Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tohjaya oleh Risen Dhawuh Abdullah

Posted on Ming, 20 Okt 2024

Setelah kau renungkan, kau membenarkan yang dikatakan oleh Pranaraja, abdi kesayanganmu itu. Kau memang harus melenyapkan keturunan Anusapati. Sesegera mungkin. Jika perlu sampai ke akar-akarnya. Sudah pasti, jika kau membiarkannya, kau hanya sekadar mengamankan harimau yang kau bunuh induknya. Harimau itu kau letakkan di dalam kandang. Harimau itu sewaktu-waktu bisa lepas ketika kau teledor dan akan menerkammu untuk membalaskan dendam atas kematian induknya. Maka sudah semestinya kau juga membunuhnya!

”Ada satu lagi, menurut hamba, harimau yang perlu dilenyapkan,” ujar Pranaraja. Kau berdiri membelakanginya, di sebuah ruangan, kau hanya berdua dengannya.

”Siapa lagi, Pranaraja?”

”Harimau yang satu ini sangat berbahaya meskipun Gusti Prabu tidak pernah mempunyai urusan dengannya. Namun, dia bisa sewaktu-waktu menerkam siapa saja yang berada di dalam istana,” terang Pranaraja dengan penuh kehati-hatian.

”Katakan, Pranaraja. Siapa harimau itu?”

Kau membalikkan badanmu. Menatap Pranaraja. Tatapanmu mengisyaratkan ketidaksabaran. Kau merasakan ada yang mendesak-desak ingin keluar dari dadamu, tapi kau berusaha keras menekannya. Pranaraja segera mengatakan siapa harimau yang dimaksud dirinya, selain keturunan-keturunan Anusapati.

Narasinghamurti? Mendengar nama itu keluar dari mulut Pranaraja, kau kemudian mencekik leher Pranaraja dan kau berkata kepadanya bahwa sebaiknya jangan main-main dalam berkata. Kau juga katakan kepadanya, apakah dirinya sengaja mengadu domba dirimu dengan Narasinghamurti? Pranaraja memohon ampun atas ucapannya.

”Saya pun tidak dapat memungkiri bahwa apa yang Gusti Prabu sampaikan itu benar. Gusti Prabu memang tidak pernah mempunyai urusan dengan Narasinghamurti.”

”Lantas kenapa aku harus melenyapkannya?”

”Menurut hamba, yang harus Gusti Prabu pahami, Narasinghamurti keturunan Gusti Prabu Ken Arok langsung. Ini sangat berbahaya. Apalagi, akhir-akhir ini, hamba juga mendengar kasak-kusuk dari orang-orang yang tunduk pada Seminingrat, bahwa Gusti Prabu dianggap tidak layak memimpin Singhasari.”

”Tidak layak?” Nada bicaramu meninggi. Kau tidak menyangka dengan apa yang Pranaraja ujarkan. Sebagai seorang raja, kau merasa kebangetan, kasak-kusuk yang begitu penting itu tidak sampai ke telingamu jika Pranaraja tidak menyampaikannya.

”Begitulah, Gusti Prabu. Orang-orang yang tunduk pada Seminingrat, mereka juga berada di pihak Narasinghamurti. Dengan kata lain, mereka pasti akan merestui apa yang menjadi keinginan Seminingrat.”

Keterangan Pranaraja yang terakhir benar-benar membuatmu tidak menyangka. Kau menjadi merasa, sebagai seorang raja, kau tidak bisa membaca keadaan. Keinginanmu berkuasa yang hanya dilandasi perasaan dendam justru membawamu pada jurang yang membahayakan. Dalam hati kecilmu, kau mengakui bahwa kau tidak pantas menjadi seorang raja.

Saran Pranaraja untuk melenyapkan keturunan Anusapati—Seminingrat dan anak-turunannya—sepenuhnya tidak perlu kau ragukan, sebab sudah pasti mereka akan membalaskan dendam atas kematian Anusapati yang kau lenyapkan nyawanya. Namun, Narasinghamurti? Apakah memang ia harus dilenyapkan sekalipun ia berada di pihak Seminingrat? Selama ini, kau merasa hubunganmu dengannya berjalan baik-baik saja.

Kau menjadi mempertanyakan apa yang diucapkan oleh Pranaraja. Kau tidak boleh gegabah. Maka tidak menunggu waktu lama, kau segera mengutus beberapa orang kepercayaanmu untuk mengusut kebenaran yang disampaikan Pranaraja. Tidak memakan waktu lama pula, informasi yang kau kehendaki sampai padamu. Dan ternyata memang benar, Narasinghamurti berada di pihak Seminingrat.

”Dari yang hamba dengar, Gusti Prabu, karena mereka sama-sama senasib, berasal dari keturunan Ken Dedes. Ampun beribu ampun Gusti Prabu, sementara Gusti Prabu tidak senasib dengan mereka. Maka, di sini bisa dipahami, kenapa Narasinghamurti mendukung Seminingrat menjadi raja Singhasari,” kata salah seorang kepercayaanmu.

Dari keterangan orang tersebut, kau tidak dapat sepenuhnya menerima. Keterangan itu masih menyisakan pertanyaan, apakah keberpihakan Narasinghamurti karena senasib keturunan Ken Dedes? Kau curiga, Narasinghamurti sudah dicekoki dengan narasi-narasi yang tidak benar mengenai dirimu sehingga kemudian ia berada di lingkaran Seminingrat. Prasangka itu muncul karena Narasinghamurti masih keturunan langsung dari Ken Arok, ayahandamu. Selama ini kau merasa hubungan yang kau jalin dengannya baik-baik saja.

Namun, pada akhirnya, pikiran-pikiran yang keluar dari kepalamu sendiri ternyata semakin memperkeruh keadaan. Hatimu semakin ditutupi oleh kabut hitam. Yang kau pikirkan kemudian, sesegera mungkin untuk melenyapkan Seminingrat beserta Narasinghamurti, sesuai dengan yang disarankan oleh Pranaraja. Bagaimanapun kau sudah mencari bukti-bukti lewat orang-orang kepercayaanmu, dan bukti-bukti lebih terang daripada pikiranmu sendiri.

Kau sudah bulat dalam mengambil keputusan. Langkahmu sudah mantap. Maka, kau panggil Lembu Ampal, seorang kesatria Singhasari yang kau banggakan.

”Tentu kau masih ingat, apa yang sudah pernah kulakukan terhadapmu sehingga kau bisa berada di sini,” katamu kepada Lembu Ampal. Memang begitu, kau sengaja mengungkit jasamu terhadapnya di masa lalu, supaya kehendakmu tidak membentur rintangan-rintangan.

”Hamba tentu masih ingat. Tanpa Gusti Prabu, hamba tidak mungkin selamat dari kejaran Anusapati karena dituduh sebagai mata-mata Gusti Prabu.”

”Sudah saatnya aku meminta balasan atas yang kulakukan padamu,” ucapmu.

”Hamba siap melakukan apa saja untuk Gusti Prabu.”

Kau pun tersenyum penuh kemenangan. Kau berbisik kepada Lembu Ampal apa yang kau inginkan, yaitu mengenyahkan nyawa Seminingrat dan Narasinghamurti. Bagaimana caranya, kau tidak peduli. Kau ingin segera mendengar kabar kematian kedua orang itu. Lembu Ampal pun menyanggupi. Kau yakin, Lembu Ampal akan dengan mudah membunuh dua orang itu. Di matamu, Lembu Ampal adalah orang yang sakti mandraguna.

Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak berani bertindak seperti yang Gusti Prabu katakan. Memang benar, keduanya tidak hamba temukan.

Pikirmu, Lembu Ampal tidak akan memakan waktu hingga berhari-hari lamanya untuk menyelesaikan tugasnya. Bagi orang sesakti Lembu Ampal, tidaklah menjadi hal sulit menuntaskan tugas seperti yang kau berikan. Kau mempunyai keyakinan itu, tapi hingga berhari-hari, kabar yang kau harapkan tak kunjung datang. Kau pun dengan penuh murka memanggil Lembu Ampal ke istana. Lembu Ampal mengaku sudah mencari ke sana-sini, ia tidak juga menemukan keberadaan dua orang itu.

”Aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan, apakah kau akan berkhianat? Sampai saat ini, kau tidak dapat menemukannya!”

”Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak berani bertindak seperti yang Gusti Prabu katakan. Memang benar, keduanya tidak hamba temukan.” Lembu Ampal terbata-bata dalam berucap.

Maka, setelah menghadap kepadamu, berangkatlah kembali Lembu Ampal mencari Seminingrat dan Narasinghamurti. Kau tebar ancaman padanya, kau tidak segan-segan akan menghilangkan nyawanya jika tidak kunjung dapat menemukan keberadaan kedua orang itu. Kau menganggap, jika ia tidak dapat segera menemukan, berarti ia telah berupaya berkhianat. Atas nama ketidaksabaran, kau ucapkan hal itu kepada Lembu Ampal.

”Bagaimana jika Lembu Ampal merasa terancam dan ia malah berkhianat?”

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benakmu. Muncul andaian rangkaian peristiwa, jika memang Lembu Ampal menjadi merasa terancam atas ucapanmu. Ia tidak kembali ke istana.

Di titik ini, kau menyesal, kau harus kembali mengakui bahwa dirimu tidak pantas duduk di singgasana. Kau terlalu terburu-buru untuk memutuskan mengeluarkan ancaman kepada Lembu Ampal. Andai saja kau bisa lebih sedikit untuk bersabar, tentu pikiran-pikiran yang mengotori kepalamu saat ini tidak akan pernah ada.

”Tidak. Keputusanku sudah benar.” Kau menepis sendiri penyesalanmu.

Kau kembali teringat dengan ucapan-ucapan Pranaraja. Bagaimanapun, Seminingrat dan Narasinghamurti tetaplah dua harimau yang harus dilenyapkan. Terkhusus, Narasinghamurti, meskipun kau tidak pernah mempunyai konflik dengannya, siapa yang bisa menjamin hari esok akan baik-baik saja? Ini menyangkut kekuasaan. Bisa saja, ia sebenarnya merasa berhak atas takhta yang kau singgahi sekarang—berhak karena merasa keturunan permaisuri Ken Arok.

Ternyata apa yang kau khawatirkan tidak terbukti. Tiga hari dari kau mengancamnya, Lembu Ampal kembali menginjakkan kaki di istana. Keberaniannya membuatmu mengambil kesimpulan, bahwa ia sudah berhasil membunuh Seminingrat dan Narasinghamurti. Hal itu juga dikuatkan dengan wajah Lembu Ampal yang penuh kepuasaan.

”Kedatangan hamba tentunya hendak memberitahukan kabar gembira, kabar yang selama ini dinanti-nanti oleh Gusti Prabu. Hamba telah berhasil melaksanakan perintah, Gusti Prabu,” ucap Lembu Ampal.

”Benar apa yang kau katakan itu?” Meski tidak bisa ditutupi, bahwa kau tampak begitu senang, kau tetap menginginkan sebuah bukti sehingga sepenuhnya kau bisa percaya.

”Hamba akan segera tunjukkan bahwa ucapan hamba benar adanya.”

Hamba memang tidak suka dengan Anusapati, tapi tidak berarti hamba juga berada di pihak Gusti Prabu.

Tidak ada kesempatan bagimu untuk mengelak, sebuah gerak yang begitu cepat kau lihat. Gerak itu berakhir di hadapanmu. Wajah Lembu Ampal sudah berada di samping wajahmu. Nyeri yang luar biasa kau rasakan pada bagian perutmu. Kau tidak menyangka. Rasa nyeri itu semakin menjadi setelah sesuatu yang kau rasakan menancap di perutmu, tenggelam semakin dalam.

”Hamba memang tidak suka dengan Anusapati, tapi tidak berarti hamba juga berada di pihak Gusti Prabu. Bagi hamba, Gusti Prabu Narasinghamurti lebih pantas duduk di singgasana Singhasari, sebab ia tidak ternodai dendam masa lalu, seperti Gusti Prabu, juga anak turun Anusapati. Wangsa Rajasa akan berjaya di masa depan!” ujar Lembu Ampal.

Di telingamu, kata-kata Lembu Ampal laksana guntur. Ingin kau mendorong Lembu Ampal menjauh, tapi sakit yang kau rasakan membuatmu tidak dapat melakukan itu. Kau semakin tidak berdaya saat benda yang bersemayam di perutmu ditekan kembali oleh Lembu Ampal.

Sebuah wajah yang kau kenal sudah berada di hadapanmu. Bukan Seminingrat. Bukan Narasinghamurti. Wajah Pranaraja. Orang yang tanpa kau sadari telah menjerumuskanmu ke dalam jurang kematian. Kau ingin memenggal kepalanya, tapi sudah terlambat. Matamu perlahan terpejam, beriringan dengan meredupnya keinginan itu.

Bantul, Juli 2024

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2023. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Aricadia, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 4 November 1965. Mulai melukis secara otodidak sejak menginjak Bali tahun 1989. Dia setidaknya sudah lima kali pameran tunggal dan 16 kali pameran bersama. Saat ini bermukim di Siangan, Gianyar, Bali.

sumber : kompas.id, 20 Okt 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme