Dua bulan menjelang ujian nasional ketika bencana itu datang menghampiri A Kim. Putri kesayangan pemilik perusahaan penyewaan alat berat penambangan timah itu telat datang bulan. Dia panik begitu melihat hasil test pack menunjukkan dua garis biru. Terbayang wajah Papa yang memerah menahan murka dan kecewa. A Kim ingat, waktu Papa mengusir Lian Khoen, kakak A Kim, setelah Papa mengetahui putri sulungnya tersebut hamil.
”Anak kurang ajar!” bentak Papa dalam kemurkaan yang baru kali itu dilihat A Kim.
Dibantingnya laptop milik Lian Khoen ke lantai. Dia tak menyangka Papa yang pendiam bisa semurka itu. ”Minggat kamu dari rumah ini. Bikin malu keluarga! Tak sudi rumahku dikotori perempuan hamil tanpa suami!”
Lian Khoen hanya menangis dengan tubuh gemetar di pojok kamar. Wajahnya pucat pias seperti kain mori. ”Siapa laki-laki itu.” Papa terus mencecar, sementara Lian Khoen makin menggigil. Papa merenggut kerah baju dan hendak menampar Lian Khoen, tetapi Mama segera menahan. Perempuan itu melindungi dengan memeluk Lian Khoen dan membawanya ke ruangan lain dan mengunci pintunya.
”Ini akibat kamu terlalu memanjakan anak!” seru Papa. Ia keluar membanting pintu.
Seminggu Papa tak pulang ke rumah, entah tidur di mana. Belakangan Mama bilang Papa tidur di kantor.
Minggat kamu dari rumah ini. Bikin malu keluarga! Tak sudi rumahku dikotori perempuan hamil tanpa suami.
A Kim terhenyak di kursi seolah dia yang kena amarah dan itu membuat dia ketakutan setengah mati hingga akhirnya ikut menangis. Dia lari ke kamar di mana Mama ’mengamankan’ Lian Khoen. Memeluk Mama dan Lian Khoen, lalu mereka menangis bersama. Waktu itu A Kim kelas satu SMP dan Lian Khoen kelas tiga SMA.
Itu pengalaman yang sangat mengerikan bagi A Kim dan sekarang dia akan mengalami hal yang sama. Kengerian itu meremas perasaannya. Dia harus mencari akal agar terhindar dari pengalaman itu. Aku harus menggugurkan janin dalam perutku, pikirnya. Tapi pikiran itu membuatnya ngeri sendiri. A Kim ingat waktu mengantar Agnes ke dokter untuk menggugurkan kandungan. Dia mendengar raungan Agnes yang begitu menyayat di kamar operasi.
Agnes memang selamat. Dokter berhasil mengeluarkan paksa janin dari rahimnya. Bahkan, beberapa bulan berikutnya, A Kim mendengar Agnes kembali ke dokter yang sama untuk menggugurkan kandungan, ketua gank-nya itu seperti tak ada kapoknya. Tetapi A Kim juga mendengar seorang gadis lain yang menggugurkan kandungan ke dokter yang sama akhirnya tewas setelah mengalami perdarahan hebat.
Tetapi bagaimana cara mengenyahkan janin yang kini mengendon di perutnya? Bayangan wajah Papa yang murka terus menghantuinya. Papa pantas murka dan kecewa berat kalau sampai tahu dia hamil di luar nikah. Setelah Lian Khoen menghancurkan harapan Papa, harapan itu kini Papa tambatkan ke pundak A Kim. Papa sudah merencanakan dengan matang akan menyekolahkan A Kim setinggi-tingginya. Papa bahkan sudah menyiapkan biaya untuk mengirim A Kim ke Beijing untuk sekolah bisnis. Papa sudah menghubungi gege-nya di Beijing untuk menitipkan A Kim di sana.
”Belajarlah yang rajin, A Kim. Agar bisnis Papa bisa kamu lanjutkan dan jadi lebih besar. Papa tahu kamu tak akan mengecewakan Papa,” kata Papa.
Apa yang harus aku lakukan, desis A Kim, ditimbun perasaan bersalah. Dia lalu memutuskan akan menghubungi Bong Sin Bu, lelaki yang lebih pantas jadi pamannya itu—dan memang masih terhitung paman atau a suk. Dia adik sepupu Papa. Tepatnya anak dari putra bungsu kakek atau kung kung. Tapi seingat A Kim, sejak kecil Papa tak pernah mengajaknya ke rumah Paman Bong atau melihat Paman Bong mampir ke rumah mereka. Mereka hanya bertemu saat acara perayaan Imlek di rumah kung kung. Itu pun tak pernah terlihat ngobrol akrab, kecuali sebatas tanya jawab basa-basi. Kata Mama, keluarga Bong Sin Bu punya hubungan kurang harmonis dengan keluarga Papa karena persaingan bisnis. A Kim heran sendiri kenapa bisa berhubungan dengan laki-laki itu. Dia menyalahkan diri sendiri, menyesali kenapa mau diajak gank-nya ke pub yang membuatnya harus kepergok A Suk Bong.
”A Kim? Ngapain kamu di sini?” sapa Bong Sin Bu.
A Kim mendongak menatapnya dan terperanjat. Buru-buru dia mematikan rokok dan meletakkan gelas anggurnya.
”Paman Bong?” balasnya dengan suara tercekat.
Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian berlalu ke bar memesan minuman. A Kim mengawasinya dari tempatnya duduk di antara teman-temannya yang terus tertawa-tawa tak memperhatikan wajah A Kim yang gugup, cemas, dan gelisah. Bahkan, mereka tak menyadari perubahan A Kim yang murung sepanjang jalan pulang.
Perasaan takut dan cemas bila Bong melaporkannya ke papa menghantui A Kim. Namun, tiga hari berlalu tak ada kejadian apa-apa. Papa bersikap seperti biasa. A Kim bersyukur, laki-laki itu tidak melaporkan pertemuannya di pub kepada Papa. Dia berdoa semoga telah melupakan pertemuan itu. Seminggu berlalu ketakutannya meredup. A Kim berpikir Bong benar-benar telah melupakan pertemuan itu.
”Dia kan agak mabuk waktu itu, Kim. Enggak akan ingat. Ayo ke sana lagi. Jerry Yan mau gabung sama kita,” kata Agnes.
Jerry Yan, pria populer di sekolahnya karena kegantengan dan kepintarannya, tapi sekaligus lugu dalam urusan perempuan. Nama sebenarnya A Liong karena wajah dan perawakannya mirip Jerry Yan, pemain serial Meteor Garden itu, teman-teman gank-nya menyebut dia Jerry Yan. Mereka selalu menjadikannya buah bibir dan bahan khayalan romantis. Secara diam-diam atau terang-terangan semua teman-teman cewek A Kim berharap menjadi pacarnya.
Agnes bahkan tanpa malu-malu mengatakan bersedia bila dicium si Jerry Yan. Mereka akan selalu menonton dan mengelu-elukan Jerry saban dia tanding main voli.
”Kita bolos jam dua, setelah pelajaran bahasa Indonesia. Ngumpul di tempat biasa,” kata Agnes.
A Kim bimbang. Tapi dia kemudian memutuskan tidak ikut gabung. Perasaan waswasnya belum sepenuhnya lenyap. Ketika dia berjalan hendak pulang melalui gang belakang sekolah demi menghindari teman gank-nya, dia hampir bertubrukan dengan A Suk Bong di mulut gang.
”A Kim, mau ke mana?”
A Kim tergeragap.
”Pulang,” sahut A Kim tanpa menghentikan langkahnya.
”Tunggu!” Bong Sin Bu menangkap tangannya.
A Kim menarik tangannya.
”Kamu tak ke pub lagi Kim?”
”Aku mau pulang,” sergah A Kim.
”Tadi aku ketemu Papamu,” kata Bong, membuat A Kim terjengat.
”Tenang, aku tak melaporkanmu minum di pub,” sambungnya sembari tersenyum.
A Kim memandang mata Bong dengan tatapan memohon dan terima kasih.
”Temani paman ke kota,” ajak Bong Sin Bu dengan sorot mata yang bagi A Kim seperti ancaman.
A Kim berdiri ragu.
”Ayolah, tak akan cerita sama Papamu soal itu.”
Ternyata Bong Sin Bu mengajaknya nonton bioskop di Belinyu setelah keluar masuk pertokoan, lalu makan di restoran. Itu terjadi beberapa kali. Selama makan, A Suk Bong cerita dengan nada mengeluh tentang sifat Chin Kwet Jun, istrinya, yang banyak menuntut dan bermulut tajam kepada ibu mertuanya. Sifatnya itu tidak berubah bahkan setelah A Suk Bong menjadi pengusaha tambang inkonvensional (TI) berkat perizinan penambangan rakyat yang dikeluarkan bupati Bangka.
”Bahkan Chin Kwet Jun mengeluhkan pendapatanku di depan mama. Padahal, pendapatanku lumayan dibandingkan suami-suami kawan Chin. Itu yang membuat kami sering bertengkar,” kata Bong seraya menyantap kwetiau.
”Mama yang sudah agak tuli sering dibuat jengkel dan sakit hati oleh mulut tajam Chin Kwet Jun. Tak ada hormat sama sekali dia sama Mama,” sambung Bong.
”Terakhir Chin Kwet Jun menuduh Mama mengolesi bibir patung Dewa Dapur Co Lu Akung dengan tempoyak pedas. Bagaimana aku bisa betah di rumah?”
A Kim yang semula risi mendengar curhatan A Suk Bong lama-lama menaruh simpati. Seiring dengan itu perlahan-lahan rasa nyaman tumbuh dalam benak A Kim dan tiba-tiba A Kim menyadari pesona A Suk Bong. Pada pertemuan berikutnya A Suk Bong mengajaknya ke hotel.
*
Selain merencanakan pendidikan A Kim, Papa telah menjodohkan A Kim dengan anak gege-nya di Beijing. A Kim belum pernah bertemu langsung dengan sepupunya, kecuali foto.
Lumayan tampan, meski tidak setampan Jerry Yan. Dulu seandainya Lian Khoen tidak kawin dengan pacar Melayu yang menghamilinya, Papa juga akan menjodohkanya dengan anak kerabatnya yang tinggal di Taiwan. Setelah menikah Lian Khoen dan suaminya tinggal di Tangerang, mereka bekerja sebagai karyawan rendahan di sebuah pabrik. Sejak itu Papa tak pernah komunikasi lagi dengan Lian Khoen. Bahkan setelah Mama menunjukkan anak Lian Khoen yang lucu.
Muncul gagasan A Kim untuk menelepon Lian Khoen. Tetapi ketika A Kim benar-benar menelepon dan menceritakan masalah pelik yang dihadapinya, jawaban Lian Khoen sungguh di luar perkiraan A Kim. Kakak satu-satunya itu marah besar. Dia menyarankan Kim segera menggugurkan kandungan mumpung janinnya masih kecil.
”Jangan sampai kamu mengalami nasib buruk seperti yang kualami, Kim.”
Tak ada jalan lain bagi Kim selain menuruti saran kakaknya. Dia menghubungi Bong Sin Bu dan meminta laki-laki itu mencari dokter yang bagus dan mahal untuk menggugurkan kandungannya. Mereka berdebat sengit, Bong Sin Bu ingin mereka berdua pergi dari Belinyu dan menikah di kota lain yang jauh.
Jangan sampai kamu mengalami nasib buruk seperti yang kualami, Kim.
Tetapi akhirnya mereka sepakat menggugurkan kandungan A Kim. Sesudah mencari info ke sana kemari, mereka mendapatkan dokter yang bisa menggugurkan kandungan dengan aman. Tempatnya lumayan jauh di Pangkalpinang. Berangkatlah mereka ke sana. Sialnya ketika mereka sedang menunggu antrean, dari pintu ruangan dokter terlihat Papa keluar sambil menuntun seorang gadis. (*)
Catatan: Beberapa tokoh dalam cerpen ini diambil dari cerpen Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur karya Sunlie Thomas Alexander. Dengan kata lain, cerpen ini merupakan sempalan (spin off) cerpen Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur.
Aris Kurniawan, menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).
sumber : kompas.id, 07 Jun 2024.