Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Nyaris oleh Gandi Sugandi

Posted on Jum, 09 Agu 2024

Pada satu postingan satu grup media sosial kampus, ada sepuluh foto, berisi sekumpulan perempuan sedang berada di satu taman hutan raya. Semuanya tampak kompak bersukaria.

Dari semua foto, ada satu yang menarik perhatian Rudi: enam perempuan seraya tiduran di tanah berumput membuat sebuah lingkaran. Masing-masing ujung dari kepala mereka beradu, semua bibir tersenyum. Rudi sampai berkali-kali memutar HP agar dapat melihat dengan jelas satu demi satu dari wajah mereka. Rudi lalu terpukau pada satu wajah seseorang—entahlah, tiba-tiba timbul begitu saja rasa kagum padanya.

Di kemudian hari, Rudi melihat seseorang yang dikaguminya itu di foto lain—masih di satu media sosial grup kampus—sedang duduk di atas batu di tengah aliran sungai yang dangkal dengan kaki ongkang-ongkang. Airnya begitu jernih, dasar sungai berupa kerikil dan pasir terlihat jelas. Sungai di kaki gunung itu memang menawan bak perawan. Dalam foto tergambar sore menjelang, perempuan itu tersenyum ke arah kamera. Kiranya, siapa pun yang memandangi foto itu akan memuji. O, alangkah indah. Ya benar, banyak komentar yang memuji pada postingannya—tidak ada alasan mencaci.

**

Waktu pun sudah dua mingguan menjelang, Rudi selalu menyempatkan setiap hari untuk membuka grup media sosial itu. Yang pertama dilakukannya, tentulah mencari postingan seseorang. Rudi senang tidak kepalang bila seseorang itu memposting. Dengan menggebu, Rudi lalu ikut berkomentar. Jika seseorang itu tidak membuat postingan, tetap terus dicari, barangkali berkomentar di postingan anggota yang lain. Ah, rupanya seseorang itu rajin.

Sering kali, Rudi mengekor padanya, kata-katanya diiyakan. Rudi mengingat-ingat, selama kuliah rasanya belum pernah melihat dirinya. Ya, tidak tahu, ya, tidak kenal. Rudi mengira, dia dulu mulai masuk kuliah, sedangkan aku sendiri sedang sibuk skripsi sehingga jarang ke kampus—dia adik angkatan yang lepas dari amatan.

**

Semenjak aktif memantau grup media sosial itu, Rudi merasakan ada gairah baru dalam hidup. Padahal, sebelumnya, sampai menginjak bulan kedua grup eksis, Rudi selalu tak hirau dengan postingan-postingan yang berseliweran. Rudi mulai terseret masuk dan kemudian aktif terlibat semenjak melihat unggahan foto seseorang yang ternyata bernama Suci Lestari.

**

Ketika pada satu malam, Rudi kelelahan setelah pulang bekerja, istrinya—Siska—dan kedua anak kecilnya sudah terlelap. Meski sudah pukul 23.00, Rudi tidak bisa pejamkan mata. Kemudian dipikirnya: daripada pikiran kosong melompong, lebih baik membuka grup media sosial itu. Tanpa rasa berdosa, akun media sosial Suci Lestari dicari, ketemu dan sedang on. Rudi meminta pertemanan. Tidak lama menunggu, Suci menerima. Rudi menulis di in box: terima kasih. Suci pun membalas: sama-sama.

Rudi mulai memandangi satu postingan Suci yang sedang berada di rumah, di ruang tamu, ber-t-shirt warna hitam putih belang-belang, duduk dengan manja. Tangan sebelah kanannya bersandar di bahu kursi. Bibir sedang tersenyum. Ah, Rudi baru menyadari, pada setiap fotonya, Suci selalu tersenyum—juga selalu fotogenik.

Tapi, kali ini, dalam pandangan Rudi, senyumnya lebih manis daripada di foto-foto sebelumnya. Rudi sampai tak henti memandangi wajahnya dan mendadak mengeluh, apa yang telah terjadi pada hatiku? Ataukah karena dia memang benar-benar menarik? Sehingga ini adalah gelagat timbul rasa suka padanya?

Siska menjadi gelisah dalam tidurnya. Rudi spontan menjadi bergantian memandangi dua raut wajah: foto Suci Lestari di layar HP dan Siska di depan mata. Hasilnya, tidak salah lagi, Suci Lestari ternyata lebih cantik.

Malam terus merayap, beriringan dengan Rudi yang masih terus saja asyik memandangi layar HP. Saat melihat jam di dinding, waktu sudah pukul 01.00. Titik waktu untuk istrahat sudah terlewat. HP pun diletakkannya di meja. Tubuh direbahkan di samping tubuh Siska.

Rudi memaksakan memejamkan mata untuk tidur karena besok tidak ingin kesiangan, harus pergi pagi mencari nafkah. Tetapi, entah apa yang terjadi dengan isi kepala Rudi. Sudah berkali-kali memejamkan mata, wajah Suci Lestari selalu terbayang-bayang di depan mata.

Ketika mata Rudi dalam keadaan terbuka, wajah Suci berkelebatan. Rudi kembali mengeluh. Bukankah aku telah punya istri, telah menemaniku selama enam tahun? Tetapi kenapa, mulai hari-hari ini, dia menjadi hadir di hati?

**

Esoknya menjelang sore, di teras belakang rumah, Rudi kembali melihat satu postingan di grup media sosial. Kabarnya, salah seorang anggota grup akan mengadakan acara ulang tahun di satu kafe yang luas. Dari semua daftar anggota yang siap hadir, tertera nama Suci Lestari. Rudi tidak akan menyia-nyiakan.

Pada Siska, dengan alasan mendadak ada lembur di kantor, Rudi berkemas bersiap. Rudi meluncur dengan berpakaian dan sepatu terbaik. Tiba di kafe, belum banyak orang yang hadir. Seraya berjalan mencari tempat duduk yang kosong, berbekal ciri-ciri Suci di foto grup media sosial itu, mata Rudi liar mencari: di mana dia gerangan.

Di sini tidak sepi. Biarpun misalnya nanti yang datang hanya belasan orang, kami berenam tetap bisa meramaikan suasana.

Rudi (yakin) menemukan Suci yang sedang duduk di kursi, berenam duduk berhadap-hadapan bersama kawan-kawannya—sama formasi seperti ketika dulu berfoto sambil tiduran membuat lingkaran di taman hutan raya. Suci bergaun malam terusan warna hitam. Dalam pandangan, beribu pesona terpancar dari Suci. Rudi lalu membawa satu buah kursi, mendekati, lalu bertanya, ”Bolehkah aku duduk di sini?”

Seseorang yang bergaun ketat warna biru menyilakan untuk duduk. ”Tidak ada yang melarang.”

Rudi mengangguk, duduk, berkata berbasa-basi, ”Masih sepi di sini. Pada ke mana yang lainnya?”

”Di sini tidak sepi. Biarpun misalnya nanti yang datang hanya belasan orang, kami berenam tetap bisa meramaikan suasana.”

Rudi langsung sok akrab, mengulurkan tangan. Untunglah, satu per satu mau membalas menyalami. Lalu, pada yang terakhir, Rudi bertanya, ”Kau Suci Lestari?”

Suci mengangguk.

”Kenyataannya lebih indah dibandingkan dengan yang ada di foto.”

Seseorang dari mereka nyeletuk, ”Eh, hari gini sudah bicara yang indah-indah.” Semua yang lain tertawa. Namun, belum lama Rudi duduk, ada telepon dari Siska yang mengabarkan ibunya sakit keras. Rudi pun pamit.

**

Pada hari-hari selanjutnya, Rudi rajin mengirim kalimat-kalimat menggoda di in box kepada Suci. Rudi seperti kejatuhan durian karena ada balasan pula dengan kalimat-kalimat yang juga menggoda, membuat Rudi menjadi antusias. Keduanya juga saling bertukar nomor telepon.

Hingga sampai pada satu waktu, di telepon, Suci mengeluarkan unek-unek. ”Aku kesepian. Tahu, kan, bagaimana rasanya sepi?”

”Kenapa sepi? Bukankah ada anak dan suami?”

”Kau tidak tahu, suami jauh di seberang pulau. Dia pulang setahun dua kali. Aku juga tidak tahu, apakah dia di sana benar-benar memegang teguh janji kesetiaan. Di hatiku, ada juga rasa keraguan.” Rudi berpikir: ini satu kesempatan.

Kemudian, di waktu lain, Rudi kembali menelepon Suci Lestari.

”Bagaimana kalau kita berjumpa? Bukankah kita yunior dan senior dari sebuah kampus?

”Katamu, kau kesepian. Maksudku, kita bisa mengobrol seraya makan malam.”

Suci Lestari tidak menolak ketika diajak makan di satu restoran yang masih selingkup dengan mal dan hotel.

Malam, hidangan kesukaan Suci terserak di meja makan. Setelah tuntas makan malam itu, Rudi menawarkan diri. ”Sekarang, mau ke mana kita? O ya, bagaimana kalau kita membeli sepatu untukmu dan anakmu?”

Suci Lestari semringah.

Rudi membelikan dua pasang sepatu. Suci tersenyum senang, bertatapan mata manja. Keduanya tak beranjak pulang, malah memesan dua cangkir kopi di lobi hotel. Lalu, kedua pandangan mata dari insan berlainan jenis ini mulai liar. Rudi menggeser tempat duduk agar lebih dekat.

”Eh,” ujar Suci.

”Bukankah kita sudah dewasa? Kita bukan anak sekolah menengah lagi.” Rudi mencoba menenangkan.

Malam pun terus saja beranjak.

”Suci, aku mau bilang padamu… bahwa….”

”Apa yang terjadi denganmu?”

Rudi menceritakan tentang perubahan pada diri yang dialami, yang suka gelisah, yang juga selalu terganggu sebelum tidur karena Suci.

”Ha-ha-ha. Itu picisan.” Suci tertawa.

”Mengapa tertawa?”

”Baiklah, terus bagaimana?”

”Aku takut hatiku jatuh.”

Suci Lestari kembali tertawa. ”Semudah dan secepat itu? Tidak mungkin.”

”Bisa saja karena pesonamu. Lagipula, bukankah rasa itu selalu datang dengan sendirinya?

”Pada siapa dan kapan pun?”

”Terus bagaimana?”

”Kenapa kau tak menolak ajakanku untuk makan di sini?”

”Aku ingin menghilangkan kejenuhan di rumah. Lagi pula, kita hanya sekadar bertemu.

”Tidak ada yang lain-lain, kan?”

Mata Rudi menatap ke lift hotel. Suci Lestari memandang mata Rudi.

”Maksudku, aku ingin, antara kita ada hubungan,” Rudi berkata.

”Tak semudah itu. Tak secepat itu. Tentu ada proses.”

”Kau pernah berkata, pernah ragu dengan kesetiaan suamimu.”

”Kau mengerti, kan, maksud perkataan itu?”

Keduanya saling melempar senyum. Rudi tak ragu memegang jari-jari tangan Suci.

Tetapi, tiba-tiba, telepon Rudi berdering. Siska memberi kabar, anak bungsu demam

mendadak—Rudi agak kikuk pamit pada Suci.

*** Bandung, Juni 2024

Gandi Sugandi, Alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan.

sumber : kompas.id, 09 Agt 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme