Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wanita Tua Penjual Sirih di Tengah Kota oleh Yin Ude

Posted on Jum, 19 Jan 2024

”Wanita tua menjual sirih di tengah kota?”

Pertanyaan itu mencuat lagi di kepalaku, meragukan pikiranku sendiri yang sebelumnya sudah mantap.

”Memangnya aneh?” Akhirnya aku sendiri pula yang menyanggah. ”Ndak aneh!

Itulah semangat seseorang yang tidak biasa menurut pikiran orang lain, pikiran warga kota. Tapi, bisa jadi beralasan kuat. Wanita tua menjual sirih di tengah kota karena ia melihat peluang pasar obat-obatan herbal. Bukankah dalam kemajuan ilmu medis tetap saja ada orang yang mencari bahan penyembuh alternatif, yang alami? Dan ingat, tidak semua perempuan di kota suka sabun sirih. Bisa jadi banyak dari mereka lebih memilih menggunakan sirih saja untuk membersihkan dirinya.”

Pertanyaan yang tadi mencuat di kepalaku berangsur hilang. Kalah.

Maka tak ada lagi persoalan pada diriku saat berlama-lama menatap wanita tua penjual sirih di tengah kota itu. Walaupun kemudian kudapati persoalan datang dari orang lain, saat mereka memandangi wanita itu. Mereka seperti telah mencuri pertanyaan yang sempat mencuat di kepalaku! Termasuk Pak A Ceng, si pemilik restoran masakan China.

Tapi, aku tak terganggu. Aku hargai segala macam pendapat mereka, pendapat Pak A Ceng. Dan untuk menjawabnya, aku katakan saja, ”Memangnya aneh? Ndak aneh! Itulah semangat seseorang yang tidak biasa menurut pikiran orang lain, pikiran warga kota. Tapi, bisa jadi beralasan kuat. Wanita tua menjual sirih di tengah kota karena ia melihat peluang pasar obat-obatan herbal. Bukankah dalam kemajuan ilmu medis tetap saja ada orang yang mencari bahan penyembuh alternatif, yang alami? Dan ingat, tidak semua perempuan di kota suka sabun sirih. Bisa jadi banyak dari mereka lebih memilih menggunakan sirih saja untuk membersihkan dirinya.”

Ya, inti dari jawabanku adalah semangat. Mengajak orang-orang menyelami semangat. Semangat yang boleh tidak searah dengan semangat yang sudah umum. Kuharap mereka renungkan, mereka jadikan pelajaran, lalu mereka terapkan sebagai acuan dan sumber motivasi dalam kehidupan. Seperti yang kulakukan!

Aku yang bekerja sebagai staf divisi pemasaran di sebuah perusahaan kosmetik sering tidak sepaham dengan Pak Frans, sang manajer. Ia dalam mengelola bidang pemasaran selalu mengacu pada konsep-konsep konvensional yang kusebut terlalu biasa dan tidak inovatif.

Saat melakukan promosi, ia akan membuat program promo yang langsung menyasar remaja dan ibu-ibu. Tapi, konsepku tidak demikian. Aku menyarankannya untuk mendekati anak-anak usia SD pula.

Aku minta ia membuat event pelatihan tata rias yang menghadirkan remaja, ibu-ibu, dan anak perempuan mereka yang berusia SD. Di dalamnya diselipkan parade anak-anak cantik, yang telah dirias dengan produk kosmetik perusahaan kami.

Karena sifat anak usia SD suka meniru, mereka pasti akan terdorong untuk ikut mempercantik diri sesampai di rumah. Mereka akan minta dibelikan kosmetik. Jika sebelumnya kebutuhan kosmetik hanya terbatas pada kalangan remaja dan ibu-ibu, maka setelah event itu akan melebar pada kalangan anak-anak.

Kalaupun tak dibeli, mereka akan memakai kosmetik kakak atau ibunya, yang meningkatkan kemungkinan cepat habis atau rusak.

Karena sifat anak usia SD suka meniru, mereka pasti akan terdorong untuk ikut mempercantik diri sesampai di rumah.

”Jika satu lipstik seorang ibu patah karena ulah anak kecilnya yang ingin merias diri, maka berapa ibu di Indonesia, maka berapa lipstik yang akan kita jual untuk memenuhi kebutuhan besar itu. Belum terhitung jika sang ibu mengambil jalan aman, yaitu membeli dua. Satu untuk dirinya, satu untuk anaknya, agar miliknya tak diganggu lagi,” kataku selalu, meyakinkan Pak Frans.

Pak Frans setuju dan angka penjualan produk kami meningkat. Aku pun menemukan alasan mendorong perusahaan agar selanjutnya melakukan inovasi, yaitu memproduksi kosmetik yang ramah anak.

”Anak-anak Indonesia sudah membutuhkan kosmetik. Tapi, mereka tidak boleh menggunakan kosmetik remaja dan dewasa. Maka, sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk memproduksi kosmetik khusus bagi mereka. Kosmetik yang ramah anak.”

Pak Frans dipromosikan menjadi wakil direktur. Dan aku diangkat sebagai penggantinya. Tiba-tiba sekali karena perusahaan mengapresiasi kerjaku itu.

Semangat wanita tua penjual sirih di tengah kota telah kuterapkan pula dalam kehidupan pribadiku.

Sebagai perempuan yang cukup cantik, aku ditaksir oleh banyak lelaki. Aku memilih yang kere dan tak berpenghasilan tetap, tak seperti teman-temanku atau perempuan lain—umumnya—yang bermimpi dipacari oleh pria tajir atau mapan.

Salah satu alasanku adalah karena aku suka mendengar keluhan mereka seperti, ”Duh, sulit sekali mendapatkan pekerjaan, padahal aku sudah berusaha melamar ke mana-mana.”

Atau, ”Aku ingin membahagiakan kamu, tapi… sabar dulu, ya? Aku belum punya uang.”

Atau, kebetulan pacarku itu sedikit jaim, aku suka ia berkata, ”Kamu mau liburan?

Tunggu besok, ya? Ada transferan dari rekan bisnis aku yang masih kutunggu.” Padahal, kutahu pasti ia tak berbisnis apa pun dan kuyakini transferan itu berasal dari temannya yang dimintai tolong memberinya pinjaman.

Lalu, suatu hari pacarku itu datang dengan senyum dan kebanggaan sebab membawa modal dalam dompetnya untuk memanjakan aku. Aku bahagia, demi cinta mereka mau berusaha. Mereka memiliki rasa risih jika sampai aku yang mengeluarkan uang. Dalam keterbatasan dan kekurangmungkinan mereka pun terus berpikir mencari cara agar bisa juga tajir dan mapan. Mereka pejuang! Pejuang untuk diriku.

Dari lelaki mapan tak akan kudapati semua itu. Apa yang terucap dari mereka hanyalah kemudahan. Hidupku tak diwarnai persoalan dan tantangan. Duh, wanita tua penjual sirih di tengah kota itu telah menjadi bagian dari diriku. Ada yang kurang rasanya jika sehari saja tak bertemu dengannya. Sampai aku dipindahkan oleh perusahaan untuk merintis cabang di daerah lain.

***

Dalam keterbatasan dan kekurangmungkinan mereka pun terus berpikir mencari cara agar bisa juga tajir dan mapan.

Daerah yang kumasuki itu benar-benar menantangku. Bagaimana tidak, ada dua perusahaaan kosmetik yang telah lebih dahulu membuka cabangnya di sana. Merk dari perusahaanku pun masih belum terlalu dikenal. Akhirnya kusadari itulah penyebab direktur mengutusku menjadi penanggung jawab ekspansi.

Aku terima tantangan itu. Sebab, memang hal seperti itu yang kusuka.

Aku mulai sibuk dengan tugas mengomandani karyawan, baik yang kubawa pindah dari kantor pusat maupun hasil rekrutmet di tempat, untuk menyelenggarakan survei, pemetaan konsumen, sosialisasi, dan promo-promo secara masif.

Siang malam aku di kantor. Bahkan, bisa dibilang jarang sekali pulang ke rumah kontrakan yang disiapkan perusahaan. Di sana, ketika sendiri, aku memeras otak untuk merancang langkah-langkah terbaik yang kuperlukan guna mencapai target yang dibebankan direktur. Saat bersama staf, aku berusaha keras pula mengarahkan mereka agar bisa membantuku menemukan solusi atas berbagai kendala untuk menjadikan mereka pejuang perusahaan pula sepertiku. Kadang aku pun ikut turun ke lapangan, langsung ke tengah-tengah konsumen, untuk memberikan keyakinan bahwa perusahaan kami dan produk kosmetiknya layak dan harus digunakan oleh warga daerah itu.

Aku sibuk. Teramat sibuk. Dan aku lelah. Aku jenuh!

Saat lelah, saat jenuh itulah wanita tua penjual sirih di tengah kota itu muncul tiba-tiba dalam ingatanku.

“Duh, Tuhan… aku telah terlalu sibuk dan dalam setahun ini tak pernah sempat memikirkannya…,” keluhku dalam hati yang dirayapi rasa rindu.

Ya, aku sangat rindu padanya, pada kain penutup kepalanya yang biru, baju terusannya yang juga biru dengan bunga-bunga kemerahan, menonjol di tengah latar warna kuning dan putih toko, restoran, dan café di belakangnya. Senada dengan biru langit kota.

Lalu tumpukan dan serakan hijau daun-daun sirih di depannya, yang diatur rapi di atas hamparan tikar di tepi trotoar. Ia yang duduk mendongak, menatap orang-orang dan mobil mewah yang melintas di depannya, yang tak peduli padanya. Matanya bersinar, bibirnya menyunggingkan senyum.

Aku benar-benar tak pernah lagi mengingatnya, sementara dulu ia selalu kusisipkan dalam hati dan pikiran, kapan saja, di mana saja, sebab ia telah menjadi pendorong dan penguatku dalam bekerja dan menjalani kehidupan pribadi.

Ataukah karena begini: sesulit-sulitnya tantangan yang kuhadapi selama merintis cabang, tetap saja ujungnya mudah karena aku tak sendiri. Ada banyak staf dan karyawan yang membantuku. Berlimpah pula sumber daya, termasuk keuangan yang mendukung semua langkahku. Aku tak perlu sumber motivasi. Demikian yang kupikirkan.

Dan satu penyebab lagi, mungkin, dan aku terhenyak ketika menyadarinya: aku telah terlampau terlena dengan asmaraku yang baru!

”Ya, Tuhan, satu tahun saja, aku telah begitu banyak berubah!” jerit batinku. ”Bahkan, aku tak lagi berpacaran dengan orang kere. Bisa-bisanya aku menerima Rivan, yang pengusaha!”

Aku bukan lagi Mei yang dulu. Kuyakini itu.

Aku semakin tak tahan untuk tak segera melihat wanita tua itu lagi. Benar benar tak tahan!.

”Wanita tua penjual sirih di tengah kota itu?” ucap Pak Frans di seberang. Ia kuhubungi via ponsel dengan harapan wakil direktur itu masih sering ke restoran A Ceng, melihatnya, dan menginformasikan padaku keadaannya.

”Aku pikir sudah tak ada. Sudah lama aku tak makan di restoran A Ceng, sebab lebih banyak ke luar kota. Lagi pula kulihat di lokasi restoran Pak A Ceng sedang dibangun sebuah hotel, milik orang lain.”

”Apa?” seruku tak percaya dengan informasi dari lelaki itu.

”Ya, sudah tidak ada!”

Pak Frans tak pernah bicara main-main.

Aku bukan lagi Mei yang dulu. Kuyakini itu.

Tak kupedulikan lagi pertanyaannya tentang perkembangan cabang perusahaan yang kupimpin. Kepalaku diisi rasa bersalah karena selama setahun tak pernah menghubungi seorang pun di kota asalku, menanyakan perkembangannya, bagaimana situasinya selama kutinggalkan, termasuk bagaimana kondisi Pak A Ceng dan restorannya.

”Halo. Halo, Bu Mei!”

Suara Pak Frans masih kudengar. Tapi aku sedang berpikir untuk menghubungi Kudrat, sopir pribadiku, agar segera mengantarku pulang ke kota asalku.

***

Benar seperti yang diinformasikan Pak Frans, wanita tua penjual sirih di tengah kota itu tak ada lagi! Benar pula, restoran Pak A Ceng kini telah berganti menjadi hotel, yang masih dalam tahap pembangunan.

Di atas mobil aku hanya bisa terdiam, terdiam memandangi para pekerja yang lalu lalang di sana. Tak tahu harus berkata apa. Dan mataku basah.

”Apa tidak sebaiknya kita mulai mencari, Bu?”

Pertanyaan itu mengejutkanku. Kutatap si penanya di sampingku, Kudrat, yang terus memegangi setir sejak tadi, menunggu aku memerintahkannya untuk ”jalan”.

”Ke mana kita mencari? Apa kata Pak A Ceng?” Aku bertanya balik.

Kurasakan kepedihan semakin merayapi dadaku saat menyebut nama itu. Bukan, bukan karena aku kasihan pada nasib buruknya yang harus menjual lokasi restoran. Tapi, karena aku kecewa padanya yang telah menjadi penyebab tak adanya wanita tua penjual sirih di tengah kota itu.

”Seperti pada Ibu, pada saya pun Pak A Ceng tak mau bicara. Berulang kali saya telepon, tak juga diangkat. Tapi, Pak Muhtar, pemilik warung soto Madura di samping restorannya dulu, memberikan banyak informasi pada saya.”

Aku menunggu kelanjutan cerita Kudrat, yang harus mengisap rokoknya dulu. Asap yang mengepul dan meliuk ke luar lewat jendela mobil bukan lagi asap yang kulihat, melainkan sosok wanita tua penjual sirih!

Aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menenangkan diri.

Di atas mobil aku hanya bisa terdiam, terdiam memandangi para pekerja yang lalu lalang di sana.

”Pak Muhtar bilang bahwa setelah bangkrut, Pak A Ceng pernah bercerita tentang apa yang ia lakukan, yang kemudian sangat disesalinya,” sambung Kudrat. “Begini. Sepeninggal Bu Mei, restorannya mengalami kemajuan pesat, disebabkan kemauan Pak A Ceng untuk belajar dari semangat yang ada pada wanita tua penjual sirih di tengah kota itu. Jika sebelumnya Pak A Ceng hanya menyediakan menu masakan China yang biasa, ia kemudian melakukan perubahan dengan memodifikasi masakannya dengan masakan daerah. Warga kota dan para pelanggannya tertarik dengan menu yang tidak biasa itu. Ternyata rasanya berbeda dan sangat disukai. Pak A Ceng meyakini bahwa wanita penjual sirih itu telah membawa hoki bagi dirinya. Sampai kemudian datang seseorang bernama Satria, kolektor lukisan….”

”Ayo, jalan!”

Kudrat menatapku, seperti tak yakin dengan perintahku yang tiba-tiba. Tapi, sesaat saja, sebab sejurus kemudian ia sudah tancap gas. Sambil mengemudi, ia sempat bertanya, ”Ke rumah Satria? Ibu tahu rumahnya?”

”Dulu kami sering bertemu, di sanggar lukis, di acara pameran, di acara lelang karya seni rupa untuk amal. Lalu dua kali aku diajak ke rumahnya,” jawabku.

***

”Seperti kata A Ceng padaku, wanita tua penjual sirih di tengah kota itu benar-benar membawa hoki. Sejak ia ada bersamaku, aku mengalami banyak sekali perubahan baik dalam hidup. Salah satunya aku jadi berani mengambil risiko beristri lagi, dan dari istri keduaku itu aku mendapat dukungan modal untuk mengembangkan bisnis. Dalam enam bulan saja bisnisku maju sekali dan memberiku keuntungan yang tak pernah kuperoleh sebelumnya,” kata Satria.

Ia tersenyum, tapi kecut. Seperti ada sesutau yang mengecewakan yang melatari senyumnya itu.

”Tapi aku bodoh, aku serakah. Aku biarkan wanita tua penjual sirih di tengah kota itu pergi bersama Lee ke Singapura, setelah kolektor itu memberiku uang lima ratus juta. Dan kalian tahu? Sejak wanita tua penjual sirih itu tak ada, bisa dibilang bisnisku dengan cepat menurun.”

”Berapa uang yang Bapak beri kepada Pak A Ceng?” Kudrat menyela Satria yang masih hendak bicara.

”Dua ratus lima puluh juta,” jawab Satria, santai.

”Singapura?” Banyak, banyak sekali pertanyaan yang hendak kulontarkan pada lelaki yang duduk di depan kami di ruang tamunya itu. Tapi, tak ada satu pun yang sanggup kukeluarkan. Kerongkonganku rasanya tercekat. Ketika akhirnya bisa, hanya kata itu yang meluncur, lirih.

”Singapura?” Aku mengulangnya.

”Ya, Lee, orang Singapura. Kau pasti belum kenal, sebab ia kolektor lukisan yang terbilang baru.”

Itu kalimat terakhir yang kudengar dari Satria. Ia masih bicara dengan Kudrat, tapi aku sudah lebih dahulu pamit, setengah berlari menuju mobil, masuk, dan di sana aku menangis.

Lukisanku, yang aku lukis tiga tahun lalu dan kuberi judul Wanita Tua Penjual Sirih di Tengah Kota, yang kuberikan secara cuma-cuma kepada Pak A Ceng agar ada yang menghiasi dinding restorannya kini telah semakin jauh dariku, di Singapura!

Lukisan itu pergi justru pada saat aku membutuhkan kehadirannya di depanku, seperti biasa, ketika aku lelah, ketika aku jenuh, ketika aku ingin men-charge jiwaku!

Apakah nasibku akan seperti Pak A Ceng? Seperti Satria? Yang sudah meraih kesuksesan setelah mendapatkan pelajaran, acuan, dan sumber motivasi hidup dari lukisan itu, tapi begitu gampang melupakannya, bahkan membiarkannya pergi, lalu mereka terpuruk kembali?

Aku tak peduli jika harus jatuh, terempas. Yang kutakutkan adalah aku akan menjadi orang yang tak menghargai masa lalu yang sudah membuat hidupku bisa berlanjut sampai saat ini!

”Singapura… Singapura….” Terus kuucapkan nama negara itu di antara isakanku.

”Singapura jauh sekali, dan belum tentu si Lee akan rela melepas kembali lukisan itu kepada Ibu. Apakah Bu Mei akan memaksakan diri berangkat ke sana?”

Pertanyaan Kudrat tak kujawab. Air mata kuseka. Kepedihan hati kutekan agar reda.

”Kulukis Wanita Tua Penjual Sirih di Tengah Kota agar orang lain mendapatkan pelajaran tentang semangat. Maka, sebagai pelukisnya, aku tak boleh menyerah,” seru batinku [.]

Yin Ude, penulis Sumbawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel, dan artikel terpublikasi di media cetak dan online dalam dan luar daerah Sumbawa, antara lain Lombok Pos, Suara NTB, Sastra Media, Elipsis, Suara Merdeka, Kompas, Republika, dan Tempo. Memenangi beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Buku tunggalnya adalah Sepilihan Puisi dan Cerita Sajak Merah Putih (Rehal Mataram, 2021) dan Novel Benteng (CV Prabu Dua Satu Batu Malang, Mei 2021) serta antologi puisi Jejak (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2022). Puisinya termuat pula dalam belasan antologi bersama para penyair Indonesia.

sumber : kompas.id, 19 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme