Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Monodramator, pada Suatu Hari oleh Agus Dermawan T.

Posted on Rab, 14 Feb 2024

Auditorium itu sudah dipenuhi pengunjung. Baldasar, seorang monodramator dadakan yang sekonyong-konyong populer, muncul di panggung.

”Sesungguhnya saya bukan ahli dalam bermonolog. Karena saya adalah seorang pelukis yang sekadar kepingin bicara. Lha, bagaimana, ya. Kalau saya bicara lewat seni lukis, seperti di hari-hari lalu, tidak satu pun yang terpikat hatinya. Malah ada yang menuduh saya berjualan lukisan dengan selubung seni cerita, bukan dengan seni rupa!” Penonton tersenyum. Beberapa bertepuk tangan. Setelah sedikit mengatur gestur, Baldasar mulai meluncurkan tutur.

Sesungguhnya saya bukan ahli dalam bermonolog. Karena saya adalah seorang pelukis yang sekadar kepingin bicara.

”Ini adalah cerita tentang Tjing Lok, paman dari seorang sahabat saya. Syahdan Tjing Lok adalah pengusaha pengangkutan yang sangat dikenal di desa Sukonatar. Ia memiliki sejumlah truk. Ada truk untuk mengangkut palawija. Ada truk untuk membawa hewan sembelihan. Ada truk untuk mengangkut barang pabrik dan sekumpulan orang.

Nah, atas truk terakhir ini, banyak kisahnya! Salah satunya begini. Pada suatu senja di minggu pascapanen, truk itu dipakai untuk membawa sekelompok orang ke pedalaman desa. Sesampai di pedalaman, kelompok orang itu berlompatan turun dari truk. Sambil berteriak, ”Sikat tuan tanah teler!” mereka menggeruduk rumah besar yang sedang menggelar pertunjukan janger. Perhelatan itu pun kacau dan bubar. Para penabuh dan pemain janger segera lari terbirit-birit ketika melihat para penggeruduk membawa golok dan arit.

Pada lain waktu, truk ini beberapa kali disewa untuk membawa para pemuda ke kota Bloro, yang jaraknya 500 kilometer dari kediaman Tjing Lok. Rombongan demi rombongan orang itu bertandang ke Mbah Suro Manggulu, dukun yang dikenal di penjuru Indosana, karena dianggap bisa memberi kesaktian kepada banyak orang. Di padepokannya itu, Mbah Suro Manggulu menyediakan zimat untuk dibeli. Jimat itu berupa seranting kayu yang dibalut kain merah, yang konon menyimpan spirit ora wedi kerah. Sungguh menyenangkan! Atas ziarah yang bolak- balik ini, Tjing Lok banyak memperoleh pendapatan. Sehingga sekali waktu ia berminat ikut ke Bloro. Di situ, ia membeli puluhan jimat untuk dibagikan sebagai suvenir ke penduduk desa yang tak sempat bepergian. Namun, atas limpahan rezeki tersebut, Tjing Lok bersikap mewaspadai. Itu sebabnya—sebagai mantan wartawan majalah Star Weekly—ia menulis puisi begini.

Kunang-kunang terbang siang

Meredup tubuhnya di bawah matahari

Jika uang terus berdatangan

Pertanda ada yang harus dicurigai

”Cakeeep!” seru penonton di auditorium. Baldasar tersenyum, dan lantas melanjutkan monolognya.

Pada awal Oktober 1965 terjadi pertumpahan darah karena kudeta politik. Santer disebut bahwa kudeta itu didalangi oleh satu partai. Kudeta tersebut gagal, dan negeri Indosana lantas dikuasai militer. Lalu orang-orang yang diindikasi pengikut partai pengudeta segera dinista, diburu, dan dibunuh dengan berbagai cara. Bukan oleh aparat bersenjata negara saja, melainkan juga oleh siapa pun yang ingin mencabut nyawa. Salah satu modus pembunuhannya adalah: mereka secara berkelompok dibawa ke suatu tempat nun jauh. Di situ mereka dibantai.

Sampai pada waktunya truk Tjing Lok dipinjam secara paksa oleh komandan Korata (Komando Rayon Tentara) untuk mengangkut para pesakitan yang akan ditiadakan itu. Tjing Lok terperanjat. Dengan halus, ia tidak mengabulkan permintaan itu. ”Ingat, bukankah dulu truk Om pernah membawa rombongan pemuda partai untuk menggeruduk perhelatan di pedalaman desa? Ada bukti juga bahwa truk Om berkali-kali memboyong orang-orang partai ke Bloro untuk bersujud di hadapan Mbah Suro Manggulu. Ada pula bukti Om mengumpulkan jimat berbalut kain merah, benda kesaktian palsu itu…. Nah, sekarang, bolehkah truk Om saya pinjam. Anggap saja ini untuk keperluan negara.”

”Sewa truk itu semata bisnis, tidak ada urusannya dengan politik,” jawab Tjing Lok. ”Tidak, Om. Semua bisa dikaitkan dengan politik.” Lantaran tertohok-tohok pemaksaan, truk pun dipinjamkan.

Sewa truk itu semata bisnis, tidak ada urusannya dengan politik.

Penonton agak terenyak. ”Lho! Terus?” celetuk seseorang di belakang dengan gusar. Setelah sedikit mengatur gestur, Baldasar kembali menghantarkan tutur. Lebih dari 100 hari sudah truk itu dipinjam. Ketika dikembalikan, truk terbilang sudah membunuh 222 orang. Di antaranya adalah Bu Koso dan Pak Koso, guru sekolah taman kanak-kanak putra putri Tjing Lok. Karena merasa ngeri, Tjing Lok tak mau lagi melihat truk itu. Lalu, truk diparkir saja di sebuah sudut pekarangan luas bekas penjemuran gabah pabrik beras Padi Sentra, yang terletak jauh dari rumahnya. Kunci truk itu ia simpan di selipan gudang. Lima bulan sudah truk itu mangkrak. Semua bannya kempes. Tangki bensinnya juga mengering.

Nah, pada suatu hari, selepas tengah malam yang dibasahi gerimis, Tjing Lok terbangun dari tidurnya. Samar-samar ia mendengar truk itu ada yang berusaha menstater. Namun, tidak bisa. Distater lagi. Distater lagi. Dicoba lagi, sampai suara stater itu terdengar meringkik. Tapi gagal.

”Mengapa mesinnya tak bisa hidup! Mengapa mesinnya mati?!” kata Tjing Lok berteriak. Si istri yang tidur di sampingnya terbangun. ”Ada apa?” tanyanya. ”Dengar, ada yang menstater truk di Padi Sentra!” Si istri tersenyum sambil mengatakan bahwa Tjing Lok mimpi buruk dan mengigau. Karena si istri sama sekali tak mendengar itu.

Esoknya, Tjing Lok ke Padi Sentra. Truk itu kumuh, kotor, dan tetap berada di tempatnya. Pintu mobil tak bisa dibuka. Bahkan kap mesinnya aus berkarat dan bak kayunya mereyot.

Pada beberapa hari kemudian, juga selepas tengah malam, Tjing Lok terbangun lagi dari tidurnya. Ia berkata keras. ”Mesinnya menyala! Truk itu jalan! Dengarkan, ia merayap menuju ke sini!” Istrinya segera terbangun, dan kemudian mengelus-elus punggung suaminya. ”Ahh, mengulang mimpi buruk. Lupakan saja truk itu,” kata si istri sambil tidur lagi.

Esoknya, Tjing Lok ke Padi Sentra. Truknya yang rusak dan berdebu itu masih ada di sana.

Penonton mulai tegang dengan wajah bertanya-tanya. Baldasar lalu dengan antusias melanjutkan cerita.

Pada suatu pagi, Tjing Lok dikejutkan dengan kedatangan Bu Koso dan Pak Koso. Ibu Koso mengenakan kebaya seperti yang sering dikenakan oleh putri juragan kopra. Pak Koso memakai blangkon hitam bermotif parang slobog. Di belakang mereka tampak 15 orang yang semuanya berbaju putih. Mereka mengikuti Ibu Koso dan Pak Koso dengan langkah pelan dan sopan. Di ruang tamu, Bu Koso, Pak Koso, dan para pengikutnya itu berpelukan dengan penuh keharuan dengan Tjing Lok.

”Kalian masih hidup. Oh, kalian tidak jadi dibikin mati. Thian sudah memberi kalian punya kehidupan panjang,” kata Tjing Lok. Bu Koso dan Pak Koso tersenyum sambil mengucapkan syukur.

”Kamsia, kamsia, Om. Truk Om sudah mengantar kami ke sini semalam setelah melewati perjalanan yang sungguh sangat jauh,” kata Bu Koso. Setelah mengucap itu, Bu Koso, Pak Koso, dan 15 pengiringnya pelan-pelan dipecah cahaya, mengabur, dan raib dari pandangan. Tjing Lok terperanjat dan lantas berteriak. ”Jangan pergi dulu. Ayo kita minum teh. Sembahyang syukur bahwa Thian sudah memberi kalian kehidupan panjang. Jangan pergi dulu Bu Koso!”

Sejak hari itu, istri Tjing Lok mendapat kesibukan yang sangat meresahkan. Dan, pada hari-hari selanjutnya ia selalu menyuruh suaminya agar tidak lupa minum obat benzodiazepine, carbatrol, lithium, volpromide, olanzapine. Agar jiwanya sekali waktu bebas dari guncangan.

Auditorium sekonyong senyap meski kemudian pelan-pelan suara tepuk tangan menggema. ”Kau tadi janji, akan ada satu cerita lagi. Sekalian saja, apa salahnya!” Teriak salah seorang penonton. Baldasar tidak menolak. Setelah sedikit mengatur gestur, Baldasar kembali melanjutkan tutur.

Jangan pergi dulu. Ayo kita minum teh. Sembahyang syukur bahwa Thian sudah memberi kalian kehidupan panjang.

Tjing Lok memang sudah separuh sakit jiwa. Karena itu, usaha truknya lantas dikelola oleh istrinya. Oleh karena situasi ekonomi pascakudeta tidak bagus, beberapa truk Tjing Lok dijual, sampai akhirnya tinggal satu. Sebungkah truk tua yang setiap hari terengah-engah mengangkut palawija dari desa ke desa.

Menjelang tahun 1968, pemerintah Indosana menerima pampasan perang dari Jepang. Pampasan itu diwujudkan dalam bentuk pabrik kertas di sekitar desa Sukonatar. Dan untuk kebutuhan mengangkut bambu sebagai bahan kertas, didatangkan 15 truk baru yang alangkah bagusnya. Tapi, lantaran semua hutan bambu belum masanya ditebang, maka truk-truk itu berminggu-minggu menganggur. Karena menganggur, truk pemerintah itu lantas disewakan kepada warga desa dan kota dengan harga yang sangat murah! Tjing Lok pun, sang pemilik truk tua, bangkrut. Krut!

Penonton kembali menjadi tegang. ”Mati dah, Koh Tjing Lok! Kasian. Kasian,” kata seseorang di auditorium.

Tidak. Tjing Lok tidak mati. Ia yang semula setengah gila, mendadak waras! Pada suatu siang, ia mengambil kunci truknya. Ia kendarai truk itu menuju kantor pabrik kertas. Sesampai di halaman kantor pabrik, Tjing Lok turun. Ia lantas berteriak. ”Kosongkan seluruh isi kantor! Kunyuk!” Orang-orang seisi kantor itu terkejut dan lari berhamburan. Tjing Lok duduk lagi di belakang kemudi. Lalu dengan sekuat tenaga truk itu digas, suaranya meraung-raung, untuk kemudian melaju dan lantas melesat ke langit. Dari ketinggian, Tjing Lok dengan gesit menukikkan truknya persis ke arah gedung kantor. Truk pun meluncur laksana bom atom. Gumpalan api setinggi gunung membakar dan meluluhkan segala yang ada.

Tepuk tangan membahana di auditorium. Baldasar disalami banyak orang. Sebagian berpotret-potretan. ”Saya hanya seorang pelukis yang ingin bercerita. Saya bukan monodramator,” katanya.

Sekeluar dari gedung pertunjukan Baldasar disapa aparat keamanan negara. Satu jam kemudian, Baldasar sudah duduk di ruang interogasi.

”Saudara menjelek-jelekkan pemerintah, dengan menceritakan masa lalu yang kebenarannya belum tentu,” kata interogator.

”Itu cerita tentang paman sahabat saya, Pak. Lagi pula, itu peristiwa sebelum 1968. Sekarang sudah tahun 1998. Jadi sudah 30 tahun lalu. Mengapa masih dianggap menjelek-jelekkan pemerintah?”

”Tapi, Saudara, kan, tahu, rentang waktu 30 tahun ini masih era kekuasaan Orde Kami. Saudara membuka keburukan politik negara. Monodrama saudara mengusik pikiran masyarakat, dan mengganggu stabilitas yang sudah dinikmati rakyat.”

Sejak hari itu, Baldasar meringkuk di ruang tahanan. Berbulan-bulan. Selama di dalam sel, Baldasar mencipta banyak lukisan pesanan pejabat pemerintah dengan imbalan kebebasan. ***

Catatan :

Ora wedi kerah = tidak takut berkelahi.

Thian = Yang Maha Kuasa.

Kamsia = terima kasih. Bahasa Tionghoa Hokian.

***

Agus Dermawan T, Penulis buku-buku budaya dan seni rupa. Kumpulan cerpennya, Odong-odong Negeri Sulap, masuk dalam Lima Besar Buku Terbaik Kumpulan Cerpen versi Kemendikbudristek 2023. Salah satu cerpennya terpilih sebagai 20 cerpen terbaik versi Kompas 2022.

sumber : kompas.id, 14 Feb 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme