Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak yang Ditelan Telaga oleh Tsalaisye

Posted on Rab, 24 Apr 2024

Seluruh orang di Kampung Dukuh Atas sibuk pada Rebo Wekasan. Begitu pula Yu Ning, janda paruh baya yang tinggal sendiri. ”Yu Ning!” Suara teriakan perempuan terdengar dari luar rumah. Yu Ning yang sedang sibuk ngalubi ayam untuk acara Rebo Wekasan terlonjak kaget. Air panas dalam baskom terciprat ke kakinya. Tapi Yu Ning tak kaget karena kulitnya terkena air panas, ia lebih kaget dengan suara perempuan dari luar rumahnya yang terus memanggil namanya. Yu Ning bergegas berjalan ke depan rumah. Tangan yang masih basah dilapkannya di ujung daster biru bermotif bunga-bunga lebar yang telah usang.

”Yu Ning! Yu Ning!” Suara itu semakin keras didengar, Yu Ning membuka pintu.

”Owalah, Miranti! Ribut apa sih, esih esuk lho iki?” Yu Ning mencoba mengeja wajah Miranti yang terlihat sangat syok.

”Kusna! Kusna kembali, Yu Ning! Ada di Telaga Pedhut,” kata Miranti terengah-engah. Mimik wajah Yu Ning langsung berubah dari bingung menjadi kaget setengah mati. Yu Ning langsung berlari kencang. Sekencang ia bisa. Diraihnya daster biru bermotif bunga lebar itu agar sedikit terangkat dan tak memperlambat larinya. Matanya awas menerobos jalanan yang masih gelap. Hatinya berdegup kencang.

Sesampainya di Telaga Pedhut, kedatangan Yu Ning langsung memecah kerumunan. Betapa terkejutnya Yu Ning, melihat wajah yang sangat dikenalinya. Wajah Kusna, putra semata wayangnya, yang hilang tujuh tahun yang lalu. Yu Ning menatap anaknya lekat-lekat. Kusna terlihat sehat meski wajahnya terlihat ndomblong dan bajunya kotor. Baju itu masih baju yang sama saat Kusna terakhir terlihat tujuh tahun lalu. Yu Ning bergegas memeluk anaknya itu. Rasa bahagia, syukur, haru, bingung bercampur menjadi satu, tak terbendung. Semua isi dalam dadanya meledak menjadi isak tangis. Tangisan Yu Ning merambat lewat udara, melesat ke permukaan air Telaga Pedhut.

***

Jika diingat lagi sudah tujuh tahun Yu Ning dan keluarga ngalor-ngidul mencari Kusna. Waktu sebelum hilang, Kusna kabarnya sedang bermain di Telaga Pedhut. Kusna iseng mengajak teman-temannya untuk memancing ikan di Telaga Pedhut meskipun dilarang. Orang Dukuh Atas percaya, ikan-ikan di Telaga Pedhut itu jelmaan Dewa-Dewi. Bagi siapa pun yang mengambil ikan di sana, akan kena tulah. Menghilangnya Kusna setelah memancing ikan seperti menjawab kebenaran mitos telaga itu. Kemudian dengan misterius pula, hari ini, hari Rabu terakhir dalam bulan Safar, Kusna muncul dari Telaga Pedhut tanpa menua sedikit pun. Ia tetap terlihat seperti anak berusia 12 tahun. Kusna ditemukan oleh panitia acara Rebo Wekasan yang sedang menata lincak tempat sajen.

Kembalinya Kusna tanpa menua itu menjadi kabar yang menggemparkan. Tak hanya bagi seisi kampung, tapi juga bagi seluruh penjuru negeri. Media ramai mendatangi rumah Kusna. Berbagai macam konspirasi tentang hilangnya Kusna menyebar di media. Ada yang menulis bahwa Kusna nyasar ke dunia demit. Ada pula yang menulis tentang sekelompok alien menculik Kusna. Kemudian alien itu meneliti Kusna dan mengembalikannya ke tempat semula. Kelompok lain percaya bahwa Kusna bangkit dari kematian. Sedangkan kelompok yang lebih rasional memercayai bahwa Kusna hanya kecelakaan, hilang ingatan, dan nyasar. Kemudian ia berhasil kembali ke Telaga Pedhut dengan sisa-sisa ingatannya.

Apa pun kenyataan di balik misteri hilang dan kembalinya Kusna tidaklah penting. Fakta munculnya Kusna bertepatan dengan hari Rebo Wekasan dianggap hal yang menakjubkan. Warga Kampung Dukuh Atas sendiri terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama khawatir kemunculan Kusna di hari Rebo Wekasan akan membawa petaka. Bagi orang Dukuh Atas sendiri, Rebo Wekasan adalah harinya bencana datang. Makanya orang Dukuh Atas berbondong-bondong melarutkan sajen ke Telaga Pedhut mengharapkan perlindungan dari Gusti yang Maha Agung. Sementara itu, kubu kedua tak setuju. Mereka menganggap munculnya Kusna justru bisa menjadi penolak bala bagi kampungnya.

***

Beberapa bulan setelah kembalinya Kusna, segala berita mengenai Kusna mulai mereda. Stasiun TV sudah jarang mendatangi kediaman mereka. Yu Ning bisa bernapas lega. Ia bisa mencurahkan kasih sayangnya kepada Kusna tanpa gangguan ini itu. Setiap hari, Yu Ning sebenarnya khawatir pada kesehatan anaknya. Bukan cuma badannya yang belum bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tetapi jiwanya juga masih terlihat syok. Sedari anaknya kembali, Yu Ning memperhatikan Kusna hanya ndomblong dan jarang sekali berbicara. Sesekali Kusna bergumam, tapi Yu Ning tidak bisa mengetahui kata apa yang keluar dari mulut Kusna. Yu Ning memang pernah membawa Kusna ke dokter, tapi dokter mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keadaan anaknya itu. Dokter kemudian menyarankan untuk sering mengajak Kusna mengobrol tentang kenangan-kenangan masa sebelum ia menghilang.

ngobrol

”Kus, inget Jano, kanca SD-mu?” Yu Ning bertanya sambil menyuapi makan.

Kusna hanya diam. Ndomblong. Matanya kosong.

”Itu lho, yang pernah dapat kado seragam perempuan dari Pak Bupati. Inget?” Yu Ning melihat mata Kusna.

Kusna masih diam. Ndomblong. Matanya kosong.

”Sekarang si Jano itu jadi tambah pinter. Sekolah di sekolah favorit di kabupaten.”

Ndomblong

”Yu Ning, Kus wis sehat? Katanya masih lemes?” Suara ibunya Nuri, tetangga mereka, membuat Yu Ning kaget dan menoleh. Ibu Nuri datang menggandeng Nuri yang masih berusia lima tahun.

”Ya, lumayan. Gimana enggak lemes, makannya masih susah, Yu,” Yu Ning menjawab sambil mengelus kepala Nuri.

”Ya, enggak papa, Yu, alon-alon.”

Ibu Nuri menatap wajah Kusna. Ia masih heran, mengapa selama tujuh tahun hilang, Kusna tidak terlihat bertambah tua sedikit pun. Ibu Nuri yakin Kusna memiliki semacam karomah. Keyakinan itu membuat Ibu Nuri iseng meminta Kusna menyentuh satu borok di tangan kecil Nuri sambil minta didoakan kesembuhannya. Nuri memang memiliki borok di sekujur tubuhnya yang tak kunjung sembuh. Tangan Ibu Nuri meraih tangan Kusna dan menempelkannya di tangan Nuri yang ada boroknya. Kusna yang memang tidak banyak ngomong itu menurut saja.

”Kus, tulung bantu doa buat kesembuhan Nuri, ya?” kata Ibu Nuri.

***

Keesokan harinya, hal yang tak masuk akal terjadi. Borok di tangan Nuri terlihat mengering. Ibu Nuri langsung membuka baju Nuri. Dan benar saja, borok di sekujur tubuh Nuri mulai mengering. Ibu Nuri berteriak bahagia. Selama ini ia sudah ke sana kemari mengobati Nuri. Dari dokter kulit ternama di kabupaten hingga dukun termasyhur di sana, tetapi nihil. Borok Nuri tetap menempel di kulit lembutnya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Dengan sekali sentuhan dan doa dari Kusna, borok itu berangsur membaik. Hingga dalam beberapa hari borok itu benar-benar sembuh.

Kabar mengenai kesembuhan borok Nuri seperti angin kemarau yang melesat ke seluruh penjuru Dukuh Atas. Desas-desus itu membuat beberapa orang datang dan ingin mencoba membuktikan kekuatan Kusna. Awalnya, Yu Ning tegas menolak. Tetapi paksaan terus-menerus datang dari tetangga dan kerabatnya. Rasa tak enak membuat Yu Ning akhirnya melunak. Semenjak itu, setiap hari ada saja yang datang dan minta disentuh dan didoakan oleh Kusna. Rumah Yu Ning pun menjadi semakin ramai. Yu Ning kembali sibuk meladeni tamu. Ia menjadi jarang mengajak Kusna mengobrol lagi. Rasa rindu karena kehilangan selama tujuh tahun baru saja ditebus beberapa bulan, harus raib kembali. Hari-hari Yu Ning hanya diwarnai dengan meladeni tamu-tamu. Setiap kali ada orang datang, orang itu akan menceritakan keluhan dan sakitnya pada Yu Ning. Kemudian Yu Ning membimbing tangan Kusna untuk menyentuh bagian yang sakit dari pasiennya bersamaan dengan berdoa bersama.

Yu Ning sendiri sebenarnya tidak tahu pasti apakah Kusna benar-benar sakti. Tetapi tamu Yu Ning terus berdatangan. ”Pasien” Kusna kini tidak hanya dari Dukuh Atas, tetapi juga dari kampung tetangga. Bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk mendapat kesembuhan dari Kusna. Pernah juga ada seorang lelaki berjas yang minta didoakan agar tahun depan ia berhasil menjabat anggota DPRD. Kusna yang memang tidak banyak bicara itu hanya menunduk dan menurut ketika diminta untuk mendoakan keberhasilan orang itu.

Setiap kali ada orang datang, Yu Ning tak pernah meminta bayaran. Hanya saja sebagian besar dari mereka memang memberi hadiah berupa barang maupun uang padanya. Semakin lama semakin banyak penghasilan yang didapat Kusna. Yu Ning yang awalnya merasa tidak enak memaksa anaknya bertemu banyak orang itu lama-kelamaan menjadi ”ketagihan” dengan penghasilan yang didapat. Dari hasil itu, Yu Ning bisa membeli pakaian baru dan barang-barang baru. Penampilannya pun kini lebih rapi. Tidak dasteran seperti ibu-ibu pada umumnya. Yu Ning naik kelas.

Bagai bebek beranak, keberuntungan Yu Ning tak berhenti sampai di situ. Yu Ning dan Kusna ditawari untuk mengisi acara di salah satu stasiun televisi nasional. Yu Ning sempat ragu apakah ia bisa membawa Kusna pergi. Kusna yang masih sering ndomblong itu apakah bisa pergi jauh ke Jakarta. Terlebih akhir-akhir ini Kusna terlihat gelisah. Tangannya sering dikepal-kepalkan dan dipukul-pukul ke kepalanya. Kusna juga kerap kabur ke Telaga Pedhut. Menceburkan diri di sana dan tak mau pulang. Ia berhasil pulang setelah Yu Ning dan dua orang lainnya terpaksa menyeret Kusna. Mengingat kejadian itu, Yu Ning sedikit bimbang. Namun, kebimbangan berangsur hilang saat Yu Ning melihat nominal dari kontrak wawancara itu. Yu Ning akhirnya memantapkan hati untuk berangkat.

***

Keesokan harinya, Yu Ning yang masih tertidur lelap itu kaget dengan suara perempuan yang memanggil-manggil namanya dari luar rumah. Ia bergegas pergi ke depan rumah. Matanya yang masih sepet kesulitan untuk melihat. Tepat sebelum sampai pintu rumah, kaki Yu Ning menabrak tas jinjing besar yang berisi perlengkapan untuk wawancara Yu Ning dan Kusna di Jakarta. Yu Ning terlonjak kaget. Bukan karena menabrak tas itu, tetapi karena suara perempuan dari luar rumahnya semakin keras terdengar.

”Yu Ning! Yu Ning!” Suara itu semakin keras didengar, Yu Ning membuka pintu.

”Owalah, Mir! Ribut apa sih, esih esuk lho iki?” Yu Ning mencoba mengeja wajah Miranti yang terihat sangat syok.

”Kusna! Kusna! Kusna, Yu Ning! Ada di Telaga Pedhut,” kata Miranti terengah-engah. Mimik wajah Yu Ning langsung berubah dari bingung menjadi kaget setengah mati. Yu Ning langsung berlari kencang. Sekencang ia bisa. Diraihnya daster polos berwarna marun itu agar sedikit terangkat dan tak memperlambat larinya. Matanya awas menerobos jalanan yang masih gelap. Hatinya berdegup kencang.

Sesampainya di Telaga Pedhut, kedatangan Yu Ning langsung memecah kerumunan. Betapa terkejutnya Yu Ning melihat tubuh yang sangat dikenalinya, tubuh Kusna, putra semata wayangnya, berada di tengah Telaga Pedhut.

Dada Yu Ning seperti tertusuk dan lehernya seperti tercekik. Yu Ning ambruk.

***

Pagi itu, udara di sekitar Telaga Pedhut terasa begitu dingin. Tonggeret pun enggan melangkah. Angin kemarau bergerak menggulung permukaan air telaga. Di tengah telaga, menyembul tubuh anak laki-laki. Anak laki-laki yang beberapa waktu lalu dianggap suci, penolak bala, kini berada di tengah telaga tak berdaya. Anak yang dianggap sakti dan ajaib itu memilih pergi dan menyerahkan tubuhnya kembali ditelan telaga. Tubuh anak itu mengeluarkan hawa dingin.

Dingin tubuhnya merambat melalui air telaga. Menguap ke udara. Udara membawa hawa dingin itu menempel ke seluruh kutikula tanaman. Kebekuan menyebar ke seluruh penjuru kampung. Dukuh Atas berduka bertahun-tahun setelahnya. Dan hingga kini Yu Ning kabarnya masih sering mendatangi Telaga Pedhut. Duduk di sana selama berjam-jam. Ia juga sering berjalan dari pemakaman ke Telaga Pedhut.

Bolak-balik.

Yu Ning berharap keajaiban akan terulang lagi pada anaknya.

1. ngalubi: memasukkan bahan makanan ke dalam air panas agar bulu dan kulitnya mudah terkelupas.

2. ndomblong: melamun dengan mata kosong

Tsalaisye, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja di bidang bahasa dan sastra, sesekali melirik jendela mencari inspirasi menulis. Dapat dihubungi melalui surel: tsalaisyenf@gmail.com atau akun Instagram: @tsalaisyenf

sumber : kompas.id,24 Apr 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme