Hampir senja. Perempuan lingsir itu sebentar lagi akan meninggalkan kebun, masuk ke dalam rumahnya. Setelah magrib biasanya dia tak keluar lagi, tenggelam dalam lautan malam: sembahyang, mengaji atau kegiatan lainnya sampai tertidur dan bangun ketika fajar menebar harapan hidup yang damai.
Sudah lama aku perhatikan perempuan itu. Aku sering melihatnya di kebun yang cukup luas di seputar rumahnya yang saban hari dia kunjungi. Kadang dari siang hingga sore berasyik-masyuk dengan bunga, tanaman herbal untuk obat-obatan dan bumbu dapur, sayur mayur dan tanaman lain serta bebatuan indah yang tertata indah menyerupai taman. Kulitnya sudah keriput, tubuhnya agak bungkuk, namun sisa-sisa kecantikan masih tergurat di wajahnya yang bercahaya. Sorot matanya memancarkan keteduhan jiwa.
Aku merasa damai jika melihatnya. Jiwaku yang letih dan pikiranku yang keruh ingin singgah untuk berteduh. Kubayangkan Embah yang sudah ringkih namun masih penuh gairah itu berjiwa mulia, seperti pelabuhan buat kapal yang hendak sandar untuk membongkar muatan. Aku pemuda yang bebal, seperti kapal yang sarat muatan beban hidup terapung-apung di lautan, namun sungkan dan takut sandar ke pelabuhan tua itu.
”Mengapa hanya memerhatikan dari kejauhan? Kenapa takut mendekat? Tak akan ada yang menghujat. Tak mungkin diusir jika mampir!” Nenek itu bersenandung, setengah bergumam tapi suaranya terdengar menggema. Kukira kata-kata itu tidak ditujukan padaku sebab sosokku tak terlihat olehnya.
”Mana mungkin aku tak melihatmu sedangkan kau sering mengawasiku dengan sembunyi-sembunyi, pura-pura mondar-mandir mencari sesuatu di sekitar tempat ini ini? Kau datang dengan menyamar sambil memerhatikan dari tempat yang menurutmu jauh tapi bagiku dekat, sedekat jiwaku sendiri,” dia berkata-kata lagi, kali ini diucapkan dengan lantunan nyanyian.
Aku jadi malu. Mungkin perempuan itu memiliki indera keenam, bisa membaca gelagatku di tempat yang agak jauh. Atau, boleh jadi, kata-kata itu diarahkan pada orang lain di sekitar sini yang tak terlihat olehku.
”Kemarilah. Singgah di taman cinta ini. Di kampung kehidupan sementara yang kecil-sederhana ini kau akan mendapatkan kenyamanan. Kau bisa melihat segala yang tak ada di tempat lain, juga bisa menemukan kedamaian yang kau impikan,” senandungnya lagi.
Aku semakin penasaran. Tapi dengan alasan apa menemuinya? Sedangkan dia begitu suntuk berasyik-masyuk dengan bunga dan tanaman lain di kebun yang indah itu. Aku tak berani mengganggunya.
”Mengapa takut masuk bila tak berniat buruk? Semua yang ada di taman ini siap menerima kehadiranmu. Bunga, tanaman herbal, sayur mayur dan buah untuk bumbu dapur serta bebatuan aneh ini saudaramu semua, punya jiwa cinta,” tuturnya lagi dengan senandung lebih lembut bersama hembusan angin sepoi.
Aku terkesima oleh kata-katanya yang menggugah jiwa, tapi tak mau gegabah menemuinya. Mungkin dia bicara pada orang lain yang mengintipnya, atau jangan-jangan bicara pada mahluk yang tak tampak mata. Aku jadi merinding.
”Bukankah kau ingin dekat denganku? Kau berangan-angan ingin selalu dekat dan hidup damai bersamaku. Mana mungkin mimpimu terwujud kalau hanya melihat dari kejauhan? Aku mengenalmu sejak dulu. Aku tahu sifat dan perangaimu, pikiranmu, gejolak hatimu. Aku mendengar detak jantung dan nafasmu sejak kau masih dalam kandungan ibu. Aku kenal tangis pertamamu ketika terperanjat melihat dunia, merindukan air susu dan dekapan ibu ketika lahir di suatu fajar yang samar. Kau lahir sungsang, kakimu keluar duluan hingga dukun beranak yang membantu kelahiranmu panik dan menyuruh orang mencarikan daun kelor untuk memperlancar jalanmu keluar, ibumu yang kegerahan dikipasi dengan ilir berjuang keras melahirkanmu hingga kehabisan tenaga dan nyaris kehilangan nyawa. Untung masih selamat hingga kau lahir dan bisa hidup bersamanya, dia asuh dan mangasihmu sampai dewasa lalu kau pergi mengembara dan melupakannya.”
Mengapa takut masuk bila tak berniat buruk? Semua yang ada di taman ini siap menerima kehadiranmu.
Angin bersenandung di pepohonan mengiringi kidung panjang yang meluncur dari mulut perempuan itu.
”Aku tahu tenagamu lemah, perasaanmu sensitif, jiwamu sentimentil, juga pikiranmu yang sering alpa sebagaimana alpamu pada ibu yang bertahun-tahun kau tinggal melanglangbuana entah ke mana,” kalimat itu seperti panah yang meluncur menembus jantungku, hatiku terharu biru, perasaanku berkecamuk tak menentu. Sedih. Pilu.
Perempuan itu kembali bersenandung, kali ini melantunkan tembang sejenis pucung yang menggambarkan kerinduan seorang ibu yang suduh amat tua menjelang akhir hayat pada anak lanangnya yang ngelambrang ke negeri orang tak kunjung pulang, jauh dari angan-pikiran. Aku merinding dan gemetaran. Gamang. Seperti berdiri di puncak bebukitan di antara jurang. Ruang dan waktu seakan menyihir pikiran, mengoyak perasaan, serasa berada di sebalik tabir gelap-terang yang memerangkap jalan ke masa depan.
***
Perempuan itu membuka memori kehidupan tentang keluarga yang kukenal. Samar-samar terbentang peristiwa masa silam. Perempuan yang tegar, tabah dan takzim pada takdir kehidupan. Kesabaran seorang perempuan yang merenda waktu, menyulam takdir, menjarit nasib, merambati lekuk-lekuk siang-malam, mengurai benang kusut kehidupan. Segala persoalan hidup dia hadapi sepanjang usia, sejak fajar membangkitkan gairah untuk memaknai kehidupan menjadi ibu bumi menjalani kodrat-amanat Ilahi.
Sudah sepuluh windu perempuan itu mengenal siang dan malam, mencecep-rasakan getir pahit kehidupan. Hari-hari yang berisik dan liku-liku jalan hidup dinikmatinya sebagai anugerah yang indah. Keindahan pertama yang dia rasakan adalah ketika berkenalan bangku Sekolah Rakyat (SR), tempat dia mendapat pelajaran menyanyi dan baca-tulis dari seorang guru sabar yang mendorong dirinya menempuh sekolah lanjutan yang kelak kemudian hari-setelah ditingggal mati oleh suami pertama dan disepelekan oleh suami kedua-dijadikan modal untuk mandiri menjadi guru perempuan pertama di desanya, mengajar dan mendirikan taman kanak-kanak yang bangunannya terbuat dari bambu beratap daun rumbia di atas sebidang tanah bekas kandang kerbau milik orang yang merelakan digunakan untuk sekolahan.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang pemuda tampan, guru muda lulusan Sekolah Guru Atas (SGA) menyuntingnya menjadi istri, memberinya seorang anak perempuan dan janin dalam kandungan yang kelak lahir anak laki-laki ketika suaminya itu meninggal dunia secara mendadak. Ada yang bilang disantet oleh teman sesama guru muda yang sakit hati karena kalah bersaing mendapatkan perempuan manis ayu itu. Ada juga yang bilang kesambet di tempat keramat di dekat rumahnya. SK almarhum suaminya sebagai guru negeri belum turun sehingga tak mendapatkan pesiun. Perempuan itu harus mandiri mengasuh dua anaknya sendirian.
Empat tahun kemudian janda muda itu dinikahi oleh lelaki yang sudah beristri dan beranak dua. Konon istri lelaki itu sendiri yang datang melamarkan untuk suaminya. Entah bagaimana bisa begitu. Yang pasti dua perempuan bermaduan itu hidup rukun, tak pernah bertengkar, bahkan sering pergi berduaan berboncengan naik sepeda perempuan untuk suatu urusan. Hingga istri muda itu melahirkan dua anak dari suami barunya itu bisa hidup akur dengan madunya, seperti kakak dan adik.
Namun, menjadi istri kedua ternyata tidak enak. Lebih sering makan hati karena tidak mendapat nafkah sebagaimana mestinya. Sehingga perempuan itu mencari cara untuk melepaskan diri sebagai istri kedua. Dia ikut mendaftar jadi guru agar bisa dijadikan pegangan hidup pada masa depan bersama anak-anaknya. Dia keterima menjadi guru negeri di bawah naungan departemen agama. Kebetulan pula ada jejaka tampan, adik seayah lain ibu dari suami pertama perempuan itu, naksir dirinya. Maka perempuan itu berpindah pelabuhan karena tak tahan jadi istri kedua.
Dia memaksa minta cerai. Suaminya marah besar. Madunya ikut marah, dia dianggap tak tahu diri dan tak berbalas budi, sudah dibaik-baiki sebagai madu tapi malah berkhianat. Pemuda yang merebut hati perempuan itu nyaris dihabisi, namun tak jadi karena masih ada hubungan kerabat. Tidak terima istri keduanya memisahkan diri, lelaki itu melakukan segala cara untuk membikin perempuan itu gagal dan menderita. Dia temui penilik sekolah (PS) atasan istri keduanya itu agar memecatnya. PS itu dibawakan oleh-oleh (disogok) dengan rokok dua bungkus. Perempuan itu kemudian dipanggil dan dimintai keterangan. Perempuan itu menghadap ke rumah atasannya sambil membawa anaknya (yang kecil-dekil-hitam kurus-kerempeng) dari suami keduanya itu. Dia jelaskan bahwa dirinya tak tahan jadi istri kedua karena tidak dinafkahi, anaknya juga tidak dipikirkan sama sekali. Dia sudah tak tahan, makanya minta cerai. Dia tinggal bersama orangtuanya, bukan tinggal dengan suami dan madunya itu. PS atasan perempuan itu paham. Dia tak dipecat dan tetap menjadi guru Depag.
Itulah kebahagiaan terakhir yang dia rasakan, terbebas dari ikatan permaduan dan gangguan mantan suaminya, dan hidup bersama suami baru yang muda dan ganteng. Namun di puncak kebahagiaannya, perempuan itu merasakan kegetiran jiwa lagi, suami ketiganya itu selingkuh ketika dia sedang hamil anak ketiga dari lelaki tersebut. Suami menghamili pelajar SLTA. Mau tidak mau perempuan itu akhirnya menerima lakon permaduan lagi. Mungkin karma dari perbutannya pada masa lalu. Dulu dia mau dinikahi lelaki yang sudah beristri dan punya anak walau madunya sendiri yang mendukung. Boleh jadi dulu madunya itu dipaksa atau diguna-gunai oleh suaminya hingga tidak sadar dan bersedia melamarkan istri baru untuk suaminya.
Kali ini perempuan itu menjadi istri tua dan madunya jadi istri muda. Suaminya pulang ke rumah orangtuanya, tingggal bersama istri mudanya. Lambat laun perempuan itu tak lagi diperhatikan dan dinafkahi. Untung dia punya gaji sebagai pegawai negeri. Masih bersuamikan lelaki itu meski tak dinafkahi penuh dan hanya dinafkahi batin hingga melahirkan beberapa anak lagi. Dia harus mandiri mengasuh, menafkahi dan menyekolahkan sebelas orang anak: dua anak dari suami pertama, dua anak dari suami kedua, dan tujuh anak dari suaminya ketiga tersebut, sampai semua tumbuh dewasa, kemudian pada berumah tangga dan punya anak. Hanya tinggal dua anak lelaki yang masih membujang.
***
Perempuan pensiunan guru agama itu mendawamkan kesabarannya, merenda hari tua, menyemai keindahan dan kedamaian menjelang akhir kehidupan. Di taman kehidupan yang sering dikunjungi capung dan kupu-kupu, dia mengisi waktu dan sisa hidupnya dengan merawat bunga dan pohon kehidupan, berdialog dengan alam, menikmati hari-hari yang sunyi bersama rindu yang bermekaran pada anak-cucunya yang bertebaran ke seantero kehidupan. Mengenang masa lalu dan menoreh harapan masa depan para keturunannya sambil menyenandungkan doa, kidung jiwa yang membuat damai dan bahagia.
”Aku tahu kau merindukan ibumu. Kau tahu ibumu merindukanmu. Kau mengembara begitu jauh, mencari kedamaian. Entah bahagia atau menderita, entah damai atau gundah gulana, entah beruntung atau buntung, tampaknya kau merasa senang dan nyaman di ranah orang, jauh dari ibu dan saudara-saudaramu yang lain. Ibumu rela. Ibumu ikhlas kau hidup di tempat jauh tapi terasa dekat. Sejak kecil kau sudah menampakkan jiwa petualangan: suka meninggalkan rumah sejak siang dan baru pulang selepas senja, kadang kau ditemukan sedang tertidur di gubuk sawah milik orang, atau bengong di bawah pohon di ladang memandang alam sekitar sambil nikmati kicau burung dan desau angin di pohonan. Kadang juga bermain sendirian di kebun belakang, berasyik-masuk dengan pohon pisang yang kau bayangkan sebagai teman hingga kelelahan dan ketiduran beralaskan daun pisang.”
Perempuan itu terus bersenandung mengenang masa silam. Malam ini dia bersenandung di dalam rumahnya. Suaranya menggema. Aku mendengarkan dari teras belakang rumah sederhana itu.
Entah bahagia atau menderita, entah damai atau gundah gulana, entah beruntung atau buntung, tampaknya kau merasa senang dan nyaman di ranah orang, jauh dari ibu dan saudara-saudaramu yang lain.
”Kau yang mengintip lewat celah-celah rumah hatiku, sosokmu dalam kegelapan namun aku melihat dan merasakan getaran rindumu. Kau tak berani muncul, mungkin malu karena tak membawa sesuatu. Ibumu tak meminta apa-apa dan tak mengharap materi karena ibu sudah punya segalanya melebihi apa yang kau miliki. Kau boleh datang pada ibu walau hanya membawa sepotong rindu.”
Hatiku terharu biru. Mataku berkaca-kaca. Dadaku serasa sesak, tak kuat menahan sedih dan pilu.
”Datanglah dalam esensimu, dengan pelita hati yang memberi penerangan untuk dirimu sendiri sebagaimana ibu memberimu nama ’pelita cinta, cahaya dalam kegelapan jiwa’. Nyalakanlah pelita hatimu, buka gerbang waktu, masuki rumah kalbu, hati ibu dan rindu saudaramu.”
Aku beranikan diri mengintip lebih dekat. Perempuan itu bersenandung seperti mengaji, duduk bersimpuh dengan berpakaian mukenah putih menutup sekujur tubuhnya dari kepala hingga kaki. Hanya wajahnya yang teduh dan bercaha yang tak tertutup pakaian. Mulutnya melantunkan kalimat-kalimat indah yang menggetarkan jiwa, menyulam malam dengan kedamaian. Aku tak berani masuk ke rumah tua itu, mihrab rindu di taman waktu.
”Kau datang tapi tak tampak dalam pandang. Kau ada tapi tak mengada. Mewujudlah walau hanya sekelebat saja agar ibu lega, agar tak menyesal sebelum hayat dijemput Yang Kuasa.”
Aku terpaku, Haru pilu. Aku menangis dalam pelukan malam. Malam yang dingin dan serasa membeku. Teringat kematian ayah dulu yang telat kuketahui dan hanya bisa menziarahi makam dan menatap nisannya dengan sedu sedan 40 hari kemudian. Aku tak ingin mengulang kebodohan dan durhaka pada orangtua. Tapi bagaimana caranya menampakkan diri? Sungguh aku tak punya daya. Bahkan aku tak yakin apakah diriku masih ada atau tak lagi ada di alam fana ini, di negeri yang penuh kejahilan dan tipudaya di mana jiwa dan jasad manusia tak lagi ada harganya.
Untuk sementara aku bertahan di luar, menunggu saat yang tepat, detik-dedik terbaik. Rasanya di luar dan di dalam sama saja. Tampak dan tidak tampak tipis bedanya jika bisa melihat dengan jiwa. Sebab perempuan sepuh itu sudah merasakan keberadaanku dan melihat kehadiranku dengan mata hatinya. Aku melihat cahaya di wajahnya. Cahaya kedamian seorang ibu yang berwindu-windu merenda waktu, menyulam hari-hari kelabu, berjibaku dengan segala persoalan kehidupan, mengasuh anak-cucu sepanjang waktu. Ibu yang tabah dan tasbih menunggu di rumah kalbu.
Nuryana Asmaudi SA (Nuryana A Saddyz Asmara), lahir di Jepara, 10 Maret 1965. Menulis cerpen, puisi, esai, naskah lakon, dan lain-lain. Cerpen dan pusinya tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Sejak 1996 bermukim di Bali, bekerja sebagai wartawan. Bergiat di Snerayuza Art Speace di Denpasar. Buku kumpulan puisinya: Doa Bulan untuk Pungguk (Akar, 2016), Taman Perangkap Bulan (Akar, 2018), Anak Gunung Mengerami Laut(Pustaka Ekspresi, 2023).
sumber : kompas.id, 08 Nov 2024.