Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Orang-orang Aneh dari Selatan oleh Ni Komang Ariani

Posted on Ming, 13 Okt 2024

Aku melihat orang-orang berdatangan dari Selatan. Mereka datang dalam rombongan-rombongan kecil. Orang-orang yang datang itu tampak lelah dan sarat oleh kekacauan di dalam pikiran mereka. Kepergian mereka ke desa Rembulan seperti menyimpan harapan yang sangat besar. Desa Rembulan yang diapit perbukitan tiga penjuru, entah kenapa dianggap sebagai desa yang bisa memberikan harapan untuk mereka. Untuk sampai ke desa Rembulan, orang-orang dari Selatan harus menyusuri sungai Kuning yang berkelok-kelok. Mereka harus berjalan selama tiga hari tiga malam untuk bisa sampai ke hulu sungai Kuning. Orang-orang Selatan yang biasa dengan kehidupan perkotaan akan menganggap ini perjalanan gila.

Kawasan Selatan dikenal sebagai sebuah pinggiran kota yang hancur lebur. Kawasan ini ada di balik kota Sanya yang megah dan masyur. Selatan adalah kebalikan kota Sanya yang ada di brosur-brosur wisata dan menjadi impian semua orang untuk mengunjunginya. Hanya orang yang berada antara hidup dan mati yang cukup nekad untuk menyeberang ke Selatan melalui sebuah celah di dalam air yang menghubungkan dua area ini. Orang-orang yang terbiasa tinggal di kota Sanya, akan merasa seperti dilempar ke neraka ketika memasuki area Selatan

 

Tembok yang tinggi menghalangi cahaya matahari masuk ke area Selatan. Area Selatan menjadi tempat yang selalu temaram dan sulit melihat wajah orang-orang yang lalu-lalang dengan jelas. Kalaupun sempat melihat sekilas wajah orang-orang itu, konon, orang-orang di Selatan memiliki wajah yang gelap. Entah apa yang mengubah orang yang hidup riang gembira di kota Sanya ini memilih menyeberang ke area Selatan. Aku belum pernah ke kota Sanya, namun aku mendengar orang-orang di sana memiliki wajah-wajah yang bening seperti kaca, pakaian hitam-hitam yang trendi, perkantoran dengan garis-garis yang tegas; pagi ditandai gegas, dan gerak langkah yang terburu-buru di tengah kerumunan; kesuntukan menekuni layar komputer, dan malam yang ditandai tubuh lunglai kelelahan. Subuh adalah saat yang mengerikan. Beberapa sudut kota Sanya ditandai jeritan histeris. Satu atau dua tubuh melayang deras dari ketinggian.

Mungkin dengan alasan itulah mereka memutuskan untuk melakukan perjalananan panjang ke desa Rembulan.

Aku menduga orang-orang yang kalah dalam persaingan di kota Sanya dan masih memiliki nyali untuk hidup, memutuskan untuk menyeberang ke area Selatan. Mereka menghilang tanpa jejak dari Sanya. Seperti orang yang menguap di siang bolong. Beberapa orang mungkin menganggap meninggalkan identitas mereka yang lama akan membuat mereka mampu bertahan hidup. Namun area Selatan adalah tempat yang begitu buruk untuk melanjutkan hidup. Aroma got yang begitu kencang membuat orang-orang yang tinggal di sana seperti hidup di dalam got raksasa dan berenang-renang di dalamnya. Konon, orang yang hidupnya paling buruk di area Selatan, sering mencium aroma kecoak dari mulutnya sendiri. Bila hari menjadi gelap, tubuh-tubuh pun bergelimpangan di tengah jalan raya. Orang-orang itu tidak memiliki cukup uang untuk menyewa sebuah kamar.

Mungkin dengan alasan itulah mereka memutuskan untuk melakukan perjalananan panjang ke desa Rembulan. Tiga hari tiga malam untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, tentu layak dicoba. Namun aku tidak yakin, bahwa desa Rembulan akan bisa memenuhi harapan mereka akan sebuah kehidupan yang lebih baik.

Aku lahir dan besar di desa Rembulan tidak pernah merasa desa ini istimewa. Hidup di desa Rembulan sama kerasnya dengan kehidupan di luar sana. Tidak banyak belas kasihan yang tersedia untuk siapapun. Setiap orang harus mencangkuli garis nasibnya sendiri. Memecahkan batu yang amat keras untuk memastikan nasi dan lauk-pauk yang cukup untuk keluarga.

Masa kecilku dipenuhi dengan olah fisik yang keras di ladang. Tidak membantu orang tua di ladang berarti aku tidak mendapat bagian nasi dan lauk-pauk hari itu. Setelah dewasa, Ayah mengatakan bahwa itu adalah cara Ayah mendidikku menjadi orang yang bertanggung jawab. Kedua orang tuaku tidak berumur panjang karena keduanya malas berobat kalau merasakan ada bagian tubuh yang sakit. Aku menjadi sebatang kara di usia dua puluh tahun, saat tubuhku sudah menjadi mesin yang ahli untuk mencangkuli ladang. Aku tidak mengetahui cara hidup yang lain selain berladang. Hanya saja ladang terasa amat sunyi…. Seperti sebongkah lubang yang sangat besar.

Mai tetangga berladangku, yang menyelamatkanku dari kesunyian yang amat menyesakkan. Ia mengajakku berbicara. Kami makan bersama di pondok bambu di ladang. Aku memberanikan diri melamar Mai. Mai menjawabnya dengan mengangguk dan tersipu. Setelah menikah, kami meneruskan pekerjaan berladang. Dua anakku lahir tak lama setelah itu. Begitu mereka cukup besar, aku pun mengajaknya ke ladang. Aku mengajari mereka bagaimana membantuku berladang. Kalau mereka malas, aku menghukum mereka dengan tidak memberinya makan. Aku mengatakan kalimat-kalimat yang sering diucapkan Ibu dan Ayahku. Aku juga tidak tahu mengapa meniru mereka, padahal aku benci banyak hal dari yang mereka katakan.

Ya begitulah. Desa Rembulan bukanlah desa yang istimewa. Aku sering mendengar gunjingan antara warga desa Rembulan sendiri, tentang kedatangan orang-orang yang mengadu nasibnya ke desa ini.

”Mengapa pula rombongan-rombongan aneh itu mendatangi desa kita. Desa ini tidak memiliki apa-apa, selain ladang yang tandus dan sering gagal panen.”

”Mereka memiliki muka yang gelap. Pikiran mereka sudah tidak normal.”

”Desa kita amat miskin, sampai warga desanya lupa untuk punya keinginan.”

”Karena miskinnya, para Dewata menjadi kasihan, dan menaruh salah satu pintu surga di desa ini. Nah dimana pintu surga itu, tak seorang pun tahu. Namun, konon embusan dari sela-selanya sudah cukup membuat warga desa ini berbahagia.”

”Aku tidak bahagia. Aku lapar.”

”Lapar juga bisa bahagia.”

Pergunjingan demi pergunjingan dan desas-desus semakin banyak beredar. Namun, tak seorang pun yang bisa menyalahkan atau membenarkan berita-berita yang beredar tersebut. Aku dan warga desa Rembulan lainnya terlampau lelah untuk sekadar memikirkannya.

Namun, sayang banyak dari mereka yang menghabiskan uang mereka untuk membeli mi instan.

Orang-orang dari Selatan tinggal di area terbuka tanpa penghuni. Mereka mendirikan tenda-tenda sederhana dari plastik. Orang-orang ini membawa bekal berbentuk kaleng-kaleng yang terlihat lusuh. Beberapa dari mereka terlihat menyimpan kepingan emas, yang mereka tukar dengan makanan dan pakaian dari penduduk desa Rembulan. Di desa Rembulan, umbi-umbian ada dalam jumlah cukup banyak. Seseorang yang mau makan umbi-umbian selama satu tahun, niscaya tidak kelaparan. Namun, sayang banyak dari mereka yang menghabiskan uang mereka untuk membeli mi instan. Akhirnya ada sebagian dari mereka yang menahan lapar sampai masa panen tiba.

Orang-orang dari Selatan terlihat sangat berbeda. Dari raut muka, sinar mata, cara tersenyum dan cara berbicara. Mereka berbicara dengan terbata-bata, dan memandang semua orang dengan wajah curiga. Aku menduga, area Selatan adalah daerah yang begitu buruk sehingga dapat mengubah seseorang menjadi orang yang berbeda. Sangat berbeda dengan orang-orang Rembulan yang terlihat memiliki wajah yang tenang, kalimat-kalimat yang lugas, muka yang cokelat terpanggang matahari dan kaki-kaki yang berotot. Orang-orang Rembulan terbiasa ditempa kemiskinan sejak dapat mengingat dirinya. Kemiskinan telah mengubah orang-orang desa Rembulan menjadi orang-orang yang bersikap masa bodoh. Mereka tidak memiliki keinginan apa pun selain bisa makan dengan kenyang hari itu. Sementara orang-orang dari Selatan adalah orang-orang yang sangat gelisah dan banyak berpikir. Mereka terus berpikir bagaimana bisa hidup sukses dan berbahagia. Keinginan semacam itu telah membuat mereka menjadi lebih menderita. Kedatangan mereka ke desa Rembulan ini begitu penuh pengharapan. Keinginan untuk bisa bernapas lagi dan hidup sebagai orang normal. Aku merasa orang-orang dari Selatan telah dikutuk oleh cara berpikir mereka sendiri. Mereka terus-menerus berpikir untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti di kota Sanya yang masyhur. Sementara mereka meninggalkan kota itu karena sudah tidak mampu bersaing di dalam deru kota yang tidak mengenal belas kasihan. Aku hanya tersenyum kecut membayangkan bagaimana orang-orang dari Selatan bisa berbahagia di tengah orang-orang yang tiap hari membanting tulang antara makan atau lapar?

Mungkin kenyataan pahit itu yang memaksa orang-orang dari Selatan akhirnya meninggalkan desa Rembulan. Mereka mencoba peruntungan di tempat baru, yang mungkin terlihat mirip dengan kehidupan mereka sebelumnya. Sebuah kota kecil, yang memberikan gaji yang cukup untuk hidup, dan sebuah hiburan ringan untuk melepas penat sehabis bekerja. Tidak ada persaingan gila-gilaan sebagai mana halnya di kota Sanya. Namun, yang membuatku bingung, rombongan-rombongan lain tetap berdatangan. Entah berapa banyak orang lagi yang tergiur pada dongeng-dongeng manis tentang desa Rembulan. Untuk merasakan celah pintu surga yang entah ada di mana. Aku yang lahir dan besar di desa ini tak sekalipun merasakan embusannya. Aku hanya mencoba untuk tetap kenyang dengan belajar menyukai umbi-umbian.

Ni Komang Ariani dilahirkan di Bali, 10 Mei 1978. Pada tahun 2003-2006 bekerja sebagai penyiar dan jurnalis radio di Global FM Bali dan KBR 68H Jakarta. Pada tahun 2008 menjadi Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerita Bersambung Femina melalui noveletnya, ”Nyanyi Sunyi Celah Tebing”. Tiga kali masuk Cerpen Pilihan Kompas. Dua kali masuk 10 Besar Khatulistiwa Literary Award dan pada tahun 2011 diundang sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival. Di tahun 2017 terpilih sebagai peserta residensi ASEAN-Japan Literary Festival dan pada Agustus 2018 terpiih sebagai salah satu penulis yang menjalani program residensi selama sebulan di Thailand yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional.

Bukunya yang telah terbit adalah Lidah (2008), Senjakala (2010), Bukan Permaisuri (2012), Jas Putih (2014), Ketut Rapti (2017), Marigold (2019), dan Telikung (2020)

Rusyan Yasin, pelukis asal Bogor yang menempuh gelar sarjananya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Setelah lulus, ia melanjutkan studi dengan mengikuti program kerja sama antara ITB dan Kedutaan Italia: pelatihan restorasi dan konservasi karya seni. Saat ini ia aktif melukis dan berpameran, di waktu luang ia bekerja sebagai ilustrator dan pengajar. Karya lukisnya didominasi oleh tema-tema lanskap urban dan surealisme.

sumber : kompas.id, 13 Okt 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme