Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suara dari Pohon Kepuh oleh I Wayan Kerti

Posted on Rab, 10 Jul 2024

”Tujuan paruman hari ini tidak lain adalah membicarakan statusnya Bapa Kobus.” Kata-kata Tetua dadia itu masih terngiang di telinga Bapa Kobus.

Tusukan kata-kata itu menyakiti perasaannya. Bagaimana tidak, sudah bertahun- tahun hidup di desa itu sampai beranak cucu, baru kali ini ada yang mempermasalahkan dirinya. Baru kali ini pula sampai dibawa ke paruman dadia.

Dulu, ketika Bapa Kobus masih muda, tidak ada yang berani. Jangankan membawa ke paruman, membicarakan saja pada sungkan. Tujuh puluh lima tahun sudah ia menapaki kehidupan di desa itu, baru kali ini ada masalah yang membuat hatinya gundah.

Ketika berumur dua tahun, si Kobus kecil diajak ke Bali dari daerah timur oleh seorang inspektur polisi yang sempat bertugas di sana. Sejak saat itu, ia merasa hidupnya selalu beruntung. Ke Bali naik kapal, ia dimasukkan ke dalam drum untuk mengelabui petugas. Taktiknya berjalan lancar. Di Bali, ia hidup berpindah-pindah mengikuti majikannya bertugas.

Ketika dewasa, ia diberikan sebidang lahan di mana tumbuh sebatang pohon kepuh. Di sana ia membangun rumah, menjadi bagian dari warga desa dan mengikuti tradisi adat setempat. Ia giat bekerja dan tak memilih-milih pekerjaan.

Pekerjaan utamanya adalah kenek truk jurusan Bali-Jawa. Truk yang dikeneki biasanya mengirim salak bali. Ia tampak sangar dengan tubuh yang tinggi besar dengan kulit hitam legam. Tenaga juga kuat dan bernyali besar. Bila ia ikut berangkat ke Jawa, sang sopir akan merasa aman dan nyaman. Bapa Kobus berani duel dengan bajing loncat di tanah Jawa yang terkenal galak dan brutal.

Pada zaman Gestok, Bapa Kobus terkenal karena keberaniannya. Ia ikut menjadi tameng. Ia ikut keliling melakukan penumpasan, bahkan sampai ke luar desa. Yang membuat perasaan begidik, ketika menumpas terkadang ia meminum darah korbannya. Siapa pun ngeri dan risi membayangkan kesadisannya.

Barangkali, itu sebabnya mengapa tidak ada yang berani dengan Bapa Kobus.

Yang membuat perasaan begidik, ketika menumpas terkadang ia meminum darah korbannya. Siapa pun ngeri dan risi membayangkan kesadisannya.

Warga di desanya takut menggunjingkan, apalagi meremehkannya. Begitu juga keluarga dadia inspektur polisi itu. Mereka pada diam.

”Jero Krama, tujuan melakukan paruman sekarang ini sudah jelas seperti pesan yang disampaikan kemarin.” Tetua dadia memulai pembicaraan setelah Jero Mangku selesai menghaturkan sesajen.

Peserta rapat tampak tertib. Bapa Kobus yang duduk di sudut barat daya hanya diam sambil menundukkan kepala. Tetua dadia kembali melanjutkan pembicaraan, ”Tujuannya tidak lain adalah untuk mendiskusikan tentang statusnya Bapa Kobus. Selama ini, beliau menjadi bagian dari dadia kita. Akan tetapi, sekarang banyak warga yang tidak membenarkan kondisi seperti ini. Oleh sebab itu, saya mohon pertimbangan dan masukan dari Jero Krama semua.”

I Wayan Purna yang duduk di pojok timur mengacungkan tangan, dan menyampaikan pendapatnya, ”Kalau menurut saya, tepat sekali mencari solusi melalui paruman ini. Mari di sini kita bicarakan, benar apa tidaknya. Omongan di jalan itu sama saja dengan fitnah. Dan, itu tidak benar!”

”Usul dikit, Jero.” Dari arah barat laut ada seseorang menyampaikan usul.

