Sepekan sebelum pengikut baru Laskar Alkalali menculik seorang penyair bertubuh ringkih, burung-burung di sekitar markas berhenti berkicau. Pagi yang sesungguhnya indah di kawasan pegunungan itu menjadi gersang, suram, dan kian menakutkan. Apa jadinya pepohonan rindang tanpa kicau burung—bahkan ketika terkurung dalam sangkar saja mereka masih bisa meratus dengan riangnya.
Begitulah pagi datang dan pergi dengan gersangnya tanpa seorang pun menyadari keindahannya sudah tergerus secara misterius. Tak ada pengikut Laskar Alkalali yang tahu, atau mereka tidak peduli sama sekali. Ketika mereka menganggap diri sebagai pengemban misi suci, mata mereka sudah terbutakan dari keindahan pagi dan telinga mereka menjadi tuli dari merdunya nyanyian burung. Bahkan hati mereka juga buta terhadap segala nilai luhur yang terpahat dalam ayat-ayat suci di atas kepala mereka tatkala disumpah menjadi pengikut setia Laskar Alkalali. Cukuplah lukisan ayat-ayat suci di atas kepala mereka disebar agar dunia mengetahui seolah merekalah pejuang Tuhan di jalan pedang.
Sampai suatu hari, seorang lelaki kurus dibawa pengikut setia Laskar Alkalali sebagai tawanan. Lelaki itu punya nama tetapi dipanggil sebagai Pengkhianat Kata oleh pengikut Alkalali dan beberapa lain menyebutnya pengagung aliran bidah, sebab ia menggunakan keindahan kata untuk menyesatkan keyakinan. Pengikut Alkalali juga menyebarkan kabar lelaki itu berselingkuh dengan istri sahabatnya yang juga seorang penyair. Dosa lainnya, Pengkhianat Kata menerima dana dari lembaga asing atas kerjanya sebagai penista agama melalui bait-bait puisi. Khusus dosa terakhir, sengaja disampaikan dengan sedikit keraguan justru agar terdengar lebih meyakinkan.
Dia dibawa dengan kedua tangan terikat ke belakang dan mata tertutup kain hitam yang membuat dunia lenyap dari pandangan. Langkahnya tersuruk, seperti bayi yang baru belajar berjalan. Ia merasakan keletihan tak tertahankan setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer dari kota dengan kendaraan roda empat, dilanjutkan dengan roda dua, sampai akhirnya harus berjalan kaki. Markas besar Laskar Alkalali terletak di kawasan perbukitan terjal yang harus ditempuh dengan menembus belantara yang masih perawan. Mereka menggunakan dinding batu sebagai benteng, pepohonan sebagai atap yang membuat beberapa bilik tentara tidak akan terlihat dari ketinggian. Tak ada seorang manusia pun berani ke sana, kalau pun tersesat maka takkan pernah kembali dengan selamat. Seorang pencari rotan tersesat diberi dua pilihan, disumpah menjadi pengikut setia Laskar Alkalali atau dipancung dengan mata terbuka.
Penyair ringkih itu sangat mengenal kekejaman pengikut Laskar Alkalali sehingga ia tidak pernah memiliki keberanian melawan dengan kekuatan raga. Dia memilih melawan dengan kata, mengingatkan masyarakat tentang kesesatan aliran Alkalali melalui diksi penuh makna—setidaknya begitulah menurutnya. Dia menghiasi dinding-dinding kota dengan sajak perlawanan terhadap arogansi keyakinan, menyebarkan selebaran berisi syair perjuangan, bahkan mengirimkannya ke berbagai media.
Tiada yang pernah mencurigai dirinya melawan Laskar Alkalali yang ditakuti warga karena kekejamannya. Dia bebas melakukannya sampai kemudian ada kritikus yang memberikan pendalaman makna terhadap puisi-puisinya. Kajian kritikus itu dimuat di sebuah koran lokal dan kebetulan dibaca sendiri oleh Alkalali—sang pemimpin tertinggi—yang langsung memerintahkan untuk menculik penyair ringkih saat keluar dari sebuah warung kopi tempatnya biasa berkumpul bersama penyair lain. Tak semua perintah penculikan keluar dari mulut Alkalali sendiri. Hanya untuk tokoh tertentu saja yang dianggap berbahaya dan Hasmuni Banta sama sekali tidak bangga dengan situasi yang dialaminya.
Ketakutannya berpengaruh besar terhadap kerapuhan raganya sejak diculik pengikut Laskar Alkalali. Ketika tiba di markas besar, ia merasa inilah awal dari akhir perjalanan hidupnya. Tiada keraguan sejarah hidupnya akan berakhir di sini tanpa seorang kerabat pun tahu.
Maka sambil menunggu waktunya tiba, ia menulis puisi pada dinding batu dengan arang. Puisinya berupa sederet kata yang ia petik dengan hati-hati dari pohon diksi setelah perenungan panjang pada malam-malam yang meresahkan batinnya. Dia hanya menghasilkan satu kata dalam satu, dua, bahkan terkadang empat malam. Dia khawatir tidak dapat menyelesaikan puisinya sampai kematian datang menjemput. Ketika sebait sajak tergores di dinding batu penjara, para penjaga yang buta akan makna kata, melaporkan kepada pemimpinnya.
…kicau sirna dalam kuasa rimba…
Hanya itu saja yang terpahat rapuh di dinding kusam dan barangkali akan hilang digerus masa. Namun, Alkalali adalah manusia cerdas yang tak ingin meninggalkan jejak apa pun meski hanya seuntai puisi yang akan lenyap tanpa ada yang mengingatnya. Dia melarang penyair mengotori dinding penjara dengan syair atau pesan apa pun. “Kalau kau tulis lagi, aku sendiri yang akan membuatmu tidak hidup, sekaligus tidak mati!”
Sang Penyair sadar Alkalali tidak main-main dengan ancamannya. Setelah berhari-hari di penjara, ia sudah membiasakan diri dengan kematian yang bisa datang kapan saja dengan cara apa saja yang tak pernah terbayangkan dalam mimpi terburuk sekalipun. Dia tak takut lagi dengan kematian, tetapi berada di antara hidup dan mati cukup merisaukan jiwanya.
Maka ia berhenti menulis puisi di dinding batu. Kata demi kata ia pungut dari pohon diksi yang tumbuh subur di kepala dan hatinya. Sajak yang belum selesai ia lanjutkan dalam hati dan pikirannya. Tiada kegiatan lain dalam sisa hidupnya selain merangkai kata demi kata yang sarat makna sampai penjaga mengeluarkan dirinya pada suatu pagi. Sinar matahari masih lemah menerobos dedaunan yang menutup langit dari pandangan. Embun-embun masih bergantung di ujung rerumputan. Udara begitu segarnya seolah baru saja diembuskan Tuhan kepada penghuni markas Laskar Alkalali, termasuk sang Penyair yang berada di hadapan algojo dengan kepala tertutup selubung hitam.
Alkalali tidak mau menghamburkan waktu untuk menggelar persidangan yang penuh dengan bantahan. Puisi-puisi penghinaan sudah cukup menjadi bukti untuk mengirim sang Penyair ke neraka atau surga, Alkalali tak peduli sebab itu bukan urusannya. Namun, sebelum memenggal kepala sang Penyair, ia perlu mencecar tawanannya dengan beberapa pertanyaan layaknya dalam sebuah persidangan.
“Kamu kerja untuk siapa? Siapa penyandang dana? Siapa saja kawan-kawanmu? Mereka tinggal di mana? Apa saja kegiatan mereka? Apakah mereka bersenjata? Bukan, bukan senjata kata. Kita sedang bahas soal senjata api. Berapa pucuk?”
Dan sederet pertanyaan lain untuk membongkar jaringan sel-sel perlawanan terhadap Laskar Alkalali.
Penyair ringkih memberikan jawaban sejujurnya, tapi terdengar sebagai dusta karena keluar dari mulut Pengkhianat Kata. Jawaban itu juga tak bisa dipercaya Alkalali karena terlalu sering terdengar dari tawanan lain dan kesannya seperti menutupi sesuatu atau memperpanjang percakapan yang tak berguna.
Sang Penyair tidak bekerja atas perintah siapa pun demi apa pun, kecuali ingin menyadarkan masyarakat bahwa perjuangan Laskar Alkalali hanya menguntungkan kelompok itu saja, bahwa pengikut Alkalali adalah sekelompok orang dungu dan bengis yang memburu kekuasaan dan kekayaan, tetapi menjual agama dan kesejahteraan.
Muka algojo dan pengikut Alkalali lainnya merah padam. Mereka ingin menyelesaikan pemeriksaan itu secepatnya. Tapi pemimpin mereka tenang saja mendengar hinaan Pengkhianat Kata, seperti tak ada yang menggores hatinya. Satu pertanyaan lagi, apakah sang Penyair bersedia bergabung dengan Laskar Alkalali untuk membuktikan semua tuduhan itu salah? “Kita akan memiliki pandangan sama tentang sebuah belantara setelah masuk ke dalamnya.”
Penyair terdiam, tetapi mulutnya komat-kamit membacakan lanjutan bait-bait puisi yang terpahat kuat dalam ingatannya.
“Apa yang kamu katakan?”
Penyair itu masih melanjutkan seolah dia berada di sebuah panggung pembacaan puisi yang disaksikan ribuan penonton dengan khusyuk. Dia tidak membayangkan sedang berada di sebuah gerbang kematian yang membuat dirinya lenyap dari sejarah secara misterius sebagaimana penyair ringkih lain yang pernah melawan pemerintah sah di masa lalu.
“Apakah itu doa terakhirmu?”
Si Pengkhiatan Kata masih menjawab dengan bibir yang terus bergerak tanpa suara seperti orang merapalkan doa dalam kebisuan. Bahkan desahan napasnya saja tenggelam dalam suara Alkalali yang keras. Ketika Alkalali terdiam, tiupan angin dan gesekan dedaunan menggantikannya.
Alkalali hanya melihat sekilas ke mata algojo dan mengangguk pelan sebagai perintah agar pedang segera terayun. Sang Penyair melanjutkan puisinya dalam hati. Pada untaian terakhir, seketika kicauan burung terdengar bersahutan. Burung-burung sebegitu gembiranya seolah itulah kidung mereka yang terakhir.
Kita akan memiliki pandangan sama tentang sebuah belantara setelah masuk ke dalamnya.
Algojo terganggu perhatiannya sehingga ia menatap Alkalali penuh tanya. Mata pedangnya yang tajam dan sudah menebas ratusan kepala, tergantung di udara.
“Lanjutkan..!” teriak Alkalali. Tubuh sang algojo tiba-tiba gemetar. Suhu tubuhnya terasa panas menjalar seperti baru saja menenggak darah ular seperti yang sering ia lakukan sebagai latihan bertahan di alam liar. Pedang di tangan algojo yang basah dengan keringat, seketika terjatuh dan tertancap di bumi, persis setelah penyair menyelesaikan untaian terakhir dalam batinnya.
Sementara kicauan burung semakin riuh terdengar.[]
Ayi Jufridar, – menulis cerpen di berbagai media cetak di daerah dan nasional. Empat novel yang sudah terbit, Alon Buluek (2005) dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dengan judul Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015). Buku kumpulan cerpennya, Cinta Dalam Secangkir Sanger ( 2021), berkisah tentang berbagai kekerasan dan tragedi kemanusiaan selama konflik bersenjata di Aceh.
sumber : kompas.id, 22 Jan 2025.