Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jenderal Kardus oleh Trudonahu Abdurrahman Raffles

Posted on Ming, 25 Feb 2024

Mak Inah tergolong penduduk paling tua di kampung kami, satu perkampungan urban di pinggiran kota metropolis. Pembawaannya tenang, jarang bicara dan tak sering terlihat di luar rumah berbaur bersama warga lain. Mungkin sikap tersebut pas dengan umurnya.

Semakin tua, semakin banyak berdiam di rumah. Meski kadang di masa sekarang keadaannya bisa terbalik. Para anak muda jadi kaum rebahan, sedangkan para orang tua ke sana kemari bagai kaum sosialita.

Mak Inah sejatinya bukanlah orang yang cukup populer di lingkungan sini. Ia termasuk penduduk baru. Belum setahun ia pindah bersama seorang perempuan setengah baya untuk menemani kesehariannya. Yang membuat ia diingat oleh warga ialah soal kecil sebenarnya. Yaitu sebutannya pada seorang lelaki berusia 70-an di kampung kami. Ia menyebutnya dengan julukan ”jenderal kardus”.

Lelaki tersebut memang unik perangainya. Ia dapat dibilang sebagai tokoh perubahan di kampung kami. Ia mulanya datang ke pengurus kampung dan pengurus masjid lalu meminta izin untuk tinggal di bilik masjid sambil membantu apa saja. Pembawaannya yang ramah, murah senyum, dan rajin menolong siapa saja membuat ia cukup diterima oleh penduduk sekitar.

Sekian bulan berlalu, banyak hal lambat-lambat berubah di sini. Dari awalnya dikenal sebagai lingkungan kaku dan minim komunikasi menjadi lingkungan lebih santai serta menyenangkan. Dari semula perkampungan keras dan beku berganti jadi perkampungan penuh canda serta kehangatan. Lelaki tua itulah yang tanpa terasa mengubah wilayah ini jadi lebih meriah.

Entah sudah berapa lama tak ada tawuran antarkampung meletus. Biasanya peristiwa merepotkan tersebut berlangsung hampir setiap minggu, tak peduli kapan waktunya. Bisa tengah hari, tengah malam, bahkan menjelang waktu Subuh. Sekarang nyaris tak terdengar keributan antara tetangga, percekcokan antara suami-istri atau perselisihan antara anggota keluarga dalam satu rumah. Rasanya warga sudah mulai lupa kapan huru-hara di kampung ini terjadi terakhir kali.

Kini pak jenderal resmi didapuk sebagai marbot alias pengurus di masjid kampung kami. Satu masjid terbesar di wilayah sini. Bukan secara tiba-tiba sebenarnya ia dilimpahi tanggung jawab tersebut oleh warga. Sebelumnya tak ada seorang pun melirik dia untuk jadi marbot. Bahkan, memercayai kemampuannya juga tidak. Namun, dari sanalah perubahan seluruh kampung sebenarnya berawal.

Tempat yang telah lama tak terdengar suara bocah perlahan mulai didatangi oleh anak-anak lagi. Biasanya yang datang hanyalah orang dewasa berwajah datar dan kaku. Kalaupun ada satu-dua anak, itu pun karena diajak ayah mereka belajar shalat berjemaah. Lagi pula tidak banyak komunikasi terjalin antara jemaah. Mereka hanya datang, shalat lalu kembali pulang tanpa terlibat pembicaraan satu dengan yang lain. Sangat tidak menarik sebetulnya.

Lelaki itu yang mengakrabkan kembali anak-anak pada masjid. Tanpa banyak menyuruh, tanpa banyak menasihati ia berhasil membuat bocah-bocah betah bermain di masjid. Mulanya karena ia sering mendongeng di hadapan mereka. Dongeng apa saja ia ceritakan. Terkadang cerita epos kepahlawanan, kisah para sahabat Nabi. Tambahannya adalah cerita lucu yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Sejak itulah para anak kampung menganggap orang tua itu sebagai komandan. Sebaliknya, pak jenderal menganggap anak-anak tersebut sebagai pasukannya. Kini, anak-anak yang dulunya memutuskan berhenti ke masjid karena selalu dimarahi saat ribut atau berkelakar makin sering berkunjung sebab dapat berdekatan dengan komandannya. Tak ada lagi omelan, tak ada lagi yang bersungut-sungut ketika ada anak-anak berteriak atau sedang bergulat dengan kawannya. Toh, jika tiba waktu shalat, mereka akan kembali tertib tanpa harus dimarahi dulu.

Orang-orang dewasa pun kini lebih cair saat berada di sana. Tidak jarang jemaah masih terlibat obrolan meski shalat sudah selesai dilakukan. Salah satu penyebabnya ialah keberadaan sosok tua yang bersahabat itu.

Di masa sebelumnya warga sini tak saling akrab antara satu dengan yang lain. Bahkan jika mereka beradu hidung di lorong gang, tak ada sama sekali saling sapa. Seakan-akan mereka berada di tengah orang asing, bukan berhadapan dengan tetangga. Jika ada satu-dua orang yang berupaya berbaur biasanya akan dicurigai. Dianggap ada udang di balik batu. Disebut menyiapkan ular di balik ketiak.

Boleh jadi sikap demikian terbentuk dari pengalaman keseharian saat mereka berkegiatan di luar kampung, di dalam kereta, bus, juga di tempat pekerjaan masing-masing. Tempat-tempat di mana lebih banyak orang yang berpenampilan beku dan membatu dibanding bersikap ramah.

Tidak selalu memang warga kampung bersikap saling membatasi satu dengan yang lain. Contohnya di masa-masa revolusi kemerdekaan; maksudnya perang antar kampung. Dalam masa perang jangan ditanya betapa heroik dan bersatunya sikap mereka. Tua, muda, lelaki, perempuan semua merasa sebagai pasukan yang siap membantai lawan. Barisan emak-emak hingga nenek-nenek akan sigap bertindak sebagai pemasok amunisi, mengumpulkan batu-batu di ember untuk dilemparkan ke arah musuh. Seperti pasukan khusus dalam perjuangan intifadah saja. Sementara para lelaki dewasa mengangkat tinggi-tinggi kelewang dan senjata tajam membentuk barisan.

Hubungan antarwarga ketika itu tampak sangat pengertian serta bahu-membahu. Tidak banyak hal penting di momen tersebut selain harga diri dan kejayaan kampung. Namun, anehnya, setelah gencatan senjata atau saat pertempuran usai keadaan kembali seperti semula. Tak ada lagi kekompakan. Mungkin memang harus terus terjadi peperangan agar kekompakan selalu terjaga.

Harus selalu ada musuh supaya situasi dapat dikendalikan. ”Si vis pacem para bellum” ujar seorang ahli militer Romawi, Publius Flavius. ”Jika mendambakan perdamaian, maka bersiaplah menghadapi perang.” Terjemahan bebasnya menurut warga kampung ialah bila tak ada lagi musuh menyerang, maka musuh baru harus segera diciptakan supaya perdamaian dapat dikendalikan. Kampung yang mengerikan, bukan?

Sekali lagi bersyukur kondisi demikian telah berganti. Sekarang semua terasa menyenangkan ketika warga berada di luar rumah. Lelaki, perempuan, remaja dan orang tua seolah menampakkan raut wajah riang gembira tanpa sikap bermusuhan. Beberapa tempat bahkan memasang banner dan spanduk ukuran kecil dengan kata-kata unik. Misalkan ”Cemberut itu mengundang stroke, mengundang musuh juga penuaan dini.” Atau kata-kata ringkas semacam ”Ngopi dan cengengesan lah bersamaku, lupakan sejenak tagihanmu.”

Ada beberapa lagi sebenarnya kalimat yang ditulis dalam bentuk satiris sekaligus lucu. Biasanya banner itu terpasang di tempat umum seperti pos kamling, gapura gang perkampungan, malah terkadang di depan warung dan kedai kopi milik para warga.

Dari hal-hal demikianlah keakraban antara mereka semakin hari semakin terasa. Kegiatan gotong royong, membersihkan selokan yang sejak dulu tak pernah dikerjakan kini terjadwal sebulan sekali dan itu benar-benar dikerjakan dengan sukacita bukan sekadar terpajang di papan pengumuman saja. Jika kebetulan sedang ada yang menyelenggarakan resepsi pernikahan dan semacamnya, maka semua orang akan merasa ikut bertanggung jawab menyukseskan acara tersebut. Tidak terlihat orang-orang berseragam ormas berjaga di sekitar lokasi hajatan. Tidak ada tim pengamanan atau tim apa pun yang terkesan eksklusif. Semua adalah keamanan. Semua adalah tim sukses. Perubahan yang menakjubkan.

Terkadang ada juga terselip pertanyaan di benak warga, kenapa lelaki tua itu disebut jenderal kardus oleh Mak Inah. Namun, tak seorang pun yang sempat menyisihkan waktu untuk berkunjung pada nenek-nenek itu dan menanyakannya secara langsung. Boleh jadi karena orang-orang sungkan pada sikapnya yang agak tertutup. Boleh jadi tak ada yang merasa itu merupakan hal penting. Yang penting suasana kampung semakin baik dan kondusif semenjak kedatangan sang jenderal.

Mungkin demikian pikir warga. Hingga suatu ketika Mak Inah dikabarkan tergeletak pingsan di depan pekarangan rumah dan ditemukan oleh pembantunya, satu-satunya orang yang menemani ia di rumah itu. Beberapa tetangga langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Kata dokter dia hanya mengalami kelelahan dan kurang tidur. Hanya perlu dirawat beberapa hari saja supaya kondisinya stabil. Ketika perwakilan warga datang membesuk, di saat itulah segala pertanyaan mengenai sang jenderal kardus terjawab.

”Dia lelaki yang baik sekaligus menyebalkan,” ungkap Mak Inah membuka ceritanya. Seraya terbaring dua matanya menatap lurus langit-langit berwarna putih terang di ruang kamar tempat ia dirawat. Ia berupaya menghela satu napas panjang namun terlihat kerepotan. Akhirnya napasnya pun hanya terputus-putus. Sudut matanya kemudian mulai berair. Beberapa orang di kamar itu terdiam sebab tak tahu harus berbuat apa.

Singkatnya Mak Inah ternyata sudah lama mengenal Pak Idham, lelaki yang diceritakan tersebut sekira 50 tahun lalu. Mereka sebetulnya suami-istri dan statusnya belum bercerai. Hampir segala hal mengenai Pak Idham tentu sudah diketahui dengan detail termasuk mengenai kebiasaannya memenuhi barang apa saja di dalam satu kardus. Mulai dari isolatif hingga perkakas kebun. Mulai ikat rambut hingga peralatan dapur.

”Jadi karena hal remeh begitu Mak Inah menyebut Pak Idham dengan sebutan jenderal kardus?” tanya seorang dari pembesuk.

”Bukan. Bukan cuma itu.” Tukas Mak Inah.

”Memasukkan semua barang di satu tempat saja sudah sangat menjengkelkan. Ditambah ia sering terlalu ramah pada para perempuan terutama para janda di lingkungan tempat kami tinggal dulu. Seolah tak cukup hanya memasukkan semua barang di satu tempat, ia ingin juga memasukkan semua orang, semua kalangan termasuk para perempuan ke hatinya,” tambahnya seraya bersungut.

Sejenak para pembesuk saling pandang. Tak tahu apakah akan tertawa atau ikut bersimpati pada kisah nenek itu.

4 Desember 2023

Trudonahu Abdurrahman Raffles. Tinggal di Cianjur dan tetap berusaha menulis fiksi karena cinta. Buku kumpulan cerpennya, Perjalanan itu Pendek. Kenangan yang Panjang. Terbit tahun 2022. Kini sedang mempersiapkan buku terbarunya.

Made Wiradana lahir di Denpasar, 27 Oktober 1968. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sejak tahun 1989 telah aktif dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Meraih sejumlah penghargaan di antaranya: Penghargaan oleh Indonesia Ambasador at Belguim (2006); Gold medal Art Asia Biennale Hongkong 2017.

sumber : kompas.id, 25 Feb 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme