Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Puti Mani dan Hikayat Pohon Kelapa oleh Boni Chandra

Posted on Rab, 24 Jul 2024

Tersebutlah Riak Mamacah; daerah rantau Minangkabau yang dibangun di tanah subur. Konon, di tanah yang subur itu, hanya ada satu orang yang memiliki hak atas kelapa. Pada masa itu, setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa adalah kepunyaan satu. Sementara pohon kelapa tak hanya tumbuh di tanah ladang. Pohon kelapa juga ada di pinggir pantai, di sisi jalan, bahkan di halaman rumah. Di sana, jumlah kelapa tiga puluh tiga kali lipat jumlah kepala manusia. Dan semuanya telah diwariskan oleh seorang ibu kepada anak perempuannya yang bernama Puti Mani.

Seperti halnya garis keturunan di Minangkabau, Puti Mani adalah ahli waris yang sah atas setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa. Ia anak perempuan satu-satunya dalam kaumnya. Dan atas alasan itu pula, baik ibu maupun mamaknya, mulai mendesak Puti untuk segera menikah.

”Kelapa seusiamu sudah letih berbuah, Puti. Jadi, sudah sepatutnya kau memikirkan laki-laki yang bisa membuatmu beranak-pinak,” kata Mak Katik, mamaknya yang tengah bersila di ladang kelapa.

”Benar kata mamakmu, Puti,” timpal ibunya, yang mengurak simpuh lalu menyulap kain buruk jadi tengkuluk. ”Kau harus melahirkan perempuan. Bahkan, Ibu harus sebelas kali mengandung demi melahirkanmu.”

Puti Mani membuang muka, lalu memandang jauh.

”Tiga malam belakang, Engku Saliah datang bertandang. Dia memuja kelapa yang tak pernah henti berbuah, lantas meminta sebatang kelapa di halaman rumahnya untuk dijadikan hak. Tapi belum terucap, sudah terngiang. Beliau turut menceritakan kemenakannya, khawatir bila anak itu tak dapat bini lalu menjadi si bujang lapuk. Dan, tentu saja tujuannya hendak menanyakan si Puti, menyilau kesediaan kita mengunyah sirih.”

Kelapa seusiamu sudah letih berbuah, Puti. Jadi, sudah sepatutnya kau memikirkan laki-laki yang bisa membuatmu beranak-pinak.

”Oh. Kalau begitu, sampaikanlah pesan ke Engku Saliah, Tuan. Bila perlu, kita tawarkan 10 batang kelapa untuk jemputan.”

”Tapi, Bu?”

”Kau bukan lagi mumbang, Puti! Tidak pula kelapa muda. Kau itu kelapa masak, yang bila lambat dipetik, tinggal menanti jatuh lalu membusuk.”

Puti seketika tertunduk. Dia ingin membantah Mak Katik, yang selalu membandingkannya dengan kelapa. Tapi sebagai kemenakan, ia sudah mengenal betul watak mamaknya. Bila lelaki berkumis lebat itu telah bicara, tak ada cerita untuk membantah.

”Kita mesti melangsungkannya dalam waktu dekat. Tak bisa tidak bila kau memang memikirkan harta pusaka.” Mak Katik memelintir tembakau di daun enau. Sambil menggigit hasil pelintir, menyalakan api pada ujungnya, lelaki paruh baya itu memberi peringatan. ”Bila kau sampai tak dapat anak perempuan, Puti, hanguslah ladang kelapa. Kelak, kelapamu ini akan diambil seseorang—yang entahlah bermamak entah tidak.”

***

Di Riak Mamacah, malam belumlah habis. Tapi gadis itu telah terjaga, tak hendak merebah tubuhnya sampai pagi menjemput siang. Hari itu, mamaknya akan datang, menanti kehadiran Engku Saliah yang akan menyilih ke rumah gadang (rumah adat Minangkabau sekaligus tempat tinggal sebuah kaum). Dan kata mamaknya itu, Puti Mani mesti menunduk untuk mengisyaratkan tanda setuju. Mak Katik tak hendak melihat kemenakannya yang keras kepala itu melakukan penolakan seperti yang sudah-sudah.

Di depan jendela kamar, jemari kanannya mulai mencungkili kuku kiri. Pikirannya kembali tertuju pada dua lelaki yang pernah membujuk ibunya agar dijemput. Salah seorangnya si pengangkut beban—yang setelah menikah, katanya, Puti tak perlu lagi membayar orang-orang untuk mengangkut kelapa dari tunggulnya. Tapi waktu itu, Puti mengatakan ia mempunyai sepuluh saudara laki-laki yang selalu membantunya mengangkut beban. Ada pula seorang pedagang—yang setelah dijemput dengan tujuh batang kelapa, Puti tak perlu bersusah payah lagi mencari pembeli. Katanya, dia pedagang yang pandai dan memiliki sejumlah pelanggan di pulau seberang. Tapi gadis itu masih bersikeras—mengatakan kelapanya telah dipesan jauh-jauh hari, bahkan sebelum dipetik.

***

Tiada guna, sekalipun siang itu diguyur hujan. Kendati masih berkurung di dalam bilik, Puti Mani mengetahuinya. Seorang lelaki tua dan kemenakannya bersikeras datang, tiba berpelepah pisang demi menepati janji pada Mak Katik—yang menjelang siang larut bersila di rumah gadang. Puti mulai membayangkan sepasang kursi rotan dan tikar pandan yang terbentang. Bila senja tiba, di sepasang kursi rotan itulah ia dan ibunya menanti malam. Tapi, tentu saja ibunya tak sedang duduk di kursi rotan. Ibunya yang tua renta itu sedang menjerang air di ruang belakang, pikirnya. Sementara Engku Saliah dan kemenakannya yang bernama Sambiludin, tengah bersila menghadap mamaknya di selembar tikar pandan.

Ah, waktu memang berjalan cepat untuk setiap gadis yang enggan menikah. Siang itu, Puti belum sempat membuat rencana ketika ibunya mengetuk bilik. Puti membuka pintu, lalu melangkah enggan sebelum ikut bersimpuh di tikar pandan. Mamaknya memperkenalkan. Mengatakan yang baik-baik perihal lelaki yang sedang duduk menegakkan lutut. Lantas, menerangkan betapa lelaki itu pemanjat yang pandai—tak terhitung buah, yang telah ia jatuhkan dari tampuknya.

Puti mematut mamaknya, ingin membantah. Tapi cepat kemudian, ia mengalih pandangan pada lelaki yang mengisyaratkan dua puluh batang kelapa untuk jemputan. Setelah merenung beberapa saat, Puti menarik napas, mereguk rasa takut dan segan pada Mak Katik, lalu mengajukan persyaratan. ”Bila Uda bisa menjatuhkan seribu kelapa setiap hari tanpa memeluk batangnya, tanpa menyentuh tandannya, Puti akan mengantarkan dua puluh batang yang Uda minta.”

Sambiludin, alangkah tercengang. Umpannya yang hampir tertelan ikan, kembali dimuntahkan sesaat ia menarik joran. Sepanjang hidup, ia hanya bisa memanjat dan memetik buah. Sesekali, Mak Katik memang mengupahnya memetik kelapa. Tapi tak lebih dari seratus buah dalam sehari. Itu pun, bila di pelepah tak ada tawon dan rangrang yang bersarang. Tapi bukan wataknya untuk menyerah. Ia mengukur diri, menimang bayangan sepanjang badan sebelum memutuskan.

”Bila itu permintaan Puti, tolong berikan waktu barang lima atau enam bulan. Bila dalam waktu itu Uda tak datang, bolehlah Puti menutup diri.”

***

Sejak pertemuan siang itu, Sambiludin bagai ditelan Riak Mamacah. Kepergiannya tanpa pamit. Tanpa jejak.

”Begitulah. Kepergiannya tak tampak punggung dan hampir enam bulan sejak ia tak tampak muka,” kata Engku Saliah saat bertandang ke rumah Mak Katik. “Beberapa orang yang mencari kayu di hutan, memang pernah mengabarkan. Katanya, mereka pernah melihat Sambiludin bersama beruk. Tapi tak seorang pula yang dapat memastikan bahwa yang dilihatnya itu si Sambiludin.”

”Awak pun pernah mendengarnya, Engku.” Mak Katik menanggapi sambil memelintir tembakau di daun enau. ”Seseorang pernah mengatakan ia melihat Sambiludin bersama beruk bertemali. Akan tetapi, ia tak bisa pula memastikan bahwa lelaki itu si Sambiludin. Katanya, ia ingin menyapa, tapi takut, bila itu hanya orang bunian yang wajahnya menyerupai si Sambiludin. Dari balik semak, katanya, ia melihat Sambiludin menggantungkan buah kelapa pada pohon bercabang, lalu mengulur temali sambil berteriak agar beruk terikat terus memanjat. Lalu berteriak lagi sampai beruk itu memutar-mutar kelapa yang digantungkan.” Mak Katik mulai membakar tembakau yang telah tergulung di daun enau. ”Setelah kelapa itu jatuh, lelaki yang wajahnya persis Sambiludin itu kembali menggayutkan kelapa pada dahan yang lebih tinggi. Berteriak lagi agar beruknya memutar-mutar kelapa sampai jatuh.” Mengisap udutnya dalam-dalam, dan disela batuk, ”dan terus begitu sampai berulang-ulang”.

***

Bila Uda bisa menjatuhkan seribu kelapa setiap hari tanpa memeluk batangnya, tanpa menyentuh tandannya, Puti akan mengantarkan dua puluh batang yang Uda minta.

Enam bulan berlalu. Puti Mani menunggu sehari, dua hari, sampai tiga hari untuk menepati janjinya dengan Sambiludin—kemenakan Engku Saliah—yang akan datang dengan kemampuan memetik seribu kelapa dalam sehari tanpa menyentuh batangnya. Akan tetapi, Sambiludin tak kunjung datang dan ….

Tahun demi tahun berlalu. Puti Mani memutuskan untuk menjemput lelaki si pengangkut beban dengan seratus batang kelapa. Oleh lelaki yang menerima jemputan, seratus batang kelapa itu segera dihibahkan kepada adik perempuannya. Tapi setelah lama menikah dan dikaruniai empat orang anak, mereka mesti bercerai karena lelaki itu tak kunjung memberikan anak perempuan yang didambakan. Setahun setelahnya, Puti Mani menjemput lelaki pedagang—yang juga pernah ditolaknya karena meminta sepuluh batang kelapa sebagai jemputan. Sebagai bentuk penyesalannya, Puti Mani pun memberi lebih. Ia menawarkan dua ratus batang kelapa sebagai jemputan dan kelapa jatuh bersambut. Oleh lelaki itu, dua ratus batang kelapa yang diterimanya sebagai jemputan, diberikan pula kepada dua ratus orang di Riak Mamacah. Tapi kenyataannya, lelaki itu jauh lebih buruk. Puti Mani lebih menyesal. Meskipun mahir berdagang dan mempunyai banyak langganan di kampung seberang, lelaki itu tak pernah sanggup memberi keturunan.

”Kau mestinya bersabar, Puti,” nasihat ibunya.

”Kesabaran tak bisa memberikan anak perempuan, Bu.”

”Seharusnya, kau itu meneladaniku. Aku terus bersabar, terus mempertahankan lakiku, terus mengandung hingga sebelas kali sampai aku melahirkanmu!”

”Buat apa mempertahankan lelaki yang selangkangannya tak rutin bergerak, Ibu! Seharusnya, Ibu memaksaku lebih keras ketika Sambiludin menanyaiku. Andai waktu dapat kembali ….”

Sampai pada suatu hari, Puti Mani mulai melupakan keinginannya untuk kembali berumah tangga. Sehari-hari, ingatannya mau tak mau hanya tertuju kepada Sambiludin—lelaki yang barangkali, pikirnya, bisa menelanjanginya sepanjang malam dan memberikan anak perempuan di suatu pagi. Akan tetapi, lelaki impiannya itu sudah tak tahu rimbanya dan tidak memungkinkan untuk kembali.

Ia kembali mengurusi pohon kelapa dengan membayar belasan pemanjat pandai untuk memetik kelapa dari tandannya. Sambil mencabuti rumput-rumput liar di pinggir ladang, sekonyong perempuan itu mendengar sesuatu yang tak henti berdentum—seperti buah kelapa yang terus berjatuhan dari tandannya.

Puti Mani lekas berdiri, lantas berlari menuju suara. Ia menyusuri jalan setapak, lalu menyibak semak dan menyeruduk masuk ke ladang yang ditumbuhi seratus pohon kelapa. Ladang itu adalah pemberiannya kepada lelaki pengangkut beban—yang kemudian menyerahkannya ke adik perempuannya, yang separuhnya diberikan si adik perempuan kepada seorang lelaki sebagai jemputan, yang tak lain adalah lelaki yang pernah hilang bagai tertelan, yang kini telah mampu memetik seribu buah dalam sehari, tanpa menyentuh batang kelapa.

”Turun.” Sambiludin menggumpal temali, lalu kembali mengulur sesaat peliharaannya berdiri di lain tunggul. ”Kembali panjat! Jatuhkan yang masak dan sisakan yang belum matang!” Beruknya kembali memanjat, dan dalam waktu singkat, beruk itu telah berada di antara bulatan berpeluk pelepah. ”Ya! Putar ke kanan atau pelintir ke arah kiri!” Beruk memelintir buah dengan cekatan, dan dalam waktu singkat: bum! Air mata Puti turun bersama kelapa yang jatuh berdentum.

Boni Chandra, lahir di Payakumbuh, 25 Juli 1989. Pada tahun 2015, ia mengikuti Workshop Cerpen Kompas yang dipandu oleh Gus tf Sakai dan Yanusa Nugroho. Ia pernah memenangi beberapa lomba penulisan cerpen dan diundang ke festival internasional Ubud Writers and Readers Festival 2016.

sumber : kompas.id, 24 Jul 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme