanfaatkan kesempatan untuk bicara soal warisan.

”Menurut adat kita, yang pantas menjadi pewaris dalam keluarga hanya anak laki-laki, tidak kecuali anak angkat, sebab ia yang kelak menjalankan segala kewajiban adat baik di dalam lingkungan keluarga besar maupun desa. Anak perempuan yang kawin ke luar tidak berhak atas warisan.”

Ingin sekali saya mendebat ucapan Pekak Sepuh. Ia pasti belum tahu hasil keputusan rapat besar Majelis Utama Desa Adat mengenai warisan. Menurut hasil keputusan rapat itu, anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama berhak atas warisan, hanya saja pembagiannya tidak sama. Anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dibandingkan anak perempuan, sebab anak laki-laki memikul kewajiban adat sedangkan anak perempuan tidak.

Namun, saya mencari suami yang mau nyeburin bukanlah dengan tujuan mendapat bagian warisan yang dua kali lipat itu. Tanpa menerima warisan pun saya dan suami siap memikul kewajiban adat sebagai pengganti orangtua yang sudah renta. Kami berdua sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap sehingga tidak perlu berebut warisan untuk menopang kehidupan.

Para sepuh di keluarga kami, termasuk saudara-saudara kandung Ayah, boleh jadi mengira saya menyembunyikan maksud tertentu. Mungkin dikiranya Mas Anton, calon suami saya, mau kawin nyentana karena mengincar warisan. Tidak sama sekali. Mas Anton bukan tipe laki-laki seperti itu.

Semua sudah tahu, memang, Ayah termasuk orang berada di desa kami. Ia punya tanah dan bangunan di beberapa tempat. Aset itu berhasil ia miliki setelah bertahun-tahun menekuni profesi tukang bangunan sampai akhirnya menjadi seorang kontraktor.

”Maafkan saya, Pekak, begitu juga para sesepuh lainnya,” saya memberanikan diri bicara lagi. ”Saya mencari suami yang mau nyentana bukan karena ingin berebut warisan. Calon suami saya bersedia karena ia tahu masalah yang dihadapi keluarga kami.”

Saya menduga para saudara kandung Ayah juga sangsi karena calon suami saya berasal dari seberang. Belakangan memang santer terdengar berita, para tenaga kerja dari seberang banyak yang berurusan dengan polisi. Begitu pula berita mengenai saudara-saudara dari seberang yang biasa kawin-cerai, yang statusnya tidak jelas pun ada.

Saya mencari suami yang maunyentanabukan karena ingin berebut warisan.

Ingin saya meneruskan kata-kata saya tetapi Ayah cepat menyela dengan mengatakan, ia tidak akan memberikan warisan milik leluhur kepada anak-anaknya. Ia hanya akan membagikan hasil keringatnya sendiri kepada anak-anaknya. Itu sudah dibicarakan dengan Kadek Surya. Semua properti itu sudah disertifikatkan. Saya, Kadek Surya, begitu juga Ibu, mendapat bagian sertifikat. Kadek Surya mendapat bagian dua rumah sedangkan saya dan Ibu masing-masing mendapat satu.

Ayah tidak bermaksud menyombongkan diri dengan mengatakan itu. Semua ia beberkan agar tidak ada yang berprasangka buruk. Pembicaraan keluarga yang dilakukan ketika membagi-bagikan sertifikat dilandasi oleh hati yang ikhlas dan melahirkan kesepakatan: saya akan tetap tinggal di rumah bersama Kadek Surya guna ikut merawat orangtua.

Semua tampak sumringah mendengar penuturan Ayah. Pekak Sepuh pun menegaskan bahwa ia menyinggung soal warisan bukan karena bermaksud jelek. Ia hanya tidak ingin kelak terjadi sengketa di lingkungan keluarga besarnya gara-gara warisan.

”Tapi saya masih belum paham mengapa Luh Putu menempuh jalan kawin mengambil sentana. Kalau hanya karena Kadek Surya akan jadi dokter dan tinggal di tempat yang jauh, itu sulit diterima. Soal berbakti kepada orangtua, tanpa tinggal di rumah pun bisa dilakukan. Apa sih sejatinya alasan Luh Putu?”

Saya ingin Ayah berterus terang tetapi sampai lewat lima menit Ayah tak kunjung bicara. Mungkin ia malu mengatakan alasan yang sebenarnya. Meskipun calon dokter, sesungguhnya adik saya, Kadek Surya, tidaklah sehat. Tentu saja tidak ada yang tahu. Sebab, yang tidak sehat itu bagian tubuhnya yang paling rahasia.

I Made Sugianto, lahir di Lodalang, Kukuh, Tabanan, Bali, 19 April 1979. Banyak menulis cerpen dan novel dalam bahasa Bali. Menjadi pembicara pada acara Bali Emerging Festival 2012 dan Ubud Writers & Readers Festival. Meraih anugerah Rancage pada 2013 untuk karya sastra berbahasa Bali lewat novel berjudul Sentana. Saat ini sibuk dengan kegiatan sebagai Kepala Desa di tempat kelahirannya.

sumber : kompas.id, 30 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme