Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Genangan Kenangan oleh Eko Darmoko

Posted on Ming, 10 Sep 2023

Oleh EKO DARMOKO

—

Sembari menunggu tamu yang ingin menyewanya, Chika menenggelamkan diri dalam genangan busa di bathtub hotel. Ia ingin tampil sempurna di hadapan tamu yang sudah mengisi saldo rekeningnya. Selain wangi dan tampil memesona, ia juga harus bersikap hangat supaya tamu-tamunya tidak mampir cuma sekali. Tujuannya demi menimbun rupiah sebanyak mungkin.

JC Marion lantai 27,” tulisnya di WhatsApp, tadi, sebelum berendam dalam bathtub.

”Kamar nomor berapa, Sayangku?” balas si tamu.

”Tentunya Om sudah tahu tentang permainanku, bukan? Aku pantang menyebutkan nomor kamar hotel.”

”Baiklah, Manisku. Aku datang pukul delapan malam tepat, atau dua jam dari sekarang.”

”Dari pintu lift lantai 27, Om lurus saja. Kamarku ada di sebelah kanan. Selanjutnya, berharaplah pada dewi fortuna. Tebaklah!”

”Aku ikuti game ini. Sudah puluhan kali aku selalu benar menebak nomor kamarmu.”

Baca Juga: Kuliner, Retrospeksi, dan Dapur sebagai Arena Pertarungan

Genangan busa menyeret Chika pada sebuah kenangan. Ia tiba-tiba merasa jijik dengan tubuhnya. Namun, meskipun jijik menurutnya, toh tubuh itu masih dicari oleh banyak tamu. Mereka tamu bukan sembarang tamu. Mereka adalah pohon uang baginya. Tak main-main, tamunya berasal dari circle papan atas. Mulai anggota dewan, bos perusahaan pelat merah, pejabat negara, hingga pengusaha dan taipan yang memiliki banyak gerai di plaza elite.

Ketika tangan kirinya mengusap dada dan tangan kanan mengusap kelamin, Chika makin dalam dan jauh tenggelam pada kenangan. Tangan kanannya naik ke atas, tibalah pada bekas operasi Caesar di perutnya. Amarahnya tiba-tiba meledak. Ia hantam permukaan busa, hingga busa itu semburat mencapai atap kamar mandi.

Lima tahun lalu, selepas tamat SMA, Chika diperkosa pacarnya di sebuah penginapan murahan. Mereka berdua habis piknik di daerah pegunungan untuk merayakan kelulusan sekolah. Saking serunya, mereka lupa waktu hingga larut malam. Tiba-tiba, di perjalanan pulang, pacarnya membelokkan motor ke penginapan untuk staycation.

”Ngapain ke sini?” tanya Chika.

”Sudah malam. Jalanan sepi dan berbahaya. Banyak begal. Lagian hujan makin deras. Kita nginep. Besok pagi pulang,” cerocos sang pacar.

”Nggak ah! Pulang sekarang saja!” Chika merengek.

Tapi, apa mau dikata, sang pacar berhasil menggiring Chika ke kamar penginapan dengan dua ranjang. Di kamar terkutuk itulah, masih segar dalam ingatannya, untuk pertama kalinya tubuh laki-laki masuk ke dalam tubuhnya. Peristiwa itu terjadi menjelang subuh. Chika yang tertidur pulas memancing berahi sang pacar yang terbangun di ranjang lainnya. Chika berontak dan memohon, serta menolak persetubuhan. Tapi apa daya, laki-laki selalu punya segunung tenaga ketika dicengkeram berahi, dan Chika tak bisa melawannya.

Berhari-hari setelah kejadian itu, Chika ditikam kebingungan. Sang pacar tiba-tiba menghilang seperti digondol demit. Chika hanya berhasil menyembunyikan kehamilannya selama lima bulan. Setelah itu, ia diusir dari rumah. Keluarganya tak kuat menahan malu atas aib ini. Selama menunggu kelahiran si jabang bayi, Chika hidup berpindah-pindah dari rumah teman satunya ke rumah teman lainnya. Namun, mana ada manusia yang betah menampung perempuan bunting tanpa suami dalam waktu lama?

Dari rumah terakhir yang ia tumpangi, Chika diberi sejumlah rupiah. Tentu, uang ini dimaksudkan sebagai tanda mata untuk mengusirnya secara halus. Berbekal uang itu, Chika menyewa kamar kos. Di sinilah, di kosan short time, Chika terjerumus dalam lembah esek-esek. Tempat kos yang diharapkannya menjadi suaka aman, setidaknya untuk sementara waktu, ternyata adalah sarang kaum pelacur dari berbagai usia, mulai belasan tahun hingga tiga puluhan tahun. Ia menyadarinya setelah beberapa hari tinggal di sana.

Bila teringat wajah bapak kos itu, kepala Chika langsung mendidih. Bapak kos yang diharapkan bisa menjadi sosok pengayom ternyata tega menusuk Chika dari belakang.

”Sudah berapa bulan perutmu, Nduk?” tanya bapak kos.

”Sebentar lagi sembilan bulan.”

”Kamu jangan khawatir. Nanti aku yang melunasi biaya persalinanmu.”

Tak lama setelah obrolan itu, Chika ditikam petaka. Ia terjatuh dari anak tangga saat mengambil jemuran. Ia cedera parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter terpaksa melakukan operasi Caesar. Selain cedera, ternyata posisi bayinya melintang. Namun, takdir tak bisa dilawan. Chika selamat dari maut, tapi bayi perempuannya mati tak lama setelah dikeluarkan dari perutnya. Bapak kos menepati janjinya, seluruh biaya ditanggungnya.

”Kamu tetaplah ngekos di sini. Tak perlu dipikirkan biaya sewanya,” bapak kos membujuk Chika yang sudah melewati masa nifas.

”Tapi aku ingin pergi. Aku ingin mencari pekerjaan di luar sana.”

”Bekerjalah di sini. Belajarlah dari mbak-mbak lainnya.”

”Ogah!” bentak Chika. ”Aku sudah salah tinggal di sini. Dan, aku tak ingin salah lebih jauh lagi. Aku tak ingin jadi lonte.”

Bapak kos menampar pipi Chika. ”Ingin pergi dari sini kamu? Bayar dulu seluruh biaya rumah sakit dan operasi.”

Bapak kos yang sudah lama menduda itu kemudian mencekik leher Chika. Kata-kata umpatan meledak dari mulutnya. Sementara Chika hanya bisa menahan sakit. Lalu dibanting ke atas ranjang.

”Membungkuk!” bentak bapak kos.

Chika tak punya pilihan dan tak sanggup melawan. Ia hanya bisa menangis dan merintih. Itulah persetubuhan kedua bagi Chika. Lebih jahanam ketimbang yang pertama.

”Tinggallah di sini, Chika!” bujuk bapak kos, setelah tuntas menyalurkan berahi, nadanya terdengar lembut. Chika hanya mematung, dingin, tanpa suara, seperti manekin yang terbujur kaku di ranjang. Sejak malam itulah, tubuh Chika menjadi santapan lezat bapak kos.

Kenangan pahit terus menggempur kepala Chika. Sulit menghindarinya. Ia bangkit dari bathtub, membilas tubuhnya dengan pancuran air, lalu mengeringkannya dengan handuk. Ia berjalan sambil telanjang menuju pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon lantai 27. Langkahnya terhenti. Ia mengamati tubuh telanjangnya dari pantulan kaca itu.

”Sudah siap melayani tamu?” suara bapak kos kembali mengusik telinganya.

”Siap, Pak!”

”Jangan ’Pak’, panggil ’Papi’ saja seperti mbak-mbak lainnya.”

Tamu pertama Chika di rumah kos itu adalah bandot tua pemilik showroom mobil di tengah kota. Antara bapak kos dan bandot tua itu sudah saling kenal. Mereka teman lama. Makanya, bapak kos merelakan bandot tua membawa Chika ke hotel untuk layanan long time.

Jelang debutnya sebagai pelacur, Chika grogi. Ia membolak-balik majalah yang ada di kamar hotel. Ia kaget setengah mati ketika melihat wajah pacarnya, laki-laki yang merenggut keperawanan dan menghamilinya, di sebuah halaman koran. Laki-laki itu diwartakan sebagai pengedar sabu-sabu, tewas ditembak polisi karena menghunus celurit saat penyergapan.

”Mampus kau!” rintih Chika. Si bandot tua mendengarnya samar-samar.

Lamunan Chika buyar saat telepon genggamnya berdering. Buru-buru ia mengangkatnya.

”Halo, Cantik! Om segera meluncur ke JC Marion lantai 27. Kamu sudah mandi?”

”Sudah dong, Om!”

”Hmm, sedap. Harumnya sudah tercium sampai sini.”

Sepersekian detik setelah menaruh telepon genggamnya di meja, Chika kembali terseret, terbawa arus kenangan. Ia jijik dengan tubuhnya.

”Yakin pulang sendiri?” tanya si bandot tua, pagi hari, setelah menyetubuhi Chika semalam suntuk. Chika menjawabnya dengan anggukan kepala. ”Uangnya sudah kutransfer ke papimu. Tapi ini buatmu, untuk ongkos naik taksi dan jajan.” Chika kaget melihat segepok uang yang disodorkan bandot tua. Di pikirannya melintas sebuah rencana. Sebelum meninggalkan kamar, kening Chika dikecup hangat oleh bandot tua. ”Hati-hati di jalan, sampaikan salam buat papimu.”

Dari situ, Chika nekat kabur, memilih tidak kembali ke tempat bapak kos. Ia muak dengannya. Berjam-jam Chika menyusuri kota dengan taksi, akhirnya ia menemukan rumah kos dalam arti sebenarnya. Di rumah kos baru ini Chika mengaku sebagai karyawati toko roti. Padahal, ia tetap tenggelam dalam dunia prostitusi. Sudah kadung basah, katanya. Memanfaatkan MiChat, Chika berani menjajakan diri. Ia mengganti nomor teleponnya agar bapak kos, bandot tua, penghuni kos lama, kerabat, dan lain-lainnya tidak bisa menghubunginya. Ia ingin hidup dengan suasana dan orang-orang baru.

Lambat laun, Chika tampil sebagai primadona dalam orbit pelacuran kaum elite. Parasnya yang cantik, kulit putih, dan tubuh ranum menjadi kail untuk membangunkan berahi para hidung belang papan atas. Ia pun membanderol diri dengan harga selangit. Hidung belang kelas kampung silakan minggir! Dari jerih payah menjual tubuh inilah saldo Chika menggelembung. Ia pun pindah ke apartemen middle class di barat kota.

Desir angin menyusup dari pintu kaca yang sedikit terbuka, menggerayangi tubuh telanjangnya. Chika menggigil. Ia mengenakan sweter panjang, lalu berjalan menuju balkon. Dari JC Marion lantai 27 ia melihat Surabaya seperti labirin pembuluh darah yang berpendar.

Pikirannya melayang-layang. Wajah ayah dan ibunya terbayang-bayang. Tapi hanya sebentar. Kemudian wajah cleaning service di apartemennya mendadak mengudeta indranya. Sudah sejak lama, sejak pindah ke apartemen itu, Chika jatuh cinta padanya. Di matanya, cleaning service itu adalah laki-laki sempurna untuk dijadikan suami; rajin ibadah, sopan, dan baik hati. Bahkan, Chika pernah memberanikan diri melamarnya, tapi hanya dibalas dengan senyuman, tanpa kata-kata.

Tepat pukul delapan, telepon genggamnya berdering. Chika meninggalkan balkon dan masuk ke kamar, mengangkat panggilan.

”Aku batal ke sana. Istriku kena serangan jantung.”

”Aku makan gaji buta dong, Om?”

”Ah, santai.” Sambungan telepon putus.

Oleh sebab pikirannya sudah kadung menjurus ke cleaning service pujaan hatinya, Chika memberanikan diri untuk meneleponnya. Pada dering ketiga, panggilan itu diangkat.

”Halo, Mbak Chika. Wastafel di kamar Mbak Chika mampet lagi?”

”Aku di JC Marion, Mas. Bisa ke sini? Aku butuh teman ngobrol.”

”Maaf, Mbak. Nggak Bisa.”

”Kenapa, Mas?”

”Aku menghormati kekasihku. Kemarin aku dan dia resmi bertunangan.”

”Oh…” air mata Chika meleleh.

”Maaf ya, Mbak. Itulah alasanku menolak lamaran Sampean dengan senyuman.”

”Semoga lancar ya, Mas.”

Chika langsung mengakhiri sambungan telepon. Hatinya remuk. Tangisnya meraung-raung di kamar hotel. Ia melepas sweter, lalu menenggelamkan diri dalam bathtub. (*)

—

EKO DARMOKO : Prosais kelahiran Surabaya. Masuk dalam daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Novel terbarunya Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022). Menjadi salah satu cerpenis terbaik dalam sayembara menulis cerpen Dewan Kesenian Surabaya 2019. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 10 September 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme