Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Raja dan Batu Langit oleh Bre Redana

Posted on Ming, 28 Jan 2024

Meteor jatuh di lembah Sungai Naga.

Petani setempat menatahkan pada batu yang jatuh dari langit itu tulisan: Raja Akan Mati.

Sambar geledek.

Raja kaget melompat dari takhta mendengar laporan pembantunya.

Puluhan tahun berkuasa tidak ada penistaan terhadap Raja. Semua tunduk di bawah kemuliaannya: petinggi negeri, cerdik pandai, pendeta, pujangga, tentara, saudagar—kelewat panjang kalau semua kedudukan harus disebut satu per satu. Mereka semua setiap hari setiap waktu setiap saat memuja-muji keutamaannya, bahkan tatkala ia telanjang menterinya berkomentar: busana Raja sangat indah.

Kini dengan tanpa ba-bi-bu seseorang membanderol nasib Raja.

Petani pula.

Sejauh ini hanya penguasa biasa menghina rakyat, bukan sebaliknya.

”Cari dia,” perintah Raja dengan tubuh gemetar.

Tanpa tertunda helaan napas menteri perang mengerahkan pasukan mencari petani yang entah dengan kekuatan apa mampu mengukir batu langit yang luar biasa keras dengan kata.

Getar amarah Raja membuat desa menggigil.

Tak ada petani mengaku melakukannya. Beberapa mengungsi.

Ini menambah murka pihak istana.

Desa dibumihanguskan.

Penduduk dibantai habis: lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak.

***

Betapa pun dari sejak itu pikiran Raja terganggu. Ia meneliti keadaan diri sendiri: benarkah aku akan mati? Padahal aku belum tua-tua amat, dia menyanggah. Lagi pula aku masih ingin berkuasa, lanjut kata hatinya.

Takut sakit dan mati, ia mengundang tabib untuk memeriksa kesehatannya. Disebutnya semua yang dirasakannya belakangan, yang kalau tidak ditangani dengan segera jangan-jangan bikin mati: pandangan mulai kabur, sering kesemutan, dengkul tidak luwes seperti kurang pelumas, malam kencing-kencing melulu, dan sebagainya.

”Tidak apa,” kata tabib. ”Raja cuma kurang istirahat. Kelewat sibuk. Kurangi minum tuak.”

Kurang puas dengan tabib pertama, Raja memanggil tabib berikutnya.

Tabib ini mengusulkan agar Raja mengirimkan putra-putri terbaik negeri mencari obat di Pulau Rasa Sayang (lengkapnya Rasa Sayang Ayu).

Dipilihlah puluhan pemuda-pemudi rupawan. Dengan kapal berbendera kerajaan, mereka diberangkatkan ke Pulau Rasa Sayang.

Keberangkatan disertai upacara meriah. Para pemuda-pemudi terpilih mengenakan busana serba putih dengan selendang kuning emas, membuat yang pria kian tampak tampan dan yang wanita tambah ayu. Diiringi lagu ”Sayang Ayu”(peneliti dari Barat berabad-abad setelahnya menerjemahkan judul lagu itu menjadi ”Love Pretty”) mereka melambai-lambaikan tangan di geladak kapal, bangga mengemban misi Raja.

Para pujangga sibuk mencatat agar peristiwa tak tercecer dari sejarah menyangkut peran anak muda dalam negara yang saat itu merupakan masa pergantian abad.

Itu pun masih belum membuat Raja tenang.

Ia panggil menteri kesayangan yang biasa ia beri tugas untuk mengurusi apa saja seolah di negerinya dengan jumlah manusia puluhan juta tidak ada yang lebih cakap daripada dia. Menteri ini jauh lebih tua dari Raja.

”Saya usulkan Raja ke Gunung Suci. Meminum embun murni tiap hari untuk memurnikan badan, agar bersih dari noda penyakit maupun dosa,” kata sang menteri.

Raja pun berangkat, menyepi ke Gunung Suci.

***

Pemberontakan meletus.

Kala itu musim semi.

Para petani angkat senjata. Mereka dipimpin oleh perampok dari Bukit Kaki Langit. Dengan pasukannya yang menguasai rahasia bukit dan gunung seakrab mengenali telapak tangan sendiri, Pangeran Bukit Kaki Langit—begitu ia menyebut diri—telah membuat kerajaan selama ini kesulitan menjangkau daerah utara baik untuk perdagangan maupun hubungan dengan kerajaan-kerajaan manca.

Kini, Pangeran Bukit Kaki Langit yang selain ahli pedang juga dikenal sebagai penyair memimpin para petani. Ia melatih mereka akan penyerangan dan pertahanan, masuk lingkungan musuh laksana angin, keluar menjebol sebagai air bah. Jangan hirau akan kemenangan, tapi yakin pada disiplin.

Dengan kecakapannya menggoreskan kuas dalam kaligrafi dia membakar semangat dengan merumuskan semboyan untuk gerakan musim semi melalui kata-kata sederhana, gampang diingat, mudah dipahami: Matilah Raja.

Gerakan musim semi meluas ke seluruh penjuru negeri disusul melebarnya spirit perlawanan. Mereka tidak sekadar ingin menggulingkan kekuasaan, tapi juga melunaskan dendam atas kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang selama ini mereka alami. Selain para penguasa, birokrat, siapa saja yang berafiliasi dengan penguasa, orang-orang kaya, menjadi target penyerangan.

Kota-kota dibumihanguskan. Rumah-rumah bagus dijarah.

Asap mengepul di mana-mana.

Mayat-mayat bergelimpangan.

Malam hari kota-kota menjadi karang hantu.

Pertahanan negara menyusut dengan cepat. Tentara hanya menguasai ibu kota. Seluruh negeri hampir semuanya jatuh ke tangan pemberontak.

Para peneliti asing yang tertarik pada sejarah negeri ini, berabad-abad kemudian memperoleh temuan-temuan arkeologis dan kitab-kitab yang berhubungan dengan kejatuhan negeri tersebut.

Pada masa akhir kekuasaannya sebenarnya Raja telah memiliki banyak musuh dalam selimut. Beberapa elite negeri menganggap Raja banyak melenceng dalam mengemban kekuasaan yang merupakan mandat langit. Raja ditengarai mengidap megalomania, dengan menguasai segenap sumber daya negeri ia merasa amat sangat berkuasa, di bawah langit nomor satu adalah dia. Ibu Suri tidak lagi ia hormati.

Diam-diam sejumlah petinggi negeri bersekongkol untuk menggulingkan Raja. Para peneliti menemukan tulisan-tulisan di bilah-bilah bambu, bagaimana pihak-pihak di dalam istana secara rahasia mengirim pesan kepada pemberontak.

Termasuk dalam analisis para peneliti, menteri yang paling dipercaya Raja ikut menukangi kejatuhannya. Usul supaya Raja menyepi ke Gunung Suci didasari niat agar Raja terisolasi dan istana vacuum.

Begitu pun usulan agar mengirim muda-mudi rupawan ke Pulau Rasa Sayang. Usulan itu adalah isapan jempol. Tidak ada dalam peta apa pun dan pada abad mana pun pulau bernama Rasa Sayang.

Muda-mudi yang sebagian besar terpilih karena mereka anak penguasa atau setidaknya ada hubungan dengan penguasa hanya berpesta di kapal kerajaan, pelesir keliling-keliling, dalam dokumen yang ditemukan kemudian ada disebut nama Pulau Bali. Terserah pembaca sudi percaya atau tidak.

Masih dalam hasil temuan para peneliti, kondisi negeri kala itu juga tidak sedang baik-baik saja. Bencana alam terjadi di mana-mana, dari gempa bumi sampai banjir.

Panen gagal. Pertanian ambruk.

Selain kelaparan di sejumlah tempat, wabah penyakit menyebar.

Catatan pujangga seperti dikutip peneliti: itu pertanda Raja kehilangan mandat langit.

Bukan merupakan peristiwa kebetulan meteor jatuh di lembah Sungai Naga. Terhadap mereka yang setia pada jalannya alam, alam juga akan selalu setia. Kalau betul seorang petani dengan gampang menatahkan pesan ”Raja Akan Mati” seperti dikutip di atas, batu langit tadi memang telah menyediakan diri untuk menyampaikan pesan tersebut. Saatnya telah tiba, kata orang bijak pada zamannya.

***

Di Gunung Suci, Raja banyak merenungi apa yang telah dia jalankan dan lakukan. Diakui oleh para peneliti, Raja telah banyak membawa perubahan negeri terutama pada masa-masa awal pemerintahannya.

Ekskavasi yang dilakukan di berbagai tempat pada tahun-tahun belakangan menemukan benda-benda arkeologis seperti fondasi-fondasi bangunan kota, tiang-tiang, anak tangga, monumen raksasa, dan lain sebagainya. Agaknya Raja membangun sebuah kota, meski para ahli tidak bisa memastikan, pembangunan kota itu terselesaikan atau tidak. Tak ada jejak arkeologis yang menunjukkan bahwa di situs tersebut pernah ada kehidupan.

Musim berganti.

Merenung seperti gunung, kosong dalam keheningan, Raja menemukan bahkan apa yang tidak ia cari. Bukan kesembuhan dari penyakit atau keterhindarkan dari kematian yang ia dapatkan, melainkan rasa menerima apa adanya segalanya termasuk penderitaan, lepas dari samsara.

Raja terlahir kembali menjadi manusia baru. Matanya sejernih kemurnian embun yang setiap hari diminumnya. Wajahnya terbebas dari pergantian musim, senantiasa cerah seperti musim semi.

”Andai aku tidak mengabaikan mandat langit, sanggup memelihara kepercayaan dan kecintaan terhadap rakyat…,” Raja berkata.

Sayangnya terlambat. Dipimpin langsung Pangeran Bukit Kaki Langit pemberontak masuk ibu kota. Tentara melakukan perlawanan dengan sia-sia. Mereka dilibas pasukan pemberontak, kepalanya dipenggal dijadikan hiasan mata tombak dipajang di pinggir-pinggir jalan.

Ibu kota jatuh.

Pangeran Bukit Kaki Langit menguasai istana.

Ia mengirimkan pasukan ke Gunung Suci: tangkap Raja.

Catatan:

Diilhami kisah jatuhnya dinasti-dinasti kuno Tiongkok, seperti Qin, Sui, dan Tang. L’Histoire se Repete.

Bre Redana, Wartawan dan Penulis

Supriyanto, Ilustrator Harian Kompas

sumber : harian Kompas edisi 28 Januari 2024 di halaman 10 dengan judul “Raja dan Batu Langit”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme