Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sesungguhnya Dia Tak Ingin Menjadi Ibu oleh Fanny J. Poyk

Posted on Ming, 24 Des 2023

 

Sebenarnya, jika dia mengilas balik kisah masa lalunya, dia tidak ingin menjadi ibu. Satu alasan dari keinginannya itu adalah baginya akan banyak derita yang diperolehnya kelak. Dia merasa derita ibunya akan menurun kepadanya. Menurutnya, berperan sebagai ibu itu berat, sangat berat.

DIA mengilas balik kenangan masa remajanya, mengenang kembali keseharian peran ibunya. Di matanya, yang telah dialami ibunya sungguh di luar batas dari wujud manusia yang bernama perempuan. Perempuan yang seharusnya menerima hal-hal baik di sepanjang hidupnya. Tapi, keinginannya untuk tidak menjadi ibu tidak terjadi. Keinginannya itu seolah ditolak takdir dan dia tetap menjadi seorang ibu. Ibu dengan segala problematikanya yang rumit dan kompleks.

Ibu yang harus menerima dengan pasrah dan tegar segala perilaku makhluk-makhluk di sekitarnya. Ibu dengan mengalahkan ego yang ada di hatinya. Ibu yang menurut sebagian orang harus tunduk pada aturan kehidupan yang dibentuk berdasar satu kesepakatan untuk masuk ke dalam satu lembaga yang penuh dengan tanggung jawab. Ibu yang terkadang memosisikannya sebagai budak tanpa dia sadari.

Ya, pilihan tetap pilihan. Hidup selibat dengan mematikan libido yang datang di usia remaja tampaknya tak berjalan searah dengan kehendaknya. Pikirannya mulai mengikuti siklus zaman. Takdir perempuan adalah menikah seperti yang sudah digariskan alam. Kemudian hamil, melahirkan, membesarkan anak, mengasuh mereka hingga menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa juga memperoleh kesuksesan di berbagai bidang.

Setelah itu, rotasi akan terulang. Para anak akan ”diambil” oleh lelaki atau perempuan yang kemudian menjadi istri atau suami mereka. Lalu kehidupan akan bergulir secara alami dan sesuai dengan kodrat alam. Dia, si perempuan yang pada awalnya tak mau menjadi ibu itu, akan mengikuti siklus bumi, menua lalu mati.

Hidup di dalam satu lembaga yang dinamakan rumah tangga atau keluarga telah mengikat kebebasannya yang dulu selalu diinginkan. Menjadi manusia merdeka tanpa harus mengikuti alur takdir sebagai seorang ibu. Ketika lelaki yang dicintainya datang melamar, dia tidak bisa menolak binar panah amor yang menyusup kuat ke relung hatinya. Semua itu mematahkan keinginannya untuk tidak menjadi ibu. Ya, ketika dia mengilas balik semuanya, dia kembali ke keinginan semula, seharusnya ia tidak menjadi seorang ibu! Terlalu complicated, pikirnya. Namun, guratan waktu berbicara dengan anomali yang menentang semua rencananya. Panah amor yang kuat itu benar-benar datang tanpa diminta. Mengalahkan komitmen yang semula bercokol di hatinya.

***

”Mengapa kau dulu memilih tidak mau menjadi ibu?” tanya seorang sahabatnya yang memiliki empat anak dan kini ditinggal suaminya yang memilih kawin siri dengan perempuan selingkuhannya.

”Sebenarnya pemikiranku sederhana. Semua itu berawal dari melihat contoh kehidupan orang tuaku dan banyak peristiwa terjadi di sekelilingku,” sahut perempuan itu. Dia enggan untuk memperjelas contoh yang ada di hadapannya. Takut sang sahabat bersedih hati.

”Tapi, itu kan tidak terjadi pada setiap orang. Buktinya setelah kau menikah dan punya anak, hidupmu baik-baik saja,” lanjut sahabatnya dengan wajah sedikit murung. Mungkin dia terkenang akan kisahnya sendiri.

Perempuan itu terdiam sejenak. Wajahnya terlihat suram. Dia mengakui bahwa dirinya tidak salah memilih suami. Cinta yang kuat masih tertanam di dasar sanubarinya. Namun, dalam perjalanan empat dasawarsa usia perkawinannya, beragam kisah muncul dan menjadi sebuah drama realistis tanpa skenario.

Susah dan senang datang bagai gulungan ombak yang memecah di tepian pantai. Dia tak ingin mengenang kisah yang dibarengi dengan ragam kepedihan sehingga air matanya turun di kedua pipinya pada malam-malam sunyi, sepi tanpa suara. Hanya detak jantungnya yang kerap berdetak cepat apabila kisah tentang orang-orang terdekatnya kembali merasuki relung ingatannya.

”Apakah kau memiliki beban hidup sehingga kau bilang jika mengilas balik kehidupan, kau tak ingin menjadi ibu?” selidik sahabatnya kembali.

Perempuan itu masih tetap diam. Pikirannya terbang melayang ke segala arah. Meski demikian, nalarnya masih berjalan sempurna. Satu hal yang membuatnya tak mau terjebak oleh rasa belas kasihan dari tampilan wajah dan tanya penuh dengan aroma jebakan dari sahabatnya itu adalah dia tak ingin apa yang diungkapkannya menjadi sebuah kisah yang meluncur dari mulut ke mulut hingga berkembang biak berbentuk gosip murahan layaknya berita viral di media sosial. Biar sang sahabat tak tahu sampai sejauh mana kedalaman hati dari kompilasi rasa sedih yang menderanya.

”Akan kutanggung sendiri apa yang kurasakan,” kata perempuan yang pada awalnya berencana tidak mau menjadi ibu itu.

Pada perjalanan waktu, rasa nyaman antara perempuan itu dan suaminya mulai terusik. Ketika anak-anak sudah dewasa, ada yang menikah, lalu suami pensiun, dan perempuan itu juga purnatugas dari kantornya. Dan keduanya bukan pegawai negeri yang punya dana pensiun. Jadi, dana pesangon hari tua yang diberikan perusahaannya dan suaminya secara pelan habis tergerus oleh kebutuhan sehari-hari. Semua yang nyaman mulai berganti arah. Perempuan itu kembali pada pernyataannya semula, dia tak ingin menjadi ibu.

”Mengapa pernyataan itu kukatakan kembali? Karena apa yang telah kulalui, selama mengikuti perjalanan sebagai ibu tak seperti yang kuharapkan. Aku merasa menyesal telah menjadi ibu,” katanya dengan suara datar.

”Kesalahannya di mana? Bukankah kau terlihat nyaman-nyaman saja? Suamimu baik, dua anak telah sukses di dalam pendidikannya, satu sudah menikah, dan kau punya seorang cucu perempuan yang cantik rupawan,” kata sahabatnya yang lain.

”Hidup itu tak selalu berada di zona nyaman. Kita juga akan berada di area yang tak nyaman, hidup seperti memanggul beban dan beban itu akan hilang ketika kita tiada,” lanjut sang sahabat.

Kali ini perempuan itu menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya.

”Semua orang mengatakan begitu, hidup memikul beban hingga waktu di dunia berakhir. Tapi, aku sudah tak sanggup. Lelah sekali rasanya menjalani hidup ini,” kata perempuan itu dengan suara serak.

Percakapan pun terhenti. Sejurus kemudian, suara dering handphone berbunyi. Dia tak mengacuhkan bunyi handphone itu dan tak menjawabnya. Dering handphone kembali berbunyi. Kali ini dia mengangkat dan kemudian menaruh ponsel di telinga. ”Kakak, adik Martin hilang. Bagaimana ini?” suara adik ketiganya terdengar dari kejauhan.

Perempuan itu menundukkan wajahnya. Hatinya bagai tergores sembilu. Ingatannya pada sang ibu yang hilang lima belas tahun lalu kembali terbayang. Ibu hilang bagai ditelan bumi, sekarang adik lelakinya yang menderita skizofrenia juga hilang. Dua tahun lalu ayahnya pergi tanpa pamit seperti sang ibu yang hilang entah ke mana. Lalu adik lelakinya yang genius setahun lalu juga tiada akibat kanker otak.

Dia menunduk pedih. Betapa tragis dan absurdnya hidup ini, bisiknya sendirian. Dia ingin menangis lagi, namun air mata itu rasanya sudah tak bersisa. Pada dini hari yang sunyi, dia mengutarakan perasaannya pada sang suami.

”Seharusnya dulu aku tidak menikah, seharusnya aku tidak menjadi ibu, seharusnya aku merawat ayah, ibu, dan adikku yang sakit jiwa, seharusnya aku tidak melihat derita yang beruntun datang. Seharusnya aku tidak pernah tahu kalau kau akan terkena penyakit jantung di usia tuamu, seharusnya aku bisa mengasihani diriku sendiri, dan merasakan penyakit diabetes membunuhku perlahan-lahan. Seharusnya aku tidak merasakan kepedihan yang teramat dahsyat dari yang kini kuhadapi. Seharusnya aku tidak bekerja keras mencari sesuap nasi di hari tuaku untuk makan kita. Aku lelah,” kata si perempuan.

Waktu kemudian terlarung bersama sepi. Perempuan itu dan suaminya berjalan bergandengan tangan. Mereka menantang ombak, meniti jalan dengan langkah perlahan hingga ke tengah lautan. Ketika wujud mereka lenyap tertelan samudra, terdengar ucap lirih dari perempuan itu pada suaminya. ”Aku telah menuntaskannya. Terlalu berat bagiku menanggung semua ini. Selamat tinggal derita.”

Dan perempuan itu tersentak dari tidur lelapnya. Di sisinya dengkur sang suami terdengar bak kereta yang melaju perlahan memasuki stasiun. Perempuan itu berucap ke diri sendiri, ”Ah, ternyata semua hanya mimpi. Tapi, kalau bisa memilih, aku tak ingin menjadi ibu. Terlalu berat,” ujarnya.

Sang suami membuka matanya. Ruang rumah jompo tempat dia dan perempuan yang juga istrinya itu tinggal terlihat sedikit remang-remang. Mereka berdua ditempatkan di sana oleh anak-anak yang mereka sayangi dan rawat sejak kecil. Tak ada kekuasaan untuk melawan. Mereka harus pasrah sebab tak punya dana pensiunan yang datang tiap bulan. Keduanya bersyukur masih bisa bersama. Meski gumaman kerap terdengar dari mulut sang istri, ”Sesungguhnya aku tak ingin menjadi ibu.” (*)

—

FANNY J. POYK : Lahir di Bima, Sumbawa, NTB. Saat ini tinggal di Depok.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 24 Desember 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme