Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Harimau Liar di Hari ”Meugang” oleh Tin Miswary

Posted on Rab, 01 Mei 2024

Andah duduk termenung di ambang pintu, di gubuk reyot peninggalan orangtuanya. Syukur di kampung itu tak pernah terjadi badai, hanya kesiur angin sepoi-sepoi dari hamparan sawah yang terbentang luas di belakang gubuk. Andai ada badai, maka gubuk itu akan berpindah tempat, terbang ke tengah sawah atau mengambung di kota kecamatan dan lalu mengejutkan orang-orang di sana yang tengah sibuk berjualan daging meugang yang semakin hari harganya semakin mahal saja, membuat orang-orang miskin seperti Andah menelan ludah.

Pagi itu Andah kembali teringat orangtuanya. Sejak kematian ayahnya belasan tahun silam, ketika konflik bersenjata masih mendera kampungnya di Balee Kuyun, di mana ayahnya mati diterjang peluru, tak jelas dari senapan mana, Andah hidup bersama ibunya, seorang janda yang kala itu juga turut bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. Walau hidup dalam ketakutan, Andah sangat bersyukur ibunya selamat dan tetap menemaninya hingga damai menjelang. Namun, dua bulan lalu, tanpa disangka-sangka ibunya tiba-tiba saja mati. Dari kabar yang ia dengar, ibunya dipeukeunong seorang laki-laki paruh baya setelah cintanya ditolak berkali-kali. Dia semakin curiga dan yakin dengan berita itu ketika menemukan bungkusan paku dan bulu ijuk ditanam di pekarangan gubuknya yang hampir roboh.

Namun, tak ada yang bisa dilakukan Andah kecuali bersabar dan menahan diri. Keadaan dirinya yang sebatang kara di Balee Kuyun tidak memungkinkan ia untuk melakukan pembalasan terhadap Bang Balah, orang yang ia yakini telah membunuh ibunya dengan sihir. Akan tetapi, ia bertekad dalam hati, suatu hari nanti, dia akan melakukan sesuatu. Dia akan menuntaskan segala dendamnya itu tanpa seorang pun tahu. Dia sadar kalau nyawa mestilah dibalas nyawa dan tueng bila adalah suatu kemestian.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Andah bangkit dari duduknya. Remaja yang kini berusia 15 tahun itu kembali memasuki gubuk, melanjutkan duduk pada sebuah dipan kayu di ruang tengah. Memang rumah itu hanya punya satu ruangan, seperti kubus dalam pelajaran matematika. Tidak ada kamar di gubuk itu. Semasa ayah ibunya masih hidup, mereka tidur di bangku bambu sebelah timur, sedang Andah tidur di dipan itu, tak jauh dari dapur.

Andah kembali terkenang pada masa-masa yang lalu. Setiap meugang datang, dia akan diajak ayahnya ke Kota Matang, mencari daging murah yang bisa dibeli. Biasanya mereka baru berangkat ke sana setelah matahari benar-benar berada di barat, ketika cahayanya sudah mulai redup dan tak lagi membakar. Saat begitu, saat petang menjelang, harga daging meugang cenderung murah. Harganya tidak lagi melangit seperti di waktu pagi, ketika orang-orang kaya berebut daging segar. Bersama ayahnya, Andah berkeliling mencari lapak-lapak yang mereka kenal, yang bisa memberikan potongan harga, dan ketika uang di kantong ayahnya tak mencukupi, mereka harus puas dengan hanya membeli tulang. Sampai di rumah, ibunya akan mengolah tulang itu menjadi kuah. Dengan aroma itu saja mereka bisa makan dua kali tambah, walau tak ada daging yang bisa digigit. Nikmat sekali.

Membayangkan kenangan itu Andah teramat sedih. Sekarang, jangankan untuk merayakan meugang, untuk makan sehari-hari saja dia harus merelakan tengkuknya perih berhari-hari. Dia harus bekerja mengangkut padi dengan upah yang tak pernah naik. Sudah menjadi kebiasaan di Balee Kuyun, upah untuk anak kecil adalah setengah dari upah orang dewasa. Itu memang sudah menjadi kesepakatan, sebab anak kecil hanya mampu membawa karung-karung kecil di atas pundaknya, sementara karung-karung besar yang lebih berat akan diangkut orang dewasa.

Dulu, ketika ayah ibunya masih hidup, Andah tak perlu bekerja seperti sekarang. Dia bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Namun, setelah kematian ibunya, Andah tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa meninggalkan sekolah, padahal dia sudah kelas enam. Memang kepala sekolah pernah membujuknya untuk tetap sekolah, tetapi Andah menolak. Menurutnya punya ijazah atau tidak sama saja, toh dia tetap harus bekerja mengangkut padi ketika musim panen tiba dan memanjat pinang atau kelapa di waktu yang lain. Lagi pula kalau dia sekolah, siapa yang akan membeli sepatu untuknya? Siapa pula yang akan membeli pakaian dan buku-buku? Dia tidak memiliki sanak saudara di Balee Kuyun. Ayah ibunya hanyalah perantau di kampung itu.

Tepat pukul 12 siang, Andah kembali duduk di ambang pintu. Dipandanginya orang-orang yang lewat, membawa pulang eumpang ganifo yang berisi daging. Dia bisa mencium aroma itu dari angin yang melambai. Dia duduk menekuk lutut, menatap debu-debu yang beterbangan dari derap langkah orang-orang dan kendaraan lalu lalang. Pikirannya kembali menyingkap tabir kenangan. Dia teringat pada ibunya yang dipeluk tentara, beberapa hari setelah ayahnya mati ditembak orang tak dikenal.

Siang itu, hujan baru saja reda dan petir masih menyambar-nyambar di angkasa. Andah sedang menggali tanah di belakang gubuk, mencari cacing untuk umpan ikan. Dia sudah berjanji pada teman-temannya kalau hari Minggu besok dia akan ikut memancing di tambak Haji Brahim. Ada banyak mujair di sana. Karena dianggap hama dan mengganggu ikan bandeng yang sengaja dipelihara dalam tambak, Haji Brahim mengizinkan siapa saja untuk memancing mujair di sana, tapi hanya mujair. Kalau kebetulan kedapatan bandeng, maka harus dilepaskan lagi dalam tambak, begitu pesan Haji Brahim.

Usai mendapatkan beberapa ekor cacing, Andah memasukkan hewan mirip ulat itu dalam tempurung dan lalu dibungkusnya tempurung itu dengan daun pisang. Namun, belum lagi dia sempat menyimpan tempurung di samping sumur, agar cacing-cacing itu tidak mati kepanasan, dari dalam gubuk terdengar jeritan perempuan. Dia tahu itu suara ibunya. Maka berlarilah Andah ke dalam gubuk. Namun, alangkah terkejutnya anak itu menemukan ibunya sedang bergulat dengan seorang tentara yang ingin menguasai tubuhnya, sementara beberapa tentara lainnya tertawa-tawa di atas truk reo yang parkir di depan gubuk.

Andah yang kala itu masih berusia lima tahun memeluk kaki tentara, menjerit dan memohon agar laki-laki bersenapan itu melepaskan ibunya. Namun, nafsu binatang yang merasuk di kepala orang berbaju loreng itu sudah sampai ke pucuk, tak mungkin lagi surut. Maka diperkosalah perempuan itu di hadapan anaknya, anak kecil yang saban hari menghafal Pancasila di sekolah. Dengan pemandangan itu, genaplah penderitaan Andah yang beberapa hari sebelumnya menyaksikan ayahnya ditandu ke kuburan setelah tubuhnya dihajar peluru.

Perlakuan demikian bukanlah hal baru di Balee Kuyun. Selama bertahun-tahun ada banyak perempuan diperkosa di kampung itu dengan tuduhan terlibat GPK. Bahkan ada yang kepalanya dipenggal di hadapan orang ramai. Kengerian semacam itu sudah sangat sering Andah dengar, dan saat itu ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya digerayangi mereka.

Mengingat peristiwa itu, Andah kembali memanggul dendam. Namun, kepada siapa harus membalas, dia tak tahu, sebab orang-orang itu telah kembali ke seberang pulau tak lama setelah perang usai. Yang tersisa di kampungnya hanyalah penderitaan demi penderitaan.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang ketika Andah melangkahkan kakinya ke luar gubuk. Jalan sudah mulai lengang. Hidungnya mencium aroma daging rebus yang menguar dari rumah-rumah tetangga. Perutnya terasa lapar dan semakin lapar ketika matanya tak sengaja menyaksikan beberapa anak kecil duduk di beranda rumah mereka seraya memamah daging meugang dengan lahap.

Di Balee Kuyun dan kampung-kampung lainnya di Aceh, tradisi meugang memang sudah berlangsung turun-temurun. Dalam setahun ada tiga kali meugang yang dimulai dari meugang puasa, satu hari sebelum Ramadhan tiba; meugang hari raya puasa, satu hari sebelum Idul Fitri; dan meugang haji, satu hari sebelum hari raya haji. Dalam momen-momen itu orang-orang akan berduyun-duyun memenuhi pasar untuk membeli daging. Hari itu adalah hari makan daging yang memang selalu dirayakan. Kalau dipikir-pikir memang wajar dirayakan, sebab hanya pada hari itulah mereka bisa menikmati daging setelah bekerja mengumpulkan uang. Namun, dunia memang tak pernah adil, sebab ada saja orang-orang sial yang hanya menjadi penonton di hari itu, salah satunya adalah Andah, yatim piatu yang tinggal sebatang kara di Balee Kuyun.

Andah terus saja berjalan menyusuri lorong-lorong di kampung itu, menghibur perutnya yang mulai bernyanyi. Sebenarnya kemarin dia masih punya sedikit cadangan uang dari hasil memanjat kelapa. Namun, dalam perjalanan pulang, tak sengaja sepeda ontel peninggalan ayahnya yang hari itu dikendarai Andah menyerempet mobil Avanza Tauke Duki yang diparkir di badan jalan. Demi menghindari seekor lembu betina yang sedang berlari kencang, Andah membelokkan setang sepeda ke kiri dan tiba-tiba saja ujung pedal yang dibalut karet itu menggarit bodi mobil bagian bawah. Mengetahui kejadian itu, Tauke Duki yang sedang berbincang melalui telepon seluler segera turun dan menyaksikan mobil kesayangannya telah terluka dengan garis melengkung, mengikut putaran pedal.

”Omak! Rusak mobil saya!” teriak rentenir itu seraya matanya menatap tajam ke wajah Andah.

”Tidak sengaja, Bang. Ada lembu tadi,” jelas Andah dengan wajah menunduk.

”Lembu memang tak ada otak, tapi kamu kan ada otak!”

Andah tidak tahu mau menjawab apa. Dia hanya diam dan perlahan memarkir sepedanya di depan mobil Avanza putih milik Tauke Duki yang kreditnya baru lunas bulan depan. Dengan tangan disilangkan di bawah perut, Andah menatap goresan di mobil itu.

”Ini kamu lihat!” teriak Take Duki, seraya menunjuk lokasi luka.

Andah mengangguk.

”Kamu harus bayar ini! Kalau tahu istriku, habis kamu.”

”Saya bayar, Bang.”

Andah menyerahkan enam lembar pecahan sepuluh ribu. Hanya itu uang tersisa di kantongnya. Tadinya uang itu akan disimpan untuk membeli sedikit daging meugang. Namun, kesialan memang sudah menjadi teman hidupnya selama bertahun-tahun.

Tauke Duki mengambil uang itu dengan muka masam, menghitungnya dengan suara keras. ”Mana cukup ini!” katanya dengan suara semakin keras.

”Itu yang ada, Bang.”

Tauke Duki menaiki mobilnya dan tak berkata apa-apa lagi. Bagaimanapun dia tahu keadaan Andah, remaja paling miskin di Balee Kuyun. Suara klakson yang tiba-tiba berbunyi mengejutkan Andah. Itu adalah kode bagi Andah untuk memindahkan sepedanya. Dan berlalulah mobil itu ke arah utara, meninggalkan debu-debu yang mengapung.

Lima belas menit berjalan tak tentu arah, Andah merasakan perutnya semakin perih. Aroma daging meugang semakin liar saja dan tercium dari setiap rumah yang ia lewati. Tiba-tiba dia berpikir alangkah bahagianya jika ia bisa menjadi harimau. Ya, dengan menjadi harimau, dia bisa mencuri daging-daging itu dari rumah mereka. Dia akan memamah daging itu dengan lahap tanpa seorang pun berani mencegah.

Keinginan itu semakin kuat. Semakin kuat dan kuat. Dan, entah mengapa, tiba-tiba Andah merasa tubuhnya dipenuhi bulu. Kulitnya berubah belang. Kuku tajam keluar dari ujung jari-jari tangan dan kakinya. Dia juga merasa nyeri pada mulutnya yang seketika ditumbuhi gigi-gigi runcing. Dia mengaum keras, membuat orang-orang yang sedang merayakan meugang di rumah mereka keluar berlari berhamburan. Daging meugang berjatuhan di tanah, di sepanjang jalan. Maka berlarilah Andah memungut daging-daging itu.

Peristiwa itu benar-benar menggemparkan karena di hari yang sama, di tempat lain, di kampung-kampung yang jauh, juga bermunculan ratusan dan bahkan ribuan harimau liar yang menyasar rumah-rumah penduduk. Harimau yang terus mengaum itu juga terlihat di sepanjang jalanan kota. Mereka memasuki kantor gubernur, kantor DPR, dan juga Baitul Mal. Mereka adalah orang-orang seperti Andah yang tiba-tiba saja berubah menjadi harimau karena tak sanggup menghidu aroma meugang yang menguar di sekeliling mereka.

Catatan:

Meugang: tradisi makan daging di Aceh sebelum puasa dan hari raya

Tueng bila: balas dendam

Tin Miswary, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menulis esai, cerpen, dan resensi buku. Menetap di Bireuen, Aceh.

sumber : kompas.id,01 Mei 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme