Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Calon Arang oleh I Wayan Kertayasa

Posted on Rab, 21 Agu 2024

Dadong Mentik tidak ke pura saat hari raya Galungan. Dia justru tidur di kamar, sementara anak dan cucunya tidak memaksa untuk mandi lalu bersembahyang minimal di merajan saja. Mungkin anak dan cucunya tahu kalau neneknya sakit-sakitan. Berjalan saja memerlukan bantuan tongkat.

Sementara warga kampung merayakan hari raya Galungan dengan sukacita. Anak-anak sejak pagi telah memakai baju baru berkumpul dengan teman-temannya, sementara ibu-ibu membawa banten untuk dihaturkan ke pura. Bermacam-macam tarian dipersembahkan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasinya hingga ada yang kerauhan (kesurupan).

Dari luar beberapa bule mengintip apa yang sedang terjadi di pura. Mungkin mereka sedang takjub dengan ritual beragama di Bali. Ada seorang guide yang kebetulan warga lokal menjelaskan kepada bule-bule itu bahwa yang menari sedang kerauhan. Semakin keras gong ditabuhkan, maka semakin memuncak juga tarian itu. Beberapa bule bertanya tentang tarian yang berada di bandara kenapa tidak sereligius ini.

Guide lokal itu mengatakan bahwa jenis tarian dibedakan-bedakan atas sifatnya, yakni sakral dan hiburan. Yang bule itu maksud adalah tarian penyambutan yang bisa sewaktu-waktu ada tergantung kebutuhan manusia saja. Namun, tarian sakral seperti sekarang ini tidak sembarangan dilakukan. Ada hari baik, ada ritual dan ada magisnya serta pawisik (bisikan) yang diterima oleh orang-orang yang disucikan seperti jero mangku. Bule itu hanya mengangguk-ngangguk saja, dia salut akan budaya yang begitu mengakar pada kehidupan masyarakat. Kalau di negaranya, orang-orang tidak sempat beragama cenderung individual.

Di dekat pelinggih yang tinggi itu, Bli Made menusuk-nusukkan keris ke dadanya. Dengan sekuat tenaga hingga matanya terbelalak namun keris itu tidak mampu menembus dadanya. Bli made yang sehari-harinya dikenal tidak banyak omong seketika menjadi agresif dan ekspresif di hadapan warga desa. Ada tiga orang yang kerauhan seperti Bli made, namun yang satunya lebih ekstrem, yakni menancapkan keris ke area dekat mata sebelah kanan. Anak-anak menjerit ketakutan menyaksikan hal itu sehingga beberapa orang tua mengajaknya keluar pura.

Kemudian pecalang merampas keris Bli Made serta tiga warga desa itu lalu dipercikkan air suci oleh jero mangku. Pelan-pelan mereka menjadi sedikit tenang dan berangsur-angsur sadarkan diri. Begitu juga serangkaian hari raya Kuningan, Dadong Mentik tidak bisa sembahyang. Sakitnya kembali kambuh setengah badannya tidak bisa digerakkan. Anaknya panik lalu mengajaknya ke puskesmas, namun pihak puskesmas merujuknya ke rumah sakit umum daerah yang ada di kota. Dadong Mentik menolak dibawa ke sana apalagi sampai opname. Menurutnya sakit ini bukan medis, melainkan hal yang magis.

Dadong mengatakan bahwa dalam sebuah mimpi dia didatangi sesosok raksasa hitam lalu mencabik-cabik tubuhnya. Dadong melawan hingga berhasil menusuk kaki sebelah kanan raksasa tersebut. Namun luka di mimpi itu membekas hingga ke dunia nyata sehingga Dadong menjadi sakit. Mendengar penjelasan tersebut lalu anak-anaknya mengajak pulang untuk menghindari ketegangan antara dadong dengan dokter. Sampai kapan pun perdebatan itu tidak akan ada ujungnya sebab dokter bicara teori, sedangkan dadong bicara keyakinan. Sementara kasak-kusuk di warung Pan Joblar tersiar isu kalau Dadong Mentik mempunyai kesaktian hingga ilmu leak.

Seorang petani, yakni Nengah Abdi, yang sedang mengecek air irigasi sawah tengah malam melihat dadong menari-nari di kuburan. Awalnya dia mengira hal tersebut hanya sebuah dahan pohon yang tertiup angin, namun ketika diintip lebih dekat lagi ternyata Dadong Mentik sedang melakukan ritual pengeleakan. Kepalanya ditutupi kain poleng (hitam dan putih) betapa terkejutnya ketika Pak Nengah menyaksikan secara langsung lidah Dadong memanjang serta air liurnya menetes tidak tertahankan. Babi hitam dijadikan tumbal, lalu dimakan hidup-hidup oleh Dadong Mentik. Pak Nengah lari terbirit-birit hingga tidak bisa berkata-kata apa pun sesampainya di rumah. Tatapan matanya kosong dan tidak bisa diajak ngomong. Istrinya berdoa di merajan lalu nunas tirta kemudian memercikkan tirta tersebut ke suaminya. Pak Nengah mulai mereda lalu beristirahat seperti orang yang mengalami kelelahan hebat. Besok harinya baru diceritakan tentang apa yang dia lihat kemarin malam.

”Luh, sepanjang hidupku baru kemarin malam bli melihat leak,” kata Pak Nengah.

”Tapi benar yang bli lihat itu Dadong Mentik yang menjelma menjadi leak?” tanya Luh Simpen,

”Bli sangat yakin Luh, beberapa saat kemudian lidahnya memanjang, air liurnya menetes, lalu bola matanya putih serta melotot Luh,” jawab Pak Nengah.

”Lalu kenapa bli kemarin seperti orang linglung begitu sampai rumah?” tanya Luh Simpen,

”Bli tidak bisa mengontrol ketakukan itu dan mengendalikan tubuh bli sendiri,” jawab Pak Nengah.

”Untung tiang kemarin langsung nunas tirta ke merajan sehingga bli bisa mendingan. Tiang sangat khawatir, bli tidak usah lagi tengah malam ke sawah, apalagi sawah kita dekat kuburan,” kata Luh Simpen.

Ternyata Dadong Mentik sedang melakukan pembalasan terhadap sesosok raksasa yang kemarin mencabik-cabik tubuhnya. Dia berhasil membunuh raksasa tersebut hanya dengan kuku-kukunya yang tajam lalu merobek urat nadi tangannya. Raksasa tersebut jelmaan pengeleakan yang sengaja beradu ilmu dengan Dadong Mentik. Tiga hari setelah kejadian tersebut, ada seorang nenek dari kampung sebelah mati mengenaskan di kamarnya sendiri. Dari dalam kuping hingga hidung mengeluarkan darah segar hingga urat nadi di kedua tangannya putus. Tentu yang kalah akan mati, termasuk badan kasarnya mengalami luka-luka sebagaimana yang terjadi dalam pertarungan malam itu. Desas-desus kematian nenek tersebut telah beredar di kampung. Warga meyakini dia mati karena kalah bertarung dengan Dadong Mentik oleh sebab itulah tidak ada yang berani menyapa atau bertemu dengannya.

Luh, sepanjang hidupku baru kemarin malam bli melihat leak.

Kejadian tersebut membuat keluarga Nengah Abdi trauma hingga tidak berani keluar larut malam. Setiap kali dia bertemu dengan Dadong Mentik selalu menghindar, bahkan tidak berani menatapnya. Pernah suatu ketika mereka berpapasan di warung Pan Joblar saat membeli bubur buat anaknya, lalu Pak Nengah disapa namun dia tidak berani menyapa balik. Bubur yang dibelinya pun tidak jadi dimakan sebab dia takut dimantra-mantra oleh Dadong Mentik.

Sepertinya Dadong telah mengetahui bahwa Pak Nengah lah yang mengintipnya ketika menjelma menjadi leak di kuburan kala itu. Atas beberapa kejadian serta fenomena yang dia saksikan membuat Pak Nengah menjadi rajin sembahyang setiap hari agar terhindar dari hal-hal yang ingin menyakiti dirinya dan keluarga.

Beberapa minggu kemudian, di desa Pak Nengah ada sesolahan calon arang. Warga berkumbul di jaba pura untuk menyaksikan sesolahan ida sesuhunan. Momen ini tentu langka, mungkin hanya sekali dalam setahun bergantung hari baik, musyawarah tokoh adat hingga pawisik yang diterima jero mangku. Gong mulai ditabuhkan dengan berbagai ritme hingga kidung sakral menggema ke telinga paling dalam. Suasana magis mengalir ke setiap diri masyarakat yang menyaksikan. Bahkan, remaja perempuan itu tidak sanggup menahan energi yang begitu kuatnya sehingga mereka kerauhan massal. Mereka menari tidak terkendali dengan mata yang masih terpejam.

Tibalah saatnya ida sesuhunan medal hingga membuat warga tidak berani berdiri. Tarian sakral membuai semua orang yang datang hingga pada puncaknya puluhan lelaki dewasa keluar sambil memegang keris tajam. Mereka disebut unying, yakni seseorang yang menusuk-nusukkan keris ke badannya. Tentu mereka telah berada dalam dimensi dan dunia yang berbeda sehingga sekuat tenaga mereka menancapkan keris itu bahkan di area dekat mata sekalipun keris tersebut menjadi bengkok.

Kemudian bangke matah, yakni seseorang yang berperan menjadi mayat diupacarai selayaknya orang telah meninggal dibawa ke tengah-tengah keriuhan itu. Seorang guru spiritual mengundang atau memberikan tantangan terbuka kepada siapa pun yang memiliki ilmu leak untuk mengadu kesaktian dengannya. Bangke matah tersebut di gotong lalu dibawa ke kuburan tengah malam. Bangke itu akan dibiarkan di sana dalam beberapa jam ke depan hingga siapa pun boleh untuk menguji kesaktian ilmu pengeleakan yang dimilikinya. Jika dalam sebulan tujuh hari seseorang yang berperan menjadi bangke matah tersebut meninggal, berarti dia kalah. Namun, jika dalam tiga hari ke depan ada seseorang yang meninggal seusai pementasan calon arang ini, berarti pengeleakan itu yang kalah.

Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang yang menjadi bangke matah telah dibekali jimat-jimat penghalang serangan dari siapa pun. Atau minimal mereka telah memiliki seorang guru spiritual yang melindunginya dari serangan leak. Sejak tantangan terbuka itu disampaikan, nyawa seseorang yang berperan mejadi bangke matah terancam sebab seusai calon arang dia akan terus diincar oleh siapa pun yang memiliki ilmu leak. Maka jimat serta guru spiritual yang melindunginya harus selalu bersiap menghalau serangan itu setiap saat.

Dadong Mentik memang telah gelisah semenjak calon arang itu baru dimulai. Dia berkali-kali mondar-mandir di depan rumahnya untuk kencing. Namun, hal tersebut membuat beberapa warga yang melihatnya aneh sebab seketika dia bisa berjalan tanpa tongkat yang sehari-hari digunakan. Lalu cucunya melihat Dadong Mentik menari-nari di kamar seorang diri.

Mungkin Dadong Mentik tidak bisa menahan hasrat untuk menerima tantangan tersebut. Akhirnya dia menjelma menjadi leak dan bertarung melawan bangke matah itu. Dadong Mentik mencoba menjilat kakinya, namun berhasil ditampar oleh guru spiritual itu. Hingga kemudian Dadong Mentik menjelma sesosok raksasa hitam yang tinggi. Dia ingin menginjak-injak perut bangke matah itu, namun selalu di tahan.

Pada malam calon arang itu, dia tidak berhasil mengalahkan kesaktian dari bangke matah, namun pada keesokan harinya dia telah mempersiapkan segala sesuatunya. Dia datang ke kuburan tepat jam dua belas malam. Lalu dia mengelilingi salah satu kuburan yang masih baru sebanyak tiga kali hingga dia berhasil menjelma menjadi celuluk. Matanya sipit dengan gigi bertaring serta rambut putih, kemudian dia menari di tengah-tengah kuburan itu. Sementara ajakan bertarung diterima oleh bangke matah itu. Bertarunglah mereka dengan ilmu yang mereka miliki. Dadong Mentik berkali-kali mencekik lehernya namun selalu mampu di balas dengan tusukan sebilah keris ke perut sebelah kiri. Namun Dadong Mentik belum mereda, dia semakin bernafsu mencabik leher dari bangke matah itu. Namun di tengah pertarungan datanglah seekor burung gagak yang mematuk kedua mata Dadong Mentik sehingga dia tidak mampu melihat apa-apa lagi. Sehingga bangke matah serta burung itu menghabisi Dadong Mentik tanpa ampun.

Wajahnya hancur karena dicabik-cabik oleh burung gagak, sementara dadanya ditusuk keris oleh bangke matah. Ternyata sang guru spiritual datang untuk membantu anak buahnya melawan Dadong Mentik. Tiga hari seusai calon arang itu Dadong Mentik mati mengenaskan, yakni dadanya remuk hingga batu matanya keluar. Anak pertamanya yang menyaksikan hal tersebut tentu kaget lalu menghubungi keluarga lainnya untuk pulang segera. Anaknya menangis sebab di ujung usianya yang sudah renta dia meninggal dengan tragis. Apalagi warga kampung terlanjur memberi stigma buruk tentang keluarga Dadong Mentik yang memiliki kesaktian ilmu leak.

Hingga kemudian Dadong Mentik dikuburkan namun berita kematiannya masih terus dibicarakan. Terutama penyebab kematiannya selalu dikait-kaitkan dengan kekalahannya melawan bangke matah saat calon arang. Demikian tragis kematian seseorang yang menjelma menjadi leak. Mereka selalu bernafsu mengadu ilmu-ilmunya hingga menerapkan kesaktian aji ugig yakni menyakiti seseorang tanpa dasar kesalahan apa pun.

I Wayan Kertayasa, pengajar literasi di Yayasan Was. Saat ini penulis tinggal di Banjar Kedungu, Taro, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Novel yang sudah diterbitkan: Romansa Lagu (2020) dan antologi puisi Semoga Aku Sampai (2021).

sumber : kompas.id, 21 Agt 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme