Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Merpati di Bumi sang Nabi oleh M. Shoim Anwar

Posted on Ming, 30 Jul 2023

Payung-Payung besar itu menyerupai pohon-pohon kurma yang kering, merekah bergantian seperti jamur. Tanah gersang mulai digoreng matahari. Sebentar lagi, saat ratusan peneduh di depan dan samping masjid itu paripurna, kipas-kipas di pilar akan mengembuskan titik-titik air. Desau yang lembut, bisikan yang timbul tenggelam dalam penantian para peziarah. Suhu udara di luar sekitar 40 derajat. Cuaca garing, terasa nikmat saat udara basah tergiring.

SAMBIL menunggu waktu salat tengah hari, lelaki itu keluar menuju pintu nomor 339. Area yang selalu diingat karena dari situ terdapat jalan lurus menuju penginapan Emaar Aldiyafa Hotel di sudut persimpangan kedua, bersebelahan dengan Ruve Almadinah dan Al Haram. Di depan gerbang masjid dia berdiri. Di tempat ini pula dia biasa menanti istrinya saat akan kembali ke penginapan karena jemaah laki-laki dan perempuan dipisah saat dalam masjid.

Langit kerontang, asap tipis-tipis mengapung seperti kapas. Dipandangnya Hotel Dar Al Taqwa dan Al Zahbi. Toko-toko kecil seperti Arabian Oud dan Dar Alzaman ada di deretan bawah. Ada hamparan tanah lapang di halaman bangunan-bangunan itu, sebagai pembatas dengan area masjid. Tiba-tiba lelaki itu mengeryitkan mata. Embusan udara panas terasa menerpa wajahnya, dibarengi gulungan-gulungan debu.

Ada hasrat yang menggiring lelaki itu untuk duduk di pinggir lapangan. Sementara istrinya, jika tidak di dalam masjid, memilih berjalan sendiri melihat-lihat abaya dan perhiasan di deretan toko Sahwat Almadina, Milano, Sahaab Alandalus, serta Soir. Lelaki itu kembali melihat ke arah masjid. Payung-payung berwarna tulang itu tampak sudah paripurna mekarnya.

Dan inilah yang membuat lelaki bernama Daroji itu suka duduk-duduk di pinggir lapangan. Dia senang ada burung-burung merpati selalu datang dan pergi. Mula-mula hanya beberapa ekor, tapi saat ada yang menabur makanan, burung-burung lain berbondong turun, jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan bisa ribuan. Memang ada yang menjual biji-bijian untuk makanannya. Para peziarah memberi makan merpati itu karena berjasa dalam kisah-kisah nabi sehingga dilarang diburu dan dibunuh. Hewan-hewan terkesan jinak itu beranak pinak di celah-celah bangunan. Jumlahnya terus bertambah, melebihi jumlah penduduk di wilayah ini.

Daroji menemukan dunianya. Dia heran melihat burung merpati dalam jumlah berlimpah, akrab dengan para peziarah. Bumi makam sang nabi memberi kebebasan pada burung-burung ini. Cerita yang didengar Daroji, nanti di kota tempat menunaikan rukun haji, jumlah merpati juga berlimpah. Dia belum saatnya ke sana. Soal burung, istrinya sering menegur. Saat diajak cepat-cepat menuju masjid, Daroji sering menghentikan langkahnya. Dia terpesona melihat sekelompok merpati yang berlawatan di ketinggian langit, terbangnya sangat indah.

”Ccccck…hebat!” Daroji mendecak.

”Burung lagi, burung lagi…” sang istri menarik lengannya. ”Azan sudah selesai. Kita harus salat arbain empat puluh waktu. Tidak boleh bolong, Pak.”

”Masjid sudah dekat,” kata Daroji enteng.

”Ya, tapi panas kenthang-kenthang begini. Kakiku sudah perih pecah-pecah.”

Daroji memang penggemar merpati. Karena itu, awalnya dia enggan untuk menemani istrinya menunaikan ibadah haji. Dia khawatir belasan pasang burungnya telantar saat ditinggal pergi dalam waktu yang lama, bahkan kalau dilepas bisa minggat atau mati kelaparan. Para joki yang selama ini menemani, Yadi dan Mardi, tak dipercayai sepenuhnya. Mereka bisa bersekongkol mencuri telur keturunan merpati juara dan dijual ke orang lain.

”Terlalu cinta pada burung, sampai ibadah dikalahkan,” kata istri Daroji.

”Bukan dikalahkan, tapi mencari waktu yang tepat!” sergah Daroji. ”Merpati juara harus dirawat sendiri. Sudah ditawar mahal sekali.”

”Kita sudah makin tua, Pak. Bertahun-tahun menabung. Yang antre banyak sekali. Masak tiba gilirannya harus ditunda gara-gara burung dara?” nada istri Daroji makin tinggi.

”Ibadah harus sepenuh hati, tidak boleh dipaksa.”

”Umur gak ada yang tahu, Pak. Kalau tidak diniati sekarang, apa ada jaminan tahun depan kita bisa memenuhi panggilan ini?”

”Kalau tidak, berarti belum waktunya dipanggil,” jawab Daroji enteng.

”Sudah dipanggil dari dulu, Pak. Nggak tahu ta Sampean?”

”Nggak…”

Merpati balap Daroji terkenal hebat. Perawatannya secara khusus. Makanannya dari biji-bijian yang terbaik: jagung kuning, beras, gabah, kacang hijau, kacang panjang, kedelai, jawawut, dan kacang tanah. Tiap Sabtu sore piaraan itu selalu dilolohi jamu untuk menambah stamina: ramuan telur bebek, madu, temulawak, kunyit, umbi rumput teki, jahe, ginseng, serta lengkuas merah. Sejak piyik merpati Daroji dipasangi gelang yang bertulisan ”Dar”, nomor seri, dan tahun. Gelang ini tak bisa dilepas saat burung sudah dewasa.

Nama-nama merpati Daroji juga unik: Bledek, Halilintar, Kilat, Gluduk, Guruh, Petir, dan sejenisnya. Trofi dan piala kejuaraan dipajang di lemari kaca. Merpati itu rutin dilatih. Si jantan dilepas dari jarak jauh, sementara betinanya dipegangi joki sambil dikibas-kibaskan sayapnya. Si jantan akan terbang melesat dan hinggap di punggung betinanya. Makin lama jarak latihnya makin jauh. Burung-burung Daroji berpacu antarteman, melintas di atas sawah-sawah, tambak-tambak, dan tanah-tanah lapang yang jauh terpandang.

Secara rutin merpati Daroji diikutkan lomba di berbagai kota. Hadiah para pemenangnya cukup besar. Tapi, yang lebih penting, merpati yang juara dalam kelas perang bintang harganya bisa meroket. Ada persaingan antar penggemar untuk bisa memiliki. Bledek adalah merpati yang harganya sedang meroket karena selalu juara, disusul oleh Halilintar. Dalam arena lomba, saat dilepas dari jarak jauh, Bledek terbang melesat meninggalkan lawan-lawannya, meninggi, dan saat mengetahui betinanya di tangan joki, Bledek menukik tajam dan hinggap di punggung betinanya. Bledek bahkan sanggup menukik tegak lurus melewati lingkaran tali yang ada di atas joki. Daroji, Yadi, dan Mardi yang selalu mengenakan kaus oranye lengan panjang menjadi pusat perhatian. Harga seekor merpatinya bisa mengalahkan harga beberapa ekor sapi. Para penggemar merpati seperti Haji Khilmi, Roy, Acun, dan Pak Saryono konon bersedia mentransfer Bledek dengan harga sangat tinggi. Daroji belum mau melepas, Bledek dengan betina Gadis Manja sedang di-breeding. Sementara Halilintar diperjodohkan dengan Putri Malu.

***

Awalnya Daroji adalah penghobi dara kenthong. Merpati-merpati milik sekelompok orang dibuatkan pagupon berkaki tinggi, di atas genting rumah dengan diberi bendera. Merpati itu untuk berjudi. Dilepas dari jarak jauh secara bersamaan, burung yang hinggap di atas rumahnya lebih dulu itulah yang menang. Salah seorang akan memukul kentongan saat burung itu hinggap. Kampung itu akhirnya menjadi ramai oleh para petaruh. Perjudian balap merpati akhirnya digerebek polsek. Daroji ikut diciduk. Namanya sempat dimuat di koran lokal. Setelah peristiwa itu, Daroji beralih ke wadah resmi. Lama-lama piaraannya menjadi moncer. Nama Bledek dan Halilintar semakin dikenal.

Pada suatu hari, Daroji melatih merpatinya di pinggir pantai agar terbangnya kuat karena dilatih menembus angin laut. Sore itu laut sedang pasang. Angin menerjang. Ombak gulung-menggulung. Latihan dengan jarak pendek berjalan dengan baik. Semua merpati kembali ke tangan joki. Jarak semakin diperjauh. Pada akhirnya, Bledek dan Halilintar dilepas dengan jarak maksimal. Yadi telah membawanya dengan motor. Gadis Manja dan Putri Malu, pasangan kedua merpati, dipegang oleh Daroji dan Mardi.

Angin semakin kencang dengan deburan-deburan ombak. Kedua burung itu telah dilepas di jauh sana. Daroji dan Mardi mengibas-ngibaskan betinanya sambil berteriak-teriak memanggil seperti lazimnya. Tapi, kedua burung itu seperti tersapu angin, terbangnya melambung ke arah daratan, dan tertutup pohonan. Setelah tampak lagi sekelebat, kedua burung itu malah melambung seperti limbung, lalu menggeblas dan amblas ke daratan sana. Keduanya tak pernah kembali karena tak dilatih untuk pulang ke rumah, tapi dilatih untuk kembali ke tangan para joki.

***

Makin siang cuaca makin panas. Daroji masih duduk di tepi lapangan sambil mengamati merpati berebut makanan. Peziarah makin banyak menaburkan makanan. Beberapa anak berlarian riang mendekati gerombolan merpati. Burung-burung itu hanya terbang sesaat, lalu turun kembali.

Seekor merpati berjalan mendekati Daroji. Daroji menggerakkan jarinya agar si burung semakin mendekat. Sesaat merpati itu terdiam, pandangannya diarahkan ke Daroji sambil berkedip-kedip lembut. Terlintas dalam ingatan Daroji. Merpati itu warnanya mirip sekali dengan si Bledek, kelabu dengan garis-garis hitam di sayap. Memang semua merpati di sini bulunya mirip sehingga sulit dibedakan.

Daroji terkejut. Ternyata merpati yang mendekat itu bergelang cokelat muda, seperti warna gelang Bledek juga. Daroji mendekat, ingin melihatnya lebih dekat, apakah gelang itu ada tulisan ”Dar” seperti gelang Bledek. Dengan lambat tapi pasti burung itu beringsut menjauh, kemudian berhenti lagi ketika Daroji terdiam. Adegan itu beberapa kali terjadi. Pandangan dan paruhnya tetap ke arah Daroji.

Daroji sadar bahwa posisinya sudah makin ke tengah lapangan. Dia kembali minggir sambil matanya tetap tertuju ke merpati tadi. Tapi apa yang terjadi? Merpati itu mengikuti Daroji ke pinggir. Daroji memfokuskan pandangan untuk membaca tulisan di gelangnya. Tapi merpati itu tiba-tiba terbang meroket, meninggi membentuk lingkaran. Daroji tak berkedip. Merpati itu sekonyong-konyong menukik dengan cepat, benar-benar seperti peluru. Tahu-tahu merpati itu sudah mendarat lagi di dekat Daroji.

Daroji berguman-gumam. Dia ingat lagi ciri pada Bledek. Pada kaki kiri, jari belakangnya tidak ada kuku sehingga tampak tumpul. Daroji ganti mencermati kaki kiri merpati di depannya. Dia makin terkejut, merpati itu jari belakangnya juga tumpul. Bibir Daroji bergumam-gumam lebih cepat. Meski agak samar, motif atau bentuk goresan di gelangnya juga mirip ”Dar” dengan huruf kapital di awal. Benarkah dia adalah Bledek? Mana mungkin Bledek sampai di sini, sedangkan Daroji sendiri naik pesawat tanpa berhenti, perlu waktu sekitar sebelas jam, menempuh jarak hampir sembilan ribu kilometer melintasi samudra dan benua.

Ciri-ciri Bledek yang dimiliki merpati itu makin jelas. Pada pangkal mata sebelah kiri juga ada bisul kecil kekuningan. Merpati itu terdiam sambil berkedip-kedip memandanginya. Daroji kembali terjingkat. Sang merpati sekonyong-konyong melesat ke langit, bermanuver hampir tegak lurus. Mata Daroji mengikutinya. Burung itu sebentar-sebentar menukik, lalu menanjak kembali secara sempurna hingga tampak sebesar titik di angkasa.

Daroji benar-benar kagum. Dia mengusap-usap matanya, memejam-mejam sesaat. Dia yakin bahwa ini bukan mimpi. Dan saat dia membuka kedipannya, merpati itu sudah berada di depannya, menatap lurus ke arah Daroji. Kali ini dia memperhatikan lagi gelang di kaki merpati. Dada Daroji bergetar makin kencang. Bibirnya juga ikut bergetar. Tulisan di gelang merpati itu benar-benar nyata. Dengan tergugup Daroji berujar.

”As…as…salamualaikum, Bledek…”

Merpati itu berkedip-kedip, seakan-akan mengerti salam dari Daroji. Burung itu lantas berjalan ke arah pintu nomor 339, kadang diselingi terbang sehingga terkesan melompat. Daroji mengikutinya, melipir ke tepi lewat samping toilet. Saat Daroji tertinggal, burung itu berhenti, menoleh ke arah Daroji seakan memberi kode. Daroji mempercepat langkah. Si burung pun kembali berjalan. Sebelah kirinya adalah tembok makam Al Baqi. Makin cepat, kadang melompat sambil mengepakkan sayap. Daroji membuntutinya, terus berjalan dan berjalan. Keduanya sudah meninggalkan area masjid, masuk ke jalan-jalan kecil, bangunan-bangunan tua ada di kanan dan kiri. Kesepian mulai terasa.

Cuaca makin memanggang. Angin kering bertiup dari arah depan, disusul gulungan debu beserta plastik-plastik beterbangan. Merpati itu terus berjalan dan mengepakkan sayap makin jauh. Daroji membuntuti dengan tertatih. Bukit dan tanah-tanah berbatu tampak di depannya, kerontang menghampar sebatas mata memandang. Langit memucat seperti kain kafan. Desau terdengar timbul tenggelam. Dari kejauhan kedua makhluk itu tampak makin mengecil, hablur dalam fatamorgana, lalu lenyap bersama desau… (*)

Madinah-Surabaya, 2023

—

M. SHOIM ANWAR : Sastrawan tinggal di Surabaya. Buku-bukunya antara lain Oknum, Musyawarah Para Bajingan, serta Tikus Parlemen. Dosen Universitas Adi Buana Surabaya.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 30 Juli 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme