Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Percakapan yang Hilang di Balik Tembok Salemba oleh Vito Prasetyo

Posted on Rab, 30 Okt 2024

Langit pekat seakan menghadang tatapanku. Aku mencoba mengais guratan cahaya, mungkin sinar itu bisa membasuh pikiranku yang menahan amarah. Di sekelilingku, lalu lalang manusia berjalan hilir mudik tanpa tujuan. Dan tembok-tembok sial ini begitu kokoh menutupi sudut pandang. Apakah di luar sana masih ada harapan dan impian? Entah!

Aku mencoba menuangkan angan-angan bisu dari segala peristiwa yang menerpa perjalanan hidupku. Nyatanya, hidup memang tidak untuk menunda perjalanan. Mungkin hanya puisi menjadi frasa terindah yang menghapus kisah-kisah duka.

Di balik tembok Salemba, ada embun yang menguap. Begitu cepat sinar matahari pagi menyelinap. Suasana lengang dalam tembok tertutup bagai kehidupan yang berjalan tanpa kisah. Tetap saja akan ada kegaduhan jika segerombolan mata itu bangun dari tempat tidur. Apakah mereka hanyut dalam mimpi mereka, yang mungkin tidak pernah didapatkannya di luar sana.

Pikiranku terus berkelana. Kadang penuh gejolak, yang entah kepada siapa ditumpahkan.

”Apakah ini sebuah pilihan, bertahan hidup dalam kungkungan tembok yang warnanya buram. Pikiran seakan terasa mati.”

Di sana-sini udara terasa sesak, berbaur dengan penat dan aroma tubuh manusia yang kian hari baunya kian sangit. Kelak mungkin menjadi catatan kenangan meski nantinya menjadi segumpal dendam. Di salah satu ruang sel, Bonar tidur mendengkur, tidak peduli matahari mulai menjemputnya.

Pagi menjelang siang, sekitar pukul sepuluh, Randu masih berjemur diri di atas bangku kayu. Sedari tadi, lalu lalang manusia di hadapannya seakan menyumbat tatapannya untuk sekadar berkhayal tentang kehidupan di luar sana. Baginya, mereka sama seperti dirinya. Sekumpulan makhluk sial dan jalang.

Sesaat kemudian, pikiran Randu mulai menerawang jauh. Sampai saat ini, entah berapa hari, berapa minggu, bahkan berapa bulan lamanya, tidak satu pun keluarganya yang datang menjenguk. Apakah istrinya tidak pernah tahu bahwa Randu berada di sini? Sewaktu Randu ditangkap, ia memang sedang berada di sebuah kafe. Dan sialnya, ponselnya juga disita!

”Entah apa bedanya, hidup dan bertahan hidup. Sama-sama pikiran terluka.”

Seorang sipir yang kebetulan lewat di depan Randu tiba-tiba berkata kepada Randu, ”Engkau biarkan tubuhmu disantap kemarau.”

Randu tidak menanggapinya. Sapaan itu terdengar sinis. Selintas Randu berpikir, dari mana bangsat itu mendapat istilah yang cukup puitis. Randu hanya tersenyum pahit. Nyatanya, beberapa minggu ini panas begitu menyengat. Kering tanpa hujan, biarkan esok waktu yang menggerusnya.

Bagi orang-orang di luar sana, mungkin menganggap kehidupan dalam tembok-tembok ini seperti neraka. Pikiran mereka tidak salah. Meski ada beberapa ruangan untuk orang-orang yang agak diistimewakan. Randu lantas membantah pikirannya sendiri, aku dan mereka tetap saja punya status yang sama, sebagai tahanan.

Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Tidak ada yang perlu disesali. Randu sedikit kaget ketika seseorang mengentaknya. ”Sikat yang bersih lantai kamar mandi itu!”

Randu tersadar, rupanya ia membersihkan lantai kamar mandi sambil melamun. Tugas rutin ini, tanpa terkecuali, semua tahanan saling bergantian mengerjakannya. Terkadang Randu menjadi rapuh. Ia tak habis pikir, tempat ini seperti catatan yang menyimpan kisah pilu dan sedih.

”Apa salahku sebenarnya? Tetapi bukankah hidup tidak untuk menunda perjalanan?”

Bermusim-musim seperti melewati jalan yang sama. Tidak ada gunanya menghitung perjalanan waktu. Andai ini menjadi riwayat catatan, tak akan berguna menjadi catatan sejarah. Mungkin hanya mimpi untuk menjelma apakah kita harus menjadi pahlawan. Semua peristiwa sehari-hari seperti sebuah ritual musim, membagi hujan dan kemarau silih berganti.

Di luar sana, Arsy harus berjuang untuk menghidupi anaknya yang masih kecil. Pencariannya terhadap suaminya, Randu, seakan sia-sia. Ia tidak tahu harus mencari Randu ke mana, tiba-tiba pergi tanpa ada kabar beritanya. Bahkan sering kali keluarganya menyuruh Arsy untuk mengurus perceraiannya, dan segera menikah lagi.

”Itu bukan jawaban dan jalan keluar.” Itu yang ada di hati Arsy.

Kehidupan selalu saja memberikan pelajaran yang sangat berharga. Arsy tertatih-tatih melalui kehidupan itu bersama anaknya yang masih kecil. Dia memilih mengontrakkan rumahnya untuk biaya hidup dan terpaksa harus kos agar bisa bertahan untuk itu.

Sementara Randu menjalani hari-hari kosong tanpa impian di balik tembok yang membuat orang frustrasi. Ia dianggap gembong narkoba sehingga kebanyakan tahanan segan dan takut padanya. Rata-rata beranggapan bahwa Randu punya jaringan dan kelompok yang bisa membahayakan nyawa tahanan. Sebuah omong kosong besar bagi Randu, tetapi justru itu membuatnya aman.

*

Keluar masuk orang-orang di sekitarnya, hanya sebutan yang berbeda. Orang baru dan orang lama. Yang keluar bisa menikmati hidup sebagai sebuah kebebasan dan kemenangan, meski di luar sana harus menghadapi tatapan sinis. Mungkin, orang-orang menganggap mereka seperti orang-orang yang terkucilkan. Ini memang hukum alam.

Tidak ada kisah menarik untuk jadi kenangan di ingatan Randu. Lalu lalang manusia seakan lukisan kehidupan tanpa warna. Setiap manusia yang lewat di hadapannya, semua laki-laki. Randu mengumpat pada dirinya sendiri.

”Bangsat! Tidak satu pun perempuan yang membuat mataku sedikit berbinar.” Randu sadar, itu tidak mungkin disatukan antara laki-laki dan perempuan di rumah tahanan ini.

Matahari kian menyengat, membakar ubun-ubun kepala Randu. Setidaknya, sebagai seorang yang telah berumah tangga, ia berharap ada bayangan anak-istrinya melintas di depannya. Mungkin langit telah memurkai mimpi Randu. Kenapa sampai kini anak-istrinya tidak menjenguknya? Rasa rindunya kepada keluarganya tiba-tiba memuncak. Tapi apa lacur, hanya menjadi gumpalan kekecewaan.

Tidak terhitung berapa banyak orang yang bernasib sama dengan Randu. Mereka selalu saja berbicara dengan hal-hal yang sama tentang nasib, tidak senyaman seperti ketika berada di warung kopi. Obrolan warung yang terkadang tidak ada bedanya dengan debat kusir. Mimik wajah mereka penuh penyesalan, bersedih. Hingga ada juga yang sampai berkelahi, hanya karena masalah sepele.

Randu tidak lagi menghitung, sudah berapa lama ia berada dalam rumah tahanan ini seakan membiarkan waktu berjalan dalam kehendaknya. Kadang ia tertawa sendiri, tatkala syair lagu melintas dalam pikirannya. ”Sesungguhnya aku telah mati dalam hidup”.

Setiap orang yang berbicara dengan Randu seperti menabuh genderang nyanyian. Dan pertanyaan yang sama senantiasa muncul:

”Engkau salah apa?” Randu hanya tersenyum kecut. Kerongkongannya buntu untuk menjawabnya.

Randu sering kali berkata dalam diam. Angannya melayang, seakan apa yang ditatapnya adalah kenyataan. Semua hal yang mampu menjelma kesenangan dan kebahagiaan hatinya. Meski hatinya menolak, tempat ini tidak ada bedanya dengan penyiksaan batin.

Dalam merenungi diri, tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri. ”Aku salah apa?” Randu diam, seperti menabuh angin kosong. Tubuhnya seakan berselancar, serupa biduk mengarungi ombak. Dan itu membuatnya tertawa terbahak-bahak, tidak ada ombak yang harus ditakuti.

*

Suatu hari, ada seorang tahanan dikawal ketat beberapa petugas, berjalan dari pintu utama. Seorang berkulit putih, dan matanya agak sipit. Sepertinya Randu pernah melihat pria itu. Tapi di mana? Randu seakan meraba ingatannya. Mungkin karena Randu cukup lama dalam kungkungan tembok-tembok ini, ingatannya menjadi kendur. Usianya bertambah seakan melipat perjalanan waktu.

Sialnya! Semakin dekat langkah pria itu berjalan melintasi koridor, tempat di mana sel-sel berjejer, pria itu semakin menatap tajam wajah Randu. Darah Randu berdesir, emosinya terpacu dan ingin meledak. Tatapan pria itu seakan memancing dendam, yang entah dari mana datangnya.

”Sabar Randu.” Secara refleks, Sarbu, teman satu sel Randu, mencegahnya.

Tiba-tiba seperti ada firasat buruk dalam ingatan Randu meski selama ini pikirannya terasa mati. Kala itu, Randu sedang berada di sebuah kafe, suasana yang ramai serta lampu agak redup, membuat Randu tidak begitu kenal. Randu menaruh jaketnya di kursi, saat ia menuju toilet. Sempat Randu berpapasan dengan pria bermata sipit itu. Randu tidak mengenalnya.

Kejadian itu begitu singkat. Ketika Randu kembali dari toilet menuju tempat duduknya, beberapa orang menggerebek kafe itu. Rupanya sekumpulan polisi melakukan operasi pencarian seseorang yang disinyalir sebagai target operasi.

”Kami dari kepolisian…. Semua diam di tempat!”

Randu tidak sempat mengelak, dan entah dari mana barang haram itu bisa berada di saku jaketnya. Semua begitu cepat. Tidak ada alibi pembenaran diri. Percuma saja berontak dan melawan, nyatanya paket narkoba itu ada dalam saku jaketnya. Randu langsung digelandang ke kantor polisi. Pria bermata sipit itu sempat menatap Randu sambil tersenyum sinis.

Setelah lima tahun mendekam dalam tahanan, kini pria bermata sipit itu, yang akhirnya Randu tahu namanya, Tan Bung Seng, ditangkap dan disel di rumah tahanan ini. Dialah aktor sekaligus bandar narkoba terbesar di wilayah segitiga emas.

Esoknya ada berita yang agak menakutkan. Sebagian tahanan akan dikirim ke Nusa Kambangan. Rumah tahanan ini memang hanya untuk titipan sementara, sebelum dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan. Entah kenapa Randu tidak pernah dipindahkan selama lima tahun lebih.

Bersamaan dengan pemindahan beberapa tahanan yang dikirim ke Nusa Kambangan, ternyata menjadi kabar gembira bagi Randu. Ia dibebaskan tanpa pernah tahu apa sebetulnya statusnya. Sewaktu pemeriksaan di kantor polisi, Randu sempat berkelit. ”Bapak bisa cek, apakah ada bekas sidik jari saya di barang itu? Saya juga tidak tahu, siapa yang menaruh barang itu dalam saku jaket!”

Ingatan itu terlalu pahit bagi Randu. Hingga pikiran Randu menerawang jauh. ”Telah adilkah Tuhan bagi diriku?”

Randu melangkah pulang. Lima tahun lebih dalam tembok-tembok Salemba seperti menghabiskan warna hitam rambutnya. Mungkin lima tahun lagi, Randu akan berkata, ”Tembok-tembok Salemba, sekarang seperti apa?”

Di mata Randu Tegar Nanggala melintas wajah istrinya, Arsy. Langkahnya bagai mengejar angin. Di persimpangan jalan menuju pulang, sayup-sayup terdengar syair lagu dari sebuah warung kopi.

”Sesungguhnya aku telah mati dalam hidup”. Begitu liris, seakan menikam jantung dan palung hati Randu. ***

sumber : kompas.id, 30 Okt 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme