Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pelagak oleh Muhammaf Ramadhan Batubara

Posted on Rab, 17 Apr 2024

Siapa dia yang pulang ke kampung meski baru lima tahun merantau, ketika orang-orang baru selesai menimba ilmu atau merintis karier tak seberapa di kota, sudah gilakah dia?

Lagam namanya. Orang-orang menyebutnya Langgam. Salah sebut sepertinya, tapi arti tidak begitu beda, maka dia biarkan saja. Mau Lagam atau Langgam sama saja, tetap saja dirinya: berlagu; bergaya; berlagak.

Lalu, orang-orang mendendangkan rekor baru: Langgam si anak muda bawa emas dari negeri jauh. Alamak, alangkah merdu terdengar, persis nyanyian lapar pada sepiring nasi lengkap lauk; pada sawah saat jam makan ketika usai mencangkul tanah basah yang berat.

“Aku memang dilahirkan untuk berhasil, kalau yang lain aku tak tahu, mungkin sudah takdir.”

Tak ada yang membalas, bukan tak berani, tapi lebih ke malas. Warga kampung yang mengelilingi Lagam lebih memilih menyantap nasi bungkus berlauk ayam ala warung Padang yang dibeli di batas kota, yang dibeli Lagam guna unjuk keberhasilan setelah merantau. Nasi bungkus semacam itu, lengkap dengan daun ubi, nangka muda, sambal, beraneka kuah gulai, dan potongan timun, memang masih menjadi lambang kemewahan, apalagi kalau ada rendang jengkol di dalamnya.

Padahal, warga kampung itu tidaklah miskin. Sawah membentang, luasnya lebih dari setengah wilayah kampung. Ladang, baik dari tanaman ringan seperti ubi atau jagung hingga yang berat seperti nangka, buah-buahan, maupun jengkol, menumpuk. Pun ternak tak terhitung, sebut saja kerbau, sapi, hingga kambing. Ayam? Unggas ini adalah yang sangat biasa, bebas dan tak perlu kandang, warga selalu membiarkan binatang berkaki dua itu berkeliaran. Artinya, untuk memasak lauk ayam atau sapi atau kambing atau kerbau, bukanlah sesuatu yang sulit. Dalam kenduri kampung hal itu juga sering mereka lakukan. Tapi itu tadi, meski ayam sangat biasa, nasi bungkus lauk ayam ala rumah makan Padang plus rendang jengkol adalah istimewa.Maka, ketika ada yang membeli secara banyak dan membagikan ke warga kampung, dia akan menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita. Persis Lagam saat itu, dia membusungkan dada, duduk di tengah, sembari mengatur kata agar wibawa. Dan, seperti orang-orang yang pulang dari rantau lainnya, hal semacam itu sudah biasa. Sebiasa warga kampung menyikapinya, melahap nasi bungkus sembari membiarkan sang tokoh utama bicara ke mana suka.

”Aku tak perlu seperti mereka, yang butuh puluhan tahun merantau. Atau, mereka yang bisa menghabiskan waktu belasan tahun di negeri orang. Aku hanya butuh lima tahun dan kekayaanku sudah melewati mereka.”

Seperti tadi, tak ada yang membalas. Tidak satu pun yang bertanya dari mana kekayaan Lagam. Kalau pun ada yang bersuara, paling hanya dari Ganda, menantu Pak Haji, yang baru tinggal dua tahun di kampung itu. Artinya, dia memang belum mengenal Lagam secara langsung. Itupun, terdengar seperti basa-basi saja.

”Gam, kau orang Aceh ya? Agam itu kan laki-laki ya, kayak Ucok di Batak atau Atan di Melayu?”

Atau, ”Gam, apa mungkin kau dari Sumatra Barat? Kayak nama kabupaten.”

Dan, pertanyaan itu tak harus dijawab oleh Lagam. Dia hanya tertawa saja. Pun, warga lain, semua tertawa kecuali si Ganda tadi. Setelah itu, tak ada suara lagi, semua sibuk makan. Ganda juga, memakan nasi bungkus dengan diam.

Namun, setelah kertas nasi yang bagian dalamnya diberi daun pisang sudah dilipat dan dimasukan ke dalam plastik, semuanya baru mulai bersuara. Tentu ada pujian meski tidak sedikit yang mengkritik.

”Langgam, besok ada lagi nasi bungkusnya kan?”

”Langgam, kau pantas menjadi kepala kampung.”

”Dia masih terlalu muda!”

”Tapi, dia sudah pulang dari rantau dan kaya!”

”Agam atau Langgam?” seru Ganda.

Lalu, seperti sebelumnya, semua tertawa. Lagam tidak. Dia memandang Ganda dengan dalam. Keningnya berkerut tiga, tepat di antara kedua alisnya. ”Anak baru?”

”Iya, menantu Pak Haji. Dia nikahi si Azizah. Eh, tunggu dulu, kau kan dulu suka sama Azizah kan, Langgam?” cetus seorang warga.

Mimik Ganda langsung berubah, seperti ada kecewa. Bukan pada Langgam yang ternyata suka dengan istrinya, tapi lebih pada nasi ayam yang sudah terlanjur masuk perut. Kalau saja soal itu sudah dia ketahui, tentu dia tidak akan menyentuh makanan itu. Ya, sekadar nasi ayam ala warung Padang, dulu itu makanan sehari-harinya di kota ketika tak sanggup membeli nasi bungkus berlauk rendang daging atau gulai kepala kakap. Apalagi, Azizah sering memasakan ayam goreng, ayam gulai, atau ayam sambal. Pun, ayamnya ayam kampung bukan ayam potong seperti nasi bungkus itu.

”Bukan Azizah itu, tapi Azizah anak Pak Imam,” balas Lagam.

Wajah Ganda berubah lagi, kali ini lebih ceria. Tentu, ini soal nasi ayam yang sedang diproses dalam perutnya. Pun, selama ini istrinya memang tidak pernah cerita soal pria lain atau lelaki yang pernah suka padanya. ”Pak Imam yang penghulu itu?”

”Pak Imam jadi penghulu?” tanya Lagam.

”Bukan Pak Imam bapaknya Azizah, tapi Imam. Namanya memang Imam, baru empat tahun jadi penghulu di kampung kita. Kalau bapaknya Azizah kan memang imam masjid,” jawab warga lain.

Lagam mengangguk-angguk. Sesekali dia juga memegang dagunya yang tak berjanggut.

”Jadi, mau kau jadi kepala kampung, Langgam? Sebentar lagi kepala kampung kita mati.”

”Langgam masih muda, belum saatnya mati!”

Lalu, semua tertawa. Lagam juga. Tapi, Ganda tidak. Soal jabatan kepala kampung di kampung istrinya itu memang aneh dan sering mengusik kepalanya. Bayangkan saja, ketika di kampung lain orang berebut untuk meraih posisi tersebut, di kampung itu malah sebaliknya, warga sibuk menghindar. Bukan anti dengan jabatan itu, tapi lebih mengarah ke takut. Pasalnya, ada semacam kebiasaan (warga kampung menyebutnya kutukan) kepala kampung akan meninggal setelah lebih kurang dua tahun menjabat. Itulah sebab, jabatan itu biasanya diduduki oleh orang-orang tua. Dan, yang paling populer menduduki posisi kepala kampung adalah orang yang baru pulang dari perantauan. Biasanya, para perantau yang sukses, setelah pergi selama belasan atau puluhan tahun tak percaya dengan kutukan tersebut. Atau, mereka memang mencari mati sebagai kepala kampung. Setidaknya itu yang Ganda dengar dari istri maupun mertuanya. Selain itu, dia juga melihat secara langsung ketika baru tinggal di kampung tersebut, tiba-tiba saja kepala kampung yang jadi saksi pernikahannya mati. Tidak sakit, tapi hanya karena jatuh di halaman saat membantu istri menjemur pakaian. Padahal, mendiang kepala kampung itu bertubuh sehat, dia adalah pensiunan tentara. Ah, padahal kepala kampung adalah jabatan yang menarik.

”Kan tak harus mati, Gam,” kata Ganda kemudian.

”Gam apa? Agam atau Langgam?” balas warga lain.

Lagam tertawa mendengar semua kalimat itu. Terutama soal nama yang jadi pembahasan. Langgam, menurutnya, lucu dan tidak jauh berbeda arti dengan namanya. Tapi, Agam? Nama itu, terlalu jauh dan sangat mengarah ke daerah pun suku tertentu. Lagam jelas tidak suka, tapi dia tertawa saja.

”Sebentar lagi kepala kampung akan mati dan cuma kau, Langgam, yang baru pulang dari perantauan sekaligus kaya. Jadi, siapa lagi?”

”Ada Pak Kamal?” cetus warga lain.

”Dia sudah tiga tahun pulang dan sudah stroke!”

”Berarti kan pas. Tinggal tunggu waktu.”

”Mau kau dipimpin orang yang jalan saja tidak benar?”

”Sama saja, sama-sama mati juga kan?”

Lagam tidak tertawa lagi, tapi tetap tersenyum mendengar perbincangan itu. Dia maklum. Sudah tujuh orang kepala kampung yang mati saat menjabat, berarti sudah 14 tahun, sebuah kenyataan yang mencurigakan. Dan sudah lima perantau, yang pulang serta menetap dan bukan sekadar pulang kampung kemudian kembali lagi, yang terpilih menjadi kepala kampung dan kemudian mati. Ada yang mati sedang memasak air. Ada yang mati ketika memberi makan cucu. Ada yang mati saat belanja di pasar. Ada yang mati kala menyapu halaman. Ada yang mati waktu mengepel dapur. Ada yang mati usai cuci piring. Dan terakhir, mati karena menjemur pakaian. Semuanya mati wajar, rata-rata kabarnya disebabkan sakit jantung, tidak ada tanda-tanda kekerasan dan sebagainya. Tapi itu tadi, karena wajar, kematian jadi mencurigakan. Pasalnya, selama empat belas tahun tersebut hanya itu kematian yang ada di kampung mereka. Maksudnya, tidak ada lagi orang yang mati kecualii tujuh orang yang jadi kepala kampung tadi.

Dulu, dalam setahun bisa dua kematian, bahkan lebih. Kebanyakan yang mati adalah kaum ibu yang baru atau sedang melahirkan. Atau setidaknya, anak-anak yang hanyut di sungai dan bayi yang kehilangan ibu tadi. Selebihnya tidak ada, kaum bapak ataupun pemuda nyaman-nyaman saja. Artinya, kematian adalah sesuatu yang wajar dan tidak mencurigakan hingga kematian sekian kepala kampung itu.

”Langgam itu belum punya istri, dia juga masih muda, bisa jadi aman,” kata warga yang begitu ingin memajukan Lagam.

”Tapi, dengan tujuh kematian kepala kampung, sangat berisiko lah.”

”Tapi, tujuh kematian itu berhubungan dengan urusan istri, Langgam belum punya!”

”Itu dia, masak belum kawin jadi kepala kampung?”

”Iya, belum ada sejarah, kepala kampung belum kawin. Peraturannya harus sudah kawin!” balas warga lain yang ingin masuk medan perdebatan.

”Nah, itu yang harus diubah. Kepala kampung juga bisa dijabat orang luar, pendatang. Siapa tahu itu membuat kematian tidak datang,” cetus Ganda.

”Seperti kau? Tidak bisa! Selain pendatang, kau juga tak kaya,” balas warga tadi.

”Itu yang harus diubah!” bantah Ganda.

”Tidak baik mengubah peraturan, untuk jadi kepala kampung kan sudah menikah dan warga asli. Itu saja.”

”Berarti Langgam tidak bisa! Meski dia warga asli, tapi dia belum kawin.”

”Itu dia, karena belum kawinlah maka dia tidak akan mati saat jadi kepala kampung. Semuanya mati karena membantu istri kan? Langgam mau bantu siapa, istri saja belum punya! Kalau kau, sudah kawin, pendatang pula!”

”Kalau begitu menjabat dan setelah itu kawin, bagaimana?”

”Ya, matilah!”

Lagam tertawa mendengar perdebatan itu. Pulang dari rantau dengan kesuksesan bisa berarti jadi kepala kampung. Peraturan soal belum kawin tentu mudah diubah karena hal itu bisa berarti aman dari kematian. Pikiran-pikiran itu memenuhi kepalanya hingga tawanya semakin membahana. ”Besok kita makan nasi bungkus ayam lagi ya, biar tidak usah mikir soal kawin,” katanya kemudian.

”Berarti, mau kau kan jadi kepala kampung?”

”Kepala kampung kan belum mati.”

”Sebentar lagi, kulihat sudah sering dia mengupas bawang.”

Lau Mulgap, 2023-2004

Muhammad Ramadhan Batubara, buku terbarunya adalah novela Yang Tetap Hilang (Basabasi, 2023). Cerpennya yang berjudul ”Tiga Tanda Mati” masuk dalam 20 Cerpen Terbaik Kompas 2022. Kini tinggal di Kecamatan Namorambe, Deli Serdang, Sumatera Utara.

sumber : kompas.id, 17 Apr 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme