Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Palasik oleh W.S. Djambak

Posted on Ming, 14 Mei 2023

Lelaki itu gelisah menyusur bencah yang basah. Sedari tadi dia merasa ada yang mengintai dari balik semak.

DIA mendelik dan melihat dua buah cahaya berpendar merah sebalik semak ilalang. Hanya ada dua kemungkinan, kalau bukan harimau, tentu cindaku. Namun, cindaku ”harimau jejadian” itu konon bisa mengendap tanpa terlihat di balik sehelai ilalang. Andaikan pun sepasang cahaya merah yang berpendar itu adalah harimau, postur tubuhnya terlalu rendah seperti posisi kuda-kuda hendak menerkam.

Dalam satu gerakan, makhluk itu melompat keluar.

”Anjing!” umpatnya tergelenjat melihat makhluk yang ditakutinya itu tak lain adalah seekor anjing.

Istrinya tak lagi sanggup menertawai suaminya, meski hanya tersenyum. Pikirannya cemas bercampur kalut pada sosok yang terbalut selimut pada jarit batik yang tersampir pada pundaknya yang kurus.

Si lelaki sibuk memiringkan payung yang dipegangnya menggunakan tangan kanan agar istri dan anaknya tidak kehujanan, sedang tangan kiri memegangi senter –sibuk menyigi ke jalan seakan cahayanya menyeruak rinai yang tiada usai. Sebagian tubuhnya sudah kuyup membuat bibirnya semakin susah mengatup.

Ia mempercepat jalan hingga istrinya setengah berlari mengiring langkahnya yang lebih panjang. Dalam anggapannya, kalau tidak bergegas, segalanya akan nahas. Malam itu sekira pukul sebelas, tidak ada lagi orang yang lalu-lalang bahkan hanya untuk mencari kopi sambil bermain kartu di kedai. Angin gunung yang mengalir dari dua puncak gunung menyisir lembah dan sampai di kampung kecil itu menyebabkan pucuk-pucuk kayu manis bergisiran satu sama lain.

Sedikit lagi, setelah melewati tikungan yang ditumbuhi rumpun salam dan melalui kantor desa dengan bangunan khas Minangkabau (yang atapnya bergonjong) mereka tiba di lokasi.

”Kita sudah sampai,” bisiknya menahan gigil. Istrinya diam. Risau sambil sibuk menimang anak mereka yang menggagau.

”Assalamualaikum. Etek … Tolong buka.”

Dia setengah berteriak sambil menggedor pintu hingga tak lama sesosok wanita tua muncul dari dalam dan membukakan mereka pintu. Matanya menyipit sejenak mencoba mengenali pasangan di depannya itu.

”Ah, waang rupanya, Sidin. Mari masuk,” serunya sambil mempersilakan.

Bayi malang yang baru berumur beberapa hari –yang seharusnya berwarna merah, putih pucat serupa dinding kusam rumah– diletakkan di atas kasur, napasnya tersengal. Si perempuan tua dengan sigap mengambil stetoskop dan memeriksa, kemudian dengan putus asa ia menggeleng lemah.

”Ini di luar kemampuan kami para bidan,” ucapnya prihatin, wajahnya tertunduk menyaksikan bayi kecil itu meregang nyawa. Sidin dan istrinya meratap merobek malam yang semakin kelam.

Isu mengenai kematian anak Sidin dengan lekas berembus hingga seluruh kampung. Besar dugaan, anaknya disesap palasik, sesosok penganut ilmu hitam yang menjadikan bayi sebagai mangsa dengan cara mengisap pada ubun-ubun. Biasanya ia keluar dalam bentuk sepotong kepala yang terbang mencari mangsa. Kadang bisa juga dalam wujud manusia biasa –yang memangsa hanya dengan cara melihat.

Anak yang disesap palasik hampir tidak bisa dibedakan dari anak normal, sebab tidak adanya bekas luka luar, melainkan ubun-ubunnya yang lunak itu cekung tak berdetak. Wajahnya pucat, kotorannya berbau sangat busuk dan tak berhenti menangis.

Di kedai kopi Mak Subin, bapak-bapak yang main domino asyik bergunjing –mengalahkan gunjingan para wanita di tempat tukang sayur. Paduko, salah seorang pengunjung kedai itu –sambil mengode mandan-nya– mengangkat tinggi batu balak enam dan mengempaskan kuat hingga meja kayu itu bergetar. Kopinya yang masih penuh sampai tumpah sedikit.

”Pasti Biyai,” ucapnya yakin.

Lawannya yang jengkel karena kaget membalas dengan pukulan yang lebih keras hingga kopi Paduko tinggal separo tanpa sempat diminumnya.

”Jangan mengada-ada.”

Paduko diam, namun dalam hati ia yakin bahwa penyebab kegemparan di kampungnya adalah ulah palasik yang berwujud seorang wanita tua yang sehari-hari dipanggil dengan nama Biyai.

Di kampung itu, tak ada yang tidak mengenal beliau. Orang-orang hanya memanggilnya Biyai, sebuah sapaan untuk menyebut ibu dalam bahasa Minang –yang sudah langka dijumpai– selain amai, mandeh, dan bundo, tanpa mengetahui nama aslinya. Usianya ditaksir sudah menginjak kepala tujuh mau menjelang delapan puluh.

Sudah berpuluh tahun beliau hidup sebatang diri menempati sebuah rumah gadang usang milik kaumnya yang sudah punah, sebab di kaumnya, hanya ia dan adiknya yang –sudah meninggal– berjenis kelamin perempuan. Anak dari adiknya hanya seorang laki-laki yang tidak berguna. Biyai sendiri tiada beranak, pun suami sudah lama tidak. Sepupu sepersukuannya pun semuanya laki-laki, yang berarti tidak bisa meneruskan nasab suku yang diturunkan dari garis ibu.

Rumah gadang yang ditempatinya juga sudah tak lagi layak disebut rumah gadang. Sudah reyot; dinding yang dijalin dari bambu yang dibelah sudah rompong dimakan rayap. Hanya pucuk gonjongnya yang masih tetap runcing menikam bulan purnama ketika tanggal empat belas setiap bulan Hijriah dengan latar Gunung Marapi dan Singgalang yang menjulang lancang.

Untuk menyambung hidup, sehari-hari Biyai berjualan sayuran yang dipetik dari belakang rumahnya. Kadang kalau ada permintaan, beliau juga mengurut (salah urat, terkilir, dan urut capek bisa dilakukannya). Untuk upah, Biyai tidak pernah mematok harga. Berapa pun bayaran dari pasien yang diobatinya selalu diterima dan langsung ia masukkan dalam kantong di sebalik kutang usang miliknya. Ada yang menyelipkan uang seribuan, lima ribuan, bahkan kalau mujur, bisa mendapat uang sepuluh ribu dua lembar –yang pada masa itu tahun 90-an sudah termasuk jumlah yang besar.

Wajahnya yang keriput berparut dengan tubuh kurus bungkuk berpunuk membuat siapa pun yang baru mengenalnya bergidik jijik. Selain itu, kepandaiannya dalam ilmu kebatinan semakin meyakinkan orang kalau beliau adalah seorang palasik. Terlebih Biyai memang memiliki kegemaran berkunjung ke rumah-rumah orang yang habis melahirkan.

Kendati demikian, ketika Biyai datang, tuan rumah tidak bisa serta-merta mengusir begitu saja. Adalah aib bagi mereka jika tamu tersinggung –biasanya menggunakan sindiran halus mengusir alih-alih secara langsung. Oleh sebab itu, biasanya mereka –terkecuali Sidin dan beberapa orang yang (awalnya) tidak begitu percaya takhayul– mengalungkan jimat guna tangkal palasik pada bayi yang baru lahir, agar sekalipun palasik datang, si bayi tetap aman.

Selang beberapa hari dari peristiwa anak Sidin meninggal akibat disesap palasik, kampung itu kembali dihebohkan lagi dengan kemunculan palasik secara nyata.

Suatu malam, beberapa warga –yang tak lain adalah Paduko dan temannya– melihat sepotong kepala terbang di sela pucuk bambu betung ketika pulang main domino. Sempat meragukan matanya, mereka kemudian berteriak dan mengetuk kentungan bertalu-talu.

Beberapa orang laki-laki dewasa, termasuk Sidin, keluar dari rumah menuju sumber suara lalu bersama-sama mengejar kepala terbang –yang semakin diyakini bahwa segala kegemparan di kampung itu nyata adanya karena ulah palasik.

Palasik terbang melesat hingga melewati sebuah pohon beringin di pemakaman umum, kemudian menghilang. Warga tahu bahwa tak jauh dari tempat itu terdapat hamparan kebun singkong yang dibelakangi oleh rumah Biyai.

Malam itu juga, dikomandoi oleh Sidin, warga beramai-ramai mendatangi pondok Biyai dengan beringas dan segala sumpah serapah. Segala makian dalam bahasa Minang yang terdiri atas berbagai unsur selangkang, nama binatang, hingga sumpah serapah yang tidak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dilontarkan tanpa Biyai bisa melakukan pembelaan.

”Geledah rumahnya!” teriak Sidin.

Warga beramai-ramai menggeledah rumah dan pekarangan Biyai. Barang-barangnya yang tidak seberapa itu dihamburkan dan berserakan ke mana-mana. Mereka tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan hingga salah seorang rombongan menemukan beberapa potong kain putih yang terlipat di dalam lemari pakaian.

”Buat apa kausimpan kain kafan, Setan?”

”Kaupikir buat apa kain kafan? Tentu untuk pembungkus tubuhku ketika mati!”

”Dusta! Akui saja kalau kau menggunakan kain kafan untuk praktik ilmu sesat!”

”Jangan gila! Bagaimana mungkin aku menuntut ilmu hitam jika suamiku sendiri mati karena ilmu hitam?”

Biyai ditarik keluar. Tubuh tuanya yang renta didera dan rambutnya dijambak, mukanya lebam dengan darah yang membasahi kebayanya yang sudah tersingkap separo. Beliau hanya bisa menangis, meratap, dan bersumpah bahwa sekalipun ia tidak pernah menjadi palasik.

”Dasar palasik! Gara-gara kau …”–Sidin menyeka air matanya–”gara-gara kau … anakku ….” Sidin tak kuasa melanjutkan perkataannya. Matanya basah sebab amarah memuncak.

”Usir atau bakar!”

”Tidak! Sumpah demi Tuhan, aku bukan pa—”

”Dusta! Lantas kenapa kau suka mengunjungi orang yang baru melahirkan, termasuk rumahku, kalau bukan untuk menyesap darah bayi?” cecar Sidin.

”Apa ada aturan yang melarang mengunjungi orang yang habis melahirkan? Salahkah jika perempuan tua sebatang kara sepertiku menyukai anak-anak? Memang mukaku buruk, tapi hatiku tidaklah busuk! Andai aku tahu akan begini, kuharamkan kakiku menginjak pekarangan kalian.

”Silakan kalian pancung kepalaku. Andai aku tidak bersalah, darahku tidak menyembur, melainkan mengucur.”

Pandangan mata Biyai nyalang menantang seluruh warga yang datang, membuat nyali mereka sempat ciut.

”Jangan! Palasik tidak akan mati dipancung. Bakar saja!” asung Paduko berang.

Seiring desau angin pada pucuk bambu betung, sebuah suara teriakan kencang memekakkan telinga. Api berkobar membakar seisi rumah gadang lapuk yang menguar bau daging busuk.

***

Malam itu bulan empat belas muncul dengan rupa yang teramat getas. Angin dingin yang mengalir dari pucuk Marapi-Singgalang semakin mengaromakan suasana nestapa.

Beberapa kilometer dari bangkai rumah gadang milik Biyai, tepatnya di rumah praktik bidan tua, terdengar pekik yang membuat bulu kuduk bergidik. Malam itu, seorang anak berusia tiga bulan menggelinjang meregang nyawa dengan mulut berbusa. Matanya merah beku dengan tubuh kaku.

”Ini di luar kuasa kami para bidan.”

Orang tua si anak menyumpah lemah, ”Palasik!” (*)

—

W.S. DJAMBAK : saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 14 Mei 2023

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme