Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Makam Kuno Pemuda K oleh Ni Made Purnama Sari

Posted on Ming, 05 Nov 2023

Oleh NI MADE PURNAMA SARI

—

Aku bertemu pria berkacamata dan tampak pemalu itu tepat di saat kejemuanku atas kota ini hampir memuncak.

KEJADIANNYA berlangsung di pengujung dua tahun pandemi yang melumpuhkan, sekitar Januari 2022, persis di ruang depan kantorku yang sarat aroma karbol disinfektan. Di meja tergeletak selembar koran dengan barisan judul berita yang besarnya mencolok mata, tentang akumulasi korban jiwa selama berbulan-bulan masa pembatasan sosial. Belasan juta jumlahnya di seluruh dunia. Aku menghela napas di sebalik masker, memalingkan pandang ke kaca pintu, dan kulihat dia berdiri di luar sana, melambaikan salam pertanda ingin bertamu.

Demi beberapa alasan aku ingin menyebutnya sebagai Pemuda K dan tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa dia seorang warga keturunan. Dia bahkan menyematkan nama marganya sebagai panggilan sehari-hari.

Bukan latar belakangnya yang membuatku tertarik, melainkan suatu obsesi yang tersirat sepanjang perbincangan. Kedatangannya menawarkan kongsi bagi usaha perhotelan tempatnya bekerja, yang selama pandemi ini terpukul hebat dari sisi ekonomi, tentu saja aku sambut dengan baik –meski yang bisa kulakukan hanyalah berjanji merekomendasikan penginapannya kepada para rekanan kami kelak. Di luar itu, akibat sedikit saja pertanyaan kecil tentang hobinya, Pemuda K ternyata begitu lincah bercerita perihal komunitas unik yang selama dua bulan ini dia ikuti: kelompok pemburu makam kuno.

”Ini tidak semengerikan yang Mbak bayangkan. Banyak makam yang dibuat begitu megah dan indah, apalagi bong China. Dan maksud kami sama sekali bukan klenik atau mistis. Awalnya kami napak tilas makam para tokoh, lantas kami kepingin tahu, apakah tidak mungkin suatu desa juga punya sosok yang mereka hormati dan nisannya dirawat turun-temurun,” katanya dengan tutur kata yang santun. ”Di lain waktu kami mencari makam mana yang lebih tua, dan dilupakan orang.”

”Apa yang kalian lakukan ketika mendapati makam yang seperti itu? Yang dilupakan itu?”

”Kami membersihkannya,” tatapannya saat menjawab pertanyaan tadi tampak menyala-nyala. ”Kami mau kasih hormat buat mereka yang sudah meninggal.”

Selama hampir satu jam berikutnya Pemuda K mengisahkan perjalanan mereka ke kawasan pekuburan Mrisi, daerah di tepian Jogja, menjelajahi perkampungannya sembari bertanya kepada para penduduk di mana letak makam-makam lama, menjumpai satu atau dua bong China lawas, mendokumentasikannya dari berbagai sisi, dan seluruhnya tersimpan di gawai. Dalam pertemuan yang rasanya tak berkesudahan itu, dia menunjukkan deretan potret makam, ada yang megah seperti yang diceritakannya. Beberapa yang lainnya merekam nisan dengan huruf-huruf Tionghoa yang pudar, patung liong yang retak, altar batu tho ti kong atau Dewa Bumi beserta rumput ilalang di sekelilingnya.

Seorang teman pernah berkisah bahwa bong China umumnya dibuat begitu besar dan mewah oleh pihak keluarga sebagai bekal sang mendiang di alam sana. Katanya, tak jarang makam-makam itu dipenuhi perhiasan, benda kesayangan, bahkan percaya atau tidak, dilengkapi kolam renang. Bukannya angker, pekuburan Tionghoa pun boleh jadi tempat pelesir.

Tapi, foto-foto makam yang tampak terbengkalai itu menarik perhatianku. Alih-alih semacam kesepakatan kerja sama, perjumpaan kami ditutup dengan sebuah janji blusukan di sebuah akhir pekan.

***

Bila aku mengingat-ingat kembali, pengalaman kami menelusuri makam-makam lama tidak ubahnya sebuah petualangan tersendiri. Itu kali pertama aku keluar bepergian, terutama seusai periode pandemi, dan momen kami memasuki pedusunan, menjejakkan kaki di gang-gang kampung, juga menyusuri jengkal demi jengkal tanah makam, entah mengapa bagiku serupa pelepasan dari suatu pemenjaraan.

Saat kami menaiki tangga batu ke kuburan Tan Jin Sing, seorang kapitan China di Jogja pada 1803–1813, berlokasi sekitar Madukismo, aku mendapati betapa hidupnya kawasan itu dengan aneka rupa tumbuhan. Begitu juga serangga. Nyamuk silih berganti menusuk kulit kami, sebagaimana semut beriringan di sela rerumputan. Kenyataan-kenyataan itu membangkitkan kerinduanku akan alam semesta, sesuatu yang selama ini luput dihayati karena begitu terperangkap ketakutan dan kecemasan akan kematian.

Makam Tan Jin Sing sendiri tampak teduh di atas bukit. Kami tidak bisa memasuki kompleksnya lebih jauh, apalagi sampai menyentuhnya. Ada gembok terkunci di pintu. Berbeda dengan Pemuda K yang dilingkupi penasaran akan rangkaian huruf pada nisan –adakah tertulis di situ nama-nama sanak keluarganya– diriku lebih diresapi perasaan lengang. Berkebalikan dengan hidupnya segala hayati di sekitar, makam yang berpagar itu menerbitkan tanda tanya: kuburannya terbilang luas dan kenyataan bahwa kami tak dapat menjenguknya, menggambarkan kematian sunyi yang ditakdirkan kepadanya, bahkan sekian abad setelah dia meninggal.

***

Sedikit demi sedikit aku pun mengetahui siapakah sebenarnya Pemuda K ini, dan mengapa dirinya sedemikian terobsesi pada makam-makam kuno. Kami tidak bepergian setiap akhir pekan, tapi selalu dalam kesempatan menjelajah itu, entah ke wilayah seperti Bintaran, sepanjang lembah Kali Code tempat dahulu pemakaman Tionghoa berada dan kemudian tergusur, sampai ke dusun-dusun lain, dia mulai membuka sejarah masa lalunya.

Ada kegetiran yang terselip saat dia menceritakan betapa miskin orang tuanya. Seakan-akan segala kekurangan itu adalah buah kutukan dari generasi ke generasi: buyutnya tidak sanggup membiayai hidup anak-anaknya, terpaksa melepas kakek Pemuda K untuk di-kwee pang atau diangkat anak oleh salah satu kerabatnya. Itu pun tidak serta-merta mengikis persoalan sebab secara turun-temurun keluarga ini masih terbelit masalah uang. Aku tidak jelas bagaimana persisnya, tapi cara Pemuda K mengisahkan pengalamannya semasa kecil yang sangat bergantung ke sanak famili memberikanku kesan bahwa hidup yang dia alami ibarat menumpang dari satu sekoci ke sekoci lain. Bukan menumpang, barangkali. Dia menyiratkan yang lebih pahit: menjadi parasit dari satu keluarga ke keluarga lain.

”Kalau ada yang bilang orang Tionghoa itu kaya semua, itu salah,” pernah dia berujar sengit. ”Tinggal sama keluarga sendiri ternyata tidak lebih baik. Sekalinya dianggap orang luar, selamanya akan begitu. Kebayang kan, Mbak, rasanya dianggap asing oleh saudara sendiri?”

Aku yang tidak memahami betul nuansa kekerabatan warga peranakan hanya bisa bersimpati. Ada keraguan juga yang hinggap di hatiku, terlebih sering kali aku dapati kisah-kisah serupa terjadi di keluarga yang lain, tanpa peduli apa latar bangsanya. Memang ganjil rasanya, ketika kita memikirkan siapa yang mungkin kita anggap dekat. Keluarga, atau di luar itu? Saudara sedarah, atau sahabat sepenanggungan?

”Egois sekali para orang tua yang hanya memikirkan bikin anak, tapi tidak berusaha untuk menghidupi mereka. Kalau enggak sanggup biayai, lebih baik tidak punya anak, kan? Atau sekalian tidak menikah,” ketusnya.

Kelihatannya peran yang aku mainkan dalam hidup ini, setidaknya dalam babakan pertemuanku dengannya, lebih sebagai pendengar. Karena itulah aku acap menyimak, kendati tidak serta-merta menyampaikan persetujuan. Ada suara dalam diriku yang berkata bahwa segala situasi tak mungkin disederhanakan dalam satu atau dua baris kesimpulan.

***

Aku tidak mendengar kabar darinya sejak pertengahan tahun itu. Juga, tak tebersit niatan buat menanyakan keadaannya. Pertemuan awal sebagai ajakan berkongsi tidak mewujud sesuatu apa pun sehingga tak ada kepentingan bagiku untuk berkomunikasi lebih lanjut. Kehidupan memang unik. Pertemanan yang terjadi sama lekasnya dengan pudarnya jalinan itu.

Begitu pula aku tidak memikirkan soal kematian, makam, ataupun nisan. Ketakutan yang dulu melingkupi semasa pembatasan pandemi agaknya menguap seiring laju kehidupan kota yang kembali seperti mula. Mereka yang meninggal ternyata berujung menjadi angka-angka statistik. Sebagaimana rakyat dan prajurit yang terlupakan di lereng bukit makam Kapitan Tan Jin Sing –deretan pekuburan tak bernama dengan patung liong yang retak, altar Dewa Bumi yang hilang, dan sisa wangi dupa persembahan kaum pejudi nomor butut yang mengharap wangsit di makam-makam tua.

Kadang kala aku mengenangkan situasi di makam-makam Tionghoa lain yang kebetulan kami jumpai. Di sekitar Bintaran, misalnya, sepanjang daerah aliran Sungai Code, kami menemui seorang ibu yang semasa kecilnya bermain-main di area bong China, seputar tahun 1970-an. Dia mengingat dua peristiwa sekaligus, yaitu megahnya kawasan pekuburan itu dan padatnya permukiman selepas kompleks itu digusur. Dia menunjukkan kepada kami sisa-sisa beton pemakaman yang tertanam jadi dinding sebuah rumah.

Atau ketika kami menyusuri gang-gang di pinggiran Kali Winongo dan terheran-heran melihat nisan yang bersisian dengan sebuah dapur. Ada tali jemuran membentang di atasnya, menampilkan barisan pakaian yang menjuntai dibelai angin. Apakah ini bekas makam, atau tidak, begitulah kami bertanya. Dan, jawaban yang mengejutkan kami terima dari si pemilik rumah, ”Tidak, ini makam beneran.”

Sungguh aku berharap semua itu hanyalah suatu kisah fiksi. Sebuah khayalan tentang hidup dan mati. Dalam tradisiku, hidup dan mati ialah dua hal yang sama-sama sakral serta diperingati melalui serangkaian upacara ritual. Bahkan setiap hela napas mewakili proses kosmik yang menjiwai seluruh alam semesta. Ganjil rasanya saat mengetahui betapa mereka diperlakukan sedemikian banal.

Sebenarnya Pemuda K juga sudah tahu kontradiksi semacam ini. Tapi, dia tetap saja gigih mencari bong China lawas, bahkan sampai ke kota-kota lain. Sering aku duga itu karena kuatnya rasa identitas yang dia miliki, meski tak jarang aku kira dia punya motif tertentu. Sempat aku terkejut soal fasihnya dia menguraikan tafsir gambar fajar pakong, permainan yang kurang lebih mirip togel. Kukira itu bercanda, tapi tatapannya yang menyala saat menjelaskan bikin aku bertanya-tanya. Apakah dia blusukan buat cari pesugihan?

Hingga pada suatu malam, barangkali sekitar awal tahun berikutnya, aku membaca sebuah berita dari linimasa media sosial, Pemuda K telah berpulang. Hatiku serasa mencelos. Tanpa kabar, tiada pertanda, seseorang yang mengaku adiknya mengunggah kabar itu lewat story akunnya.

”Apa enggak terpikir untuk menetap di kota ini?” sekali aku pernah bertanya.

”Kayaknya enggak. Di mana-mana, selama aku kerja berpindah-pindah, di Bali, Jakarta, Bandung, semua rasanya sama aja. Malah mungkin kalau tinggal tetap di sini lebih berat, ya. Kan, ada pembatasan buat warga peranakan.”

Aku mengangguk dan mengerti apa maksudnya.

”Yang aku pikirkan malah nanti kalau sudah mati, akan gimana? Aku enggak mau seperti makam-makam tua itu. Syukur ada keluarga yang ingat dan mau merawat, makamnya jadi tampak cantik. Bersih. Aku enggak mau seperti makam kakekku di Banjar, kampung halamannya…” ada jeda dalam ucapannya, sesuatu agaknya baru saja melintas dalam pikiran dan membuatnya tersendat. Namun, dia mengalihkan obrolan itu dengan canda. ”Lucu deh. Mau hidup susah, matinya sama aja. Kalau kuburannya enggak telantar, ya, dijajah sama mereka yang masih hidup.”

Kabar lain pada unggahan itu menerangkan sesuatu yang membuatku terenyak, sekaligus menitikkan air mata. Pemuda K memilih wasiat kremasi tabur abu di deburan ombak Pantai Selatan.

”Marga yang aku pakai ini adalah marga kakekku sebelum beliau di-kwee pang. Aku ingin mengingat asal muasalku dengan cara ini. Aku terlahir dengan marga yang baru, tapi aku tidak pernah merasa jadi bagian dari mereka. Di saat yang sama, aku tidak mungkin membaur dengan keluarga marga lama ini. Aku merindukan sesuatu yang bisa aku panggil rumah, yang bisa aku sebut keluarga…” aku teringat sekutip kalimat di sebuah perjalanan kami.

Aneh sekali, saat mengenangkannya, aku hanya memikirkan tentang hidup. (*)

—

NI MADE PURNAMA SARI : Lahir di Bali 1989. Beberapa buku karyanya adalah Bali-Borneo (puisi, 2014), Kawitan (puisi, 2016), Kalamata (novel, 2016), dan Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati (novel, 2022).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 5 November 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme