Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumah Air oleh Budi Saputra

Posted on Rab, 12 Jun 2024

”Inilah banjir besar terparah sejak lima puluh tahun terakhir.”

”Parah, banyak orang merugi. Tak bisa panen sawit, tak bisa panen karet. Jalanan kini harus pakai perahu. Buaya pun mengintai. Hati-hati.”

Meski jauh dari tempat mengungsi, nyatanya suara-suara yang bising bagai suara lebah itu sampai jua di telinga Midah. Dalam keadaan hamil besar, ia tak menyangka peristiwa itu terjadi. Rumah air, rumah air, begitulah ujian hidup ia lalui saat menunggu kelahiran anak pertama.

Kala berada di rumah orangtua yang hanya halaman rumahnya direndam banjir, Midah mencoba mengurai perjalanan hidup. Satu hal yang ia takutkan, tentu ia tak ingin kehilangan anak yang dikandungnya serta laki-laki yang ia cintai setelah sang ayah yang berpulang tepat dua bulan setelah ia melangsungkan pernikahan.

Parah, banyak orang merugi. Tak bisa panen sawit, tak bisa panen karet. Jalanan kini harus pakai perahu. Buaya pun mengintai. Hati-hati.

Pada siang itu, Midah berjibaku menatap layar ponsel yang melulu memberitakan banjir. Tak ada suasana desa yang asri ia videokan, tak ada suasana syahdu yang ia rasakan.

Sambil menyandarkan kepala ke dinding, ia membaca berita dan sekonyong-konyong menggerutu. Siapakah yang pantas disalahkan di daerah yang bisa digenangi banjir selama berbulan-bulan?

***

Maka begitulah Midah menerima kenyataan pada awal pernikahannya dulu. Calon suaminya bernama Husen diterima bekerja di perkebunan sawit. Selain diterima kerja, juga disediakan tempat tinggal berupa rumah sederhana yang jauh dari keramaian. Jalan tanah yang lumpurnya bukan main parahnya pernah menjadi bahan perdebatan Midah dan Husen yang akan menikah dalam hitungan hari.

”Bapak itu menyediakan tempat tinggal di kebun. Ia memang membutuhkan pekerja yang langsung tinggal untuk mengurus segalanya. Bagaimana, apa setuju jika tinggal di sana?”

Mendengar tawaran itu, hanyalah Midah terpaksa menerima meski dirinya membenci jalanan tanah yang kerap tak bersahabat jika hujan turun. Ia tak kuasa menolak. Sebab, jika bersikeras tinggal di daerah padat penduduk, itu sama saja dengan menolak tawaran kerja hingga membuat Husen melewati hari pernikahan dalam keadaan tak memiliki pekerjaan.

Sebagai anak desa yang terbiasa dengan dunia kebun dan sawah, sungguh tak masalah bagi Midah untuk memulai hidup berumah tangga di kebun sawit. Dan itulah yang ia lalui selama enam bulan usia pernikahan. Tinggal di rumah sederhana, ia merasakan malam begitu mencekam. Apalagi ia khawatir jika sewaktu-waktu ada binatang buas mendekati, bahkan memasuki, rumahnya. Kedatangan ular kobra tentu saja menjadi momok, sebab hewan itu pernah menghadangnya ketika menyusuri kebun sawit setelah hujan petang.

”Bagaimana apa nyaman tinggal di sini, Midah?” Kala itu Husen berharap-harap cemas jika Midah mulai tak kerasan dan meminta untuk pindah rumah.

”Bahaya di sini, Bang. Gajah. Gajah itu bisa saja merobohkan rumah kita. Apalagi bertemu langsung. Bisa diinjak menjadi bubur.”

Midah tentu saja mencemaskan kedatangan gajah yang pernah melintas di perkebunan yang tak jauh dari rumahnya. Selama beberapa hari, ia sempat takut keluar rumah meski pada akhirnya kawanan gajah itu benar-benar menghilang.

”Mungkin telah kembali ke hutan. Biarlah, asalkan tak diburu. Sekarang banyak kasus kematian gajah di Riau. Terbaru ada yang diracun dalam keadaan bunting tua,” tukas Husen mencoba menenangkan Midah, yang duduk santai di beranda pada malam yang diguyur hujan lebat itu. Betapa pada tengah malamnya, rembesan hujan begitu mengalir deras di bagian dapur, hingga membuat kepanikan kecil lantaran air menggenangi lantai secara tiba-tiba.

”Sialan, baru kali ini hujan turun begitu lebat. Ternyata bagian sini bocor parah.” Husen harus membuka baju dan sibuk memperbaiki bagian atap yang bocor. Sementara Midah tak kalah panik dan terbayang sudah gambaran ia tinggal di daerah padat penduduk lalu leluasa untuk membesarkan janin bayinya yang baru berusia dua bulan. Betapa di malam itu, ia tak nyenyak tidur dan dihantui atap rumah yang bisa saja sewaktu-waktu jebol dan hujan jatuh layaknya air terjun.

***

Dan memang, lantaran suatu hal, pada akhirnya Midah pun menyerah. Ia meninggalkan rumah yang membuat masa kehamilan merasa tersiksa. Sebuah upayanya yang mengabari lamaran pekerjaan baru pada Husen ternyata tak sia-sia. Husen diterima bekerja di sebuah hutan industri sebagai operator alat berat.

Namun, begitulah. Pekerjaan yang dimaknai Husen sebagai bekerja di ladang Tuhan itu harus menciptakan jarak. Selain jauh dari kota, pekerjaan itu juga menuntut Husen harus berhari-hari di dalam hutan.

Bagi Midah, hal itu tentulah berat. Tapi berhubung tinggal di daerah yang ramai penduduk, ia mencoba memahami dan tak terlalu merasa kesepian. ”Tolong jaga diri. Meski sesuai keahlian, tapi di hutan banyak tantangan dan risiko.”

Midah tentu khawatir jika terjadi apa-apa pada Husen. Apalagi hutan industri itu bersebelahan dengan hutan lindung yang boleh jadi dihuni harimau. Midah tentu serta-merta tak bisa menafikan bahwa belakangan di permukiman dan perkebunan warga, harimau sering menampakkan diri dan tak jarang berakhir dengan rentetan berita tragis.

Tetapi, begitulah. Meski tidak lagi tinggal di kebun sawit, Midah serta-merta tak bebas berkomunikasi dengan Husen. ”Di sana sinyal atau jaringan susah. Hanya pada titik-titik tertentu. Jadi harap maklum jika ada momen lambat respons ya,” kata Husen saat menjabarkan kenyataan di lapangan.

Termasuk kala baru saja tujuh hari bekerja, Husen mengabarkan seorang pekerja tewas diimpit kayu pada malam hari. Konon penyebabnya lantaran asyik mencari sinyal, si korban tak menyadari bahwa ia berdiri tepat di tempat kayu dijatuhkan dari alat berat.

Tentu saja setelah mendengar itu Midah menyimpan kekhawatiran jika sewaktu-waktu itu juga terjadi pada Husen. Namun, alih-alih terus memupuk kekhawatiran dengan dunia kerja Husen, Midah perlahan terbiasa melalui kehidupan sendiri di rumah sang nenek yang sebelumnya telah lama kosong itu. Midah punya kebiasaan baru, yaitu memasak dengan menggunakan tungku batu bata, lalu memvideokan kesehariannya, seperti memetik sayuran di kebun kecil belakang rumah, memancing di kolam, memasak gulai ikan patin, membelah nangka matang, hingga merawat bunga-bunga layaknya suasana desa yang diiringi alunan musik yang syahdu.

Namun, yang namanya firasat senantiasa memberi petanda akan terjadinya sesuatu yang buruk. Hanyalah Midah, hanyalah ia sempat membayangkan kolam yang di belakang rumahnya suatu saat airnya meluap, hingga ikan-ikan di dalamnya lepas bebas dan menghilang entah ke mana.

***

Dan bagai anak panah menemui sasaran, nyatanya firasat Midah pun menjadi kenyataan.

Banjir besar pun terjadi yang membuat Midah harus mengungsi ke rumah orangtua.

”Inilah banjir besar terparah sejak lima puluh tahun terakhir.”

”Parah, banyak orang merugi. Tak bisa panen sawit, tak bisa panen karet. Jalanan kini harus pakai perahu. Buaya pun mengintai. Hati-hati.”

Bagai segala pekik manusia yang saling bertubrukan di udara, Midah mencerna segalanya begitu dirinya melalui sedikit kepanikan. Husen masih jauh di hutan. Dengan untaian kata-kata penghibur, betapa dari kejauhan sang suami memahami bahwa ini ujian yang harus dilalui untuk mengandung seorang anak dalam kondisi banjir di negeri yang hutannya terus tergerus, dan habitat berbagai hewan terus menyempit.

Inilah banjir besar terparah sejak lima puluh tahun terakhir.

”Tapi hari ulang tahunku tiga hari lagi, Bang. Banjir sepertinya lama surut. Pulang nanti, ya!”

Maka begitulah yang terus terngiang oleh Midah pada petang itu. Betapa di beranda rumah, ia menyaksikan puluhan truk semakin mengular saja lantaran banjir di badan jalan terus saja bertakhta. Air, air, dan air semakin menjadi momok dan senantiasa memenuhi layar ponsel atau kanal berita yang dibacanya. Mengapa banjir tak kunjung surut dan Husen tak kunjung datang pada akhir pekan yang amat ia dambakan? Terlebih sejak pagi hingga petang, nomor telepon Husen sama sekali tak bisa dihubungi. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami yang pernah dikepung ribuan lebah saat di dalam alat berat itu?

Hanyalah kaum ibu yang ia lihat sibuk memasak nasi dan lauk yang tak jauh dari halaman rumah. ”Ini swadaya dan sukarela saja untuk para sopir. Kasihan mereka terjebak banjir dan lapar.”

Dan seperti para sopir truk, tentu saja Midah membayangkan para istri begitu gelisah menunggu kedatangan sang suami. Dan di hari itu, di hari ia genap berusia kepala tiga, nyatanya ia telah menyiapkan beberapa masakan enak untuk Husen. Pula sebotol madu yang ia beli dari seseorang yang sering keluar masuk hutan untuk menumbai, atau sebuah kearifan lokal yang memanen madu dengan cara mengucapkan untaian mantra.

”Wah, hati-hati diterkam harimau. He-he-he….” Sambil tertawa cengengesan, entah kenapa seorang teman Midah tiba-tiba mengucapkan guyonan begitu ketika ia memegang botol madu.

Midah tentu saja kini mulai tak sabaran. Pada saat gerimis tipis mulai hilang di depan pandangannya, ia berharap Husen segera pulang. Tak peduli naik kendaraan apa.

Tetapi begitulah secercah harapan sekonyong-konyong tiba begitu di layar ponselnya ada nama Husen menghubungi dirinya.

”Halo, Buk. Di sini ada kecelakaan kerja. Ada pekerja yang diimpit kayu dan barusan dilarikan ke rumah sakit.”

”Ya, ini dengan siapa?” Belum sempat Midah menuntaskan tanyanya, suara di seberang telepon serta-merta lenyap. Sambungan terputus. Midah yang awalnya gembira kala dihubungi oleh Husen serta-merta langsung berwajah muram dengan jantung berdegup kencang. Apakah Husen yang dimaksud lelaki asing yang ada di suara telepon itu?

2024

Budi Saputra. Lahir di Padang. Diundang pada Ubud Writers and Readers Festival 2012. Ia menulis di beberapa media massa, seperti Padang Ekspres, Lampung Post, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Kompas, dan Koran Tempo.

sumber : kompas.id, 12 Jun 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme