Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur oleh Sunlie Thomas Alexander

Posted on Ming, 11 Feb 2024

Kurang dua jam lewat sepuluh menit sebelum Dewa Dapur Co Lu Akung kembali ke Langit untuk melaporkan segala kejadian di dapur selama setahun kepada Kaisar Giok, Lim A Moy telah mengolesi bibir patungnya dengan tempoyak pedas. Akibatnya, dewa tua itu mendesis-desis tidak keruan dan mengumpat panjang pendek ketika membubung ke langit bersama asap dupa dan asap tungku.

ITULAH awal dari kesialan beruntun yang kemudian menimpa putra bungsu Lim A Moy, Bong Sin Bu. Setidaknya demikianlah menurut Chin Kwet Jun, sang menantu, dan teman-teman bergunjingnya, yang kemudian meluas ke mana-mana.

”Cipai tua itu yang jadi penyebab kesialan suamiku! Bisa-bisanya ia oleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung! Aku baru tahu hal ini saat hendak membersihkan patung pada malam ketiga puluh,” demikian tukas Chin Kwet Jun kurang lebih tiga bulan selepas perayaan Tahun Baru Imlek dengan mulut terpencong-pencong kepada salah satu tetangga.

”Kenapa ibu mertuamu sampai melakukan hal seperti itu?” tanya teman bicaranya sambil mengemil singkong rebus.

”Mana aku tahu? Kau tanya saja orangnya! Ia lagi kesal denganku barangkali? Supaya Co Lu Akung memberikan laporan yang buruk-buruk tentang diriku di atas sana.”

”Lah, kan itu berefek pada penghidupan anak kandungnya sendiri?”

***

Lim A Moy sendiri bukannya tak menyesali apa yang sudah terjadi. Tetapi, ia sama sekali tak menduga kalau yang ia oleskan ke mulut patung Co Lo Akung itu bukanlah selai nanas, melainkan tempoyak dari Oi Lin, anak perempuan tertuanya di Palembang, yang dititipkan lewat seorang kenalan yang mudik.

”Pasti menantu berengsek itu yang menukar tempat stoples selai dengan stoples tempoyak di dalam kulkas,” ujarnya kepada Lo Nyuk Tin, kawannya main ceki saban sore. Dan ia yakin ia tidak keliru. Meskipun umurnya sudah 71 tahun, Lim A Moy merasa ingatannya masih tajam. Tidak sedikit pun berkurang, tak seperti sejumlah teman sebayanya yang mulai sering lupa meletakkan barang, bahkan ada yang mengalami gejala Alzheimer. Ia selalu tahu sisa uang belanja di dompetnya, ia tak pernah salah mengenali kedelapan cucunya, ia masih ingat betul bagaimana ia melahirkan dan membesarkan keempat anaknya. Tak pernah melupakan hari ulang tahun mereka seperti ia selalu mengingat dengan baik hari ulang tahun mendiang suaminya.

Karena itu, tak mungkin ia salah ingat tempat menaruh stoples bening berisi selai nanas. Itu selai nanas yang baru ia masak satu hari sebelumnya. Kedua cucu kesayangannya memang menyukai selai nanas untuk olesan roti, tetapi selai dalam stoples itu ternyata belum disentuh sama sekali. Masih utuh satu stoples penuh. Bagaimana bisa stoples itu berpindah tempat dari rak kedua ke rak ketiga kulkas?

”Tak ada hantu di rumah ini! Kalau bukan tangan manusia, tak mungkin stoples itu bisa pindah sendiri,” gerutu Lim A Moy di dapur, tak bisa lagi menahan diri, pada hari ketiga Tahun Baru sambil memanaskan Nem Nyuk dalam panci. Chin Kwet Jun yang sedang menghabiskan sepiring mi mengeluarkan suara seperti tersedak. Mulutnya yang masih mengunyah sudah separo terbuka ketika melihat mata Bong Sin Bu yang duduk di seberang meja mendelik besar ke arahnya. Namun begitu, ketika ia meninggalkan dapur dengan wajah memerah, tak urung terlontar juga kegusarannya yang membuat sang suami membanting sumpit ke atas meja: ”Kalau mata sudah rabun, ya ngaku saja!”

Rabun? Lim A Moy tertegun di depan tungku. Ia memang sudah tak mampu lagi memasukkan ujung benang ke lubang jarum jahit. Namun, ia masih bisa melihat banyak hal dengan cukup jelas, termasuk apa-apa yang disembunyikan oleh menantu kurang ajar itu. Seperti kalah taruhan mahyong dalam jumlah lumayan besar atau senyum dan kerlingan perempuan itu pada Cong Po Hiap, si pemilik alat berat sewaan yang kerap datang ke rumah untuk urusan bisnis dengan Bong Sin Bu.

Ia melirik ke arah altar kecil Co Lu Akung di samping tungku. Mulut dewa tua berjanggut putih panjang itu, seperti biasanya, tersenyum lebar hingga kedua matanya semakin menyipit. Lim A Moy menghela napas. Yang disayangkan olehnya adalah kenapa ia tak memeriksa dan membaui isi stoples itu terlebih dahulu sebelum mengoleskannya ke mulut Co Lu Akung? Tentu saja, sekali lagi, karena ia tak menyangka kalau itu bukanlah stoples selai. Apalagi saat itu, ketika ia terburu-buru mengoleskan isi stoples dengan ujung sumpit lantaran takut si dewa keburu meninggalkan altar, hidungnya sedang mampet karena pilek.

***

Ya, setahun sekali pada setiap hari ke-24 bulan kedua belas kalender Imlek, Co Lu Akung akan kembali ke Langit untuk melaporkan perkara di dapur dan baru akan turun lagi ke altarnya pada hari keempat Tahun Baru China.

Syahdan, demikianlah ketentuan Langit sejak dulu. Demikian pula kebiasaan mengoleskan yang manis-manis ke mulut sang Dewa Dapur itu dilakukan oleh orang-orang secara turun-temurun, terutama oleh mereka yang merasa kondisi rumah tangganya tidaklah cukup tenteram, tetapi penuh dengan percekcokan dari teras sampai ke dapur. Ya, apalagi di dapur, di depan Co Lu Akung yang bertakhta di sebelah tungku memasak. Sebab, kalau sampai ia melaporkan semua perselisihan dan keluhanmu kepada Kaisar Giok yang Agung, tentunya rezekimu bakalan jadi seret!

”Ingat baik-baik jika kau sudah jadi istri orang nanti. Jangan mengeluh di dapur jika uang belanjamu kurang. Suamimu mestinya juga jangan mudah mengeluh jika masakanmu kurang asin atau terlalu asin. Dapur adalah tempat rezeki dimasak dan disantap, hindarilah bertengkar di dapur, apalagi di meja makan,” begitulah Lim A Moy selalu ingat pada nasihat mendiang ibunya sewaktu ia masih gadis.

Dan seumur pernikahannya dengan Bong Ngian Jung sampai sang suami wafat, tak sekali pun mereka berdua saling berbantah atau berkeluh kesah di dapur. Sehingga pada masa-masa itu tak pernah ia mengoleskan gula atau selai atau manisan apa pun ke mulut patung Co Lu Akung agar ketika sang dewa memberi laporan ke Langit, ia hanya melaporkan hal yang manis-manis saja. Tetapi, sejak tahun ketiga pernikahan putra bungsunya dengan Chin Kwet Jun si menantu tak tahu diri itu, ia merasa mau tak mau harus mengolesi mulut sang dewa dengan manisan.

Betapa tidak, perempuan itu bukan saja terang-terangan mengeluhkan ini itu dengan suara lantang di dapur. Mulai uang belanja yang kurang, televisi terlalu kecil, rumah yang kurang luas, sampai masakannya yang dirasa tidak enak. Bahkan kerap kali tak segan-segan perempuan itu bertengkar dengan Bong Sin Bu di meja makan. Selalu saja ada hal yang kurang bagi Chin Kwet Jun. Warna taplak meja makan saja bisa ia persoalkan dengan serius. Lalu beberapa kali, mangkuk-piring pun berdenting nyaring di lantai dapur!

Apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang mertua? Nyaris tak ada. Sebab, setiap teguran dan nasihat hanya akan dijawab Chin Kwet Jun dengan garang, dengan wajah memerah, mata melotot, dan dua tangan bergerak-gerak di udara seolah-olah hendak mencabik-cabiknya. Tak tampak adanya rasa sungkan terhadap mertua pada diri perempuan itu, tidak seperti yang ia rasakan bertahun-tahun saat mertua perempuannya masih hidup dan juga tinggal bersama mereka.

Ini belum lagi ditambah dengan kesukaan Chin Kwet Jun bergunjing dengan para tetangga. Ya, menggunjingkan siapa saja, dari sesama tetangga sampai suami dan ibu mertua! Satu-satunya yang tidak ia pergunjingkan hanyalah kedua anaknya sendiri. Perempuan itu juga ogah-ogahan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Meski hal ini tidaklah terlalu jadi masalah bagi Lim A Moy selama ia masih cukup kuat, sebab sejak muda ia memang telah terbiasa mengurus rumah dan menyukai pekerjaan dapur.

”Jangan melamar anak Chin Min Fuk itu. Tabiatnya kurang baik, sama dengan ibunya yang suka berantem di sana sini. Keranjingan berjudi pula!” kata seorang familinya yang memang tinggal tak jauh dari rumah Chin Kwet Jun tak lama setelah Bong Sin Bu memberitahukan keseriusan hubungan. Namun, Lim A Moy tidaklah terlalu mendengarkan. Tak mudah baginya untuk percaya begitu saja omongan orang kendati masih tergolong sanak. Yang terpenting baginya adalah anaknya sungguh-sungguh mencintai sang kekasih. Lagi pula setiap kali dibawa oleh Bong Sin Bu ke rumah, Chin Kwet Jun selalu berperilaku sopan dan menunjukkan sikap hormat.

Setelah putranya meninggalkan dapur menyusul sang istri, Lim A Moy menarik sebuah kursi di depan meja makan dan duduk terhenyak. Ai, bagaimanapun perempuan itu, sang menantu yang menyalahkannya telah mengoleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung, adalah satu-satunya menantu yang memberinya cucu laki-laki. Dua orang sekaligus.

Perizinan penambangan rakyat oleh bupati Bangka membuat Bong Sin Bu seperti sekian banyak orang beruntung lainnya –China maupun Melayu– turut ketiban durian runtuh. Kendati harus mengorbankan kebun buah-buahan luas sarat kenangan peninggalan sang ayah, biji timah perlahan mengubah Bong Sin Bu dari seorang tukang bangunan menjadi pengusaha tambang inkonvensional (TI). Bermula dari sebuah mesin semprot sederhana hasil utang, kebun warisan yang ternyata mengandung banyak timah itu sanggup membelikannya dua buah mesin TI dan lokasi-lokasi penambangan baru.

Maka, rumah tua di pinggir Jalan Parit Empat itu pun kemudian dipugar. Dari rumah kecil setengah beton berlantai semen kasar akhirnya berubah jadi sebuah rumah cukup mewah berlantai porselen. Televisi baru berukuran 32 inci dengan parabola, kulkas berpintu ganda, sofa-sofa, ranjang busa empuk, AC, mesin cuci, dan kompor gas elpiji (meski Lim A Moy lebih suka tetap memasak di tungku), semuanya tersedia. Apakah itu cukup membuat Chin Kwet Jun berhenti berkeluh kesah dan melontarkan kata-kata sinis terhadap suami dan ibu mertua? Awalnya iya. Tetapi, tak lama kemudian, karut-marutnya kembali terdengar di dapur hanya gara-gara sang suami lupa membelikan martabak terang bulan kesukaannya di samping Toko Lui, Belinyu. Selanjutnya, selalu saja ada hal yang membuat Chin Kwet Jun tak berkenan dan memicu pertengkaran. Dan bersamaan itu –yang membuat Lim A Moy semakin rajin membakar dupa di kelenteng Guan Yin demi memohon ketenteraman– mulut si menantu juga kian ganas dalam sindir-menyindir siapa saja.

Ah, dari satu lokasi tambang berpindah ke lokasi tambang yang lain, cukuplah usaha TI Bong Sin Bu menghasilkan biji timah selama sekian tahun. Namun, kesialan itu –seperti yang selalu disebut-sebut Chin Kwet Jun dan dikhawatirkan oleh Lim A Moy setelah keduanya tahu bahwa yang lengket di mulut patung Co Lu Akung bukanlah selai nanas– akhirnya memang bertandang. Berawal dari kecelakaan pada hari kesepuluh Tahun Baru yang menimpa seorang pekerja asal Jawa –tertimbun hidup-hidup oleh longsornya tanah galian– dan hilangnya sebuah mesin TI disikat maling; keempat lokasi penambangan baru milik Bong Sin Bu yang dibeli mahal ternyata juga mengalami kerugian besar! Meleset jauh dari hasil pengeboran, tempat-tempat itu ternyata tak mengandung cukup banyak timah meskipun Bong Sin Bu telah keluarkan biaya besar menyewa backhoe untuk menggali sampai puluhan meter dalamnya. Ujung-ujungnya Bong Sin Bu mulai terlilit utang.

”Kalau saja ibu mertuaku yang pikun itu tidak membuat Dewa Dapur kepedasan dan marah sehingga melaporkan hal-hal buruk di hadapan Kaisar Giok, tentunya tak bakal kami apes begini,” ujar Chin Kwet Jun kepada teman bergunjingnya yang lain sembari bermain domino.

Yang tidak ketahui oleh dirinya maupun sang ibu mertua sendiri, kekeliruan meletakkan stoples berisi tempoyak dan selai nanas itu sebetulnya telah terjadi semenjak kedua stoples dimasukkan oleh Lim A Moy usai membersihkan kulkas akibat disela oleh seorang cucunya yang memintanya membukakan bungkusan cokelat. Begitulah.

Terlepas dari benar atau tidaknya kemalangan yang menimpa keluarga Lim A Moy ini diakibatkan oleh laporan Co Lu Akung di Langit, yang jelas orang-orang yang hidup dari usaha penambangan memang percaya bahwa uang timah itu uang panas: gampang didapat, gampang pula habisnya!

Cuma sebatas ini saja ceritanya? Tidak. Sebab, kurang lebih sebulan kemudian, Mellisa alias A Kim, putri Li Jun Fo yang belum lama lulus SMK, mengaku sambil terisak-isak bahwa Bong Sin Bu-lah laki-laki yang telah menghamilinya. (*)

Jogjakarta, Februari 2024

—

SUNLIE THOMAS ALEXANDER : Lahir di Belinyu, Pulau Bangka. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Bukunya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2020 untuk Kategori Kritik Sastra/Esai.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 11 Februari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme