Langit pekat seakan menghadang tatapanku. Aku mencoba mengais guratan cahaya, mungkin sinar itu bisa membasuh pikiranku yang menahan amarah. Di sekelilingku, lalu lalang manusia berjalan hilir mudik tanpa tujuan. Dan tembok-tembok sial ini begitu kokoh menutupi sudut pandang. Apakah di luar sana masih ada harapan dan impian? Entah!
Aku mencoba menuangkan angan-angan bisu dari segala peristiwa yang menerpa perjalanan hidupku. Nyatanya, hidup memang tidak untuk menunda perjalanan. Mungkin hanya puisi menjadi frasa terindah yang menghapus kisah-kisah duka.
Di balik tembok Salemba, ada embun yang menguap. Begitu cepat sinar matahari pagi menyelinap. Suasana lengang dalam tembok tertutup bagai kehidupan yang berjalan tanpa kisah. Tetap saja akan ada kegaduhan jika segerombolan mata itu bangun dari tempat tidur. Apakah mereka hanyut dalam mimpi mereka, yang mungkin tidak pernah didapatkannya di luar sana.
Pikiranku terus berkelana. Kadang penuh gejolak, yang entah kepada siapa ditumpahkan.
”Apakah ini sebuah pilihan, bertahan hidup dalam kungkungan tembok yang warnanya buram. Pikiran seakan terasa mati.”
Di sana-sini udara terasa sesak, berbaur dengan penat dan aroma tubuh manusia yang kian hari baunya kian sangit. Kelak mungkin menjadi catatan kenangan meski nantinya menjadi segumpal dendam. Di salah satu ruang sel, Bonar tidur mendengkur, tidak peduli matahari mulai menjemputnya.
Pagi menjelang siang, sekitar pukul sepuluh, Randu masih berjemur diri di atas bangku kayu. Sedari tadi, lalu lalang manusia di hadapannya seakan menyumbat tatapannya untuk sekadar berkhayal tentang kehidupan di luar sana. Baginya, mereka sama seperti dirinya. Sekumpulan makhluk sial dan jalang.
Sesaat kemudian, pikiran Randu mulai menerawang jauh. Sampai saat ini, entah berapa hari, berapa minggu, bahkan berapa bulan lamanya, tidak satu pun keluarganya yang datang menjenguk. Apakah istrinya tidak pernah tahu bahwa Randu berada di sini? Sewaktu Randu ditangkap, ia memang sedang berada di sebuah kafe. Dan sialnya, ponselnya juga disita!
”Entah apa bedanya, hidup dan bertahan hidup. Sama-sama pikiran terluka.”
Seorang sipir yang kebetulan lewat di depan Randu tiba-tiba berkata kepada Randu, ”Engkau biarkan tubuhmu disantap kemarau.”
Randu tidak menanggapinya. Sapaan itu terdengar sinis. Selintas Randu berpikir, dari mana bangsat itu mendapat istilah yang cukup puitis. Randu hanya tersenyum pahit. Nyatanya, beberapa minggu ini panas begitu menyengat. Kering tanpa hujan, biarkan esok waktu yang menggerusnya.
Bagi orang-orang di luar sana, mungkin menganggap kehidupan dalam tembok-tembok ini seperti neraka. Pikiran mereka tidak salah. Meski ada beberapa ruangan untuk orang-orang yang agak diistimewakan. Randu lantas membantah pikirannya sendiri, aku dan mereka tetap saja punya status yang sama, sebagai tahanan.
Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Tidak ada yang perlu disesali. Randu sedikit kaget ketika seseorang mengentaknya. ”Sikat yang bersih lantai kamar mandi itu!”
Randu tersadar, rupanya ia membersihkan lantai kamar mandi sambil melamun. Tugas rutin ini, tanpa terkecuali, semua tahanan saling bergantian mengerjakannya. Terkadang Randu menjadi rapuh. Ia tak habis pikir, tempat ini seperti catatan yang menyimpan kisah pilu dan sedih.
”Apa salahku sebenarnya? Tetapi bukankah hidup tidak untuk menunda perjalanan?”
Bermusim-musim seperti melewati jalan yang sama. Tidak ada gunanya menghitung perjalanan waktu. Andai ini menjadi riwayat catatan, tak akan berguna menjadi catatan sejarah. Mungkin hanya mimpi untuk menjelma apakah kita harus menjadi pahlawan. Semua peristiwa sehari-hari seperti sebuah ritual musim, membagi hujan dan kemarau silih berganti.
Di luar sana, Arsy harus berjuang untuk menghidupi anaknya yang masih kecil. Pencariannya terhadap suaminya, Randu, seakan sia-sia. Ia tidak tahu harus mencari Randu ke mana, tiba-tiba pergi tanpa ada kabar beritanya. Bahkan sering kali keluarganya menyuruh Arsy untuk mengurus perceraiannya, dan segera menikah lagi.
”Itu bukan jawaban dan jalan keluar.” Itu yang ada di hati Arsy.
Kehidupan selalu saja memberikan pelajaran yang sangat berharga. Arsy tertatih-tatih melalui kehidupan itu bersama anaknya yang masih kecil. Dia memilih mengontrakkan rumahnya untuk biaya hidup dan terpaksa harus kos agar bisa bertahan untuk itu.
Sementara Randu menjalani hari-hari kosong tanpa impian di balik tembok yang membuat orang frustrasi. Ia dianggap gembong narkoba sehingga kebanyakan tahanan segan dan takut padanya. Rata-rata beranggapan bahwa Randu punya jaringan dan kelompok yang bisa membahayakan nyawa tahanan. Sebuah omong kosong besar bagi Randu, tetapi justru itu membuatnya aman.
*
Keluar masuk orang-orang di sekitarnya, hanya sebutan yang berbeda. Orang baru dan orang lama. Yang keluar bisa menikmati hidup sebagai sebuah kebebasan dan kemenangan, meski di luar sana harus menghadapi tatapan sinis. Mungkin, orang-orang menganggap mereka seperti orang-orang yang terkucilkan. Ini memang hukum alam.
Tidak ada kisah menarik untuk jadi kenangan di ingatan Randu. Lalu lalang manusia seakan lukisan kehidupan tanpa warna. Setiap manusia yang lewat di hadapannya, semua laki-laki. Randu mengumpat pada dirinya sendiri.
”Bangsat! Tidak satu pun perempuan yang membuat mataku sedikit berbinar.” Randu sadar, itu tidak mungkin disatukan antara laki-laki dan perempuan di rumah tahanan ini.
Matahari kian menyengat, membakar ubun-ubun kepala Randu. Setidaknya, sebagai seorang yang telah berumah tangga, ia berharap ada bayangan anak-istrinya melintas di depannya. Mungkin langit telah memurkai mimpi Randu. Kenapa sampai kini anak-istrinya tidak menjenguknya? Rasa rindunya kepada keluarganya tiba-tiba memuncak. Tapi apa lacur, hanya menjadi gumpalan kekecewaan.
Tidak terhitung berapa banyak orang yang bernasib sama dengan Randu. Mereka selalu saja berbicara dengan hal-hal yang sama tentang nasib, tidak senyaman seperti ketika berada di warung kopi. Obrolan warung yang terkadang tidak ada bedanya dengan debat kusir. Mimik wajah mereka penuh penyesalan, bersedih. Hingga ada juga yang sampai berkelahi, hanya karena masalah sepele.
Randu tidak lagi menghitung, sudah berapa lama ia berada dalam rumah tahanan ini seakan membiarkan waktu berjalan dalam kehendaknya. Kadang ia tertawa sendiri, tatkala syair lagu melintas dalam pikirannya. ”Sesungguhnya aku telah mati dalam hidup”.
Setiap orang yang berbicara dengan Randu seperti menabuh genderang nyanyian. Dan pertanyaan yang sama senantiasa muncul:
”Engkau salah apa?” Randu hanya tersenyum kecut. Kerongkongannya buntu untuk menjawabnya.
Randu sering kali berkata dalam diam. Angannya melayang, seakan apa yang ditatapnya adalah kenyataan. Semua hal yang mampu menjelma kesenangan dan kebahagiaan hatinya. Meski hatinya menolak, tempat ini tidak ada bedanya dengan penyiksaan batin.
Dalam merenungi diri, tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri. ”Aku salah apa?” Randu diam, seperti menabuh angin kosong. Tubuhnya seakan berselancar, serupa biduk mengarungi ombak. Dan itu membuatnya tertawa terbahak-bahak, tidak ada ombak yang harus ditakuti.
*
Suatu hari, ada seorang tahanan dikawal ketat beberapa petugas, berjalan dari pintu utama. Seorang berkulit putih, dan matanya agak sipit. Sepertinya Randu pernah melihat pria itu. Tapi di mana? Randu seakan meraba ingatannya. Mungkin karena Randu cukup lama dalam kungkungan tembok-tembok ini, ingatannya menjadi kendur. Usianya bertambah seakan melipat perjalanan waktu.
Sialnya! Semakin dekat langkah pria itu berjalan melintasi koridor, tempat di mana sel-sel berjejer, pria itu semakin menatap tajam wajah Randu. Darah Randu berdesir, emosinya terpacu dan ingin meledak. Tatapan pria itu seakan memancing dendam, yang entah dari mana datangnya.
”Sabar Randu.” Secara refleks, Sarbu, teman satu sel Randu, mencegahnya.
Tiba-tiba seperti ada firasat buruk dalam ingatan Randu meski selama ini pikirannya terasa mati. Kala itu, Randu sedang berada di sebuah kafe, suasana yang ramai serta lampu agak redup, membuat Randu tidak begitu kenal. Randu menaruh jaketnya di kursi, saat ia menuju toilet. Sempat Randu berpapasan dengan pria bermata sipit itu. Randu tidak mengenalnya.
Kejadian itu begitu singkat. Ketika Randu kembali dari toilet menuju tempat duduknya, beberapa orang menggerebek kafe itu. Rupanya sekumpulan polisi melakukan operasi pencarian seseorang yang disinyalir sebagai target operasi.
”Kami dari kepolisian…. Semua diam di tempat!”
Randu tidak sempat mengelak, dan entah dari mana barang haram itu bisa berada di saku jaketnya. Semua begitu cepat. Tidak ada alibi pembenaran diri. Percuma saja berontak dan melawan, nyatanya paket narkoba itu ada dalam saku jaketnya. Randu langsung digelandang ke kantor polisi. Pria bermata sipit itu sempat menatap Randu sambil tersenyum sinis.
Setelah lima tahun mendekam dalam tahanan, kini pria bermata sipit itu, yang akhirnya Randu tahu namanya, Tan Bung Seng, ditangkap dan disel di rumah tahanan ini. Dialah aktor sekaligus bandar narkoba terbesar di wilayah segitiga emas.
Esoknya ada berita yang agak menakutkan. Sebagian tahanan akan dikirim ke Nusa Kambangan. Rumah tahanan ini memang hanya untuk titipan sementara, sebelum dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan. Entah kenapa Randu tidak pernah dipindahkan selama lima tahun lebih.
Bersamaan dengan pemindahan beberapa tahanan yang dikirim ke Nusa Kambangan, ternyata menjadi kabar gembira bagi Randu. Ia dibebaskan tanpa pernah tahu apa sebetulnya statusnya. Sewaktu pemeriksaan di kantor polisi, Randu sempat berkelit. ”Bapak bisa cek, apakah ada bekas sidik jari saya di barang itu? Saya juga tidak tahu, siapa yang menaruh barang itu dalam saku jaket!”
Ingatan itu terlalu pahit bagi Randu. Hingga pikiran Randu menerawang jauh. ”Telah adilkah Tuhan bagi diriku?”
Randu melangkah pulang. Lima tahun lebih dalam tembok-tembok Salemba seperti menghabiskan warna hitam rambutnya. Mungkin lima tahun lagi, Randu akan berkata, ”Tembok-tembok Salemba, sekarang seperti apa?”
Di mata Randu Tegar Nanggala melintas wajah istrinya, Arsy. Langkahnya bagai mengejar angin. Di persimpangan jalan menuju pulang, sayup-sayup terdengar syair lagu dari sebuah warung kopi.
”Sesungguhnya aku telah mati dalam hidup”. Begitu liris, seakan menikam jantung dan palung hati Randu. ***
sumber : kompas.id, 30 Okt 2024.