Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pak RT Membawa Gergaji oleh Mardi Luhung

Posted on Sab, 14 Jan 2023

Oleh MARDI LUHUNG

—

I

Minggu pagi yang biasa. Orang-orang kampung banyak

yang libur. Menghabiskan waktu dengan membersihkan halaman

rumah, got, atau menggarap kebun kampung, seperti Pak Y

dan Pak B. Sebab, jika Minggu tiba, mereka berdua pun ada di kebun.

Mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.30 WIB (hanya rehat saat duhur dan asar), mereka berdua tak lelah-lelah macul, nyetek, atau sekadar memindah tanaman dari satu galian ke galian lain. Jika tidak begitu, mereka berdua pun mencari kotoran kambing ke kampung sebelah. Terus dibawa ke kebun. Kotoran kambing yang akan dijadikan pupuk.

”Kita mesti merawat kebun ini dengan cinta,” kata Pak B.

”Dengan cinta?” tanya Pak Y.

”Iya, dengan cinta,” tegas Pak B.

Memang, di kampung, mereka berdua mencintai tanaman. Mulai tanaman yang berbunga sampai berbuah. Mulai yang berumur panjang sampai yang berumur pendek, seperti lombok dan terong. Dan untuk urusan cinta seperti ini, Pak Y dan Pak B adalah jagonya. Kenapa? Karena Pak Y dan Pak B tak mau ada satu tanaman pun yang disia-siakan.

Semua tanaman mesti diberi tempat. Dan ditanam dengan semestinya. Sehingga, jika kita melihat kebun kampung yang mereka berdua garap, akan melihat sekian tanaman tumbuh dengan subur. Sekian tanaman yang mengingatkan pada sebuah hutan yang pernah ada di dalam dongeng. Dongeng yang kita dengar sewaktu kecil.

Nah, di Minggu ini, ketika asyik-asyiknya menggarap kebun, terlihatlah Pak RT membawa gergaji bergegas mendekati mereka berdua. Wajah Pak RT terlihat tegang.

”Pak RT ada apa?” tanya Pak Y.

”Tumben membawa gergaji segala?” sela Pak B.

Pak RT tak menjawab. Hanya gergajinya ditudingkan ke pohon ketapang yang ada di pojok kebun. Pohon ketapang yang tinggi. Pohon ketapang yang dedaunnya rimbun. Dedaun yang kini gampang rontok.

”Kenapa dengan pohon ketapang itu?” tanya Pak Y lagi.

”Kalian tahu, pohon ketapang itu mesti aku gergaji.”

”Kenapa?” tambah Pak Y.

”Di pohon itulah, si peri mungil bersembunyi. Si peri mungil yang sudah hampir sebulan tak pernah lagi hinggap di pinggiran jendela rumahku.”

”Loh,” sahut Pak Y dan Pak B serempak.

Baca Juga: Koda

II

Malam itu, Pak RT bersiaga. Sebab, seperti biasa, tak lama lagi si peri mungil akan datang dan hinggap di pinggiran jendela rumahnya. Jendela di sebelah samping kiri rumahnya. Jendela yang bercat hijau. Jendela yang sebagian bahannya dari kaca. Jendela yang dibiarkan terbuka.

Selanjutnya, seperti yang diduga, si peri mungil pun hinggap di pinggiran jendela. Hinggap dengan anggun. Warnanya yang biru kemerahan seperti api kecil yang kebat-kebit. Dan sepasang sayapnya pun bergetar halus. Pak RT mendekat. Ingin menyentuh.

”Jangan menyentuh,” kata si peri mungil.

”Tapi aku ingin menyentuh,” balas Pak RT.

”Kau nanti akan tergoda.”

”Tergoda apa?”

”Tergoda pada setiap keanehan. Keanehan dunia. Juga keanehan cara untuk memilikinya.”

Pak RT ragu. Keanehan cara untuk memilikinya? Apa itu?

”Percayalah, itu akan membuatmu celaka.”

Dan entah bisikan nekat dari mana, Pak RT pun menyentuh si peri mungil. Tap. Dan ya sret, tiba-tiba lantai yang dipijak Pak RT bergoyang. Suasana jadi selang-seling. Dan tahu-tahu, Pak RT sudah berada di sebuah ruangan di dalam rumah megah. Pak RT duduk di tengahnya. Dirubung sekian orang. Sekian orang yang menunggu perintah. Perintah siapa? Tentu saja perintah Pak RT.

”Pak Bos.”

”Pak Bos.”

”…”

Pak Bos?

Astaga, siapa itu Pak Bos?

Pak RT celingukan. Ternyata, yang disebut sebagai Pak Bos adalah dirinya. Pak RT gugup. Tapi sebentar. Dan seperti dalam waktu yang dipercepat, Pak RT pun sontak lihai berperan sebagai Pak Bos. Sekian perintah pun dikeluarkan. Sekian hukum dan larangan pun didenguskan.

Anehnya, semua perintah, hukum, dan larangan itu kerap berakibat fatal. Sampai-sampai kerusuhan pun terjadi. Tapi anehnya, Pak RT yang berperan sebagai Pak Bos malah asyik bermain domino di rumah megahnya bersama kawan-kawannya. Sebuah permainan yang tergantung pada berapa jumlah bulatan dalam kartu. Jika sama boleh jalan. Jika tidak silakan mati. Dan apabila permainan sudah selesai, jumlah bulatan yang mati pun dihitung. Seperti menghitung dunia untung-rugi. Dunia yang kerap menjadi mimpi buruk.

Sayangnya, tepat pukul 04.00 WIB, Pak RT terbangun dari perannya sebagai Pak Bos. Si peri mungil yang hinggap di pinggiran jendela pun telah pergi.

III

Seperti yang dikatakan si peri mungil, jika Pak RT menyentuhnya, akan tergoda pada keanehan dunia beserta cara memilikinya. Dan itu kini terjadi. Betapa tidak, sejak Pak RT menjalani peran sebagai Pak Bos, sejak itu pula pikiran Pak RT selalu ingin menyentuh si peri mungil. Dan anehnya, setiap menyentuh, setiap itu pula Pak RT menjalani sekian peran yang tak terduga. Peran orang berpangkat, olahragawan terkenal, bintang iklan tersohor, sampai pada peran pendekar tanpa tanding.

Bahkan, yang tak terduga, Pak RT pernah memerankan orang yang selamat dari bencana alam. Seluruh negeri hampir hancur. Termasuk orang-orangnya. Lalu, Pak RT mengembara. Sampai kemudian bertemu dengan seorang wanita cantik yang juga selamat. Keduanya kawin dan menurunkan keturunan. Keturunan yang diajari oleh Pak RT dengan kata-kata yang maknanya diciptakannya sendiri.

”Ini batu,” kata Pak RT sambil menunjuk kaki.

”Itu rumah,” kata Pak RT sambil menunjuk pohon kelapa.

”Ini rumput,” kata Pak RT sambil menunjuk kerikil.

”Itu buku,” kata Pak RT sambil menunjuk sepeda.

”Ini beras,” kata Pak RT sambil menunjuk tiang listrik.

”Itu pintu,” kata Pak RT sambil menunjuk jendela.

”Ini piring,” kata Pak RT sambil menunjuk botol.

”Itu dasi,” kata Pak RT sambil menunjuk tampar.

”Ini kipas,” kata Pak RT sambil menunjuk kawat.

”Itu bibir,” kata Pak RT sambil menunjuk kuping.

Ya, ya, makna kata-kata pun jadi terbolak-balik. Tapi Pak RT puas. Sebab, ketika membolak-balik makna kata-kata itu, pikiran Pak RT seakan menjadi penguasa dunia. Penguasa yang mampu untuk memiliki pikiran siapa pun. Pikiran yang lama-lama percaya bahwa makna kata-kata yang mereka dapatkan (dari Pak RT) adalah makna yang benar. Makna yang layak dipercaya.

IV

”Biawak!” maki Pak RT. Entah pada siapa. Yang jelas, hati Pak RT gusar. Bayangkan, sudah hampir sebulan si peri mungil tak lagi hinggap di pinggiran jendela rumahnya. Dan hampir sebulan pula, Pak RT tak bisa berperan jadi siapa pun. Jadinya, apa-apa yang dirasakan selama hampir sebulan ini begitu hambar. Tawar. Dan menjengkelkan.

”Ke mana si peri mungil? Kenapa tak muncul? Apa kesasar?” kata Pak RT seperti pada diri sendiri. Lain itu, yang perlu ditambahkan, meski peran-peran yang dijalani Pak RT hanya beberapa jam, tapi itu begitu menggoda untuk diulang-ulang. Dan lewat peran-peran itulah Pak RT dapat memuaskan hasratnya untuk memiliki siapa dan apa pun. Sehingga, diam-diam, lewat peran-peran itu, Pak RT punya pameo: ”Hidup hanya mampir memainkan peran.” Pameo yang kini begitu kuat merasuki dada Pak RT. Dada yang berdetak kencang. Dada milik lelaki berumur 52 tahun. Tanpa istri, anak, dan keluarga. Lelaki yang sehari-hari bekerja serabutan.

Selanjutnya, entah ide dari mana, atau ada demit yang berbisik, Pak RT merasa bahwa si peri mungil pasti bersembunyi di suatu tempat. Dan tempat itu pastilah sebuah pohon yang punya daun rimbun, berwarna hijau, kuning, terus rontok. Pohon, yang setelah Pak RT memutari kampung, cocok benar dengan pohon ketapang yang ada di kebun kampung. Kebun kampung yang digarap Pak Y dan Pak B.

Dan memang, malam itu juga, Pak RT mengeluarkan gergajinya. Terus mengasahnya. Dan ide atau bisikan untuk mendatangi pohon ketapang esok harinya semakin santer dan kuat. Pak RT pun terus mengasah. Mengasah. Dan mengasah. Bunyi kikir beradu dengan ketajaman gergaji terdengar sampai jauh. Bahkan, di sela-sela pengasahan itu, sesekali terdengar maki Pak RT: ”Biawak. Benar-benar biawak!”

V

Seperti terceritakan, esok harinya, Pak RT pun memang mendatangi pohon ketapang di kebun kampung yang digarap Pak Y dan Pak B. Lalu keributan pun terjadi. Orang-orang kampung berdatangan. Pak RT diamankan. Tapi, di luar itu semua, Pak RT tetap saja tak tahu, kenapa kini si peri mungil tak lagi hinggap di pinggiran jendela rumahnya. Dan kenapa pula, selama mengasah gergajinya semalam, si peri mungil hanya mengintip dari tempat yang tersembunyi. Yup, itu tak lain, peran yang akan dijalani Pak RT (jika sekali lagi menyentuh si peri mungil) adalah peran yang mesti berhadapan dengan sesuatu yang tak pernah terduga. Sesuatu yang juga ada di dunia aneh yang dimasukinya. Sesuatu yang sudah lama ingin bertemu dan bertarung dengan Pak RT. Dan setelah Pak RT kalah, pun dimasukkan ke dalam karung. Terus digandulkan di pohon tinggi yang tak ada satu pun orang tahu letaknya. (*)

—

MARDI LUHUNG : Lahir dan tinggal di Gresik. Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Jembatan Tak Kembali (2022).

sumber  : JAWAPOS, Minggu, 14 Januari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme