“Kamu tahu kalau uang bicara, apa saja yang bisa dibeli?” Seorang teman membuka percakapan saat nonton bareng pertandingan sepak bola di kafe. Aku heran mendengarnya.
“Maksudmu harga diri, kejujuran dan cita-cita?” Ia mengangguk.
“Tapi ada yang tidak bisa dibeli oleh uang?” Aku kembali heran.
“Maksudmu waktu dan kesehatan.”
“Betul tapi masih kurang satu.”
“Apa itu?”
“Nyawa.” Aku kaget.
“Bukankah demi uang banyak, orang mau bunuh orang. Jadi pembunuh bayaran.” Aku menyanggahnya. Ia tersenyum.
“Itu bukan uang bicara tapi orang mengatasnamakan nafsunya untuk membunuh memakai uang.” Meskipun belum paham benar, aku terpaksa mengangguk. Temanku berpamitan selesai nonton bareng pertandingan sepak bola di kafe berakhir.
Aku masih terpikirkan omongan temanku saat nonton bareng di kafe semalam. Kucoba menerka, memahami makna uang bicara. Apakah benar-benar uang bisa bicara atau uang menjelma manusia? Aku malah jadi bingung sendiri.
Ketika sedang bingung, sesosok tamu datang pada pagi yang cerah, saat suasana hatiku sedang gembira. Ia memperkenalkan namanya Triliun. Seorang pria tua berpakaian necis, membawa dua koper besar beroda. Kupersilakan untuk duduk. Kubuatkan minuman kopi dan kusajikan cemilan.
“Aku mau membeli waktumu, apakah kamu mau menjualnya?” Aku kaget mendengarnya. Kupikir ia klienku yang akan memberi pekerjaan bikin berita hoaks dan fitnah di media sosial.
“Anda serius?” Ia tidak menjawab. Lalu membuka dua koper yang dibawanya. Aku terpana melihat isinya, uang yang begitu banyak.
“Ini belum seberapa, di luar masih ada dua truk kontainer berisi uang.” Aku kembali terpana. Lalu tanpa pikir panjang, aku menerima penawarannya.
Aku kaget melihat tubuhku yang masih perkasa dan kuat, tiba-tiba terasa lemah, perut bergelambir dan kulit penuh keriput. Wajah mudaku mendadak berubah, banyak guratan keriput di wajah dan rambut memutih. Sedang tamuku, aku lihat tampilannya berbeda. Kini ia tampak muda, gagah perkasa. Lalu ia bergegas pergi. Aku tidak bisa mengantarkannya. Tubuhku lemah, tidak mau kupaksakan berdiri.
Aku menyesal menyetujui penawarannya. Tapi setelah kulihat hamparan banyak uang di lantai dan sekitaran sofa panjang yang aku duduki, penyesalan itu mendadak hilang. Berganti senang. Ya siapa tidak senang mempunyai banyak uang. Aku bingung hendak kuapakan uang banyak ini. Foya-foya, aku tidak berminat lagi, sudah sering melakukannya. Memuaskan nafsu, aku sudah tidak kuat lagi, kejantananku sudah tidak segarang dulu. Akhirnya, aku putuskan memakainya untuk merawat kesehatanku, melakukan operasi plastik, bersedekah hingga membangun klinik kesehatan hanya buatku saja.
Aku kembali kedatangan tamu di saat kesehatanku sedang bagus kendati penampilanku sudah tua. Kali ini yang datang seorang perempuan sakit-sakitan, memakai mantel tebal, sesekali tampak menggigil tubuhnya disertai batuk berat, membawa dua koper besar beroda. Ia tidak minta dibuatkan minuman dan cemilan. Memperkenalkan namanya Desiliun.
“Aku mau membeli kesehatanmu, apakah kamu menjualnya?” Kali ini aku tidak kaget. Ingin aku menolak karena tidak mau hal yang dulu terjadi lagi. Tapi nafsu memiliki lebih lebih banyak banyak lagi uang menutup hati dan pikiranku. Aku pun menyetujuinya.
Seketika itu juga, kesehatanku menghilang. Berganti berbagai macam penyakit menderaku. Membuatku tidak bisa beranjak bangun dari ranjang. Sedang tamuku sudah pergi membawa serta kesehatanku. Tapi walaupun begitu, aku senang melihat uangku kian banyak terhampar di lantai, di sofa panjang dan di ranjangku.
Aku pikir uang banyak bisa mengobatiku, dengan memanggil seluruh dokter terbaik di dunia tapi penyakit-penyakitku tidak kunjung sembuh. Malah semakin parah. Uangku pun berkurang fantastis jumlahnya.
Aku mau membeli nyawamu, apakah kamu menjualnya?
Dalam kondisi sakit terbaring lemah di ranjang, aku kedatangan tamu. Membawa dua koper besar beroda yang aku tahu isinya pasti uang. Kali ini tamuku berpakaian serba hitam, wajahnya tidak jelas terlihat. Hanya sorot mata yang tajam memandangku. Ia memperkenalkan namanya Googol.
“Aku mau membeli nyawamu, apakah kamu mau menjualnya?” Aku tidak mampu menjawab. Mulut tidak lagi bisa bicara. Ingin menggeleng tapi keinginan untuk terus mempunyai uang banyak membuatku memilih mengangguk.
Aku serasa tidur panjang. Begitu sangat lelap. Hanya kegelapan menyertaiku. Tidak ada kebisingan suara-suara duniawi yang kudengar. Keinginan mempunyai uang banyak lenyap entah kemana. Tapi setidaknya aku masih bisa senang karena dikelilingi uang yang tersebar di ranjang, lantai dan sofa panjang walaupun tidak sebanyak yang lalu.
Yogyakarta, 24 September 2024
Herumawan P A, seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Buku kumpulan cerpennya berjudul “Pulsa Nyawa” terbit bulan Agustus 2019.
sumber : kompas.id, 10 Jan 2025.