Tetua dadia memberinya kesempatan, ”Silakan, Jero!”

”Maaf sebelumnya, Bapa Kobus. Jangan tersinggung, ya. Saya hanya urun pendapat pada paruman ini. Mengenai keberadaan Bapa, selama ini tidak ada masalah. Bapa juga mengikuti segala kewajiban sebagai warga dadia ini. Namun, seperti yang disampaikan Tetua dadia, kini banyak gunjingan keluarga dadia tentang keberadaan Bapa. Perbincangan di jalanan tentu salah. Akan tetapi, isi perbincangannya benar juga.” Seperti itu pendapatnya Jro Gede yang duduk di depan Tetua dadia.

Bapa Kobus melirik, lalu menunduk. Ia diam. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang mulai kehilangan gigi. Terkesan sangat tidak sesuai dengan nama besar yang pernah disandangnya ketika muda. Bergantian peserta parum itu berpendapat. Hampir semuanya membenarkan agenda paruman.

Intinya, rapat tidak mematutkan Bapa Kobus ikut menjadi anggota dadia. Penyebabnya karena Bapa Kobus memang tidak berasal dari leluhur yang sama dengan warga dadia. Bapa Kobus berasal dari timur. Lelehurnya jelas berbeda.

Ketika nanti meninggal dunia, tidak dibenarkan memohon kajang kulit, juga tidak dibenarkan disemayamkan di paibon keluarga ini ketika sudah menjadi Dewa Yang. Mumpung Bapa Kobus masih hidup, maka masalahnya dibahas dalam rapat warga dadia. Biar sama-sama enak. Biar Bapa Kobus dan keluarganya juga menemukan jalan yang benar.

Paruman diakhiri dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf oleh Tetua dadia. Peserta rapat terlihat sumringah. Bapa Kobus sebaliknya. Wajahnya murung dan sedikit pucat. Ia lantas mohon pamit dan meminta maaf karena sejak kecil sampai beranak cucu ia menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga dadia.

Sejak saat itu, setiap malam Bapa Kobus bermalam di bawah pohon kepuh yang tumbuh di lahannya. Pohon kepuh itu besar dan rindang. Ia tumbuh tepat di sebelah pintu masuk rumahnya. Di bawahnya ada sebuah palinggih. Saban hari ramai warga sekitar yang menghaturkan persembahan. Pohon kepuh itu semakin mataksu karena dihiasi kain poléng.

Sudah satu bulan tujuh hari Bapa Kobus bermalam di bawah pohon kepuh itu. Hari ini, pas Kajeng Kliwon Uwudan. Sejak pagi warga sekitar ramai menghaturkan persembahan. Istri Bapa Kobus mempersembahkan tipat kélanan dan segehan manca warna.

Seperti biasanya, Bapa Kobus bersandar di pohon itu. Sesekali, ia tidur beralaskan tikar. Rokok, tentu tidak pernah absen ditemani segelas kopi.

Sekarang mana yang akan kamu pilih? Hidup tenang apa cari masalah?

”Kobus, ngapain kamu bingung? Jangan itu kau jadikan beban pikiran! Kamu lahir di timur, ikuti adab seperti di timur. Jika kamu mengikuti adat di sini, kamu harus berani hidup bersama keluarga kecilmu. Kamu sudah ditinggal oleh keluarga dadia ini. Jangan diambil pusing! Begitulah kebiasaan keluarga di sini, makanya sulit berkembang. Kalau berkurang, sudah pasti. Sekarang mana yang akan kamu pilih? Hidup tenang apa cari masalah?”

Seperti itu samar-samar suara yang ia dengar saat sempat tertidur pas tengah malam. Ketika bangun ia berusaha mengingat-ingat suara yang didengarnya. ”Siapa sebenarnya yang membisikiku? Ida Betara apa tonya,” pikirnya. Dadanya berdetak kencang. Napasnya naik turun. Bapa Kobus lalu menyalakan rokok kreteknya. Ia kembali bersandar sambil memikirkan apa yang barusan dialaminya.

Pagi-pagi buta, Bapa Kobus mandi di sungai. Sesampai di rumah, ia mengambil canang dan dupa. Ia lantas ke pura menghaturkan canang dan sembahyang. Tumben khusuk sekali ia sembahyang. Mungkin banyak yang dimohon kepada leluhurnya. Usai sembahyang, ia lantas menemui istrinya di dapur yang sedang memasak.

”Kopi satu, Luh. Maniskan dikit, ya. Pahit sekali jalan hidupku,” Bapa Kobus meminta segelas kopi kepada istrinya.

Mendengar omongan suaminya, istrinya membuang muka dan tersenyum sinis. Ia lalu mengambil gelas membuatkan Bapa Kobus kopi. Sambil ngopi, Bapa Kobus mengeluh, lalu minta pertimbangan kepada istrinya tentang permasalahan yang dihadapinya. Jalan mana yang patut ia lewati. Wahyu yang ia dengar tadi malam di bawah pohon kepuh telah mengusik pikirannya.

Luh Sri, istrinya, tetap saja sibuk memasak sambil menjawab sekenanya,

”Apa yang mesti aku katakan, Beli? Sebagai istri, aku mengikuti langkah Beli. Ke timur ya ke timur, ke barat ya ke barat. Baik-buruk sudah kita jalani bersama bertahun-tahun. Sehat dan bisa beli beras, itu saja yang kuharapkan.”

”Baik, Luh. Jika seperti itu, mulai saat ini mari kita kembali ke timur. Ikuti adab seperti di timur. Mungkin itu yang benar, daripada hidup kita ruwet mencari kebenaran,” ucap Bapa Kobus.

Luh Sri berhenti memasak. Ditatapnya wajah Bapa Kobus dalam-dalam.

”Yakin dengan omonganmu itu? Jika kembali ke timur, aku setuju. Akan tetapi, aku tidak setuju jika meninggalkan tradisi kita di sini. Jangan seperti bunglon. Kita mesti punya prinsip tentang keyakinan,” ucapnya dengan suara tinggi. Bapa Kobus bengong. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya manggut-manggut.

Keterangan:

1. Paruman: musyawarah

2. Dadia: hubungan kekerabatan (satu leluhur)

3. Jero Krama: anggota masyarakat adat

4. Jero Mangku: rohaniwan

5. Kajang kulit: kain putih bertuliskan wujud manusia berisi tulisan suku kata sakti (Ongkara dsb.) dipergunakan sebagai penutup mayat pada waktu akan uapacara ngaben

6. Jero: kata sapaan hormat kepada seseorang yang biasanya belum dikenal, atau lebih tinggi derajatnya

7. Paibon: tempat pemujaan leluhur dari keluarga yang mempunyai hubungan kekerabatan

8. Déwa Yang: arwah leluhur yang telah disucikan

9. Palinggih: tempat suci (pura)

10. Poléng: belang (hitam putih)

11. Kajeng Kliwon Uwudan: Kajeng Kliwon yang jatuh setelah purnama

12. Kélanan: sesajen yang berisi 6 ikatan ketupat

13. Segehan: segehan (persembahan untuk para butha kala)

14. Ida Betara: utusan Tuhan sebagai pelindung umat manusia dalam keyakinan Hindu

15. Tonya: makhluk halus

16. Canang: sesajen yang dibuat dari janur berisi bunga berbentuk bulat

17. Beli: suami

____________

I Wayan Kerti, lahir di Sibetan, Karangasem, 29 Juni 1967. Berprofesi sebagai guru, tulisan-tulisannya pernah dimuat di media cetak/online, seperti; Bali Post, Pos Bali, Pustaka Ekspresi.com, Kompasiana.com, dan lain sebagainya. Beberapa buku fiksi dan nonfiksi pernah diterbitkan. Karya fiksi terjemahan yang berjudul Ngelekadang Mémé (2020) dan Pohon Keramat di Kebun Kakek Dompu (2022) diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali. Buku cerita anak Ogoh-ogoh Kecil Berkain Belang dan Gulali Nenek diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (2023).

sumber : kompas.id, 10 Jul 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme