Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dari Teluk Terima kepada Dewa-dewa oleh Tiqom Tarra

Posted on Ming, 04 Agu 2024

Langit berubah kelam dan bumi terguncang saat itu pula istrimu, Ni Layonsari, tahu bahwa sesuatu telah terjadi padamu. Perempuan yang baru tujuh hari kau persunting itu telah lama mendapat firasat buruk tentangmu.

”Linuh, linuh!” Orang-orang berlarian menuju tempat yang lebih tinggi. Namun, tidak dengan istrimu. Ni Layonsari menatap langit kelam dengan guntur bersahut-sahutan, meratap kepada Dewata. Harusnya ia melarangmu pergi melaksanakan titah raja. Mimpinya beberapa malam yang lalu adalah peringatan.

Banjir bandang itu terasa begitu nyata di dalam mimpi istrimu. Air bah yang entah datang dari mana itu menyeret rumah kalian sebagai pertanda buruk. Namun, kau adalah seorang abdi yang begitu setia, apa pun perintah Raja Kalianget.

”Aku harus pergi melaksanakan perintah raja,” begitu katamu.

”Aku yakin mimpiku semalam adalah pertanda buruk. Bisakah kau urungkan keberangkatanmu? Raja pasti akan mengerti.”

Namun, kau bukanlah orang yang akan menolak perintah Raja Kalianget. Kau akan tetap melaksanakan perintahnya seolah itu adalah perintah Dewata.

”Aku pasti akan kembali.”

Bagimu, Raja Kalianget bukan hanya sekadar penguasa. Ia adalah sosok ayah yang memberimu sandang dan pangan ketika seluruh keluargamu dilahap wabah. Kau sebatang kara ketika Raja Kalianget membawamu ke istana dan menjadikanmu anak angkatnya. Raja Kalianget mengajarimu menggunakan panah, keris, dan tombak. Raja Kalianget mengajarimu membaca dan menulis; menjadikanmu abdi kerajaan kesayangannya. Bagimu, Raja Kalianget adalah sosok dewa di dunia.

Suatu hari Raja Kalianget memerintahkanmu untuk memilih salah satu dayangnya untuk kau ambil sebagai istri. Bagimu, itu adalah hal lancang karena dayang istana adalah milik raja, maka kau memohon agar diperbolehkan mencari gadis di luar istana. Raja Kalianget setuju, maka berangkatlah kau menuju pasar di pagi hari; mengamati gadis-gadis di keramaian pasar.

Satu gadis dengan mata bening dan wajah ayu itu mencuri hatimu. Kau mengamati gadis itu. Lemah gemulai gerakannya, lembut dan santun tutur katanya, hingga tatapan kalian bertemu. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang malu-malu. Siapa gerangan gadis itu? Kau bertanya-tanya kepada orang di pasar.

”Ia anak gadis Jero Bendesa,” tutur seorang warga.

Dengan hati berbunga, kau menghadap Raja Kalianget. ”Hamba telah menemukan gadis pujaan hati hamba, jika raja berkenan, hamba ingin menikahinya.”

”Siapa gerangan gadis itu?”

”Ia putri Jero Bendesa. Ni Layonsari namanya.”

Berbekal surat dari Raja Kalianget, kau datang ke rumah Jero Bendesa untuk melamar gadis pujaanmu. Siapa pula yang tidak mengenalmu. Kau adalah abdi kerajaan kesayangan raja, pemuda gagah dengan tutur kata yang santun. Kau pun tahu, lewat senyum malu-malu di wajah ayu itu, Ni Layonsari pun telah menaruh hati padamu. Jero Bendesa setuju putrinya kau pinang.

Tepat di hari Selasa Legi Wuku Kuningan, Raja Kalianget menggelar upacara pernikahanmu. Anak angkat raja, abdi kerajaan kesayangan raja akan melepas masa lajangnya, begitulah Raja Kalianget ingin sebuah upacara pernikahan yang meriah untukmu. Namun, ketika kau dan Ni Layonsari menghadap untuk memberi hormat, Raja Kalianget terdiam menatap istrimu.

Kau tahu itu bukan tatapan seorang ayah yang bahagia melihat menantu perempuannya. Bukan. Kau juga tahu itu bukan tatapan seorang raja pada istri abdinya. Bukan. Tatapan itu seperti tatapan seekor harimau kala melihat rusa betina.

Dengan hati gundah kau pulang selepas acara perjamuan kerajaan bersama istrimu. Tak ingin memikirkan arti tatapan raja pada Ni Layonsari. Mungkin saja aku salah, ucapmu.

Tujuh hari setelah pernikahanmu dengan Ni Layonsari, Patih Saunggaling datang memberi kabar. Raja Kalianget memerintahkanmu untuk pergi ke Teluk Terima.

”Perahu-perahu di sana telah dihancurkan dan orang-orang Bajo dengan sesuka hati berburu menjangan. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.”

Sejujurnya kau tidak ingin pergi. Bagaimana mungkin kau meninggalkan istri yang baru sepekan kau nikahi? Kau juga ingat mimpi Ni Layonsari semalam. Sebuah banjir bandang menghanyutkan rumah kalian. Oh, Dewata, pertanda buruk apakah itu? Kau gusar. Ni Layonsari pun tidak ingin kau pergi. Ia cemas. Namun, kau pun tidak bisa menolak perintah raja.

Dengan janji bahwa kau akan kembali, pada akhirnya kau berangkat bersama Patih Saunggaling ke Teluk Terima. Ada kegusaran yang terus mengusik batinmu. Entah mengapa, kau tahu bahwa kau mungkin tidak akan pernah kembali pada Ni Layonsari. Kau akan mati di Teluk Terima, begitu yang firasatmu terus menghantui pada setiap langkah.

”I Jayaprana, kau pasti sudah berfirasat. Ini adalah titah Raja Kalianget, maka kau harus menerimanya.” Patih Saunggaling menyodorkan sepucuk surat.

Tumpah sudah air matamu. Raja Kalianget ingin kau mati. Kau telah melewati batasmu dengan menikahi Ni Layonsari yang jelita yang harusnya menjadi istri raja, begitu isi surat itu. Amarah dalam dadamu membuncah. Pernikahanmu dengan Ni Layonsari adalah perintah Raja Kalianget, lalu mengapa raja pula yang menginginkan istrimu? Di satu sisi kau ingat semua kebaikan yang telah Raja Kalianget berikan padamu. Kehidupan, martabat, keluarga, semua telah ia berikan padamu. Hidupmu memang telah sepatutnya kau serahkan pada Raja Kalianget.

Kau tersedu; memohon pada Dewata. Kau teringat pada istrimu yang jelita; ia menunggumu di rumah. Tak mengapa, kau mengerti. Raja pun pasti akan memberikan kehidupan yang baik pada istrimu seperti pula ia memberikan kehidupan padamu sejak kanak dulu.

Kau pasrah. Kau serahkan kerismu pada Patih Saunggaling. ”Bunuhlah aku, Paman. Katakan pada Raja Kalianget, aku adalah abdi setianya.”

Kau ambruk dalam dekapan Patih Saunggaling setelah keris itu menembus lambung kirimu. Air matamu membasahi pundaknya sebelum kau benar-benar tewas.

”Aku hanya melaksanakan perintah raja, aku hanya melaksanakan perintah raja,” berulang kali Patih Saunggaling mengatakan hal itu.

Darah yang mengucur dari tubuhmu menguarkan harum semerbak cendana. Langit cerah di atas sana kini berubah kelam. Bumi terguncang seakan murka pada apa yang terjadi padamu. Angin bergulung-gulung merusak apa pun yang dilewati dan bunga-bunga berguguran seakan bersedih untukmu.

”Oh, Dewata, inikah murkamu?” Patih Saunggaling kebingungan. Ia ingat selepas upacara pernikahanmu dan Ni Layonsari, Raja Kalianget gusar. Raja menginginkan Ni Layonsari untuk dirinya sendiri. Dan Patih Saunggaling menginginkan kepercayaan yang Raja Kalianget berikan padamu. Ia ingin menjadi abdi setia kesayangan Raja Kalianget.

Utuslah I Jayaprana ke Teluk Terima. Hamba yang akan mengurus sisanya, begitu usul Patih Saunggaling. Raja Kalianget setuju. Setelah kau tewas, ia akan memboyong Ni Layonsari ke istana untuk dijadikan istri.

”I Jayaprana telah tewas demi menyelamatkan negeri dari orang-orang Bajo. Ia adalah pahlawan bagi negeri kita.”

Istrimu tertawa mendengar penuturan Raja Kalianget. Siapa yang akan percaya bahwa kau tewas karena orang-orang Bajo? Ni Layonsari jelas ingat tatapan Raja Kalianget padanya kala kau dan dirinya memberikan penghormatan setelah upacara pernikahan. Ni Layonsari tahu Raja Kalianget menaruh iri pada anak angkatnya. Raja yang begitu diagungkan olehmu tak lebih dari seorang laki-laki yang menginginkan apa yang bukan menjadi miliknya.

Ni Layonsari bukanlah perempuan bodoh. Ia tahu kematianmu adalah akal-akalan Raja Kalianget. Orang-orang Bajo yang berburu menjangan dan merusak perahu di Teluk Terima hanyalah alasan.

Istrimu hanya tertawa ketika ditawari gelar, kedudukan, dan harta sebagai istri Raja Kalianget. Baginya hanya ada dirimu, I Jayaprana, suami yang meninggalkannya demi pengabdian terhadap raja yang diagungkan melebihi Dewata.

Ni Layonsari murka. Ia memilih mengikuti kematianmu dengan menikam dadanya sendiri dengan keris. Hina baginya menjadi istri Raja Kalianget setelah kepergianmu. Dalam doa yang abadi kepada dewa-dewa, Ni Layonsari bermunajat agar ia bisa bersatu denganmu di nirwana. Dunia begitu fana untuk kalian berdua. Kelak, di suatu masa yang jauh, tempat di mana kau bersemayam adalah larangan bagi suami istri untuk berjalan bersama. Alam telah memberikan penghormatan bagimu dan Ni Layonsari.

Catatan:

[1] Linuh: gempa

[2] Jero Bendesa: Kepala Desa Adat

Tiqom Tarra, lahir dan besar di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di berbagai media, baik daring maupun cetak. Telah menerbitkan kumpulan cerpen Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Putu Sutawijaya, perupa kelahiran Tabanan, Bali, lulusan ISI Yogyakarta. Ia menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sangkring Art Space sebagai ruang berkebudayaan para seniman. Memperoleh penghargaan Lempad Prize dari Sanggar Dewata tahun 2000.

sumber : harian Kompas edisi 04 Agustus 2024 di halaman 10 dengan judul “Dari Teluk Terima kepada Dewa-dewa”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme