Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tsunami Gurun oleh Jein Oktaviany

Posted on Rab, 28 Feb 2024

”Dunia ini begitu menyenangkan.” Lelaki itu tiba-tiba duduk di kursi. Bila, perempuan yang sedang menutupi tangisnya dengan asap, ingin sekali memaki. Hujan masih begitu deras. Botol kaleng disimpan si lelaki di meja. Persis di samping bungkus rokok Bila yang menyisakan sepuluh batang lagi.

Kasir menatap mereka dari dalam. Bila membersihkan tangisnya, serta melihat pada serangga-serangga yang beterbangan mengelilingi lampu. Lelaki itu melirik ke kanan-kiri—pada cat putih, merah dan biru, pada makanan ringan yang berjajar, pada rintik-rintik air. ”Tidakkah kau merasa begitu?” tanya si lelaki.

”Hah?” Bila sebenarnya mendengar dengan jelas. Namun, dia ingin memastikan apakah ia gila atau tidak.

”Dunia ini sangat menyenangkan. Setuju, kan?” Dia sekarang cukup percaya bahwa orang ini cukup sinting.

Dunia ini sangat menyenangkan. Setuju, kan?

Bila tiup asapnya. Dia ingin sekali mengusir si lelaki. Namun, yang dilakukannya hanya tersenyum simpul sambil bertanya. ”Kenapa menyenangkan?”

Lelaki itu menjentikkan jarinya sambil berkata, ”Itu harus dijawab oleh sebuah cerita. Kau ada waktu, kan?” Ia tatap Bila dengan serius. Perempuan itu pura-pura melihat waktu di tangannya. Tak ada jam di sana.

”Sepertinya begitu. Silakan berdongeng,” jawab Bila pada akhirnya. Dia melihat ke arah lampu, yang sinarnya sekarang jadi redup-nyala seperti kunang-kunang. Suara hujan terdengar. Ketika itulah si lelaki berkisah:

Ayah tiriku, adalah seorang lelaki yang kuat, badannya tegap penuh tato. Ia sempat membawaku ke sebuah tempat. Ujung dunia. Coba tebak di mana? Bukan. Bukan pantai.

Bukan juga laut atau samudera. Tapi di selatan gurun Wrva. —Bila mengerutkan kening dan menahan tawa.— Waktu itu umurku lima tahun. Ayah kandungku mati karena perang saudara ketika aku berumur tiga tahun. Ibuku masih ada. Bahkan sampai sekarang.

Balik lagi ke gurun tadi. Di sana, tak ada lagi depan. Kau tak bisa maju. Ada tembok besar, besar sekali, sampai ke langit. —Si lelaki minum.— Di sana, ada pintu. Bertuliskan ’keluar’ dalam bahasa apa pun. Ayah tiriku bilang, ia membaca tulisan itu dengan lima bahasa yang ia kuasai. Aku hanya membaca itu sebagai ’keluar’. Aku simpulkan begini: jika kau bisa bahasa Ibrani, itu akan tertulis dengan begitu untukmu. Jika kau bisa Sansekerta, akan tertulis dengan bahasa itu.

Ayah tiriku membuka pintu. Hanya ada gelap. Tak ada apa-apa di sana. Hampa.

Namun, ia berteriak dengan keras, ”Ini yang kucari.” Aneh, bukan? Ternyata selama ini, ia hanya mencari-cari ketiadaan. Ketika ayah tiriku akan masuk ke sana, sebuah suara datang.

Lembut. Seperti belaian Ibu ketika aku kecil dulu. Kau paham, kan? —Bila hanya mengangguk, meski dia merasa ragu.— Suara itu berkata, ”Wahai hambaku. Kalian boleh pergi. Di luar sana ada dunia lain. Namun, di sini, saya bersama kalian.”

Tentu saja, setelah itu, ayah tiriku bertanya. Ia memang orang yang sering bertanya.

”Kau ini siapa?” —Bila mulai tertarik. Dia bertanya, suara itu jawab apa?— Seingatku, suara itu tidak benar-benar menjawab, malah menjelaskan sesuatu. ”Dunia ini memang palsu.

Namun, di luar sana, kejujuran akan begitu menyakitkan. Saya telah mengatur kalian untuk berbahagia. Di sini, kalian aman. Jika mencari kebenaran, maka pergilah. Namun, kalian tak bisa kembali.”

Boleh kuminta rokokmu? —Ambil saja, jawab Bila.— Ayahku, jika aku tidak salah, diam sebentar. Tidak benar-benar sebentar. Cukup lama. Tapi tidak benar-benar lama. Seolah berpikir. Setelah itu, ayah tiriku berkata seraya masuk ke pintu, ”Ayo kita pergi, Nak.” Aku menolak. Aku tidak ingin meninggalkan banyak hal. Ibuku. Rumah jelek kami. Mainan-mainan bekas yang kusembunyikan di bawah bantal.

Ayah tiriku memaksa. Benar-benar memaksa. Aku terus menolak. —Bila sedikit bergumam, dasar bocah dungu! Namun, tak terdengar oleh si lelaki— Ia akhirnya pergi sendiri. Melangkah maju ke pintu. Kemudian menutupnya. Aku sendirian. Menunggu. Bukan menunggu ayah tiriku. Aku percaya ia takkan pulang. Aku menunggu suara itu bicara kembali. Namun, ia tak bicara. Ia diam.

Setelah itu, ada tsunami gurun. Aku tidak terlalu ingat jelas. Tapi aku tenggelam dalam ombak-ombak pasir. Mataku pedih sekali. Pengap. Pusing. Kemudian aku bangun di suatu tempat yang asing tapi terasa begitu akrab. Ibu memelukku di sana. Aku menangis. Aku pulang setelah itu. Kembali pada rumah jelekku. Pada mainan di bawah bantal. Ibuku selalu bilang jika ayah tiriku mati ditembak orang jahat. Aku menjelaskan, bukan itu yang membuat ayah tiriku tidak pulang. Dia tak pernah percaya ceritaku.

”Kamu tidak pergi ke gurun itu lagi?” tanya Bila sambil meminum botol kaleng milik si lelaki.

”Aku lupa jalan ke sana.” Si lelaki tertawa. ”Tak ada di maps,” lanjut lelaki itu ketika melihat Bila akan bicara. ”Aku kadang berpikir apakah peristiwa itu hanya ilusi, tapi semakin lama, aku malah semakin percaya bahwa itu adalah satu-satunya kenyataan yang pernah kujalani di dunia ini.”

”Lalu di mana menyenangkannya? Kurasa amanat dongengmu adalah: kita terpenjara di tempat palsu ini, ayah tirimu pergi ke dunia lain yang nyata, kita diatur di sini.”

”Ya, memang. Bukankah itu menyenangkan?” Kemudian si lelaki menghisap rokoknya.

Bila mengembuskan asap pada si lelaki sambil bertanya, ”Serius? Itu menyenangkan bagimu?”

”Dulu aku berpikir seperti kau. Kenyataan itu mengerikan sekali. Benar-benar mengerikan, tapi semakin lama, aku semakin paham. Suara itu benar. Ini adalah tempat yang menyenangkan. Seseorang mengatur kita semua. Namun, ia berjanji untuk membuat kebahagiaan. Bukankah itu bagus? Setidaknya kita tahu kita akan aman.”

Sekarang, bisakah kamu pergi, tuan-siapalah-namamu? Terima kasih atas dongengnya.

”Baiklah.” Bila bicara sambil menggelengkan kepala. Dia tersenyum jengkel. Bila menyesal kenapa tak mengusir lelaki itu sejak awal. Sekarang, dia sudah benar-benar menyimpulkan bahwa orang ini gila. ”Sekarang, bisakah kamu pergi, tuan-siapalah-namamu? Terima kasih atas dongengnya. Namun, aku sedang tidak ingin diganggu.”

”Oke.” Lelaki itu bangkit, mengambil botol minuman kalengnya, meminumnya sampai habis. ”Terima kasih juga rokoknya.” Ia lemparkan botol kaleng itu ke tempat sampah, kemudian berlari menerjang hujan yang masih deras.

Bila matikan rokoknya pada asbak. Lampu sekarang sudah kembali menyala seperti biasa. Tanpa sengaja, Bila melihat ke arah bungkus rokok di meja. Ada sebelas batang. Dia hitung kembali. Tetap sebelas batang. Kemudian, dia bangkit. Mendekati tempat sampah dan membukanya. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada botol kaleng yang Bila cari.

Dia duduk kembali lalu menatap serangga-serangga mulai mengelilingi lampu. Kasir toko menatapnya dari dalam. Bila tiba-tiba merasa sedih. Dia ambil sebatang rokok. Menyalakannya. Berharap bisa menyembunyikan tangis dengan asap. Bila berpikir bahwa kejadian tadi hanyalah ilusi. Namun seperti si lelaki, dia percaya, itu adalah satu-satunya kenyataan yang pernah kujalani di dunia ini.

Jein Oktaviany, lahir di Ciwidey, Jumat tanggal 13. Aktif di Kawah Sastra Ciwidey.

sumber : kompas.id, 28 Feb 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme