Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Nyanyian Token oleh Nuzul Ilmiawan

Posted on Rab, 08 Jan 2025

Nyanyian token bergema lagi di akhir bulan. Di sepanjang lorong gang itu, rumah-rumah kontrakan kembar ukuran 4×4 yang memanjang sampai ujung mengeluarkan lampu kedap-kedip warna merah di meterannya. Satu-persatu orang punya rumah keluar. Ada yang masih lajang, ada pula yang beranak tiga.

Nyanyian token saling bersahut-sahutan. Kamsil berdiri di teras. Si buruh pabrik termangu menatap meterannya, “Sudah habis saja,” gumamnya seraya berkacak pinggang. Lalu di sebelah rumahnya, ada Buton, bapak anak tiga, yang kemudian disusul istri dan anak-anaknya, keluar dan berdiri di teras, menatap meteran mereka. Si Kuncil, anaknya, masih bercelemok bubur pisang, menggaruk-garuk kepalanya yang bingung. Meski dia sebetulnya belum bisa bicara, tapi sudah berbahasa. Muncul di kepalanya semacam ini, “Mengapa rumahku selalu mengeluarkan bunyi seperti itu setiap akhir bulan?”

Di depan rumah mereka, Yasbun, perempuan muda yang bekerja sebagai karyawan di rumah penatu, mengintip lewat jendela. Sambil senyum-senyum di balik tirai dia melihat Kamsil, Buton dan keluarganya. Lalu diam-diam dia berkata, “Sudah kutebak, kita seperti ini lagi,” kemudian selepas terkekeh kecil dia tiba-tiba muncul membuka pintunya.

Dari seberang, disapanya istri Buton, “Ibu, belum bayar token lagi, nih?”

Istri Buton tersenyum, “Iya, nih, kasian si anak lagi makan sambil nonton Upin Ipin malah tiba-tiba bising sama bunyi token.” Ditunjuknya celemok Kuncil, yang sedari tadi diam-diam menjilati pipinya sendiri.

Tidak lama setelahnya, sekonyong-konyong meteran rumah-rumah lain pun ikut berbunyi. Orang-orangnya keluar. Masing-masingnya terpampang wajah susah. Seolah tersinkron satu sama lain, mereka menatap meterannya. Menggaruk-garuk kepalanya, berdecak sedikit, lalu menatap orang-orang lain yang juga berdiri di teras-teras mereka.

Tanpa suara, mereka diam saja. “Permisi,” ujar angin yang melintas di tengah- tengah jalan yang memisahkan rumah di seberangnya. Rambut tergerak melambai. Daster-daster terkibas.

Dalam kecanggungan itu, Kamsil sekonyong-konyong tersenyum kepada Tebok, Tebok berpaling senyum kepada Potang, Potang kirim senyum kepada Yasbun, Yasbun cengar-cengir kepada istri Buton, istri Buton menatap datar kepada Buton yang bersarung atasan singlet. Buton senyum menundukkan wajahnya sambil sesekali menggaruk kelaminnya yang gatal. Di bawah, dia melihat Kuncil yang bertubuh sepahanya, sedari tadi mencoba meraih bubur yang tersangkut di bawah hidung. Buton tak sengaja terkekeh.

Kemudian di bawah matahari terik siang itu, mereka berdansa, berjoget bersama-sama dengan nyanyian token yang tak bosan-bosannya bersenandung setiap akhir bulan.

Lalu tak lama, Kuncil berhasil menjilat buburnya, dia senyum semringah. Senyumnya pecah bersamaan dengan deru token-token yang kini dengan ilmu matematika, tercipta sebuah irama yang beritme, saling bersahut-sahutan satu dan lainnya secara teratur serupa musik dansa elektro, Kuncil sekonyong-konyong berlarian di jalan lorong kecil depan rumahnya.

“Yeeee!!!!” dia bersorak dengan suara kekanak-kanakannya. Hingga membuat anak-anak kecil lain ikut menyusul. Kemudian di bawah matahari terik siang itu, mereka berdansa, berjoget bersama-sama dengan nyanyian token yang tak bosan-bosannya bersenandung setiap akhir bulan.

Istri Buton yang merengut, kini wajahnya cerah, dirangkulnya pinggang Pak Buton yang perutnya sudah offside, bersama-sama menatap anak-anak kecil itu girang gembira. Yasbun sedikit meloncat-loncat serupa guru TK, menepuk-nepuk tangannya kecil-kecil, dan memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

Potang menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Dia ambil rokok gulung yang tersemat di telinganya, membakarnya perlahan, kemudian dengan memejamkan matanya, dia mendongak, lantas mengembuskan asapnya tinggi-tinggi ke udara. Tebok terpingkal-pingkal, tak sanggup membayangkan, bahwa di tengah-tengah dia sedang berutang selayaknya penduduk-penduduk lain di gang itu, anak-anak kecil itu berdansa dengan kemiskinan.

Sedangkan Kamsil, dia masih berkacak pinggang, mulutnya sekadar tersungging sedikit miring ke atas. Dia perhatikan setiap meteran listrik yang berbunyi-bunyi itu.

Dalam kemiskinan kami bersatu. Dalam penderitaan kami berjuang.

Sebagai lulusan sastra, meski tidak bekerja di bidang sastra, keindahan sastra selalu ada di hatinya. Diam-diam dia berpikir, lalu tak sengaja berbisik dengan dirinya sendiri, “Barangkali kami adalah kultus kemiskinan. Yang di setiap akhir bulan, kami menatap masing-masing meteran kami yang bernyanyi, lalu merenung dalam-dalam atas penderitaan dan utang-utang, dan kami tidak perlu dibahagiakan oleh sesiapapun. Dalam kemiskinan kami bersatu. Dalam penderitaan kami berjuang.”

“Nyanyian token,” ujarnya, lalu dia tersenyum.

Penghuni gang itu kesemuanya jadi ceria. Mereka menatap wajah satu sama lain, kemudian tertawa melihat anak-anak kecil itu seolah-olah sedang mengolok-olok kesedihan mereka.

Namun waktu terus berlalu bersamaan dengan tiupan angin tengah hari yang tak mengenal sopan-santun. Perlahan-lahan, keceriaan jadi meredup. Semakin banyak angin yang mengelus-elus muka, semakin murung pula roman mereka. Seolah angin sedang mengibas-ngibaskan kenyataan tepat di wajah masing-masing penghuni gang itu.

Sebab itu, Tebok yang semula ikut riang gembira, kini kembali merenung. Begitupun dengan Potang, sesaat bara api rokoknya mendekati pangkal, dia banyak menundukkan wajahnya dan menatap got kecil yang kehitaman di tengah jalan gang itu. Berpikir, tapi tidak memikirkan apa-apa.

Yasbun, kini terduduk. Kakinya tiba-tiba melemah dan tak kuat untuk meloncat lebih lama lagi. Dan tangannya telah berhenti menepuk. Dia duduk, menatap meterannya yang tak berhenti berbunyi. Sedangkan Buton masih menatap anak-anak kecil yang berlarian, meloncat-loncat, berteriak, dan bersorak. Sekali itu, gatal di kelaminnya tidak ia pedulikan.

Di saat yang bersamaan,istri Buton telah menitikkan air matanya. Semalam, ia baru saja menyelesaikan perhitungan sisa uang mereka. Bila meteran telah berbunyi, artinya, ada uang beras atau lauk yang terpaksa harus dipotong.

Mendadak, gang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar angin yang untuk kesekian kalinya datang menyapa.

Angin lewat lagi di hadapan mereka. Sedangkan nyanyian token tak kunjung berakhir. Masing-masing orang di gang itu telinganya telah berdengung. Bising mengelilingi setiap pojok mereka melangkah. Mereka terkepung oleh tembok suara, dan utang-piutang yang tak berbentuk. Sejatinya, bunyi token itu telah tiada siapa yang peduli lagi. Namun ada sesuatu yang terus bersuara, berkoar-koar, yang lambat-lambat mengiris masing-masing hati mereka.

Hingga tak lama, secara serempak, mereka naik ke sebuah kursi plastik di teras, lalu memencet tombol pada meteran yang membuat token berhenti bernyanyi.

Mendadak, gang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar angin yang untuk kesekian kalinya datang menyapa. Dan anak-anak jadi berteriak dan memasang wajah kecewa.

“Kami ingin mendengarnya lagi!” protes si anak yang paling tua. “Kami ingin joget-joget lagi!”

Namun tiada yang membalas, tiada yang menyahut anak-anak kecil itu. Sepanjang gang terus disisakannya bunyi yang bersembunyi dari penduduk-penduduknya. Mereka sekadar perlahan-lahan masuk ke dalam rumah. Menutup pintu kayunya dengan pelan. Dan membiarkan anak-anak kecil itu kecewa.

Tetapi, tak lama setelahnya, sekonyong-konyong terdengar lagi nyanyian token di gang sebelah. Dengan serempak, anak-anak itu berlarian berbondong-bondong ke sana. Namun kaki Kuncil tak sengaja masuk ke dalam got kecil yang kehitaman di tengah jalan gang itu. Dia tersandung, lalu terjatuh, lututnya lecet. Dia ingin menangis, tetapi ketika melihat abang-abangnya dan kawan abang-abangnya yang lain terus menjauh dari keberadaannya, dia jadi meredam tangisnya dalam-dalam. Cepat-cepat dia bangkit berdiri, lalu berlari sementara terlupa bahwa sebuah sandalnya yang bila dipijak akan mengeluarkan suara itu telah tertinggal di dalam selokan hitam.

Bahkan bagi seorang anak, token yang bernyanyi pun adalah festival.

Tapi ia tidak peduli, meskipun ia belum dapat bicara, tapi ia telah berbahasa. Di dalam hatinya dia berkata serupa ini, “Aku tak boleh melewatkan nyanyian token yang datang sekali sebulan.”

Kenyataannya, Kamsil masih bergeming di teras rumahnya. Sedari tadi dia melihat anak-anak kecil yang berlarian menuju gang sebelah. Kala melihat Kuncil terjatuh, dia ingin menolong, tapi di satu sisi dia tahu, anak kecil harus belajar bangkit sendiri. Lantas ia diam saja. Kemudian sesaat Kuncil telah menghilang di ujung jalan, dia mendekati selokan, dan mengutip satu sandal Kuncil yang tertinggal. Sandal itu lalu dia letakkan di samping sapu lidi rumah Keluarga Buton.

Sembari tersenyum kecil, dia mengucapkan, “Bahkan bagi seorang anak, token yang bernyanyi pun adalah festival.”

2024

Nuzul Ilmiawan, alumnus Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireuen, 19 Oktober 2001.

sumber : kompas.id, 08 Jan 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme