Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lima Belas Juta untuk Juto oleh Hasbunallah Haris

Posted on Ming, 17 Sep 2023

Oleh HASBUNALLAH HARIS

—

Bujang mengambil minyak tancho di dalam lemari pakaian sebelum kemudian menghadap ke cermin kamar yang sudah sedikit buram. Bagian atas cermin itu sudah retak, dan sebagai antisipasi agar kaca tetap kokoh, laki-laki flamboyan itu menempelkan stiker Rhoma Irama dengan gitarnya yang sangat legendaris dan tersenyum penuh. Jangan Begadang, tulisan itu dicetak setebal dan sejernih mungkin.

BUJANG, sudah siap waang1?” Terdengar teriakan dari ruang depan.

”Sebentar lagi,” jawab suara dari dalam bilik. Malam itu keduanya sudah sepakat akan pergi melihat rabab bersama. Cupak yang selalu disiplin soal waktu harus menekan ego ketika berhadapan dengan Bujang yang suka berdandan dan berlama-lama. ”Kita tidak akan terlambat, santai saja,” tambahnya lagi, kali ini dia sudah selesai dengan ritualnya dan mengunci pintu kamar.

Cupak segera berdiri, menyampirkan kain sarung ke leher dan punggung sambil komat-kamit. Sudah setengah jam dia menanti dan hasilnya nyaris tak ada bedanya. Kulit Bujang masih hitam terbakar matahari, mukanya juga. Tak ada yang spesial kecuali model rambutnya yang mencolok dan terlihat mengenaskan macam macang becucut.

Keduanya sudah meninggalkan rumah-rumah bagonjong dan terus melintas di bawah temaram malam bulan Juni. Hanya ada jalan setapak yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung sebelah. Kiri kanan hanya ditumbuhi perdu dan beberapa batang kelapa condong yang sudah uzur. Bujang berjalan rapat ke sisi Cupak, bulu kuduknya mulai meremang. Apalagi melihat nayang2 di tangan laki-laki itu sudah nyaris sampai ke pangkalnya, berarti sebentar lagi mereka akan berjalan tanpa penerangan apa pun. Meski bulan separo menggantung di atas sana, cahayanya hilang-hilang timbul dipeluk awan. Kadang ada kadang asyik bercumbu, tak peduli dengan dua manusia yang berjalan bersisian di bawah dangau rumah gadang ujung kampung, rumah gadang Piak Seha. Konon, orang-orang sering melihat si empu rumah yang sudah almarhumah itu berdiri di tingkok3 dengan kain telekung terlilit di sekujur tubuh. Sejak saat itu entah dari mana datangnya, puluhan cerita keseraman rumah gadang Piak Seha mengalir deras bagi orang-orang Batu Bajanjang dan Banuaran. Ceritanya lekat di lepau nasi, pangkalan ronda, panggung sandiwara, sekolah, bahkan kantor wali nagari.

”Aih, ramai betul, Cupak. Sudah tak dapat bagian lagi kita,” keluh Bujang berhenti di belakang punggung orang yang ramai. Cupak hanya diam, mengutuk dalam hati; sudah sejak tadi kubilang pada kau, Bujang kalera.4

Cupak beringsut ke arah batang durian meranggas yang kelihatan agak tinggi. Dari sana mereka dapat menyaksikan tukang rabab yang mendendangkan cerita Puti Karang Putiah. Di sana ternyata juga sudah ada Miun, kawan satu sekolah mereka. Sudah sejak tadi dia sampai di sana dan jongkok sambil membalut diri pakai kain sarung.

”Aha, baru kulihat kalian, dari mana saja?” tanya laki-laki itu masih jongkok dan tak peduli dengan tukang rabab.

”Kami baru sampai, ramai betul ternyata.”

”Tentulah, sudah makan limpiang5 dan pinyaram5 kalian? Sebentar, kuambilkan,” kata Miun lagi, beberapa detik kemudian sudah hilang di balik kerumunan orang ramai yang sedang menonton. Miun adalah satu-satunya sahabat mereka yang demikian cuah dan mau berbagi dengan orang lain, terserah apa saja itu. Di kelas dia juga leluasa membagikan PR atau lembar ujiannya. Meski tak pernah mencecap juara kelas, anak laki-laki cungkring, mata cekung, dan suara nyaring itu tak pernah melepaskan peringkat empat belas sejak cawu pertama.

Tak menunggu lama, Miun kembali dengan air muka semringah. Dikeluarkannya sepiring penuh limpiang dan pinyaram dari baik kain sarungnya yang kumal itu, pun ditambah beberapa genggam emping pulut yang diambilnya sambil berlari karena takut ketahuan. Melihat barang yang satu itu, mata Bujang dan Cupak langsung berbinar-binar.

”Aih, tak sia-sia kita datang kemari malam ni, Cupak. Walau datang belakangan, tapi tetap kabagian jatah, sayang tak sekalian dengan kopi.” Bujang mencomot satu limpiang yang masih panas.

”Diberi hati mintak jantung waang agaknya,” rutuk Miun nelangsa.

Cupak terkekeh, ikut mengambil satu pinyaram. ”Tak ada kopi, pinyaram pun jadilah, daripada tidak sama sekali. Terima kasih, Miun.”

Miun lalu merapatkan duduknya ke Bujang dan Cupak. Matanya awas menatap sekitar, lalu pelan-pelan dia mulai berbisik pada kawannya yang sedang asyik mengunyah emping pulut yang ditumbuk itu.

”Sudah dengar kalian kabar baru?” tanya Miun cadas, berbisik, bersinergi macam merencanakan sesuatu. ”Simauang,” lanjutnya lebih bertenaga. ”Dia baru saja beli anjing baru yang sangat mantap, paling besar, paling top, diantar langsung dari Bukittinggi. Kabarnya besok mau adu tanding di Darsan.”

Demi nama anjing disebut-sebut, pucuk telinga Cupak langsung berdiri. Dia sudah tahu reputasi Simauang yang gemar gonta-ganti anjing yang sangat hebat, bermartabat, lincah, dan dapat diandalkan. Barangkali karena reputasinya itu jugalah dia diangkat secara hormat untuk menjadi ketua Persatuan Buru Babi (PBB) di kampung mereka.

Entah dari mana dan sejak kapan Simauang mau berinvestasi kepada anjing pemburu. Dia tidak mencatatnya, namun minatnya itu timbul setelah melihat adu babi di Baso, Agam, beberapa tahun lalu. Ada sebuah sekolah luar biasa (SLB) di sana. Sepelemparan batu dari SLB Baso itulah berdiri panggung adu babi lengkap dengan jalur-jalurnya. Babi yang berhasil ditangkap akan dilepas dan anjing-anjing akan berkejaran saling terkam. Bisa dibilang itu adalah gelanggangnya pemburu, sebuah training untuk anjing yang baru berlatih, dan sebuah ajang pamer untuk anjing-anjing pemburu yang sudah berpengalaman. Sementara bagi babi yang menjadi tokoh sentralnya adalah tragedi berkepanjangan.

”Tradisi Minangkabau, warisan leluhur, kita harus terus melestarikan budaya buru babi ini. Berburu itu bukan hobi, melainkan panggilan jiwa,” raung Simauang satu kali setelah berhasil membeli seekor anjing peranakan berwarna oranye yang dicat dengan cat semprot membentuk angka 49 di pantatnya. Sebagai orang kaya, tentu saja Simauang dikaruniai banyak teman. Jadi, ketika dia diajukan untuk menjadi ketua PBB, nyaris semua orang mengamininya.

Tiba-tiba Miun memecah keheningan. ”Babi hitam yang membunuh Mak Lepai dulu, yang berhasil ditangkap Mak Simauang, kabarnya besok akan dikorbankan. Jadi, selepas sekolah besok kita harus ke Darsan untuk melihat kehebatan anjing itu. Bagaimana?”

Bujang mengangguk, dia tak ada masalah. ”Boleh, selepas itu boleh juga kita pergi mandi-mandi ke batang bangko6 sekalian.”

Miun kembali menggamit kedua lengan sahabatnya, kali ini berbisik lebih keras. ”Kabarnya anjing itu dibeli seharga lima belas juta, Kawan. L-I-M-A B-E-L-A-S J-U-T-A, cash.”

***

Tempat pautan anjing sudah penuh. Pohon-pohon di dekat kawasan Darsan juga sudah minta ampun karena tiba-tiba menjadi tempat mengikat anjing-anjing tak tahu adat itu. Beberapa di antara mereka kencing terang-terangan di dekat tuannya dan anjing betina yang centil. Semua pemandangan itu tak lepas dari mata tiga remaja yang sedang bersemangat tersebut. Hingga pada puncaknya, sebuah mobil Jeep putih hitam (benar-benar Jeep karena bukan Carry yang dipangkas atau dimodifikasi) masuk ke Darsan, disertai gonggongan keras dari anjing yang dikurung di dalam sangkar besar. Di sebelahnya ada sebuah sangkar besi yang nyaris sama besarnya. Isinya bukan anjing, melainkan seekor babi hutan yang gemuk, padat, dan beringas.

Seluruh mata beralih. Orang-orang tentu sudah tahu siapa yang datang, Simauang Tuah dengan kroni-kroninya. Orang-orang terpana melihat anjing yang terkurung di dalam sangkar besi, diturunkan oleh Jintan dan dua orang lainnya dengan hati-hati. Anjing itu tak menyalak lagi, namun seluruh mata anjing-anjing yang hadir di sana tertuju padanya. Dia sudah bagaikan anjing alpha, pemimpin para anjing. Anjing-anjing betina menjauh dari pejantan yang terikat, hendak melompat mendekati si anjing hitam. Anjing-anjing jantan yang sudah tiba lebih dulu memandang dengan muka sayu, tunduk, mengakui kekalahan mereka bahkan sebelum berkenalan.

Jintan begitu semangat, juga anjing di dalam sangkar. Dia mendengus-dengus, matanya tajam, lidahnya terjulur keluar sepanjang nyaris sepuluh senti, perutnya kurus, tungkai kakinya panjang, dan napasnya kembang kempis karena terlalu bersemangat. Saat keluar, telinganya langsung tegak, pun lehernya. Dia menjiplak tabiat tuannya yang suka berbangga dalam bicara, menyombongkan kalung mewah yang melingkar di leher anjing bernama Si Juto itu.

Pintu sangkar dibuka. Babi keluar mendengus-dengus, anjing riuh menarik-narik lehernya sendiri, menggonggong serentak bagai menyanyikan himne selamat datang. Namun hanya beberapa anjing yang dibiarkan mendekat, empat anjing spesial yang dipilih sendiri oleh Simauang untuk membuka pertama. Orang-orang bersorak-sorai bagai perlombaan panjat pinang, menjagokan anjing yang begitu besar itu. Beberapa di antara yang hadir berbisik ”Berapa kilo makan anjing itu sehari?” atau ”Agaknya makan anjing itu sama dengan makan kita, Ketua sudah bagai mengadopsi seorang laki-laki dewasa ke dalam kartu keluarganya.” Dan semua hiruk pikuk itu dianggap angin lalu bagi Simauang, memberi makan anjing apa susahnya?

Percobaan pertama, anjing dilepas, babi dilepas. Babi lari terbirit-birit, anjing mengejar dengan ganas, orang-orang berteriak membusa-busa, mengacungkan tangan, memekik bagai siamang di tengah rimba. Beberapa yang datang tanpa membawa seekor anjing pun tebersit untuk membeli anjing, namun takut dengan bini di rumah. Beberapa yang datang membawa anjing kecil hendak pulang cepat-cepat sebab malu anjingnya nyata tak akan bisa melawan. Cupak, Bujang, dan Miun menyaksikan semua itu dari atas pohon parawe yang meranggas. Dia melihat babi itu meradang, anjing yang menggertak, babi terguling di jalur pacu, anjing yang mundur lalu maju lagi dengan takut-takut. Nyata benar pandangan siaga menjelang sore itu bak pasar petang dadakan. Semua orang yang hadir di sana memuji kehebatan anjing Simauang. Pria bertopi koboi itu tersenyum semringah, tak pernah selebar itu senyumnya selama satu dekade terakhir.

”Gigit ekornya, ayo maju!”

”Kakinya, jangan ekornya,” teriak yang lain pula.

”Apa saja, yang penting gigit. Iya seperti itu, matikan saja babi itu!”

Menjelang magrib, entah setan apa yang masuk ke dalam tubuh Simauang, pria itu mencoba duel antara Juto dan babi legendaris. Pengumuman itu disambut meriah oleh hadirin yang hadir. Itu adalah pemandangan yang sangat dinantikan. Mereka yakin cerita duel sore itu akan tetap hangat sebulan ke depan.

Anjing dan babi dilepas bersamaan, kali ini babi besar itu tidak lari. Kepalanya tepat menghadap Juto, seperti yang diharapkan. Keduanya berduel. Babi yang sudah kelelahan itu mendengus marah, beberapa bagian di punggung dan perutnya kelihatan sudah memerah akibat terkena cakaran. Sementara Juto tetap dalam kondisi prima, tenaganya kuat, gonggongan dan gigitnya kencang, dia melompat-lompat menerjang babi hutan itu.

”Lihat, anjing itu sudah menggigit paha babi, mana mungkin lagi dia bisa melawan. Tenaganya sudah habis,” erang Bujang.

”Lihat saja, semakin dia terluka, dia akan semakin kuat.”

Belum kering mulut Cupak berucap demikian, dengan sekali tangkapan, babi berhasil mencaplok leher Juto. Anjing itu memekik nyaring, tak seperti gonggongannya yang sudah-sudah, kali ini rintihan kesakitan. Semua orang terpana kecuali Simauang dan Jintan. Mereka segera mengejar ke tengah gelanggang untuk menyelamatkan anjing hitam besar tersebut. Namun di luar dugaan, babi melepaskan gigitannya dan berlari kencang lurus ke arah pagar, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya. Sementara Juto yang malang menggelepar di tengah gelanggang Darsan, sebelum kemudian diam tak bergerak. Raib sudah uang 15 juta milik Simauang. Benar kata orang-orang dahulu, kalau ingin cepat menghabiskan duit, ikatkan saja ke pantat anjing! (*)

—

HASBUNALLAH HARIS : Mahasiswa UIN Imam Bonjol, Padang

sumber : JAWAPOS, Minggu, 17 September 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme