Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Puisi yang Mengundang Burung Berkicau oleh Ayi Jufridar

Posted on Rab, 22 Jan 2025

Sepekan sebelum pengikut baru Laskar Alkalali menculik seorang penyair bertubuh ringkih, burung-burung di sekitar markas berhenti berkicau. Pagi yang sesungguhnya indah di kawasan pegunungan itu menjadi gersang, suram, dan kian menakutkan. Apa jadinya pepohonan rindang tanpa kicau burung—bahkan ketika terkurung dalam sangkar saja mereka masih bisa meratus dengan riangnya.

Begitulah pagi datang dan pergi dengan gersangnya tanpa seorang pun menyadari keindahannya sudah tergerus secara misterius. Tak ada pengikut Laskar Alkalali yang tahu, atau mereka tidak peduli sama sekali. Ketika mereka menganggap diri sebagai pengemban misi suci, mata mereka sudah terbutakan dari keindahan pagi dan telinga mereka menjadi tuli dari merdunya nyanyian burung. Bahkan hati mereka juga buta terhadap segala nilai luhur yang terpahat dalam ayat-ayat suci di atas kepala mereka tatkala disumpah menjadi pengikut setia Laskar Alkalali. Cukuplah lukisan ayat-ayat suci di atas kepala mereka disebar agar dunia mengetahui seolah merekalah pejuang Tuhan di jalan pedang.

Sampai suatu hari, seorang lelaki kurus dibawa pengikut setia Laskar Alkalali sebagai tawanan. Lelaki itu punya nama tetapi dipanggil sebagai Pengkhianat Kata oleh pengikut Alkalali dan beberapa lain menyebutnya pengagung aliran bidah, sebab ia menggunakan keindahan kata untuk menyesatkan keyakinan. Pengikut Alkalali juga menyebarkan kabar lelaki itu berselingkuh dengan istri sahabatnya yang juga seorang penyair. Dosa lainnya, Pengkhianat Kata menerima dana dari lembaga asing atas kerjanya sebagai penista agama melalui bait-bait puisi. Khusus dosa terakhir, sengaja disampaikan dengan sedikit keraguan justru agar terdengar lebih meyakinkan.

Dia dibawa dengan kedua tangan terikat ke belakang dan mata tertutup kain hitam yang membuat dunia lenyap dari pandangan. Langkahnya tersuruk, seperti bayi yang baru belajar berjalan. Ia merasakan keletihan tak tertahankan setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer dari kota dengan kendaraan roda empat, dilanjutkan dengan roda dua, sampai akhirnya harus berjalan kaki. Markas besar Laskar Alkalali terletak di kawasan perbukitan terjal yang harus ditempuh dengan menembus belantara yang masih perawan. Mereka menggunakan dinding batu sebagai benteng, pepohonan sebagai atap yang membuat beberapa bilik tentara tidak akan terlihat dari ketinggian. Tak ada seorang manusia pun berani ke sana, kalau pun tersesat maka takkan pernah kembali dengan selamat. Seorang pencari rotan tersesat diberi dua pilihan, disumpah menjadi pengikut setia Laskar Alkalali atau dipancung dengan mata terbuka.

Penyair ringkih itu sangat mengenal kekejaman pengikut Laskar Alkalali sehingga ia tidak pernah memiliki keberanian melawan dengan kekuatan raga. Dia memilih melawan dengan kata, mengingatkan masyarakat tentang kesesatan aliran Alkalali melalui diksi penuh makna—setidaknya begitulah menurutnya. Dia menghiasi dinding-dinding kota dengan sajak  perlawanan terhadap arogansi keyakinan, menyebarkan selebaran berisi syair perjuangan, bahkan mengirimkannya ke berbagai media.

Tiada yang pernah mencurigai dirinya melawan Laskar Alkalali yang ditakuti warga karena kekejamannya. Dia bebas melakukannya sampai kemudian ada kritikus yang memberikan pendalaman makna terhadap puisi-puisinya. Kajian kritikus itu dimuat di sebuah koran lokal dan kebetulan dibaca sendiri oleh Alkalali—sang pemimpin tertinggi—yang langsung memerintahkan untuk menculik penyair ringkih saat keluar dari sebuah warung kopi tempatnya biasa berkumpul bersama penyair lain. Tak semua perintah penculikan keluar dari mulut Alkalali sendiri. Hanya untuk tokoh tertentu saja yang dianggap berbahaya dan Hasmuni Banta sama sekali tidak bangga dengan situasi yang dialaminya.

Ketakutannya berpengaruh besar terhadap kerapuhan raganya sejak diculik pengikut Laskar Alkalali. Ketika tiba di markas besar, ia merasa inilah awal dari akhir perjalanan hidupnya. Tiada keraguan sejarah hidupnya akan berakhir di sini tanpa seorang kerabat pun tahu.

Maka sambil menunggu waktunya tiba, ia menulis puisi pada dinding batu dengan arang. Puisinya berupa sederet kata yang ia petik dengan hati-hati dari pohon diksi setelah perenungan panjang pada malam-malam yang meresahkan batinnya. Dia hanya menghasilkan satu kata dalam satu, dua, bahkan terkadang empat malam. Dia khawatir tidak dapat menyelesaikan puisinya sampai kematian datang menjemput. Ketika sebait sajak tergores di dinding batu penjara, para penjaga yang buta akan makna kata, melaporkan kepada pemimpinnya.

…kicau sirna dalam kuasa rimba…

Hanya itu saja yang terpahat rapuh di dinding kusam dan barangkali akan hilang digerus masa. Namun, Alkalali adalah manusia cerdas yang tak ingin meninggalkan jejak apa pun meski hanya seuntai puisi yang akan lenyap tanpa ada yang mengingatnya. Dia melarang penyair mengotori dinding penjara dengan syair atau pesan apa pun. “Kalau kau tulis lagi, aku sendiri yang akan membuatmu tidak hidup, sekaligus tidak mati!”

Sang Penyair sadar Alkalali tidak main-main dengan ancamannya. Setelah berhari-hari di penjara, ia sudah membiasakan diri dengan kematian yang bisa datang kapan saja dengan cara apa saja yang tak pernah terbayangkan dalam mimpi terburuk sekalipun. Dia tak takut lagi dengan kematian, tetapi berada di antara hidup dan mati cukup merisaukan jiwanya.

Maka ia berhenti menulis puisi di dinding batu. Kata demi kata ia pungut dari pohon diksi yang tumbuh subur di kepala dan hatinya. Sajak yang belum selesai ia lanjutkan dalam hati dan pikirannya. Tiada kegiatan lain dalam sisa hidupnya selain merangkai kata demi kata yang sarat makna sampai penjaga mengeluarkan dirinya pada suatu pagi. Sinar matahari masih lemah menerobos dedaunan yang menutup langit dari pandangan. Embun-embun masih bergantung di ujung rerumputan. Udara begitu segarnya seolah baru saja diembuskan Tuhan kepada penghuni markas Laskar Alkalali, termasuk sang Penyair yang berada di hadapan algojo dengan kepala tertutup selubung hitam.

Alkalali tidak mau menghamburkan waktu untuk menggelar persidangan yang penuh dengan bantahan. Puisi-puisi penghinaan sudah cukup menjadi bukti untuk mengirim sang Penyair ke neraka atau surga, Alkalali tak peduli sebab itu bukan urusannya. Namun, sebelum memenggal kepala sang Penyair, ia perlu mencecar tawanannya dengan beberapa pertanyaan layaknya dalam sebuah persidangan.

“Kamu kerja untuk siapa? Siapa penyandang dana? Siapa saja kawan-kawanmu? Mereka tinggal di mana? Apa saja kegiatan mereka? Apakah mereka bersenjata? Bukan, bukan senjata kata. Kita sedang bahas soal senjata api. Berapa pucuk?”

Dan sederet pertanyaan lain untuk membongkar jaringan sel-sel perlawanan terhadap Laskar Alkalali.

Penyair ringkih memberikan jawaban sejujurnya, tapi terdengar sebagai dusta karena keluar dari mulut Pengkhianat Kata. Jawaban itu juga tak bisa dipercaya Alkalali karena terlalu sering terdengar dari tawanan lain dan kesannya seperti menutupi sesuatu atau memperpanjang percakapan yang tak berguna.

Sang Penyair tidak bekerja atas perintah siapa pun demi apa pun, kecuali ingin menyadarkan masyarakat bahwa perjuangan Laskar Alkalali hanya menguntungkan kelompok itu saja, bahwa pengikut Alkalali adalah sekelompok orang dungu dan bengis yang memburu kekuasaan dan kekayaan, tetapi menjual agama dan kesejahteraan.

Muka algojo dan pengikut Alkalali lainnya merah padam. Mereka ingin menyelesaikan pemeriksaan itu secepatnya. Tapi pemimpin mereka tenang saja mendengar hinaan Pengkhianat Kata, seperti tak ada yang menggores hatinya. Satu pertanyaan lagi, apakah sang Penyair bersedia bergabung dengan Laskar Alkalali untuk membuktikan semua tuduhan itu salah? “Kita akan memiliki pandangan sama tentang sebuah belantara setelah masuk ke dalamnya.”

Penyair terdiam, tetapi mulutnya komat-kamit membacakan lanjutan bait-bait puisi yang terpahat kuat dalam ingatannya.

“Apa yang kamu katakan?”

Penyair itu masih melanjutkan seolah dia berada di sebuah panggung pembacaan puisi yang disaksikan ribuan penonton dengan khusyuk. Dia tidak membayangkan sedang berada di sebuah gerbang kematian yang membuat dirinya lenyap dari sejarah secara misterius sebagaimana penyair ringkih lain yang pernah melawan pemerintah sah di masa lalu.

“Apakah itu doa terakhirmu?”

Si Pengkhiatan Kata masih menjawab dengan bibir yang terus bergerak tanpa suara seperti orang merapalkan doa dalam kebisuan. Bahkan desahan napasnya saja tenggelam dalam suara Alkalali yang keras. Ketika Alkalali terdiam, tiupan angin dan gesekan dedaunan menggantikannya.

Alkalali hanya melihat sekilas ke mata algojo dan mengangguk pelan sebagai perintah agar pedang segera terayun. Sang Penyair melanjutkan puisinya dalam hati. Pada untaian terakhir, seketika kicauan burung terdengar bersahutan. Burung-burung sebegitu gembiranya seolah itulah kidung mereka yang terakhir.

Kita akan memiliki pandangan sama tentang sebuah belantara setelah masuk ke dalamnya.

Algojo terganggu perhatiannya sehingga ia menatap Alkalali penuh tanya. Mata pedangnya yang tajam dan sudah menebas ratusan kepala, tergantung di udara.

“Lanjutkan..!” teriak Alkalali. Tubuh sang algojo tiba-tiba gemetar. Suhu tubuhnya terasa panas menjalar seperti baru saja menenggak darah ular seperti yang sering ia lakukan sebagai latihan bertahan di alam liar. Pedang di tangan algojo yang basah dengan keringat, seketika terjatuh dan tertancap di bumi, persis setelah penyair menyelesaikan untaian terakhir dalam batinnya.

Sementara kicauan burung semakin riuh terdengar.[]

 Ayi Jufridar, – menulis cerpen di berbagai media cetak di daerah dan nasional. Empat novel yang sudah terbit, Alon Buluek (2005) dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dengan judul Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015). Buku kumpulan cerpennya, Cinta Dalam Secangkir Sanger ( 2021), berkisah tentang berbagai kekerasan dan tragedi kemanusiaan selama konflik bersenjata di Aceh.

sumber : kompas.id, 22 Jan 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme