Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ronda oleh Ratna Ayu Budhiarti

Posted on Ming, 12 Mei 2024

Jika kalian tinggal di sebuah kompleks modern yang menyediakan gerbang satu pintu dengan CCTV di area kompleksnya, mungkin kalian tidak mengenal ronda. Kalian tinggal membayar iuran pemeliharaan lingkungan (IPL) setiap bulan dan merasa tenteram karena urusan pengangkutan sampah dan pengawasan keamanan sepenuhnya diurus oleh pihak pengelola perumahan. Dengan membayar sejumlah rupiah untuk IPL, kalian sudah 90 persen yakin kenyamanan terjamin, sedangkan yang sepuluh persen disisakan untuk hal-hal tak terduga.

Lain soal jika kalian tinggal di kota kecil seperti kampungku dan Marni. Ya, aku harus menyebut nama Marni karena ia sedang jadi buah bibir di kampungku. Dan urusan keamanan kampung tentu tidak sama dengan sistem kelola IPL di kompleks perumahan. Kontrol keamanan dilakukan bergiliran antarwarga melalui ronda. Dan ronda di kampung kami sudah lama tidak pernah dilakukan. Selain karena tidak banyak penduduk yang bermewah-mewahan hidupnya, lima tahun terakhir iuran RT tidak lagi teratur dipungut. Barangkali ketua RT yang lama mulai jenuh. Namun, ketua RT baru berusia lebih muda baru saja menjabat sebulan lalu.

Marni sering jadi pembicaraan di kampung kami. Perawakannya yang montok dan senyumnya yang menawan bikin para lelaki tak tahan untuk tidak bermain imajinasi tentang Marni. Bahkan sekelas Wak Dullah, yang terkenal paling saleh di antara semua tetangga, tak bisa menyembunyikan sorot mata yang berkilat setiap Marni lewat atau menyapanya. Gambaran semacam ini terkesan karikatural dan klise sekali, ya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku sendiri tidak bisa melarang suamiku bersikap manis terhadap Marni jika Marni meminta bantuan. Aku sebagai istri lebih tahu, suamiku itu tidak akan bertingkah macam-macam terhadap Marni karena aku pun tahu Marni bukan perempuan yang mudah digoda lelaki. Lagi pula, aku sengaja menjadikan diriku dekat dengan Marni agar dia tak sungkan meminta bantuan keluarga kami jika dibutuhkan. Hidupnya sudah cukup sulit, dan aku tak ingin menambahi lagi beban pikiran Marni yang membesarkan dua anak tanpa suami yang seharusnya bertanggung jawab akan kehidupannya.

Suami pertama Marni pergi merantau dan kecantol perempuan lain di perantauan. Cerita klasik itu terjadi saat perut Marni sedang menyimpan janin berusia 7 bulan yang kini jadi gadis kecil supel dan ringan tangan. Setelah anak pertamanya itu berusia 2 tahun, Marni menikah lagi dengan Agus, mandor proyek jembatan yang menyambungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Mereka dikaruniai anak perempuan. Proyek selesai, Agus pun meninggalkan utang yang bikin Marni pusing karena Agus diberhentikan oleh kantor pemborong sebab ketahuan menggelapkan dana operasional. Tak lama, Agus tak pernah terlihat lagi di kampung kami. Sementara Marni, terus bertahan mengerjakan apa saja untuk menghidupi kedua anak perempuannya. Agus tidak meninggalkan apa pun selain beban.

Persoalan ronda kembali mencuat ketika dua rumah di lingkungan RT kami kehilangan motor, televisi, dan sejumlah barang berharga. Berdasar hasil rembukan, diputuskan kegiatan ronda diaktifkan lagi. Tentu saja hal itu disambut beragam oleh warga. Lega karena ada solusi untuk keresahan yang terjadi. Namun, beberapa orang mengeluh karena itu artinya akan memengaruhi keseluruhan aktivitas mereka. Silang pendapat mengenai ronda ramai di grup Whatsapp RT 05.

”Ibu-ibu, bapak-bapak, setelah kumpul dan rapat bersama para tokoh masyarakat dan para ketua RT di lingkungan RW 01 tadi siang, maka keputusannya adalah ronda diadakan bergiliran setiap malam. Giliran RT 05, RT kita, kebagian hari Kamis malam. Ronda bersama seluruh ketua RT atau perwakilannya dilakukan setiap Sabtu malam, dan pak RW akan memantau semua kegiatan ini,” Doni, ketua RT kami, mengirim pesan di grup Whatsapp.

Tentu saja hal tersebut memancing komentar dan aneka respons dari warga. Ada yang bersemangat menyatakan siap ronda kapan saja, ada yang kebingungan karena istrinya baru melahirkan dan tiada yang menunggui, ada pula yang mengelak dengan alasan bekerja secara sistem sif di pabrik yang jaraknya nyaris 40 km dari kampung kami, dan beberapa alasan lainnya.

Bagiku sendiri hal itu cukup menggembirakan karena aku ingin bernostalgia dengan suara kentongan. Irama ritmis dari kentongan yang dipukul pada tengah malam itu memberikan sensasi tersendiri pada ingatan masa kanak-kanakku. Apalagi jika persis tengah malam, para peronda itu memukul tiang listrik yang mengantarkan bunyi nyaring dan nyaris magis. Suara kentongan dan tiang listrik itu sekaligus pengingat bagi warga untuk tetap waspada jika keasyikan tenggelam di alam mimpi. Dan alasan yang lebih religius lagi, bunyi-bunyian itu bisa dijadikan alarm pengingat untuk beribadah dalam keheningan malam, mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan lebih khusyuk. Percakapan selanjutnya dalam grup Whatsapp itu tidak lagi kuperhatikan hingga dua hari kemudian.

Marni tak pandai berbohong. Aku bisa menyimpulkan dari wajahnya, saat ini ia sedang bergumul dengan kebimbangan. Kami bertemu di warung sayur sepulang mengantar anak sekolah. Aku mengajak Marni mampir ke rumah dengan alasan mencicipi kue baruku. Marni tidak menolak. Rupanya ia memang perlu teman bicara.

Sambil menyodorkan kukis pisang gandum, hati-hati kutanya penyebab mendung yang bergayut di wajahnya. Marni tidak langsung menjawab, ia hanya mengomentari rasa kue baruku itu, dan aku tidak memaksanya segera bercerita. Setelah potongan kue kedua, Marni akhirnya bersuara.

”Saya sebetulnya bingung dengan urusan ronda ini, Bu. Tahu sendiri, kerja saya serabutan sekarang, kadang-kadang ada yang manggil saya kerja harian, kadang tidak ada sama sekali. Sekarang malah ibu-ibu itu mulai ikut menggunjing.”

Aku sudah tahu Marni seminggu tiga kali rutin membantu beres-beres pekerjaan di rumah Bu Sanusi yang kerepotan dengan anak banyak, sementara suaminya hanya pulang sebulan sekali dari ibu kota. Kadang-kadang aku juga minta bantuan Marni jika pesanan kueku membeludak. Tapi pekerjaan tidak tetap begitu tidak bisa selalu menjamin kehidupan Marni. Sebetulnya aku ingin sekali mempekerjakan Marni dengan rutin, tapi apa daya kemampuan kami belum mencukupi.

”Ibu sudah baca pesan-pesan yang ramai di grup Whatsapp itu?” Tatapan Marni kurasa terlalu tajam hari ini.

”Sudah, tapi hanya sampai dua hari lalu. Saya belum sempat baca lagi, kadang-kadang isinya cuma stiker dan meme-meme lucu, kan, Mar. Saya malas.” Kujawab jujur sambil meraba ke mana arah pembicaraan Marni. ”Eh…, loh HP saya di mana, ya?” Baru kusadari sedari tadi aku tak mengantongi ponselku.

”Ibu baca dari HP saya aja,” Marni mengangsurkan ponselnya.

”Oh, ini ya… bapak-bapak itu akhirnya setuju untuk bergiliran ronda. Sekalian silaturahmi, lebih mengeratkan sesama tetangga, ya. Eh, tapi Bu Rita dan Bu Aini, selain sudah tua, mereka tinggal sendiri tanpa suami dan anak lelaki. Siapa yang menggantikan kalau Pak RT bilang jadwal giliran ronda ini sangat diwajibkan?” Aku merepet sendiri sambil terus menggulir percakapan di grup Whatsapp di ponsel Marni. ”Oooh… ternyata Pak Tedi minta diganti aja dengan bayar ya. Yang lain gimana? Ini, Pak Anton, Pak Suyono, juga Rido, sama-sama gak bisa ikut giliran ronda, setuju bayar juga ya?”

Dua hari tidak mengecek percakapan di grup Whatsapp RT, aku sudah ketinggalan berita. Keputusan jadwal ronda ternyata tidak semulus yang kami kira. Benturan kepentingan dan alasan membuat warga tidak bisa kompak satu suara dalam dispensasi mengenai yang tidak bisa ikut bertugas ronda. Beberapa alternatif diusulkan. Dari mulai yang serius hingga gurauan. Aku terhenyak saat membaca gurauan yang kurasa bisa menyinggung Marni dan semua perempuan yang berstatus sama. Apalagi ditambah komentar ibu-ibu yang sentimen dengan adanya usulan Marni ikut ronda dari salah satu warga.

”Awas, Pak Dede nanti jangan belok yah kalau kena giliran. Jadinya malah ngaronda di imah randa, haneut atuh, nanti ada maling gak ketahuan. Ha-ha-ha.”

Salah satu chat respons Wak Dullah. Itu gurauan klasik, aku tahu. Tapi sebagai perempuan, aku tetap merasa tidak nyaman jika status perempuan lain jadi pergunjingan dan bahan gurauan. Aku sering mewanti-wanti suamiku agar tidak ikut-ikutan melakukan perbuatan yang merendahkan perempuan meskipun niatnya bercanda.

”Mar, ini… gak enak dibaca ya chat-nya. Pikasebeuleun pisan.”

”Ibu harus lihat terusannya.”

Di percakapan berikutnya, Marni mengajukan keberatan jika semua kepala keluarga diwajibkan ronda. Selain karena anaknya masih kecil-kecil, selama ini tidak pernah ada cerita bahwa perempuan diikutkan dalam rombongan peronda. Marni juga mengajukan dispensasi untuk alternatif iuran pengganti wajib ronda. Seperti yang diceritakannya kepadaku tadi, penghasilan Marni saat ini tak menentu. Jika harus membayar iuran pengganti ronda yang jumlahnya cukup besar itu, Marni khawatir tidak bisa memberi makanan layak bagi kedua anaknya. Kalian tidak perlu bilang mana mungkin Marni tidak mampu, buktinya ia punya ponsel. Asal kalian tahu, ponsel Marni itu keluaran lama yang badan ponselnya harus diikat dengan karet gelang agar baterainya tidak mencelat setiap kali dipegang. Marni mempertahankan ponsel butut itu sebab bisa jadi perantara panggilan pekerjaan baginya.

”Ibu harus lihat chat Pak RT,” Marni mengambil ponselnya dari tanganku, kemudian mengangsurkannya kembali kepadaku setelah membuka percakapannya dengan Pak RT.

”Bagaimana ya Bu Marni, ini wajib dipenuhi, sudah kesepakatan bersama, semua kepala keluarga harus ikut ronda.”

Aku turut kesal, kalimat-kalimat Pak RT berikutnya sungguh tak terduga.

”Kalau Bu Marni tidak sanggup membayar iuran pengganti, Bu Marni tetap harus memenuhi kewajiban sebagai warga. Tidak ada yang bisa bolos dari kesepakatan bersama ini. Yaaah… Bu Marni harus mau ikut keliling ronda bersama kami, para bapak. Anggap saja bisa sama-sama menghangatkan udara malam yang dingin, Bu. He-he-he.”

”Hah? Gila!” Aku nyaris melemparkan ponsel Marni saking jijiknya. Tidak kusangka, Pak RT yang seharusnya mengayomi warganya sama sekali tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Aku kehilangan minat membaca percakapan berikutnya. Ketua RT macam apa yang merendahkan perempuan dengan status seperti Marni? Aku geram, mengapa masih banyak lelaki berpikiran sempit dan menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan?

Marni berkata lirih, ”Pak RT dulu pernah melamar saya, Bu, tapi saya tolak.”

Menulis puisi, cerpen, artikel, resensi, fiksimini, beberapa naskah monolog dan drama musikal. Menulis 9 buku tunggal serta tergabung dalam lebih dari 60 antologi bersama. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Korea, dan Rusia. Beberapa karya bisa dilihat di laman http://ratnaayubudhiarti.wordpress.com

Lahir tahun 1957, adalah seniman kelahiran Bali yang kerap mengeksplorasi isu-isu kehidupan. Djirna menerima banyak penghargaan dan telah diundang untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran tunggal dan kelompok di berbagai galeri dan museum di Indonesia, Australia, Belanda, Guam, Singapura, dan Swiss. Karya-karyanya juga telah menjadi bagian dari berbagai pertunjukan besar, seperti ArtJog 2023: Motif–Lamaran, dan Asia Pacific Triennale Ke-10 (APT10) di Queen’s Art Gallery, Gallery of Modern Art, Australia.

sumber : harian Kompas edisi 12 Mei 2024 di halaman 10 dengan judul “Ronda”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme