Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tjoeng Lan Fang, Sebuah Cerita yang Belum Selesai oleh Hermawan Aksan

Posted on Ming, 24 Mar 2024

Bangun tidur pagi, aku menerima pesan Whatsapp yang aneh dari nomor yang tak tercatat: Datanglah ke sebuah rumah di Jalan Mawar. Masuklah dari Jalan Garuda, belok kiri, rumah ketiga. Rumah panggung kayu warna hijau toska. Ditunggu. TLF.

TLF? Aku terjaga sepenuhnya dengan perasaan yang campur aduk.

TLF adalah inisial nama yang tak akan pernah kulupa: Tjoeng Lan Fang. Benarkah itu pesan dari dia?

Aku berkenalan dengan Tjoeng Lan Fang ketika kami sama-sama SMP, di kota kecil kami Bumiayu, seperempat abad yang lalu. Aku kelas tiga dan tiap istirahat membantu Bu Guru Bahasa Indonesia menjadi petugas perpustakaan, khususnya melayani peminjam buku. Tak banyak peminjam buku dan di antara yang sedikit itu adalah Lan Fang.

Lan Fang kelas dua dan setidaknya seminggu dua kali meminjam buku. Sekali pinjam dua buku, artinya seminggu dia bisa menyelesaikan empat buku. Rupanya dia senang meminjam buku-buku cerita, terutama novel remaja. Aku menyukai siswa dan siswi yang senang membaca buku dan itu sebabnya aku menyukai Lan Fang.

Aku juga menyukai Lan Fang karena dia cantik, berkulit putih bersih, bermata sipit, berambut kepang dua, serta murah tawa yang indah karena dihiasi dua lesung pipi.

Aku tidak tahu rumahnya dan, kalaupun tahu, tentu saja aku tak pernah berani main ke rumahnya. Kudengar dia punya toko kelontong di tepi jalan besar. Maksudku, toko itu milik orangtuanya. Aku merasa hanya remaja biasa-biasa saja, hanya, sama seperti Lan Fang, aku senang membaca buku dan sering mendapat nilai bagus dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Bu Guru Bahasa Indonesia sempat bilang, kalau masa tugasku di perpustakaan sekolah sudah selesai, sudah ada calon penggantiku: Lan Fang.

”Kenapa tidak sekarang saja bareng saya, Bu?” tanyaku, tapi hanya dalam hati.

Bu Guru tersenyum memandangku. Aku curiga dia bisa membaca pikiranku dan itu sebabnya aku melengos karena malu, pura-pura merapikan tumpukan buku.

Satu-satunya kesempatan kami bertemu, ya, di ruang perpustakaan. Dia akan muncul di pintu dengan senyum manisnya yang segera membuat matanya makin tipis dan lekukan lesung pipinya makin dalam. Dia akan menyerahkan dua buku yang selesai dipinjamnya, kemudian mendekati deretan buku, membaca judul-judulnya.

Kalau sudah begitu, aku kadang berhenti mengerjakan tugasku karena tergoda untuk memandangnya dari belakang. Aku akan mengalihkan pandanganku ketika ia sudah menarik dua buku, lalu menyerahkannya kepadaku untuk dicatat.

”Terima kasih, ya, Mas,” katanya, tersenyum manis lagi, kemudian melangkah dengan telapak nyaris tanpa suara menuju pintu keluar. Kupandang dia sampai yang tampak hanya bidang kosong.

Ketika saatnya masa tugasku sebagai petugas perpustakaan berakhir, Bu Guru mengadakan semacam serah terima tugas antara aku dan Lan Fang. Kami diminta bersalaman dan saat itulah untuk kali pertama aku menyentuh tangannya dan aku berdebar karenanya. Kami sama-sama tersenyum. Rasanya ingin sekali waktu berhenti saat itu.

Pada suatu hari kami bertemu secara tak sengaja, atau kupikir memang tak sengaja, di depan ruang kelasnya ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi.

Dia berhenti. ”Eh, Mas?”

Aku juga berhenti dan kami berhadap-hadapan. ”Ya?”

”Bisa, mmm, minta tolong?”

Dia memberikan isyaratnya untuk berjalan. Jadi kami berjalan berjejeran menuju pintu gerbang sekolah.

”Minta tolong apa?” kataku setelah kami tiba di luar pagar sekolah. ”Jangan yang susah-susah, ya.”

Lan Fang tertawa. Tersenyum saja membuat matanya makin tipis, maka tertawa membuat matanya hanya berupa garis. Tapi aku senang bisa membuat Lan Fang tertawa. Siang pulang sekolah yang menyengat terasa menjadi sejuk. Selokan di tepi trotoar tercium menjadi harum.

”Begini, Mas. Tapi malu, ih….”

”Ada apa?”

”Tapi jangan diketawain, ya.” Dia membuka tasnya dan merogoh sesuatu.

”Insya Allah.”

”Asyik, Mas sudah menyebut nama Tuhan. Jadi harus memenuhi janji.”

Dia menyodorkan beberapa lembar kertas HVS berisi tulisan tangan dengan bolpoin. ”Aku iseng nulis cerita. Baca, ya, Mas. Nanti kasih tahu kekurangannya.”

Aku mengerutkan kening. ”Tapi aku tidak tahu soal tulis-menulis. Kenapa enggak kasih Bu Guru?”

”Malu, ih. Mas, kan, suka baca dan jadi pemimpin majalah dinding. Jadi aku yakin Mas tahu seperti apa tulisan yang bagus. Lagian, Mas siswa kesayangan Bu Guru Bahasa Indonesia. Oh, ya, satu lagi, Mas sudah janji.”

”Iya, iya….”

Tiba di pertigaan, kami berpisah karena arah kami berlawanan. Lan Fang menyetop angkot ke arah kiri, sedangkan aku berjalan ke kanan. Aku tidak menyetop angkot karena rumah orangtuaku hanya berjarak satu kilometer dan aku terbiasa berjalan kaki berangkat dan pulang sekolah.

Di rumah, bahkan sebelum mengganti seragamku, aku membaca cerita yang ditulisnya di lima halaman kertas HVS. Sebelum kubaca pun, bentuk tulisannya indah sekali, tipis-tebalnya tampak terlatih. Pasti nilai menulis halusnya dapat sembilan.

Kubaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, alinea demi alinea, hanya membutuhkan tidak sampai 15 menit sejak judul hingga tulisan ”tamat”. Kutarik napas lega karena aku serasa membaca sebuah karya yang ditulis oleh pengarang betulan. Memang kisahnya tentang persahabatan remaja, tapi ia menulisnya dengan rapi.

Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang bagus-tidaknya tulisan. Tapi kalau dilihat dari betapa asyiknya alur ceritanya dan caranya menyusun kalimat, aku berani bertaruh bahwa dia punya bakat yang sangat besar untuk menjadi pengarang hebat.

Kami pulang bareng dua atau tiga kali sampai kemudian kami berpisah karena aku meneruskan sekolah di Yogya.

Setelah diterima di sebuah SMA, aku menulis surat buat Lan Fang untuk berbagi kebahagiaan. Kuceritakan bahwa aku sekarang berseragam celana panjang abu-abu dan kemeja putih, bukan lagi pelajar bercelana pendek biru dan baju putih. Lima halaman kertas folio kuisi dengan cerita tentang sekolahku dan teman-teman dan guru-guru dan sejumlah mata pelajaran yang baru kupelajari.

”Aku berkhayal kamu juga sekolah di SMA yang sama denganku. Kalau enggak, ada SMA yang dekat dengan sekolahku, khusus buat siswa perempuan. Kamu pasti cocok di sana. Aku sering sengaja lewat sekolah itu dan kadang aku seolah-olah melihat kamu di sana. Anak-anak Tionghoa memang cantik-cantik dan kadang aku tidak bisa membedakan satu sama lain. Lucu, ya?”

Sebulan kemudian, aku baru menerima balasan dari Lan Fang. Tentu saja aku sangat senang menerima suratnya. Salah satu poinnya, dia mengaku tertarik untuk meneruskan sekolah di Yogya. Seperti tulisan yang pernah dia perlihatkan, surat itu pun ditulis dengan tulisan yang sangat rapi, dengan pilihan kata dan susunan kalimat yang enak dibaca. Tiga atau empat kali kubaca surat itu dan tiap selesai kubaca aku merasakan dadaku hangat luar biasa.

Sayangnya, selulus SMP, dia meneruskan sekolah di Purwokerto, di sebuah SMA swasta yang komposisi siswanya mirip dengan SMA tetangga di Yogya seperti yang sudah kuceritakan. Kami tetap saling berkirim surat hampir dua minggu sekali. Itu berarti kami tidak langsung membalas begitu menerima surat.

Biasanya aku menulis balasan satu atau dua hari kemudian, menulis hingga hampir tengah malam. Kalau belum selesai, aku akan meneruskan di hari berikutnya. Paling singkat aku menulis empat halaman kertas HVS polos. Setelah selesai, surat kumasukkan ke amplop biru, lalu kukirimkan di kantor pos dengan prangko biasa.

Setiap suratnya datang, lewat sekolah, aku merasa mendapat surat dari pacarku. Ah, aku belum punya pacar dan tidak tahu bagaimana sebenarnya rasanya menerima surat dari seorang pacar. Yang kurasakan, dadaku berdebar-debar ingin segera membacanya. Dadaku hangat. Apakah itu rasanya bahagia? Tiap surat kubaca empat atau lima kali, dari salam pembuka hingga inisial namanya: TLF.

Ketika aku kelas dua, setelah sekian puluh amplop suratnya bertumpuk di rak bukuku, aku memberanikan diri menulis kalimat bahwa aku ingin dia menjadi pacarku.

Itulah kali pertama aku tidak sabar dari hari ke hari menunggu datangnya balasan suratnya dan kali pertama pula surat balasan dia tidak datang meskipun sudah lewat dari sebulan. Pada hari ke-35 atau 36, barulah kuterima surat balasannya. Dadaku tidak lagi berdebar-debar, tapi berdentam-dentam sampai-sampai aku nyaris mendengar suara berisiknya.

Aku tidak ingat lagi isi suratnya yang panjang seperti biasa. Hanya beberapa kata yang masih melekat: Mas Her, aku juga mencintaimu, aku yakin, tapi…. Kalimat-kalimat setelah kata tapi itu menyebut banyaknya hambatan yang akan menghalangi kami: agama, suku, tradisi, dan sebagainya, serta satu hal terakhir yang justru akan paling sulit kami dobrak. Dia sudah sejak bayi dijodohkan dengan anak kerabat ayahnya.

Setelah selesai membaca, aku menangis.

**

Sesuai dengan petunjuk di WA, meski hanya setengah percaya, aku berhenti benar-benar di depan sebuah rumah kayu bercat hijau toska, tepatnya rumah panggung yang keseluruhan dinding, tiang, dan atapnya dari kayu, kontras dengan rumah-rumah lain berupa rumah-rumah bertembok tinggi yang beberapa di antaranya bertingkat, membuatnya kelihatan teduh dan bersahaja.

Aku berdebar-debar. Benarkah Lan Fang ada di sana?

Ingin rasanya segera berlari dan mengetuk pintu rumah itu, tapi aku justru mematung, tak sanggup membayangkan bagaimana kelanjutan cerita ini.

Adakah yang bisa melanjutkan kisah ini?

 

Hermawan Aksan, menulis sejumlah cerpen dan novel. Buku terbarunya novel Balada Orang-orang Panangsang (NAD Publishing, Juni 2023). Tinggal di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

Yusuf Susilo Hartono, Wartawan budaya, pelukis, dan penyair. Mantan guru ini pemegang sertifikat Wartawan Utama dari Dewan Pers (2017). Pernah menjadi Pemred Majalah Seni Rupa Visual Arts (2007-2012), Majalah Galeri (2012-2022), dan bergabung di sejumlah media arus utama. Kini sebagai penulis lepas. Buku-bukunya tentang jurnalistik, biografi, seni rupa, sastra (puisi), dan lain-lain. Menjadi Pengurus PWI Pusat (2008-2023). Tahun 2022, menggelar pameran Retrospeksi ”40 Tahun Berkarya: Among Jiwo” di Museum Nasional Indonesia.

sumber :

harian Kompas edisi 24 Maret 2024 di halaman 10 dengan judul “Tjoeng Lan Fang, Sebuah Cerita yang Belum Selesai”.

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme