Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Panasea dan Rumah Sakit pada 3018 oleh Jein Oktaviany

Posted on Jum, 13 Sep 2024

TIDAK pernah ada yang sakit lagi di dunia ini. Rumah sakit telah kehilangan masa jayanya. Kamar-kamar berdebu yang penuh jaring laba-laba, tabung infus yang kosong, stetoskop yang sudah lama berada dalam lemari. Tak ada lagi suster atau dokter berjalan tergesa-gesa di trotoar untuk menemui pasien. Semua toilet begitu kotor karena sudah lama tak dibersihkan meski seharusnya rumah sakit adalah tempat paling bersih.

Saat ini, rumah sakit sudah beralih fungsi menjadi museum: tempat anak-anak sekolah melakukan karya wisata dan kami—para pegawai rumah sakit—mendadak menjadi pemandu yang memperlihatkan virus-virus yang pernah ditakuti di masa silam, memperkenalkan penyakit dan gejalanya yang takkan pernah mereka rasakan, mulai dari penyakit HIV/AIDS sampai Covid-19, serta memutarkan film dokumenter tentang sejarah dunia kedokteran.

Orang-orang datang bergerombol dari kamar menuju kamar, melakukan swafoto, dan pura-pura menyimak penjelasan. Padahal, aku tahu mereka sudah muak dan ingin segera keluar agar bisa merokok sepuasnya—toh merokok pun takkan membuat mereka sakit. Nyaris semua yang hadir selalu terlihat bosan, beberapa—biasa siswa badung—membuat lelucon tentang penyakit, dan suasana menjadi cukup ceria setelahnya.

Sebagai seorang dokter, aku kadang bimbang menyikapi hal tersebut. Di satu sisi, aku merasa senang karena manusia telah menemukan kesehatan yang absolut. Di sisi lain, aku merasa tidak pernah bekerja sedikit pun. Aku merasa gelarku sia-sia. Mungkin, aku hanyalah seorang penganggur yang digaji untuk datang pagi-pagi sekali agar bisa sebatas diam, diam, dan hanya diam. Nyaris seperti satpam, tanpa adanya beban keamanan.

Gaji sebagai dokter semakin lama semakin berkurang. Pemerintah menganggap tanpa adanya dokter pun kehidupan akan berjalan dengan sempurna. Jurusan kedokteran yang sempat jadi primadona pada zaman dulu satu per satu mulai tutup. Menurut data terbaru, delapan puluh persen masyarakat ingin agar dokter digantikan oleh robot. Aku paham akan hal itu. Robot tak perlu digaji. Besi-besi itu bisa dua puluh empat jam diam, diam, dan hanya diam, serta sesekali mengantar anak sekolah berkeliling rumah sakit.

Aku jadi menyesal tak mendengarkan orangtuaku saat memilih jurusan kuliah dulu. Mereka ingin aku memilih jurusan sastra karena, menurut pandangan mereka, seorang penyair takkan bisa digantikan oleh mesin. Namun, aku bersikeras untuk memilih jurusan kedokteran dengan beberapa alasan: 1. Karena sedikitnya peminat, jadi aku tidak perlu belajar sungguh-sungguh. Jujur saja, aku tak peduli tentang prospek masa depan—itu memang aku sesalkan sekarang; 2. Karena kakekku, Robert Panasea, ilmuwan dan dokter yang menemukan vaksin sekaligus obat segala penyakit. Ironi sekali, dulu aku masuk kedokteran karena merasa Kakek adalah dokter yang hebat, dan aku ingin mengikuti jejaknya.

Namun, sekarang, aku merasa tidak berguna sebagai dokter karena Kakek telah memecahkan rekor tertinggi dalam dunia kedokteran sampai bidang itu tak diperlukan lagi.

Akan aku ceritakan sedikit tentang Kakek—idolaku sekaligus musuh bebuyutanku saat ini. Kisah ini terjadi sekitar dua puluh tahun lalu saat dunia lebih mirip bulatan sampah kucel yang baru saja disiram zat kimia yang susah terurai: bau, tidak sehat, dan lebih baik dibakar saja. Daratan telah dihiasi sampah, sampai bertumpuk-tumpuk seperti singgasana raja. Saat itu, seorang wartawan pernah menyebut bahwa bumi ini sudah jadi planet sampah. Lautan pun tak kalah bersampah. Kalian bisa melihat sampah-sampah berenang naik turun seperti sekumpulan ikan di bawah samudra.

Karena keberadaan sampah yang diperkirakan telah mengisi tujuh puluh delapan koma lima persen bumi, maka manusia terjangkit banyak penyakit saat itu. Tiga per empat penduduk meninggal dan menjadi bangkai yang tak terkubur, karena tak ada sejengkal tanah pun yang bersih tanpa sampah dan bisa dipakai untuk pemakaman. Saat itu umurku masih belasan dan sedang rajin-rajinnya membaca al-kitab yang membuatku berpikir bahwa keadaan ini adalah azab dari Tuhan. Aku lebih suka mendapatkan azab seperti kisah-kisah dalam al-kitab: terlihat lebih lazim, natural, dan tanpa sampah.

Pada saat dunia seperti itulah, Kakek menemukan sebuah vaksin sekaligus obat segala penyakit, yang pada akhirnya diberi nama Panasea. Umur Kakek saat itu menginjak delapan puluh. Aku ingat betapa keras usahanya untuk menemukan obat itu. Ia melakukan beribu kali percobaan di laboratoriumnya. Aku tahu, karena tak jarang aku sendiri melihat percobaan tersebut: melihat rambut beruban Kakek yang rontok karena terlalu banyak berpikir, melihat keriput tangannya yang mencorat-coret papan tulis berisi rumus-rumus yang lebih mirip kode saking rumitnya, mencium bau-bau obat kimia yang menyengat sampai hidungku bersin-bersin.

Aku bahkan pernah melihat Kakek mencoba melakukan bunuh diri. Aku melihatnya sedang menggantungkan tali pada langit-langit laboratorium. Saat itu, ia tersenyum ke arahku sambil menyebut namaku dan berkata, Robert, aku lebih baik mati bunuh diri dibanding mati karena sampah-sampah itu. Aku melihat ke arahnya dengan tatapan menjijikkan, melihat seorang dokter terbaik yang pernah kutahu, seorang renta yang sudah busuk mencoba bunuh diri. Aku pun menjawab singkat, Sesudah ini aku akan ganti nama, Kek. Aku tidak mau mempunyai nama yang sama seperti seorang pecundang yang memilih bunuh diri dibanding menyelamatkan dunia.

Mungkin dia ingin bertemu kakekku, penemu obat Panasea.

Saat itu, aku pergi dari sana, dan aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Kenapa Kakek tak jadi bunuh diri, bagaimana ia menemukan Panasea, sungguh aku tak pernah tahu. Karena sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi menemui Kakek. Sejak saat itu, aku tidak pernah datang ke laboratoriumnya. Aku bahkan tak pernah mengucapkan selamat atas temuannya. Aku pergi, tidak hanya dari ruangan itu, tapi juga dari kehidupan Kakek.

Hanya rasa bangga di hatiku yang tak pernah pergi. Perasaan yang menyatakan bahwa aku adalah Robert Panasea Jr, cucu dari Robert Panasea yang menemukan obat Panasea. Bahkan lima tahun setelah itu, dunia bisa menyelesaikan masalah penyakit dan sampah berkat bantuan Panasea. Tidak hanya menjadi obat bagi semua penyakit, tapi juga menjadi secercah harapan untuk kemanusiaan, bahwa planet masih ada harapan. Dunia hanya butuh waktu lima tahun untuk membuat bulatan sampah bernama bumi jadi lebih baik. Tepat di tahun itu jugalah, aku menjadi mahasiswa kedokteran.

BUNYI suara telepon yang terdengar seakan sudah bertahun-tahun menunggu untuk berdering. Aku sedikit kaget mendengarnya, karena setahuku telepon ini hanya akan berbunyi untuk urusan pasien saja.

”Halo, dengan Dokter Robert Panasea Jr. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mengangkat telepon.

”Pak Dokter, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” ujar suara suster di sana, terdengar panik. Mungkinkah ada yang sakit?

”Apakah kau tak salah dengar? Mungkin dia hanya ingin Panasea. Obat itu.”

”Tidak, Dokter. Dia sendiri menyebutkan nama Anda. Bukan obat Panasea.”

”Mungkin dia ingin bertemu kakekku, penemu obat Panasea.”

”Tidak, Dokter. Dia menyebut Dokter Robert Panasea Jr. Bukan ilmuwan Robert Panasea. Lagi pula, kakek Anda tidak bekerja di rumah sakit ini lagi, hanya Anda satu-satunya Robert Panasea yang bekerja di sini.”

”Urusan kesehatan?” tanyaku memastikan.

”Iya, Dokter. Kenapa Anda malah memperlambat semuanya! Ini pasien pertama kita sejak dua puluh tahun lalu!”

”Cepat bawa ke UGD!” kataku cukup keras karena mendengar kata ”pasien”. ”Dia masih bisa berjalan? Jika tidak….”

”Bisa, Dokter. Baiklah, akan saya antar sekarang.” Suster itu memotong perkataan lalu menutup telepon.

Aku menyimpan gagang telepon kembali pada tempatnya. Merapikan jas labku. Aku berlari ke ruang UGD secepat mungkin. Ini pasien pertamaku. Bahkan mungkin ini adalah pasien pertama dalam sejarah dunia sejak Panasea ditemukan.

Aku duduk di ruangan tersebut. Pasienku belum datang. Aku merasa bangga mendahului paseinku. Ini adalah pengalaman pertamaku. Aku harus benar-benar sempurna.

”Dok,” suara suster dari pintu sayup-sayup terdengar. Aku merasa jantungku langsung berdetak cepat.

”Silakan masuk!” teriakku sambil mencoba untuk terlihat sibuk dan bergaya layaknya seorang dokter dalam film-film dokumenter yang selalu kuperlihatkan pada anak-anak sekolah.

”Ini pasiennya, Dok.” Suster itu terdengar bahagia mengatakannya. Ah, siapa yang tidak bahagia mendapatkan pelanggan setelah bertahun-tahun?

”Silakan duduk,” ujarku, aku masih mencoba pura-pura sibuk. Aku merasa tanganku sedikit gemetar. Ini adalah pasien pertamaku. Aku tidak berani menatap wajah pasienku sendiri. Aku mendengar suara kursi berderit karena pasienku sudah duduk, lalu suara pintu ditutup.

Aku memberanikan diri menatap ke arah pasienku. ”Silakan sebutkan nama Anda dan apa sakit yang dirasakan.”

”Robert Panasea, saya merasakan tubuh saya membutuhkan penyakit.”

Mendengar suara dan perkataan pasienku, aku mencoba menatap lekat-lekat wajahnya. ”Robert, aku merindukan sakit.” []

Robert Panasea, saya merasakan tubuh saya membutuhkan penyakit.

Jein Oktaviany, lahir di Ciwidey, Jumat tanggal 13. Aktif di Kawah Sastra Ciwidey. Karyanya bisa dilihat di jeinoktaviany.wordpress.com.

sumber : kompas.id, 13 Sep 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme