Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Malam Kembang oleh Sylvia Sari

Posted on Jum, 06 Sep 2024

Malam itu telah mengubah segalanya. Malam yang tak pernah terlintas sekalipun di pikiran Pramudita Yasawirya. Dia tahu suatu saat itu akan terjadi, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Hidupnya yang semula tenang dan hanya mengikuti arus berubah dalam satu malam. Dirinya yang begitu naif dan merasa dunia baik-baik saja dalam sekejap menjadi tersentak bahwa dunia tidak selamanya baik-baik saja.

Malam itu tak ada bedanya dengan malam sebelumnya. Tak ada firasat bahwa malam itu akan menjadi titik perubahan alur hidupnya. Rasanya baru sekejap dia terlelap, tiba-tiba dia mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Sekali. Tidak dihiraukannya. Dua kali dengan bunyi makin emosional. Jantungnya berdegup tak nyaman.

”Papa! Papa!” seru ibunya dengan panik.

Pramudita langsung berlari mengikuti ibunya. Pemandangan berikutnya adalah Papa telah membiru dengan napas yang berat. Keringat dingin mengucur. Mata itu terpejam, tetapi masih sadarkan diri. Pramudita panik setengah mati. Dia langsung menelepon UGD rumah sakit terdekat. Petugas UGD masih dapat menangkap tiap kata-katanya yang terbata-bata.

”Papa akan baik-baik saja,” gumamnya dengan air mata yang telah jatuh.

”Jangan panik, Dita. Jangan menangis,” Papa masih bisa berkata seperti itu di saat Pramudita mencemaskannya.

Pramudita menggenggam tangan Papa dengan erat. Tangan itu sedingin es. Dirinya terus berbicara agar Papa tetap sadarkan diri. Dengan tergesa-gesa, Papa dibawa dengan menggunakan ambulans. Setibanya di UGD, oksigen dipasang segera. Suasana dini hari yang masih pekat menambah dingin suasana.

”Dita doakan Papa semoga Papa cepat sembuh,” ujarnya bergetar.

”Semoga Papa dilapangkan jalannya,” sambung Papa yang membuat Pramudita bergidik.

Entah mengapa, setelah mendengar kalimat itu, Pramudita merasakan sensasi yang tidak menyenangkan. Tak berapa lama setelah berkata seperti itu, Papa tak lagi bangun meskipun masih bernapas.

”Papa, bangun. Nanti setelah Papa bangun, kita jalan-jalan.”

Mau tak mau, Papa dilarikan ke ICU. Pramudita menunggui Papa di depan ICU. Dia menangis dalam diam, mengenang segala jasa dan kebajikan Papa di dalam hidupnya.

”Maafkan aku, Pa,” desis hati kecilnya.

Hanya kepada Tuhan dia pasrahkan. Tidak ada kabar dari ruangan ICU berarti kabar baik. Pramudita baru hendak menarik napas ketika perawat memanggilnya. Cukup intens. Pramudita berlari tergesa-gesa.

”Keluarga Pak Yasawirya… Keluarga Pak Yasawirya…”

Lutut Pramudita lemas seketika saat menyaksikan dokter sedang memompa jantung Papa.

”Tolong bantu doa, ya, Dik,” bisik perawat tepat di telinga Pramudita.

Pramudita bercucuran air mata sambil memanggil Papa agar kembali. Namun, takdir Tuhan telah menentukan. Pada pagi buta itu, Papa meninggalkan Pramudita untuk selamanya.

Pramudita menatap Papa yang telah membiru. Papa tersenyum dalam tidurnya yang abadi. Serangkaian proses yang dijalani Pramudita berikutnya laksana mimpi. Sebagai anak pertama, Pramudita yang mengemban tugas untuk mendampingi jenazah Papa menuju rumah duka dengan menggunakan mobil jenazah. Air mata Pramudita meluncur bagaikan sungai yang mengalir.

Pagi itu, Pramudita membeku menatap langit-langit kamarnya. Rasanya seperti delusi. Separuh dirinya masih belum percaya kalau Papa telah meninggalkannya untuk selamanya. Dia berusaha untuk tidur, berharap saat dia terbangun segalanya kembali normal. Tak tahu kapan dia jatuh terlelap hingga sebuah suara lembut berbisik di telinganya.

”Dita… Bangun.”

”Iya, Pa…,” jawabnya sambil membuka matanya.

Tak ada seorang pun. Buru-buru dia mengecek kamar orang tuanya. Hanya ibunya. Tak ada ayahnya yang biasanya sedang bersiap-siap memulai hari. Jadi, ini bukan mimpi?

Dengan pikiran kosong, Pramudita kembali menuju rumah duka. Pramudita telah menyiapkan perlengkapan dan benda-benda favorit Papa, seperti pakaian, alas kaki, hingga perlengkapan menulis Papa. Papa sangat gemar mencatat dan menulis to do list sehari-hari.

Tak lupa dia juga menyiapkan rumah kertas, uang kertas, serta perlengkapan lainnya, seperti perlengkapan mandi dan aksesoris yang semuanya terbuat dari kertas. Semua ‘bekal (1) ’ itu akan mengiringi Papa menuju rumah Papa yang baru.

Papa masih berada di dalam ruangan jenazah. Sebelum prosesi memandikan jenazah Papa dimulai, Pramudita memilih peti untuk Papa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia mengurus langsung proses persemayaman seseorang, yaitu ayahnya sendiri.

Dia tak tahu cara memilih peti. Dia tak tahu apa yang mesti dilakukan. Biasanya ada Papa di sampingnya. Di tengah kebimbangannya, dia tahu bahwa dia mesti segera memutuskan. Dia memilih peti berwarna cokelat yang sederhana, sesuai dengan kepribadian Papa yang bersahaja.

Air mata bergelimang saat menyaksikan jenazah Papa dimandikan. Tubuh yang dahulu mengasihinya kini telah terbujur kaku. Petugas mengenakan satu setel jas ke tubuh papa serta sepasang sepatu berwarna hitam yang akan mengantarkan Papa ke langkah berikutnya.

”Pa, yuk, kita pindah ke rumah baru Papa,” ucap Pramudita bergetar.

Lagi, sebagai anak pertama, Pramudita menjemput jenazah Papa yang telah rapi menuju ke salah satu ruangan di rumah duka. Tubuh Pramudita bergetar saat dia melangkah di paling depan untuk mengiringi jenazah Papa.

Semua memori selama dua puluh enam tahun ini, sejak dia dilahirkan ke dunia hingga kini, berputar. Kenangan yang tak selalu manis. Terkadang, pahit. Semuanya membuat hidup menjadi lebih hidup. Terngiang di kepalanya segala kasih sayang Papa. Papa bukan hanya berperan sebagai ayah, melainkan juga sebagai sahabat… dan juga sebagai ibu.

Pramudita benar-benar tersadarkan untuk pertama kalinya. Hakikat hidup manusia. Lahir. Tua. Sakit. Mati (2). Anicca (3) . Segala kondisi tidak kekal. Dan kini Pramudita harus belajar untuk melepaskan… melepaskan Papa.

Pramudita memandang jenazah Papa yang sudah berada di dalam peti dengan hampa. Papa tampak seperti tertidur pulas. Sampai detik ini pun, masih Pramudita bertanya kepada dirinya sendiri. Mimpikah aku? Benarkah Papa telah pergi untuk selamanya?

Di tengah dirinya yang berkubang duka, para pelayat mulai berdatangan. Mama akan menyambut para pelayat dengan raut sedih. Wanita paruh baya itu secara ajaib akan menumpahkan air matanya di depan pelayat yang hadir. Saat pelayat telah minggat, air mata itu mendadak berhenti seketika.

Pa, yuk, kita pindah ke rumah baru Papa.

Malam kembang (4) digelar pada hari ketiga. Detik-detik terakhir Pramudita melihat jenazah ayahnya sebelum peti ditutup. Malam itu doa terasa lebih panjang. Permintaan maaf dan rasa terima kasih Pramudita lantunkan. Untuk terakhir kalinya, dia melihat fisik Papa, yang entah berkesempatan akan dilihatnya kembali atau tidak.

Pada malam kembang itu, hujan turun dengan deras. Namun, pelayat masih berdatangan sambil berucap, ”Turut ber-samvegacitta (5) …”

Pramudita bercengkerama dengan mereka yang bahkan tak diketahuinya siapa. Mereka bercerita mengenai kebajikan ayah Pramudita semasa beliau hidup. Mengenang Papa. Papa yang selama ini menjadi sosok ganda di dalam keluarga. Pramudita tumbuh dewasa tanpa sosok ibu yang mengasihinya meskipun secara fisik ibunya ada di sana.

”Ma, kalau mama terus begini, bagaimana Mama bisa dekat dengan anak?” teringat perkataan Papa jauh sebelum Papa berpulang yang ditanggapi dengan acuh tak acuh oleh Mama.

Waktu itu, Pramudita hanya menghela napas sama seperti yang dia lakukan sekarang. Satu malam yang telah mengubah dunianya. Pramudita tahu setelah malam kembang, dunia tempat dia berdiam tak akan sama lagi. Saat itu, dia belum mengerti bahwa bukan itu bagian yang paling berat yang perlu dia hadapi.

Hari kremasi Papa tiba. Lagi-lagi, sebagai anak tertua, tugas Pramudita adalah mengantarkan jenazah Papa ke krematorium. Dia duduk di dalam mobil jenazah sambil memeluk foto ayahnya. Tak terpikirkan olehnya suatu saat dia yang akan menjadi seseorang yang duduk di sana.

”Selamat jalan, Papa. Semoga Papa terlahir di alam bahagia (6).”

Doa dan bunga mengiringi saat jenazah dimasukkan ke dalam tempat perabuan itu.

Kemudian, mereka membakar uang kertas beserta segala perlengkapan yang akan menjadi bekal bagi Papa di sana. Pramudita termenung sambil menantikan proses kremasi yang memakan waktu sekitar tiga jam itu.

Ma, kalau mama terus begini, bagaimana Mama bisa dekat dengan anak?

Papa tak lagi bersama dirinya. Segala tanggung jawab yang dahulu dipangku Papa kini menjadi tanggung jawabnya. Tak pernah dibayangkannya seperti apa rasanya berada di posisi Papa. Posisi yang mengambil peran rangkap. Kini, Pramudita yang akan memerankan posisi itu. Posisi yang semestinya dimainkan juga oleh seorang ibu.

Proses kremasi selesai. Anggota keluarga dipanggil ke dalam ruangan krematorium. Fisik Papa telah menjadi debu. Pramudita mengambil sumpit panjang untuk memisahkan tulang belulang di antara abu. Pramudita menatap nanar. Jadi, beginilah akhir hidup seorang manusia.

Aku bertekad akan mengumpulkan kebajikan sebanyak mungkin seperti Papa. Pramudita menjalankan tugas terakhirnya. Dia memapah foto beserta abu Papa untuk terakhir kalinya. Mereka menaiki perahu menuju tengah laut. Pramudita memandang dengan syahdu abu Papa yang telah dilarung seutuhnya. Pinta terakhir Papa telah selesai dilaksanakan.

”Jadi, Mama sudah boleh pakai baju merah (7)?” tanya Mama sembari mereka bertolak dari laut.

Pramudita terkesiap. Dunia tidak selamanya baik-baik saja. Namun, dia yakin. Annica. Dunianya akan kembali baik-baik saja, suatu saat.

19 Juli 2024

Keterangan:

1. Tradisi masyarakat Tionghoa. Konon katanya, membakar uang kertas serta perlengkapan lainnya yang terbuat dari kertas untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang telah meninggal.

2. Menurut ajaran Buddha, lahir, tua, sakit, dan mati merupakan suatu penderitaan. Fenomena ini bersifat universal.

3. Anicca (Bahasa Pali) adalah ketidakkekalan.

4. Malam kembang merupakan upacara penghormatan kepada anggota keluarga yang telah meninggal biasanya ditandai dengan penutupan peti sehari sebelum jenazah dikremasi atau dikuburkan.

5. Samvegacitta (Bahasa Pali) biasanya diucapkan oleh umat Buddhis saat memberikan empati kepada seseorang yang sedang mengalami kehilangan.

6. Ucapan belasungkawa yang biasa diucapkan oleh umat Buddhis.

7. Menurut tradisi Tionghoa, baju berwarna merah atau baju berwarna cerah menggambarkan kebahagiaan. Biasanya selama waktu tertentu, tidak boleh mengenakan baju merah atau berwarna cerah setelah kematian anggota keluarga.

Sylvia Sari, seorang software engineer yang memiliki ketertarikan dalam bidang menulis. Perempuan yang lahir di Palembang, 13 September 1992, ini menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Teknik Informatika Binus University. Sejak masih duduk di bangku sekolah, dia gemar menulis fiksi, khususnya cerpen. Melalui media seperti Wattpad dan Medium, dia membagikan tulisan-tulisannya berupa fiksi dan blog mengenai teknologi. Media sosialnya di Instagram, yakni dengan akun @sylviasari_.

sumber : kompas.id, 06 Sep 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme