Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : A Kim dan Paman Bong Sin Bu oleh Aris Kurniawan

Posted on Jum, 07 Jun 2024

Dua bulan menjelang ujian nasional ketika bencana itu datang menghampiri A Kim. Putri kesayangan pemilik perusahaan penyewaan alat berat penambangan timah itu telat datang bulan. Dia panik begitu melihat hasil test pack menunjukkan dua garis biru. Terbayang wajah Papa yang memerah menahan murka dan kecewa. A Kim ingat, waktu Papa mengusir Lian Khoen, kakak A Kim, setelah Papa mengetahui putri sulungnya tersebut hamil.

”Anak kurang ajar!” bentak Papa dalam kemurkaan yang baru kali itu dilihat A Kim.

Dibantingnya laptop milik Lian Khoen ke lantai. Dia tak menyangka Papa yang pendiam bisa semurka itu. ”Minggat kamu dari rumah ini. Bikin malu keluarga! Tak sudi rumahku dikotori perempuan hamil tanpa suami!”

Lian Khoen hanya menangis dengan tubuh gemetar di pojok kamar. Wajahnya pucat pias seperti kain mori. ”Siapa laki-laki itu.” Papa terus mencecar, sementara Lian Khoen makin menggigil. Papa merenggut kerah baju dan hendak menampar Lian Khoen, tetapi Mama segera menahan. Perempuan itu melindungi dengan memeluk Lian Khoen dan membawanya ke ruangan lain dan mengunci pintunya.

”Ini akibat kamu terlalu memanjakan anak!” seru Papa. Ia keluar membanting pintu.

Seminggu Papa tak pulang ke rumah, entah tidur di mana. Belakangan Mama bilang Papa tidur di kantor.

Minggat kamu dari rumah ini. Bikin malu keluarga! Tak sudi rumahku dikotori perempuan hamil tanpa suami.

A Kim terhenyak di kursi seolah dia yang kena amarah dan itu membuat dia ketakutan setengah mati hingga akhirnya ikut menangis. Dia lari ke kamar di mana Mama ’mengamankan’ Lian Khoen. Memeluk Mama dan Lian Khoen, lalu mereka menangis bersama. Waktu itu A Kim kelas satu SMP dan Lian Khoen kelas tiga SMA.

Itu pengalaman yang sangat mengerikan bagi A Kim dan sekarang dia akan mengalami hal yang sama. Kengerian itu meremas perasaannya. Dia harus mencari akal agar terhindar dari pengalaman itu. Aku harus menggugurkan janin dalam perutku, pikirnya. Tapi pikiran itu membuatnya ngeri sendiri. A Kim ingat waktu mengantar Agnes ke dokter untuk menggugurkan kandungan. Dia mendengar raungan Agnes yang begitu menyayat di kamar operasi.

Agnes memang selamat. Dokter berhasil mengeluarkan paksa janin dari rahimnya. Bahkan, beberapa bulan berikutnya, A Kim mendengar Agnes kembali ke dokter yang sama untuk menggugurkan kandungan, ketua gank-nya itu seperti tak ada kapoknya. Tetapi A Kim juga mendengar seorang gadis lain yang menggugurkan kandungan ke dokter yang sama akhirnya tewas setelah mengalami perdarahan hebat.

Tetapi bagaimana cara mengenyahkan janin yang kini mengendon di perutnya? Bayangan wajah Papa yang murka terus menghantuinya. Papa pantas murka dan kecewa berat kalau sampai tahu dia hamil di luar nikah. Setelah Lian Khoen menghancurkan harapan Papa, harapan itu kini Papa tambatkan ke pundak A Kim. Papa sudah merencanakan dengan matang akan menyekolahkan A Kim setinggi-tingginya. Papa bahkan sudah menyiapkan biaya untuk mengirim A Kim ke Beijing untuk sekolah bisnis. Papa sudah menghubungi gege-nya di Beijing untuk menitipkan A Kim di sana.

”Belajarlah yang rajin, A Kim. Agar bisnis Papa bisa kamu lanjutkan dan jadi lebih besar. Papa tahu kamu tak akan mengecewakan Papa,” kata Papa.

Apa yang harus aku lakukan, desis A Kim, ditimbun perasaan bersalah. Dia lalu memutuskan akan menghubungi Bong Sin Bu, lelaki yang lebih pantas jadi pamannya itu—dan memang masih terhitung paman atau a suk. Dia adik sepupu Papa. Tepatnya anak dari putra bungsu kakek atau kung kung. Tapi seingat A Kim, sejak kecil Papa tak pernah mengajaknya ke rumah Paman Bong atau melihat Paman Bong mampir ke rumah mereka. Mereka hanya bertemu saat acara perayaan Imlek di rumah kung kung. Itu pun tak pernah terlihat ngobrol akrab, kecuali sebatas tanya jawab basa-basi. Kata Mama, keluarga Bong Sin Bu punya hubungan kurang harmonis dengan keluarga Papa karena persaingan bisnis. A Kim heran sendiri kenapa bisa berhubungan dengan laki-laki itu. Dia menyalahkan diri sendiri, menyesali kenapa mau diajak gank-nya ke pub yang membuatnya harus kepergok A Suk Bong.

”A Kim? Ngapain kamu di sini?” sapa Bong Sin Bu.

A Kim mendongak menatapnya dan terperanjat. Buru-buru dia mematikan rokok dan meletakkan gelas anggurnya.

”Paman Bong?” balasnya dengan suara tercekat.

Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian berlalu ke bar memesan minuman. A Kim mengawasinya dari tempatnya duduk di antara teman-temannya yang terus tertawa-tawa tak memperhatikan wajah A Kim yang gugup, cemas, dan gelisah. Bahkan, mereka tak menyadari perubahan A Kim yang murung sepanjang jalan pulang.

Perasaan takut dan cemas bila Bong melaporkannya ke papa menghantui A Kim. Namun, tiga hari berlalu tak ada kejadian apa-apa. Papa bersikap seperti biasa. A Kim bersyukur, laki-laki itu tidak melaporkan pertemuannya di pub kepada Papa. Dia berdoa semoga telah melupakan pertemuan itu. Seminggu berlalu ketakutannya meredup. A Kim berpikir Bong benar-benar telah melupakan pertemuan itu.

”Dia kan agak mabuk waktu itu, Kim. Enggak akan ingat. Ayo ke sana lagi. Jerry Yan mau gabung sama kita,” kata Agnes.

Jerry Yan, pria populer di sekolahnya karena kegantengan dan kepintarannya, tapi sekaligus lugu dalam urusan perempuan. Nama sebenarnya A Liong karena wajah dan perawakannya mirip Jerry Yan, pemain serial Meteor Garden itu, teman-teman gank-nya menyebut dia Jerry Yan. Mereka selalu menjadikannya buah bibir dan bahan khayalan romantis. Secara diam-diam atau terang-terangan semua teman-teman cewek A Kim berharap menjadi pacarnya.

Agnes bahkan tanpa malu-malu mengatakan bersedia bila dicium si Jerry Yan. Mereka akan selalu menonton dan mengelu-elukan Jerry saban dia tanding main voli.

”Kita bolos jam dua, setelah pelajaran bahasa Indonesia. Ngumpul di tempat biasa,” kata Agnes.

A Kim bimbang. Tapi dia kemudian memutuskan tidak ikut gabung. Perasaan waswasnya belum sepenuhnya lenyap. Ketika dia berjalan hendak pulang melalui gang belakang sekolah demi menghindari teman gank-nya, dia hampir bertubrukan dengan A Suk Bong di mulut gang.

”A Kim, mau ke mana?”

A Kim tergeragap.

”Pulang,” sahut A Kim tanpa menghentikan langkahnya.

”Tunggu!” Bong Sin Bu menangkap tangannya.

A Kim menarik tangannya.

”Kamu tak ke pub lagi Kim?”

”Aku mau pulang,” sergah A Kim.

”Tadi aku ketemu Papamu,” kata Bong, membuat A Kim terjengat.

”Tenang, aku tak melaporkanmu minum di pub,” sambungnya sembari tersenyum.

A Kim memandang mata Bong dengan tatapan memohon dan terima kasih.

”Temani paman ke kota,” ajak Bong Sin Bu dengan sorot mata yang bagi A Kim seperti ancaman.

A Kim berdiri ragu.

”Ayolah, tak akan cerita sama Papamu soal itu.”

Ternyata Bong Sin Bu mengajaknya nonton bioskop di Belinyu setelah keluar masuk pertokoan, lalu makan di restoran. Itu terjadi beberapa kali. Selama makan, A Suk Bong cerita dengan nada mengeluh tentang sifat Chin Kwet Jun, istrinya, yang banyak menuntut dan bermulut tajam kepada ibu mertuanya. Sifatnya itu tidak berubah bahkan setelah A Suk Bong menjadi pengusaha tambang inkonvensional (TI) berkat perizinan penambangan rakyat yang dikeluarkan bupati Bangka.

”Bahkan Chin Kwet Jun mengeluhkan pendapatanku di depan mama. Padahal, pendapatanku lumayan dibandingkan suami-suami kawan Chin. Itu yang membuat kami sering bertengkar,” kata Bong seraya menyantap kwetiau.

”Mama yang sudah agak tuli sering dibuat jengkel dan sakit hati oleh mulut tajam Chin Kwet Jun. Tak ada hormat sama sekali dia sama Mama,” sambung Bong.

”Terakhir Chin Kwet Jun menuduh Mama mengolesi bibir patung Dewa Dapur Co Lu Akung dengan tempoyak pedas. Bagaimana aku bisa betah di rumah?”

A Kim yang semula risi mendengar curhatan A Suk Bong lama-lama menaruh simpati. Seiring dengan itu perlahan-lahan rasa nyaman tumbuh dalam benak A Kim dan tiba-tiba A Kim menyadari pesona A Suk Bong. Pada pertemuan berikutnya A Suk Bong mengajaknya ke hotel.

*

Selain merencanakan pendidikan A Kim, Papa telah menjodohkan A Kim dengan anak gege-nya di Beijing. A Kim belum pernah bertemu langsung dengan sepupunya, kecuali foto.

Lumayan tampan, meski tidak setampan Jerry Yan. Dulu seandainya Lian Khoen tidak kawin dengan pacar Melayu yang menghamilinya, Papa juga akan menjodohkanya dengan anak kerabatnya yang tinggal di Taiwan. Setelah menikah Lian Khoen dan suaminya tinggal di Tangerang, mereka bekerja sebagai karyawan rendahan di sebuah pabrik. Sejak itu Papa tak pernah komunikasi lagi dengan Lian Khoen. Bahkan setelah Mama menunjukkan anak Lian Khoen yang lucu.

Muncul gagasan A Kim untuk menelepon Lian Khoen. Tetapi ketika A Kim benar-benar menelepon dan menceritakan masalah pelik yang dihadapinya, jawaban Lian Khoen sungguh di luar perkiraan A Kim. Kakak satu-satunya itu marah besar. Dia menyarankan Kim segera menggugurkan kandungan mumpung janinnya masih kecil.

”Jangan sampai kamu mengalami nasib buruk seperti yang kualami, Kim.”

Tak ada jalan lain bagi Kim selain menuruti saran kakaknya. Dia menghubungi Bong Sin Bu dan meminta laki-laki itu mencari dokter yang bagus dan mahal untuk menggugurkan kandungannya. Mereka berdebat sengit, Bong Sin Bu ingin mereka berdua pergi dari Belinyu dan menikah di kota lain yang jauh.

Jangan sampai kamu mengalami nasib buruk seperti yang kualami, Kim.

Tetapi akhirnya mereka sepakat menggugurkan kandungan A Kim. Sesudah mencari info ke sana kemari, mereka mendapatkan dokter yang bisa menggugurkan kandungan dengan aman. Tempatnya lumayan jauh di Pangkalpinang. Berangkatlah mereka ke sana. Sialnya ketika mereka sedang menunggu antrean, dari pintu ruangan dokter terlihat Papa keluar sambil menuntun seorang gadis. (*)

Catatan: Beberapa tokoh dalam cerpen ini diambil dari cerpen Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur karya Sunlie Thomas Alexander. Dengan kata lain, cerpen ini merupakan sempalan (spin off) cerpen Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur.

Aris Kurniawan, menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).

sumber : kompas.id, 07 Jun 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme