Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman oleh Rizqi Turama

Posted on Ming, 23 Jun 2024

Abas nyaris tersedak saat meminum teh hangat buatannya sendiri. Itu terjadi bukan tanpa alasan. Rasa teh hangat yang ia teguk barusan benar-benar hampir dilupakannya. Hampir. Ia terdiam beberapa detik, lalu menatap gelas kecil berisi teh hangat yang ia pegang. Tak ada yang istimewa dari teh itu. Warna merahnya, aroma khas dari teh celup, serta sedikit manis gula itu tidak istimewa sama sekali. Abas pun meneguk kembali teh hangat yang ia buat. Lelaki kurus berusia dua puluh dua tersebut semakin yakin bahwa rasa teh itu sama persis dengan rasa teh di warung Mang Aman yang ia minum semasa bocah dulu dan menjadi bagian dari memori masa kecilnya.

”Akhirnya,” Abas mendesis pada diri sendiri sembari tersenyum. Tanpa bisa dikendalikan, ia terempas pada kenangan betapa ia dulu terobsesi pada rasa teh hangat warung Mang Aman.

Sewaktu masih berseragam putih merah, ia sering diajak ayahnya untuk mampir di warung Mang Aman. Saat itu masih ada banyak warung rumahan di pinggir jalan, warung Mang Aman salah satunya. Pohon-pohon ketapang berjejer. Udara masih agak bersih, asap kendaraan belum terlalu banyak. Di dalam warung kecil itu, Abas kecil hampir selalu memesan teh manis hangat.

Mang Aman mengira Abas sekadar meniru pesanan ayahnya. Mulanya memang iya. Namun, Abas kecil kemudian menyadari bahwa ada yang berbeda dari teh hangat buatan Mang Aman. Ia mafhum akan hal itu saat ibunya membuat teh hangat untuk tamu yang datang ke rumah. Rasa teh buatan ibu tak sama dengan buatan Mang Aman. Meskipun tak yakin apa bedanya dan tak tahu cara mendeskripsikannya, Abas tahu bahwa rasa teh itu berbeda dari teh buatan ibu ataupun teh buatan orang lain di rumah teman-temannya.

Di kunjungan berikutnya ke warung Mang Aman, Abas memusatkan perhatian pada merek teh celup yang dipakai Mang Aman. Ia pun mendesak ibunya untuk membeli teh celup dengan merek yang sama. Anehnya, rasa teh yang dibuat ibu tetap berbeda. Kali selanjutnya lagi, Abas memperhatikan gula yang dipakai Mang Aman: gula pasir biasa. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang berbeda.

Karena jadi semakin penasaran dan tak bisa membendung diri, akhirnya Abas bertanya langsung kepada Mang Aman, ”Apa rahasianya?”

Mang Aman terkekeh. Begitu juga ayah yang mendengar pertanyaan itu.

”Tidak ada rahasia, Bas.”

”Tapi kenapa bisa beda?”

Ketika itulah Abas mengenal istilah ”Lain tangan, lain rasa”.

”Mungkin karena tanganku telah ribuan kali membuat teh semacam itu, jadi ia terlatih. Dan sering kali, bahan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda karena diolah oleh tangan yang berbeda,” pungkas Mang Aman.

Sejujurnya Abas tak begitu puas dengan jawaban semacam itu. Baginya, kalau itu berkaitan dengan masakan yang lebih rumit, seperti nasi goreng, alasan semacam itu bisa diterima. Namun, teh hangat bukankah ”hanya” teh hangat? Itu bukan jenis minuman yang rumit dan membutuhkan keterampilan tangan yang sedemikian rupa. Sayangnya, di waktu itu ia tak punya pilihan lain selain mengangguk dan bungkam dan menikmati teh hangat yang disajikan Mang Aman di warungnya di setiap kunjungan.

Rutinitas dan kewajiban lalu menggulung semua tanda tanya terkait teh hangat buatan Mang Aman, mengendapkannya ke bawah kenyataan-kenyataan lain yang lebih mendesak untuk dilihat. Waktu melesat seperti menggunting mimpi dan Abas mendapati dirinya telah menjadi pekerja di dapur sebuah hotel terkenal di kota itu. Lokasi tempatnya bekerja tak begitu jauh dari warung Mang Aman, yang berarti tak jauh dari hotel-hotel berbintang lainnya. Sesekali, di waktu istirahat atau sepulang kerja, Abas akan menyempatkan diri berkunjung dan memesan teh hangat. Namun, rasanya telah berubah.

Ia pernah menyampaikan soal itu ke Mang Aman yang telah kian renta dan mendapatkan jawaban, ”Apa yang belum berubah di kota ini, Bas?”

Abas mengangguk. Jalan di depan warung Mang Aman telah diperlebar hingga tiga kali lipat, tetapi kemacetan selalu lebih parah ketimbang tahun-tahun lampau. Pohon-pohon ketapang yang dulu berjejer telah ditebang digantikan tiang-tiang listrik dan lampu jalanan lengkap dengan silang sengkarut kabel-kabelnya, juga dihiasi iklan-iklan peninggi badan, obat kuat, atau jasa sumur bor. Mobil-motor berlalu lalang meninggalkan asap dan debu di musim kemarau dan mencipratkan air coklat di musim hujan. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan tinggi bermunculan seperti memangsa bangunan kecil yang lebih dulu ada. Warung Mang Aman hanyalah segelintir bangunan yang belum dilahap hotel-hotel dan apartemen-apartemen dan kantor-kantor.

Sekitar sebulan lalu Mang Aman berujar murung, ”Bukan cuma teh, masakanku telah berubah semua rasanya. Pasti kau juga sudah lama sadar. Mungkin usia tua membuat tanganku tak seterampil dulu. Pelanggan sepi, padahal biaya produksi naik terus karena aku harus beli air galon. Kau tahu sendiri air PAM tak bisa diandalkan dan sumur telah lama kering.”

Abas ingin mengucapkan kata-kata penghibur, tapi lidahnya kelu sehingga ia hanya mengangguk dan bungkam dan menikmati teh hangat yang disajikan Mang Aman yang rasanya telah berubah jauh sekali meskipun teh celup, gula, bahkan tangan yang membuatnya pun masih sama. Di momen itu Abas mencoba mengikhlaskan kemungkinan rahasia teh hangat Mang Aman akan menjadi rahasia selamanya. Abas menggaruk-garuk kepala dan melihat kalender, mencoba mengingat hari itu sebagai salah satu hari yang membuatnya bersedih. Seminggu kemudian, Abas menemukan kesedihan lain saat mengetahui rumah-warung Mang Aman dijual. Ia tidak sempat melakukan perpisahan dan tak pernah bertemu dengan Mang Aman lagi sejak itu.

Sialnya, waktu tidak memberikan keistimewaan pada orang yang bersedih. Ia terus berjalan. Abas tetap harus menjalankan rutinitasnya di bagian dapur hotel mewah dengan mencuci piring, mengangkat galon-galon air minum, memindahkan bahan-bahan masakan, dan hal-hal kecil lainnya. Di antara kesibukan itu Abas mendapati bahwa hotel tempat ia bekerja mengganti merek teh celup khusus untuk karyawan ke merek yang sama dengan yang dipakai Mang Aman: sebuah langkah penghematan. Ia pun menyeduh air dan mencelupkan kantong teh untuk menghibur diri, tetapi justru rasa teh yang berbeda dari harapan membuat perasaannya makin tak karuan. Abas pun memutuskan bahwa semua usaha mengungkap rahasia teh hangat Mang Aman harus dihentikan sepenuhnya.

Baca juga: Bunga Bulan

Akan tetapi, kini, di dalam dapur hotel berbintang tempat ia bekerja, setelah sama sekali tak mengharapkan apa pun, ia justru menemukan cara membuat teh hangat yang rasanya sama persis dengan buatan Mang Aman. ”Resep” itu pun ditemukan secara tidak sengaja. Jika saja air galon untuk minum pegawai hotel didistribusikan tepat waktu, tentu ia tidak akan terpaksa menghidupkan keran dan memasak air secukupnya. Jika saja merek teh yang digunakan hotel itu berbeda, mungkin ia juga tidak akan iseng-iseng mengambil teh celup di rak khusus karyawan. Jika saja Abas tidak tahu bahwa air keran di dapur berasal dari sumur bor dan bukan air PDAM, mungkin otaknya tidak bisa menyangkutpautkan hal tersebut dengan sendirinya.

Rasanya Abas ingin berlari ke warung Mang Aman dan memberi tahu lelaki sepuh itu bahwa rahasia teh hangat itu ada di airnya. Mang Aman sama sekali tidak kehilangan keterampilannya. Mang Aman hanya kehilangan air sumurnya yang menjadi sumber penghidupan sejak hotel-hotel berdiri, sejak apartemen-apartemen membubung tinggi, sejak Mang Aman dan warga sekitar terpaksa memasak air dari PDAM yang kuat sekali bau kaporitnya atau membeli air isi ulang dalam galon, sejak….

Namun, Abas tersadar bahwa Mang Aman telah pergi entah ke mana dan warungnya telah dijual. Abas menyesap lagi teh hangat di gelas. Ia hirup aromanya, pandangi warna merahnya, hidu bau gulanya, lengkap dengan segala kenangan yang menyertainya. Teman-teman Abas di dapur kebingungan karena lelaki itu menyesap teh hangat sambil menangis tanpa suara.

”Apakah aku sudah jadi bagian dari orang-orang yang membuat Mang Aman kehilangan kehidupannya?” ucap Abas setelah tehnya habis.

Teman-teman Abas semakin bingung.

***

Yogyakarta, 23 April 2024

Rizqi Turama, dosen Universitas Sriwijaya. Lahir di Palembang, 4 April 1990. Pernah mengikuti workshop cerpen Kompas tahun 2016. Ia pernah memenangi beberapa lomba penulisan cerpen. Ia dapat disapa di Instagram dengan akun @rizqiturama.

Joni Ramlan, lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 21 Juni 1970. Aktif berpameran sejak tahun 2001. Penghargaan yang pernah diraih, antara lain, finalis Indonesia Art Award 2008 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, serta tiga karyanya lolos dalam Beijing International Art Biennale 2017 dan 1 karya dikoleksi National Museum of China (NaMoc) Beijing.

sumber : harian Kompas edisi 23 Juni 2024 di halaman 10 dengan judul “Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme